Beranda > Celotehan > Santri Harus Punya Dua Baju

Santri Harus Punya Dua Baju

Dalam salah satu kesempatan pengajian di asrama yang pernah saya mondok, Mbah Maimun (KH. Maemoen Zubeir) pernah bertutur dengan istilah yang bijak : “wahai para santri hendaklah kalian memliki dua baju”. Itulah ungkapan pendek kyai saya di Sarang – Rembang Jawa Timur. kata Mahmud Syaltut, salah satu putra kyai Buntet lulusan Sarang, Jawa Timur. Memang banyak sekali putra kyai Buntet adalah lulusan dari Pesantren Mbah Mun (panggilan akrab para santrinya kepada KH. Maemoen Zubeir). Tulisan ini adalah kenang-kenangan yang ingin dibagi kepada teman-teman di web ini.

 

Dalam benak saya, ungkapan sarat makna ini amat berguna dan menjadi bekal saya dan teman-teman dari Pesantrren Sarang juga kepada para santri semuanya untuk bisa fleksibel dan toleran kepada masyarakat sekitar. Baju Phisik

Ungkapan Mbah Mun yang mengharuskan para santri memiliki dua baju, menurut saya ada dua pengertian. Pertama, yang dimaksud dengan baju di sini adalah benar-benar baju fisik. Di saat bergaul dengan masyarakat santri, maka berpakaianlah ala santri. Hal ini untuk memberikan nuansa alami atau sebagai penghormatan, sebagai adab atau tatkrama dalam bergaul dengan mereka. Sebab kesan yang sudah baik di masyarakat terhadap santri, mestinya dipertahankan dengan budayanya. Jika budaya santri dirusak oleh santrinya sendiri dikhawatirkan membawa dampak negatif berupa anti terhadap santri. Jadi berpakaian di kalangan masyarakat santri mesti sesuai.

Kedua, jika baju pisik yang dikenakan di masyarakat yang heterogen atau kalangan non santri, maka sebaiknya disesuaikan dengan alamnya. Sebab di sini ada etika berpakaian sebagai bagian dari rasa hormat dengan budaya mereka. Di sisi lain untuk meberikan kebebasan dan keleluasaan dalam bergerak dan bertingkah laku agar tidak terkesan “sok alim” atau sejenisnya. Hal ini akan memberikan sikap yang kurang simpati terutama bagi kalangan yang kurang suka dengan “gaya santri”. Sebab boleh jadi sekarang terdapat banyak masyarakat yang tidak senang dengan gaya santri.

Karena itu cara berpakaian yang bisa menyesuaikan dengan masyarakat umum ini perlu menjadi perhatian. Pernah suatu kali beliau menasihati agar salah satu santrinya ketika hendak pulang pakailah celana jeans bila perlu. Alasannya biar kelihatan gagah, ganteng dan tegar. Sebab beliau tidak menginginkan santri-santrinya tergambar di masyarakat sebagai orang yang berpakaian lusuh, kotor, dan tidak terurus, tidak menghormati masyarakat umum, tidak bisa mengurus diri dan terkesan seenaknya. Namun tentu saja saya yakin, beliau tidak suka berpakaian yang tidak sepantasnya. Tetap dalam koridor menutup aurat. Bukan berarti ketika bergaul dengan suku Asmat lalu ikutan memakai koteka.

Baju non Phisik
Baju non pisik menurut pandangan saya dari nasehat Mbah Mun ini adalah agar para santri memiliki style santