Beranda > Pendapat > Prof. Dr. Hamka: Penjelasan Masalah Gelar Sayyid

Prof. Dr. Hamka: Penjelasan Masalah Gelar Sayyid

Panggilan Habib atau Sayyid, Syarif dan lain-lain merupakan panggilan yang sering kita dengar untuk sebutan keturunan Rasululalh saw. Sebagian masyarakat menggunakan panggilan ini dan sebagian lain tidak. Ada juga yang tidak mengakui keturunan Rasulullah saw namun ada yang tidak. Berikut adalah pendapat Prof. Dr. Hamka dalam menerangkan masalah Gelar Sayid atau Habib yang cukup bijaksana.

H. Rifai, seorang Indonesia beragama Islam yang tinggal di Florijin 211 Amsterdam, Nederland, pada tanggal 30 Desember 1974 telah mengirim surat kepada Menteri Agama H.A. Mukti Ali dimana ia mengajukan pertanyaan dan mohon penjelasan secukupnya mengenai beberapa hal.
Oleh Menteri Agama diserahkan kepada Prof. Dr.H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAKMA) untuk menjawabnya melalui PANJI MASYARAKAT, dengan pertimbangan agar masalahnya dapat diketahui umum dan manfaatnya telah merata.
Penulis

Yang pertama sekali hendaklah kita ketahui bahwa Nabi s.a.w tidaklah meninggalkan anak laki-laki. Anaknya yang laki-laki yaitu Qasim, Thaher, Thaib, dan Ibrahim meninggal di waktu kecil belaka. Sebagai seorang manusia yang berperasaan halus, beliau ingin mendapat anak laki-laki yang akan menyambung keturunan (Nasab) beliau hanya mempunyai anak-anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum dan Fathimah. Zainah memberinya seorang cucu perempuan. Itupun meninggal dalam sarat menyusu. Ruqayyah dan Ummu Kaitsurr mati muda. Keduanya isteri Usman bin Affan, meninggal Ruqayyah berganti Ummu Kaltsum (ganti tikar), ketiga anak perempuan inipun meninggal dahulu dari beliau.

Hanya Fathimah yang meninggal kemudian dari beliau dan hanya dia pula yang memberi beliau cucu laki-laki. Suami Fahimah adalah Ali Bin Abi Thalib. Abu Thalib adalah abang dari ayah Nabi dan yang mengasuh Nabi sejak usia 8 tahun. Cucu laki-laki itu ialah Hasan dan Husain. Maka dapatlah kita merasakan, Nabi seorang manusia mengharap anak-anak Fathimah inilah yang akan menyambung turunannya. Sebab itu sangatlah kasih sayang dan cinta beliau kepada cucu-cucunya ini. Pernah beliau sedang ruku si cucu masuk ke dalam kedua celah kakinya. Pernah sedang beliau Sujud si cucu berkuda ke atas punggungnya. Pernah sedang beliau khutbah, si cucu sedang ke tingkat pertama tangga mimbar.

Al-Tarmidzi merawjkan dari Usamah Bin Zaid bahwa dia (Usamah) pernah melihat Hasan dan Husain berpeluk di atas kedua belah paha beliau. Lalu beliau s.a.w. berkata: Kedua anak ini adalah anakku, anak dari anak perempuanku. Ya Tuhan Aku sayang kepada keduanya”.
Dan diriwayatkan oleh Bukhari dan Abi Bakrah bahwa Nabi pernah pula berkata tentang Hasan; ‘Anakku ini adalah SAYYID (Tuan), moga-moga Allah akan mendamaikan tersebab dia diantara dua golongan kaum Muslimin yang berselisih.
Nubuwat beliau itu tepat. Karena pada tahun 60 hijriah Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah, karena tidak suka melihat darah kaum Muslimin tertumpah. Sehingga tahun 60 itu dinamai “Tahun Persatuan”. Pernah pula beliau berkata: “kedua anakku ini adalah SAYYID (Tuan) dan pemuda-pemuda di surga kelak”.
Barangkali ada yang bertanya: “Kalau begitu jelas bahwa Hasan dan Husain itu cucunya, mengapa dikatakannya anaknya”.

Ini adalah pemakaian bahwa pada orang Arab, atau bangsa-bangsa Semit. Di dalam Al-Qur’an surat ke-12 (Yusuf) ayat 6 disebutkan bahwa Nabi Yakub mengharap moga-moga Allah menyempurnakan ru’matnya kepada puteranya Yusuf” sebagai mana telah disempurnakanNya ni’mat itu kepada kedua bapamu sebelumnya, yaitu Ibrahim dan Ishak. Pada hal yang bapa, atau ayah dari Yusuf adalah Ya’kub. Ishak adalah neneknya dan ibrahim adalah nenek ayahnya. Di ayat 28 Yusuf berkata:

Bapa-Bapaku Ibrahim dan Ishak dan Ya’kub. Artinya nenek-nenek moyang disebut bapa, dan cucu cicit disebut anak-anak. Menghormati keinginan Nabi yang demikian, maka seluruh umat Muhammad menghormati mereka. Tidakpun beliau anjurkan, namun kaum Quraisy umumnya dan Bani Hasyim dan keturunan hasan dan Husain mendapat kehormatan istimewanya di hati kaum Muslimin.

Bagi ahlis-sunnah hormat dan penghargaan itu biasa saja. Keturunan Hasan dan Husain di panggilkan orang SAYYID; kalau untuk banyak SADAT. Sebab Nabi mengatakan “Kedua anakku ini menjadi SAYYID (Tuan) dari pemuda-pemuda di syurga; Disetengah negeri di sebut SYARIF, yang berarti orang mulia atau orang berbangsa; kalau banyak ASYRAF. Yang hormat berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain berlebih-lebihan, sampai mengatakan keturunan Hasan dan Husain itu tidak pernah berdosa, dan kalau berbuat dosa segera diampuini. Allah adalah ajaran (dari suatu aliran – penulis) kaum Syi’ah yang berlebih-lebihan.

Apatah lagi di dalam Al-Qur’an, surat ke-33 “Al-Ahzab”, ayat 30, Tuhan memperingatkan kepada isteri-isteri Nabi bahwa kalau mereka berbuat jahat, dosanya lipat ganda dari dosa orang kebanyakan. Kalau begitu peringatan Tuhan kepada isteri-isteri Nabi, niscaya demikian pula kepada mereka yang dianggap keturunannya.
MENJAWAB pertanyaan tentang benarkah Habib Ali Kwitang dan Habib Tanggul keturunan Rasulullah s.a.w ? Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke tanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, Kepulauan Indonesia dan Philipina. Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara ini. Penyebar Islam dan Pembangunan Kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang dipernankan di Aceh. Syarif Kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Sesudah pupus keturunan laki-laki dari Iskandar Muda Mahkota Alam pernah Bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail jadi Raja di Aceh. Negeri Pontianak pernah diperintah bangsa Sayid Al-Qadri. Siak oleh keluarga bangsa Sayid bin Syahab.

Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayid Jamalullail. Yang dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang sekarang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang ialah dari keluarga Alaydrus. Kedudukan mereka di negeri ini yang turun-temurun menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka datang dari Hadramautdari keturunan Isa Al-Muhajir dan Faqih Al-Muqaddam. Mereka datang kemari dari berbagai keluarga. Yang kita banyak kenal ialah keluarga Alatasa. Assagaf,Alkaf, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abubakar, Assiry, Al-Aidid, Al Jufri, Albar, Almussawa, Ghatmir, bin Agil, Alhadi, Basyarban, Bazzar;ah. Bamakhramah. Ba;abud. Syaikhan, Azh-Zhahir, bin Yahya dan lain-lain. Yang menurut keterangan Almarhum Sayid Muhammad Bin Abdurrahman bin Syahab telah berkembang jadi 199 keluarga besar. Semuanya adalah dari “Ubaidillah Bin Ahmad Bin Isa Al-Muhajir. Ahmad Bin isa Al-Muhajir Ilallah inilah yang berpindah dari Basrah ke Hadhramaut. Lanjutan silsilahnya ialah Ahmad Bin Isa Al Muhajir Bin Muhammad Al-Naqib bin Ali Al-Aridh Bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain As-Sibthi Bin Al Bin Abi Thalib. As-Sabthi artinya cucu, karena Husain adalah anak dari Fathurmah binti Rasulullah s.a.w

Sungguhpun yang terbanyak adalah keturunan Husain dari hadhramaut itu, ada juga yang keturunan Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan Syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggilkan Tuan Sayid, mereka dipanggil juga HABIB, di Jakarta dipanggilkan WAN. Di Sarawak dan Sabbah disebut Tuanku. Di Pariaman (Sumatera Barat) disebut SIDI. Mereka telah tersebar di seluruh dunia. Di negeri-negeri besar sebagai Mesir, Baghdad, Syam dan lain-lain mereka adalah NAQIB yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan itu. Di saat sekarang umumnya telah mencapai 36.37.38 silsilah sampai kepada Sayidina Ali dan Fathimah.

Dalam pergolakan aliran lama dan aliran baru di Indonesia, pihak al-Irsyad yang menandatang dominasi kaum Baalwi menganjurkan agar yang menganjurkan agar yang bukan keturunan Hasan dan Husain memakai juga titel Sayid dimuka namanya. Gerakan ini sampai menjadi panas. Tetapi setelah keturunan Arab Indonesia bersatu, tidak pilih keturunan Alawy atau bukan, dengan pimpinan A.R Baswedan, mereka anjurkan menghilangkan perselisihan dan masing-masing memanggil temannya dengan “Al-Akh”, artinya Saudara.

Maka baik Habib Tanggul di Jawa Timur dan Almarhum Habib Ali di Kwitang Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad Bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah ko Hadramaut itu, dan Ahmad Bin Isa tersebut adalah cucu tingkat ke-6 dari cucu Rasulullah Husain Bin Ali Bin Abi Thalib itu. Kepada keturunan-keturunan itu semuanya kita berlaku hormat, dan cinta, yaitu hormat dan cinta orang Islam yang cerdas, yang tahu harga diri. Sehingga tidak diperbodoh oleh orang-orang yang menyalahgunakan keturunannya itu. Dan mengingat juga akan sabda Rasulullah s.a.w.: janganlah sampai orang lain datang kepadakua dengan amalnya, sedang kamu datang kepadaku dengan membawa nasab dan keturunan kamu, dan pesan beliau pula kepada puteri kesayangannya, Fathimah Al-Batul, ibu dari cucu-cucu itu: “Hai Fathimah binti Muhammad. Beramallah kesayanganku. Tidaklah dapat aku, ayahmu menolongmu dihadapan Allah sedikitpun”. Dan pernah beliau bersabda: “Walaupun anak kandungku sendiri, Fathimah, jika dia mencuri aku potong juga tangannya”.

Sebab itu kita ulangilah seruan dari seorang anak ulama besar Alawy yang telah wafat di Jakarta ini, yaitu Sayid Muhammad Bin Abdurrahman Bin Syahab, agar generai-generasi yang datang kemudian dari turunan “Alawy memegang teguh Agama Islam, menjaga pusaka nenek-moyang, jangan sampai tenggelam kedalam peradaban Barat. Seruan beliau itupun akan telah memelihara kecintaan dan hormat Ummat Muhammad kepada mereka.

Kategori:Pendapat
  1. zuhry bin busyairi basyaiban
    7 April, 2007 pukul 12:24 pm

    sayyid atau habib memang seharusnya menganggap diri mereka sbagai contoh yang baik (suri tauladan) karena mereka ibarat “cermin” dari pendahulu-pendahulu mereka, terutama Rasulullah SAW.
    ” lisanul haal anthoqu min lisanil maqol”
    semoga beliau-beliau dapat terus memberi contoh yang baik bagi masyarakat dimana mereka tinggal.

  2. 12 April, 2007 pukul 7:00 pm

    alhamdulilah…. ada yang mengomentari adem sekali… btw pak zuhry basyaiban mana nih webnya biar kita slaling tukar info

  3. Abdul Rahman
    23 April, 2007 pukul 1:50 pm

    Marilah kita berlumba untuk mencapai maximam ibadat kita serperti Nabi Kita Sayiidinal Mursaliin Muhammad Ibn Abdillah dan mengikuti semua sunah2 nya.Yang Penting Di depan Allah aza zawallah adalah Shalatmu, Amalmu.Bukan dari Keturunannya……

    Dari Abdul Rahman Muhammed Omar Abdul Rahman Al Hinduan

  4. smache
    5 Mei, 2007 pukul 8:28 pm

    adakah nasab dari sebelah perempuan yg ahlul bait berkahwin dengan lelaki bukan sayyid masih dikira ahlul bait….sebagaimana pendapat Iman Ahmad Ibnu Hambal…

  5. Ahmad Fuad Assegaff
    7 Mei, 2007 pukul 10:05 am

    Benar sekali yang dijelaskan oleh Alm Buya Hamka diatas, karena kita dinilai oleh Allah adalah amalan kita, bukan dari keturunan atau nasab kita. Mudah2an para bani alawiyin terjaga dari hal2 yang dilarang oleh agama dan menjadi tauladan masyarakat sekitarnya. Amin

  6. 15 Mei, 2007 pukul 2:08 pm

    # Abdul Rahman
    terima kasih semoga nasihat dan petuah paduka tuan Abdul Rahman Muhammed Omar Abdul Rahman Al Hinduan dapat merasapi tanah kebuh hijau ini sehingga menyuburi tanaman…

    # smache
    untuk masalah ini, yang saya tahu pendapatnya adalah tidak termasuk ahlul bait. Karena berdalil pada jalur orangtua dari Bapak. Jadi jika berkahwin suami dari non alawi (non habib) sementara perempuan dari golongan alawi (syarifah) maka tidak masuk ahlil bait… Semua turunan di catatat di Darul Aitam Tanah Abang.

    # Ahmad Fuad Assegaff
    makasih Habib Ahmad…. kami tetap menghormati dan menghargai segenap keturunan alawiyin. Sebagaimana kyai kami, mengajarkan itu.

  7. 18 Mei, 2007 pukul 5:14 am

    ass wr wb,yg jelas ana mencintai para habaib,sebab dakwah beliau adalah sngat mulia,seperti yg dicontohkan oleh njid para habaib yaitu Rasulullah SAW,jelas sdh bahwa para habaib adalah memang zuriyatul Rasulullah,Sholu `ala Muhammad,wass wr wb

  8. Saud Alkaff
    18 Mei, 2007 pukul 3:50 pm

    Adalah sebuah keharusan dan kewajiban yang sangat berat bagi para sayyid atau habaib untuk mengemban amanah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Amanah itu adalah dakwah wal jihad bil maal wa anfus. bukankah itu yang dilakukan para pendahulu kita, Rasulullah shollallahu alaihi wasallam dan keturunannya? Kewajiban itu seharusnya menyibukkan para sayyid untuk berdakwah, dengan bentuk apapun, paling tidak menjadi teladan bagi orang lain.
    Allahu akbar!!

  9. smache
    20 Mei, 2007 pukul 3:01 am

    saya petik dari buku ‘keutamaan keluarga Rasulullah saw’ oleh K.H. Nuh

    …Syeikhul Islam Ibnul Qayyim kemudian berbicara tentang erti ‘zuriat’. Ia menegaskan, bahawa ‘zuriat’ bererti ‘anak cucu keturunan, tetapi apakah keturunan dari anak perempuan termasuk juga dalam pengertian ‘zuriat’?

    Mengenai hal itu terdapat dua pendapat di kalangan para ulama…demikian kata Ibnul Qayyim dalam penjelasannya;

    Pendapat pertama ialah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, yang mengatakan bahawa keturunan dari anak perempuan termasuk zuriat; dan ini menjadi mazhab Syafi’iy.

    Pendapat yang kedua mengatakan, bahawa keturunan dari anak perempuan tidak termasuk dalam pengertian zuriat; dan ini adalah mazhab Imam Abu Hanifah.

    Golongan yang menganut pendapat pertama bersepakat bulat, bahawa anak cucu Siti Fatimah Az-Zahra r.a adalah zuriat (keturunan) Rasulullah s.a.w., yakni zuriat yang mustahak menerima shalawat dan salam dari kaum Muslimin. Sebab tidak ada putera atau puteri Rasulullah s.a.w. yang melahirkan keturunan selain Siti Fatimah r.a. Kerana itulah Rasulullah s.a.w. menyebut al-Hasan – putera Fatimah r.a – dengan ‘anakku’. Beliau menegaskan: ‘‘Sesungguhnya ini (al-Hasan r.a) adalah anakku, seorang sayyid’’.
    Ketika ayat mubahalah (ayat 61 surah Aali Imran, iaitu ayat yang menentang kaum musyrikin untuk bersedia menerima kutukan Allah) turun, Rasulullah s.a.w. segera memanggil Siti Fatimah, al-Hasan dan al-Husein radhiyallahu anhum, kemudian keluar bersama-sama untuk bermubahalah dengan kaum Nasrani Najran. Demikian Ibnul-Qayyim.

    Setelah mengatakan, bahawa Nabi Isa a.s tidak mempunyai silsilah dari Nabi Ibrahim a.s selain dari pihak bundaknya, Maryam; berkata lebih lanjut:
    “Pihak (pendapat kedua) yang berpendapat bahawa keturunan anak perempuan tidak termasuk dalam pengertian ‘zuriat’ berhujjah, bahawa keturunan dari anak perempuan pada hakikatnya adalah keturunan dari ayah mereka. Kerana itu jika ada seorang wanita melahirkan anak bukan dari seorang pria Bani Hasyim, anak tersebut tidak termasuk keturunan Bani Hasyim. Bagi orang merdeka (bukan budak) keturunannya mengikuti silsilah ayah, sedangkan bagi budak, keturunannya mengikuti silsilah ibu. Akan tetapi dilihat dari sudut agama, yang terbaik di antara keduanya itu ialah yang paling besar takwanya…

    “Mereka mengatakan, dimasukkannya Siti Fatimah r.a ke dalam zuriat Rasulullah s.a.w. semata-mata kerana kemuliaan dan keagungan martabat ayahandanya, yakni Muhammad Rasulullah s.a.w., yang tak ada persamaannya dengan manusia mana pun di dunia. Dengan demikian maka zuriat Nabi dari puterinya itu merupakan kelanjutan dari keluhuran dan kemuliaan martabat beliau s.a.w. Kita mengetahui bahawa kemuliaan dan keagungan seperti itu tidak dapat kita temukan pada orang-orang besar, raja-raja dan lain sebagainya. Kerana mereka tidak memandang keturunan dari anak perempuan mereka sebagai zuriat yang meneruskan kebesaran dan kemuliaan mereka. Yang dipandang sebagai penerus kebesaran mereka hanyalah keturunan anak lelaki mereka. Jadi, jika keturunan, itu semata-mata disebabkan oleh factor keagungan dan keluhuran ayah anak perempuan itu…”

    Menganggapi pendapat seperti tersebut di atas (pendapat kedua) itu, Ibnul Qayyim dengan tegas mengatakan: “Dikenakannya pandangan seperti itu pada zuriat Rasulullah s.a.w. adalah tidak benar dan tidak pada tempatnya”.

    ***
    Dari tutur-kata dan pendapat-pendapat dua orang Syeikhul Islam, Ibnul Taimiyyah dan Ibnul Qayyim, yang kami utarakan semuanya itu, tampak jelas bahawa kedua ulama puncak itu menekankan, bahawa yang disebut ‘Ahlul-Bait’ atau ‘aal’ Nabi Muhammad s.a.w. ialah Imam ‘Ali bin Abi Thalib, Siti Fatimah Az-Zahra dan anak cucu keturunan mereka berdua. Kecuali itu ditekankan pula bahawa mereka itulah yang disebut ‘Ahlul-Kisa’ dan merupakan anggota-anggota keluarga Rasulullah s.a.w. yang terdekat dan paling terkemuka. Dua orang Syeikhul Islam itu menekankan juga bahawa hadits-hadits Istishfa (yang menerangkan kesucian Ahlul-Bait) benar-benar meyakinkan dan kuat.

  10. smache
    20 Mei, 2007 pukul 1:38 pm

    Syeikhul Islam Ibnul Qayyim kemudian berbicara tentang erti ‘zuriat’. Ia menegaskan, bahawa ‘zuriat’ bererti ‘anak cucu keturunan, tetapi apakah keturunan dari anak perempuan termasuk juga dalam pengertian ‘zuriat’?

    Mengenai hal itu terdapat dua pendapat di kalangan para ulama…demikian kata Ibnul Qayyim dalam penjelasannya;

    Pendapat pertama ialah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, yang mengatakan bahawa keturunan dari anak perempuan termasuk zuriat; dan ini menjadi mazhab Syafi’iy.

    Pendapat yang kedua mengatakan, bahawa keturunan dari anak perempuan tidak termasuk dalam pengertian zuriat; dan ini adalah mazhab Imam Abu Hanifah.

    Golongan yang menganut pendapat pertama bersepakat bulat, bahawa anak cucu Siti Fatimah Az-Zahra r.a adalah zuriat (keturunan) Rasulullah s.a.w., yakni zuriat yang mustahak menerima shalawat dan salam dari kaum Muslimin. Sebab tidak ada putera atau puteri Rasulullah s.a.w. yang melahirkan keturunan selain Siti Fatimah r.a. Kerana itulah Rasulullah s.a.w. menyebut al-Hasan – putera Fatimah r.a – dengan ‘anakku’. Beliau menegaskan: ‘‘Sesungguhnya ini (al-Hasan r.a) adalah anakku, seorang sayyid’’.
    Ketika ayat mubahalah (ayat 61 surah Aali Imran, iaitu ayat yang menentang kaum musyrikin untuk bersedia menerima kutukan Allah) turun, Rasulullah s.a.w. segera memanggil Siti Fatimah, al-Hasan dan al-Husein radhiyallahu anhum, kemudian keluar bersama-sama untuk bermubahalah dengan kaum Nasrani Najran. Demikian Ibnul-Qayyim.

    Setelah mengatakan, bahawa Nabi Isa a.s tidak mempunyai silsilah dari Nabi Ibrahim a.s selain dari pihak bundaknya, Maryam; berkata lebih lanjut:
    “Pihak (pendapat kedua) yang berpendapat bahawa keturunan anak perempuan tidak termasuk dalam pengertian ‘zuriat’ berhujjah, bahawa keturunan dari anak perempuan pada hakikatnya adalah keturunan dari ayah mereka. Kerana itu jika ada seorang wanita melahirkan anak bukan dari seorang pria Bani Hasyim, anak tersebut tidak termasuk keturunan Bani Hasyim. Bagi orang merdeka (bukan budak) keturunannya mengikuti silsilah ayah, sedangkan bagi budak, keturunannya mengikuti silsilah ibu. Akan tetapi dilihat dari sudut agama, yang terbaik di antara keduanya itu ialah yang paling besar takwanya…

    “Mereka mengatakan, dimasukkannya Siti Fatimah r.a ke dalam zuriat Rasulullah s.a.w. semata-mata kerana kemuliaan dan keagungan martabat ayahandanya, yakni Muhammad Rasulullah s.a.w., yang tak ada persamaannya dengan manusia mana pun di dunia. Dengan demikian maka zuriat Nabi dari puterinya itu merupakan kelanjutan dari keluhuran dan kemuliaan martabat beliau s.a.w. Kita mengetahui bahawa kemuliaan dan keagungan seperti itu tidak dapat kita temukan pada orang-orang besar, raja-raja dan lain sebagainya. Kerana mereka tidak memandang keturunan dari anak perempuan mereka sebagai zuriat yang meneruskan kebesaran dan kemuliaan mereka. Yang dipandang sebagai penerus kebesaran mereka hanyalah keturunan anak lelaki mereka. Jadi, jika keturunan, itu semata-mata disebabkan oleh factor keagungan dan keluhuran ayah anak perempuan itu…”

    Menganggapi pendapat seperti tersebut di atas (pendapat kedua) itu, Ibnul Qayyim dengan tegas mengatakan: “Dikenakannya pandangan seperti itu pada zuriat Rasulullah s.a.w. adalah tidak benar dan tidak pada tempatnya”.

    ***
    Dari tutur-kata dan pendapat-pendapat dua orang Syeikhul Islam, Ibnul Taimiyyah dan Ibnul Qayyim, yang kami utarakan semuanya itu, tampak jelas bahawa kedua ulama puncak itu menekankan, bahawa yang disebut ‘Ahlul-Bait’ atau ‘aal’ Nabi Muhammad s.a.w. ialah Imam ‘Ali bin Abi Thalib, Siti Fatimah Az-Zahra dan anak cucu keturunan mereka berdua. Kecuali itu ditekankan pula bahawa mereka itulah yang disebut ‘Ahlul-Kisa’ dan merupakan anggota-anggota keluarga Rasulullah s.a.w. yang terdekat dan paling terkemuka. Dua orang Syeikhul Islam itu menekankan juga bahawa hadits-hadits Istishfa (yang menerangkan kesucian Ahlul-Bait) benar-benar meyakinkan dan kuat.

  11. Muhammad Nasrulloh Al-Jufri
    12 Juli, 2007 pukul 4:27 pm

    Allah tidak melihat pakaian seorang hamba, melainkan Allah melihat amal daripada hamba itu. Namun demikian, zurriyat tetaplah tidak boleh dilupakan. karena dengan mengetahui dzuriyat, maka kita (zuriat rosul) memiliki tanggung jawab moral yang dalam.
    Semoga Allah selalu memberikan petunjuk bagi kita semua.

  12. Biji_semut
    24 September, 2007 pukul 7:52 pm

    mengenai hal aal (zuriyat) Rasulullah SAW, sebagai orang yg diluar mereka, kita tetap harus menghormati mereka dari sisi melihat tali darah yg tersambung ke Rasulullah SAW..
    Dan kita sebaiknya tidak melihat Ilmu mereka ataupun Hal ahklak mereka , karena bukan ukuran kita untuk menilainya, sebab rasa cinta tidak akan pernah hilang ke Datuk mereka.

    Tanamkan ke anak anak kita tentang keutamaan aal Rasulullah SAW sejak dini.
    Biar anak-2 kita faham dan tahu kedudukannya para Aal Rasulullah SAW, dan dapat bergaul dengan Aal Rasulullah SAW , sehingga menumbuhkan kecintaan yg dalam ke Rasulullah SAW dengan wasilah bergaul bersama Aal Rasulullah SAW.

    Berbicara Ahklak atau ilmu , berbicara hal yg terbatas. Tetapi berbicara Cinta artinya kita berbicara tentang menanamkan kelubuk hati anak-2 kita tentang Rasulullah SAW dan keluarganya Bukan Taklid tetapi itulah yang di minta dari kita tentang hak hak mereka, dan jelas terlihat dalam bacaan Shalat kita yaitu “shalawat”.

    wassalam

    @bijisemut
    makasih atas pencerahannya.. :) senang sekali atas nasehat ini

  13. 24 Oktober, 2007 pukul 7:21 pm

    ass wr wb

    mohon informasi dan kontak

    kepada saudar-saudara keturunan said yang berasal dari daerah khairia mandah tembilahan kabupaten indragiri hilir propinsi riau terutama yang berasal dari fase al-qudsi saya mohon mengontak saya di email : wahyudiputra@gmail.com
    saya adalah anak dari said mustafa husin , kakek saya said mustafa husin adik beradik dengan said hasan berasal dari mandah tembilahan. saya cucu said husin dari anaknya yang di teluk kuantan kab. kuantan singingi propinsi riau. sekarang saya tinggal di pekanbaru riau.

    wassalam

  14. 24 Oktober, 2007 pukul 7:23 pm

    maaf ada kesalahan ketik pada kalimat ” kakek saya said mustafa husin adik beradik dengan said hasan..”
    seharusnya ” kakek saya said husin adik beradik dengan said hasan..”

  15. 19 Februari, 2008 pukul 7:43 pm

    semoga nassyab menjadi wassyillah tambah taat kepada allah taalla dan semakin luhur budi pekerti seperti jid,jid pendahulu anda semua dan jangan menjadikan sombong dgn nassyab trimakasih…

  16. sudirman_priyo
    25 April, 2008 pukul 5:21 pm

    Assalamu’alaikum,

    Sudah sepantasnya bagi kita untuk cinta dan hormat kepada semua keturunan Rosulullah Muhammad SAW,
    sebagai ujud rasa rasa cinta dan terimakasih kita atas risalah yang dibawa junjungan kita Rosulullah Muhammad SAW.

    Wassalam

  17. chaled baawad
    30 April, 2008 pukul 10:31 pm

    ni hamka orang minang yg gak jelas nasabnya, seperti yg kita ketahui org minang itu matrinial jd nama fam keluarga ayahnya gugur atau segaja dikaburkan demi adat mereka ..,ana mau cerita ttg sejarah ranah minang sebelumnye kira2 adab ke 11 atau 12, mereka sudah mulai memeluk islam yg sebelumnya mereka menganut hindu saat itu mahzab syiah zaidi dari hadramaut berkembang pesat.., dimasa2 awal banyak terjadi kerusakan akidah islam dimana nikah mut’ah sudah menjadi budaya massal ditambah lagi adat matrial mereka yg dimana menyebabkan seseorang lahir tampa perlu mengenal ayah atau nasab mereka(lebih parah dari iran khan!)..,saat itu proses asimilasi islam dan adat setempat terjalin, namun banyak ketetapan yg melenceng dari akidah islam.. sampai akhirnya awal abad ke18 lahir gerakan revolusi padri(di ilhami revolusi wahhabi di timteng) yg dipimpin oleh syarif muhammad shahab(imam bonjol)dan wakilnya salim baasyer(tuanku tambusai) serta panglima ucok sinambela(tuanku rao)dan banyak lagi lainnya mereka semua adalah alumni laskar islam perang salib yg dipimpin kesultanan othoman turkey selama 15 tahun mereka bertempur melawan kaum kafir eropa..(hebat khan), sekembalinya mereka dari timur tengah mereka langsung menata kembali ajaran islam yg sudah lama dirusak oleh kaum adat dan wali2 syiah yg kbelinger.. dgn cara dakwah ataupun tajamnya pedang!,hampir semua niat mereka tercapai dgn menghapuskan mut’ah menghancurkan segala bentuk bid’ah/khurafat yg ada, walau demikian mereka gagal menghapus hukum adat matrinial dari ranah minang karena liciknya kaum adat bersandiwara.., harap diketahui andaikan laskar padri berhasil menjadikan minang patrineal selayaknya hukum islam maka akan byk tersingkap fam2 keturunan hadramaut disana..seperti muhammad hatta(attamimi),agus salim(baalawy), juga gelar sidi(sayidina dr fam jamalullai,alhadddar dll ) byk disana…,setelah selesai laskar padri merehab diminang selanjutnya mereka pergi ke pedalaman tapanuli selatan dan mandailing berdaqwah dan mengislamkan orang2 batak bar-bar penganut aninisme yg terkenal ganas! yg sebelumnya tak ada pendaqwah yg berani kesana.., walau demikian batak2 ini tdk seperti minang yg matrineal dan munafik, batak adalah patrineal yg menjujung tinggi nasab ayah ayah mereka dgn nama2 fam mereka yg aneh2!, karena patrineal dan sifat demokrat batak2 selatan ini ajaran mahzab laskar padri(hambali/wahabbi) menjadi azaz islam tunggal disana sampai saat ini., keturunan laskar padri di tapsel/mandailing diberi gelar nasution..

    • Ichwan
      26 Juli, 2010 pukul 4:05 pm

      Assalamu’alaikum wr wb..

      Saudara Chaled Bw… Antum tidak sepantasnya menjelek – jelekkan suatu kaum tertentu disini…
      Bukankah islam sendiri melarang suatu kaum menghina kaum lain karena belum tentu kaum yang menghina itu lebih baik dari kaum yang dihina… (QS. Al Hujurat : 10)
      Kalau antum yakin nasab antum jelas dari keturunan Rasulullah SAW, harusnya antumlah yang mencari tali – temali persaudaraan dengan suku bangsa lain di Indonesia yang disinyalir terkait juga dengan keturunan junjungan kita Rasulullah, SAW. Bukan malah mencelanya dan mencari – cari kesalahannya.. Dan Allah menyuruh seorang mukmin untuk mendamaikan diantara saudaranya (QS. Al Hujurat : 11) bukan saling menghina dan menjelekkan..
      Saya yakin kalo antum seorang muslim yang ta’at tidak akan menjelekkan suku bangsa tertentu…
      Saya sendri pun terkaget ketika mengetahui ternyata gelar Sidi yang diturunkan dari ayah saya yang berdarah Minang – Pariaman ada kaitannya dengan Baginda Rasulullah SAW.. Wallahu’alam.. Semoga kalau ini benar, dapat saya pertanggung jawabkan dengan lebih memperbaiki diri lagi… Dan saya memang merasakan jauh didalam hati saya terdalam saya sangat merindukan Beliau Rasulullah SAW..
      Semoga kita semua umat muslim, baik yang terkait dengan keturunan Rasulullah SAW maupun bukan bisa lebih baik memelihara ukhuwah islamiyah yang diajarkan Baginda Rasul SAW…
      Bukan hanya menggunakan nasab dari Beliau sebagai suatu kebanggaan, tapi sebagai suatu kewajiban untuk saling memperbaiki diri, memelihara ukhuwah islamiyah dan mengenali saudara – saudara kita yang lain..

      Allah lebih mengetahui…

      Wassalamu’alaikum wr wb..

      • alieeee
        3 Desember, 2011 pukul 5:18 pm

        saya setuju
        mohon jangan menojokan kaum atau bngsa lain
        mari kita ambil hikmahnya
        kita wajib bersukur kita termasuk dari keturunan nabi besar MUHAMMAD SAW sekaligus menjadi beban buat kita untuk menjaga nama baik itu dng menjalankan segala perintah ALLAH dan menjuhi larangannya
        saya keturunan sidi dari pariaman

  18. kani al-hijry
    10 Mei, 2008 pukul 12:40 pm

    saudaraku cintailah Rasulmu beserta zurriyat-zurriyat beliau dengan keikhlasan dan rasa hormat serta adab yang tinggi/mulia, dan pegang teguhlah ajaran/sunnah rasul smoga dengan kita berpegang kepada sunnah rasul kita terlepas dari belenggu kesesatan.amiiin ya Robbal ‘alamiin.

  19. chaled baawad
    10 Mei, 2008 pukul 10:49 pm

    semola para arwah ahlul ba’it rasullulah tdk menagis sedih melihat tingkah laku/perangai zurriyat2 mereka..amiin ya robbal’alamiin.

  20. Athif Ahsani
    19 Mei, 2008 pukul 12:45 am

    Saya orang jawa asli, meskipun denger-denger kakek dari ibu ada keturunan arab. Denger-denger juga ayah saya keturunan arab juga. Kakek paman saya nikah sama syarifah sampe punya anak 6. Tapi kok saya nggak pernah “ngeh” dengan kata sayyid/ habib. saya banyak bergaul dengan para habib, nggak ada istimewanya juga, sama saja. bahkan suami bibi saya yang habib, kerjaanyya “dawir” ke kyai-kyai kampung. huh..mangkel bin malu

  21. hamid assegaf
    25 Mei, 2008 pukul 12:05 am

    dan semoga arwah kakek moyang anda tidak menangis melihat anak cucunya skrg meninggalkan ahlulbayt,hati2 yg suka dawir2,pake jenggot,hidung mancung ngaku habib,padahal……..?

  22. chaledbaawad
    25 Mei, 2008 pukul 8:03 pm

    buat sdr athif..coba tolong di cek ada gak seorang arab syech yg suka dawir ke kyai2 kampung lantas ngaku2 sbg habib??,kayaknya jauh panggang dari api ya..,gak penting juga kan..,lagipula nanti bisa ada yg kebakaran jenggot kalo gelar “kebangsawanan”nya dipake ama orang laen..hehe..iya kan bib..

  23. doni
    4 Juni, 2008 pukul 10:56 pm

    chaleed ana mau tanya, pengertahuan ente banyakjuga , ane mau tanya nih ente tau gak sih gelar masagus itu buat orang jawa apa palembang.

    trus raden itu apa sih??

    sory nih ngelantur sedikit.

  24. chaled baawad
    5 Juni, 2008 pukul 7:22 pm

    wah kalo soal gelar masagus ato gelar raden dipalembang ana gak kurang faham deh..itu gelar ningrat palembang pasca mereka ditaklukan oleh org demak/jawa(sanjaya)jd para bangsawan palembang itu sama sekali bukan org Melayu..tp org2 demak/jawa..untuk lebih jelasnya mungkin sdr doni bisa menelitinya disejarah awal nusantara antara wangsa sailendra(Melayu) dan rivalnya wangsa sanjaya(Jawa)..karena setahu ana ke-dua wangsa tsb merupakan pemeran utama dikisah masa2 awal permulaan sejarah Nusantara(indonesia/malaysia).

  25. coang
    18 Juni, 2008 pukul 6:44 pm

    jangan make gelar2an deh…nanti malah bikin firman..

  26. sufimuda
    4 Oktober, 2008 pukul 11:32 pm

    Disamping silsilah secara zahir (turunan darah), juga terdapat silsilah ruhani (Dalam Tradisi Tasawuf) sebagai penyambung ummat dengan Rasulullah dan kepada Allah.
    Mereka itu adalah para Wali Allah dan para ulama pewaris Nabi.

  27. chaled baawad
    24 Oktober, 2008 pukul 8:35 pm

    ya ya..yg suka muter2 pake rok itu kan?, kabbani mukanye mirip2 panoramix dukun galia.

  28. raden derry amintakusumah
    26 Oktober, 2008 pukul 2:26 am

    ane mw tny apa gelar raden yg ane pake ini msh ad hub ny dgn gelar sayid atw habib sebab ane msh ada turunan dr sunan gunung jati cirebon..

  29. baawad
    1 November, 2008 pukul 9:17 pm

    derry..yg mentereng itu kalo namanya: tengku raden sayyid abbas alhamiddinigrat..hehe..(sorry becanda)..,yah mgkn kalo nasab nt ampe ke sunan g.jati artinye nt masih t’golong habib.

  30. dadi
    16 Desember, 2008 pukul 4:17 pm

    Assalaamulaikum,

    Bung Chaled Baawad, uraian Anda menarik sekali. Terutama mengenai kemungkinan fam2 hadramaut yang tertimbun oleh sistem kekerabatan matrilineal. Anda menyebutkan bahwa gelar sidi berasal dari fam jamalullail,alhaddar,dll. Kalau boleh saya tahu,apa sandaran atau referensi Anda untuk menyatakan hal tersebut. Terimakasih sebelumnya.

    Wassalaam

  31. zhuhri
    9 Februari, 2009 pukul 7:48 pm

    Assalamu’laikum,
    Sebenarnya golongan habib ini sombong gak sh??
    swlnya menikah aja mesti harus sama2 golongan..
    kayak said harus dg syarifah..
    gmn th??
    untuk wahyu,saya dari mandah dan marga saya jg Al-Qudsi.
    wassalam.

  32. hasin
    10 Februari, 2009 pukul 11:30 pm

    Catatan Tempo: Mencari Habib Sejati
    Tuesday, 10 February 2009 / irib idonesia

    Tempointeraktif memuat catatan wartawan senior Ahmad Taufik mengenai habib. Dalam catatan tersebut, Ahmad Taufik mengungkap makna di balik istilah habib.

    Sejumlah kata mengalami inflasi makna. Habib adalah salah satunya. Sekarang ini setiap orang keturunan Arab seakan-akan berhak menyandang gelar habib itu. Itulah sindiran pertama Ahmad Taufik yang ditujukan kepada keturunan Arab di nusantara.
    Dari mana habib berasal? Tentu dari bahasa Arab. Hubb, ahabbah-yuhibbu-hubban, menurut Kamus Arab-Inggris-Indonesia terbitan Al-Maarif, Bandung (1983), berarti cinta atau mencintai. Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (2005) mengartikan habib sebagai yang dicintai atau kekasih. Bisa juga panggilan kepada orang Arab yang artinya tuan atau panggilan kepada orang yang bergelar sayid.
    Sayid berasal dari saadah, ya siidu, siyadah yang berarti pimpinan atau ketua yang melayani (ummat). Kamus Besar mengartikan sayid sebagai tuan atau sebutan untuk keturunan Nabi Muhammad. Kamus Besar memperjelas kata itu dengan sayidani yang berarti tuan yang dua-sebutan untuk dua cucu Nabi, yaitu Hassan dan Hussein.
    Berkaitan dengan dua kata tadi, ada kata syarif yang berarti orang yang mulia. Kata ini juga berarti bangsawan, sebutan bagi keturunan Nabi Muhammad yang langsung dari garis Hussein. Yang perempuan disebut syarifah.
    Dengan begitu, habib disematkan sebagai bentuk kecintaan umat terhadap guru yang mengajarkan kebaikan dan akhlak. Ini sama dengan gelar kiai atau ajengan di Jawa.
    Sejarah Islam menjelaskan, habib merupakan gelar mulia untuk keturunan Hussein bin Ali bin Abi Thalib. Cucu Nabi Muhammad ini dibunuh secara kejam di Karbala. Anaknya, Ali Zainal Abidin, karena tekanan penguasa khalifah “Islam”, hanya bisa menjadi ahli ibadah, maka di belakang namanya ada gelar abidin.
    Semua khalifah “Islam” memusuhi keturunan Hussein karena takut pengaruh keilmuan dan ketinggian asal keturunannya. Keturunan kedelapan, Ahmad bin Isa, akhirnya pindah dari Basrah di Irak selatan ke Hadramaut di Yaman. Ia wafat pada 345 Hijriyah. Cucu Ahmad bin Isa, Alwi bin Ubaidillah, yang menetap di Hadramaut, dan keturunannya kemudian dinamai Alawiyin.
    Penetapan nama itu, menurut Tharick Chehab (1975)-yang ditulis kembali oleh Kurtubi (10 Januari 2007) dalam Sejarah Singkat Habaib (Alawiyin) di Indonesia-dilakukan karena di Hadramaut berlaku undang-undang kesukuan. Setiap keluarga harus punya nama suku. Beberapa suku besar dan ningrat di Yaman saat itu disebut Qabili. Mereka memusuhi keturunan Sayidina Ali bin Abi Thalib itu.
    Karena tekanan masyarakat semakin kuat, keturunan keenam Alwi bin Ubaidillah, Muhammad al-Faqih al-Muqaddam, meninggalkan mazhab ahlul bait yang dianutnya. Secara kompromis ia menerima mazhab Muhammad bin Idris al-Syafi-i al-Quraisyi atau mazhab Syafi’i. Setelah Al-Muqaddam wafat di Tarim pada 653 tarikh Islam, keturunannya pun menyebar ke Afrika Timur, India, Malaysia, Thailand, Filipina, Tiongkok, juga Indonesia.
    Di Indonesia, keturunan Hussein masih membawa nama keluarga karena pengaruh kehidupan di Hadramaut. Kita mengenal Al-Attas (yang berarti bersin atau bangkis), As-Saqaf (atap/langit-langit), Al-Haddad (hadid, besi/pandai besi), Al-Habsyi (nama tempat di Afrika, Habsyah), Al-Jufri, dan sebagainya. Nama belakang itu berasal dari panggilan, profesi, atau asal-muasal, seperti nama marga di Tapanuli, Makassar, atau Jawa.
    Di beberapa negara, alawiyin bisa dikenali lewat sebutan sayyid, syarif, ayib, atau sidi di depan nama mereka. Misalnya bekas Menteri Luar Negeri Malaysia, Syed Hamid Albar, atau pemimpin tertinggi Iran, Sayyid Ali Khamenei.
    Masyarakat kita mengenal orang-orang mulia, tinggi ilmu agama, dan terpuji akhlaknya seperti Habib Sholeh bin Muchsin Alhamid dari Tanggul, Habib Abdurahman Alaydrus dari Luar Batang, Jakarta Utara, dan Habib Ali Alhabsyi dari Kwitang, Jakarta Pusat. Artinya, sayyid atau habib hanya pantas disandang orang dengan tingkat ketakwaan, kezuhudan, dan keilmuan yang tinggi serta berakhlak mulia.
    Gelar habib itu bukan gelar untuk keturunan Arab yang hanya cakap memakai sorban dan jubah tapi jauh dari akhlak mulia. Itu bukan gelar untuk mereka yang suka memakai kekerasan, apalagi dengan mengatasnamakan agama.

    Di akhir catatan catatan Ahmad Taufik tersebut, wartawan senior Tempo itu menunjukkan kekecawaannya atas sejumlah keturunan Arab yang jauh dari akhlak mulia. Bahkan sejumlah dari mereka cenderung menonjolkan pakaian berjubah tanpa dibarengi dengan ilmu dan akhlak yang mulia.
    Ahmad Taufik yang juga keturunan Arab, menyatakan hal tersebut dengan harapan supaya saudara-sudaranya kembali ke khittah yang diwariskan kakek-kakeknya. Terlebih, kata habib melatarbelakangi sejarah perjuangan historis yang tidak akan pernah dilupakan dalam sejarah manusia, yakni pengorbanan Imam Husein as di Karbala.
    Dalam catatan tersebut, Ahmad Taufik menyebutkan, ada sejumlah tokoh penting yang bergelar keturunan Imam Husein as, seperti Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atua Rahbar, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei.
    Jika memperhatikan konstelasi politik di dunia, khususnya di Timur Tengah, kita akan menyaksikan tokoh-tokoh sayid yang berjuang serius untuk membela masyarakat di sekitarnya. Di Iran, kita dapat melihat kewibawaan dan kecerdasan Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei. Keberadaannya pun mengilhami perjuangan dan perlawanan anti pendudukan di sekitar kawasan.
    Di Irak, kita dapat menyaksikan tokoh pemersatu Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Sistani. Bahkan para analis politik membayangkan bahwa Irak di bawah tekanan tentara pendudukan, tak akan terkendali tanpa peran Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei.
    Di Lebanon, kita juga dapat menyaksikan peran Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hasan Nasrollah. Kegigihannya membuat bangsa Arab, khususnya rakyat Lebanon semakin percaya diri menghadapi Rezim Zionis Israel. Bahkan, Hizbullah di bawah kendali Sayid Hasan Nasrollah berhasil mempersatukan kelompok-kelompok di negeri ini. Sebelumnya, pengaruh asing sangat dominan di negeri ini. Namun karena peran Hizbullah, Lebanon kini mempunyai kebijakan independen yang tak dapat dipengaruhi oleh asing.
    Hingga kini, peran sayid atau keturunan Imam Husein as di dunia mempunyai pengaruh besar. Untuk itu, para keturunan Imam Husein as di nusantara sudah seharusnya kembali menempuh jalan yang ditempuh kakek-kakeknya.

  33. Erwin
    15 Februari, 2009 pukul 4:31 am

    Assalamualaikum Wr.Wb

    Saudara saudarku.Alangkah mulia seorang muslim,bila berucap dan menjalankan sesuatu beserta dengan ilmu dan Iman yang di anugerahkan oleh Alloh SWT melalui Al-Qur’an dan sunnah-Nya.
    Sungguh Alloh SWT Maha Adil.Pangkat,gelar dan sebagainya.hanyalah hiasan dunia belaka.keimanan dan ketakwaan seorang muslimlah yang akan menyelamatkan mereka dari siksa neraka.dan itu adalah janji Alloh SWT.Baginda Rasululloh tidak pernah menyuruh ummat nya untuk mengagung agungkan beliau,sehingga sesuatunya bisa berlebihan.
    Namun memang garis keturunan Beliau adalah harus kita hormati.tanpa harus mengkultuskan tentunya.
    Sungguh setiap mukmin yang beriman dan bertakwa adalah mulia dan terpuji di hadapan Alloh SWT.
    Semoga kita selalu ada dalam Lindungan Alloh SWT .amiin

  34. al faqir
    21 April, 2009 pukul 11:32 am

    senangnya,,,kita semua mengenal para keturunan Rasullallah SAW.
    Semoga kita selalu cinta kpd ahlul bait,,, amiiiin

  35. 7 Maret, 2011 pukul 2:16 am

    Ya Salam….

    Ulasan yg menyejukan dari beliau, Prof. Hamka. Ikut membaca komentar-komentar dari teman-teman di atas, saya sependapat dengan semuanya. Hemat saya, menambahkan komentar yang ada di atas, nasab sangat penting khususnya bagi pemiliknya, dan tidak ada salahnya dari orang lain ikut mengenali nasab yg di luar dari dirinya. Nasab penting bagi pemiliknya, karena sebagai upaya menjadi hamba yang sholeh secara kafah. Mengingat, menghormati orang tuanya juga harus menghormati kakek-neneknya, dan seterusnya ke atas. Dengan mengetahui nama-nama leluhurnya, merupakan bagian dari kesholehan dan sehingga bisa menjadi pelajaran bagi dirinya. Maka, merasa malu dan apalagi tidak mau mengakui nasabnya, itu merupakan perbuatan yang durhaka. Saya secara pribadi, sangat senang jika berkenalan dengan seseorang yg dengan gembira menyebutkan nasabnya, karena kembali saya ulang, orang tersebut berupaya menjadi seorang anak (keturunan) yg sholeh, dan namun demikian kesholehan tidaklah cukup hanya diukur dengan cara yg seperti itu….

    Adanya kalangan yang mencintai ahlulbait, sebagaimana yg dikemukakan oleh Prof. Hamka, itu wajar. Tambahan dari saya, wajar karena pada dasarnya setiap mukmin wajib mencintai sesama mukmin. Dengan kata lain, dengan mencintai ahlulbait, tidaklah lantas membenci umat yang beriman lainnya, karena jika demikian bukanlah mencintai ahlulbait. Cintailah semua orang yang beriman, maka itulah cinta yg sesungguhnya terhadap ahlulbait, terhadap Rasulullah Saw. Menyakiti orang beriman, apapun nasabnya itu sama halnya menyakiti Rasulullah Saw. Serta, menghina nasab orang beriman lainnya, juga suatu perilaku yang dibenci oleh Rasulullah Saw. Maka, menyisihkan sebagian orang yg beriman dengan mengangkat sebagian orang beriman lainnya, sehingga terbentuk kesenjangan social atau melahirkan kekecewaan atau sakit hati di antara beberapa orang mukmin, saya kira itu bukanlah cara yang dicontohkan ataupun diajarkan oleh Rasulullah Saw.

    Marilah kita tingkatkan rasa saling mencintai kepada semua orang Islam, semua orang beriman. Dengan kita mencintai semuanya, maka kemungkinan menyisihkan (menyepelekan yg berujung menghina) kepada sebagian umat Islam atau umat yang beriman lainnya tidak akan pernah ada….

    PERTANYAAN SAYA, DAN SAYA MOHON MAAF JIKA ADA YANG KURANG BERKENAN, “SEPENTING APAKAH MEMPERDEBATKAN KEABSAHAN AHLULBAIT?”

    Cinta…, oohhh Cinta! Cinta, jagalah diriku! Cinta, janganlah kau pergi meninggalkanku walaupun sekejap….

    Shodaqallahula’dzim. Wallahu’alam bishowab….

    Maaf jika ada yang kurang berkenan….

    Terimakasih artikelnya, Tadz. Salam….

  36. abdurrahman
    15 Maret, 2011 pukul 8:40 pm

    ssalamualaikum.wr.wb..

    saya mau menanyakan ,apa ada dari saudara yg mengetahui nama asli dari “BAYAN ADJIE” yg berkubur di tanah jawa.
    terima kasih

  1. 4 Juni, 2012 pukul 11:24 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: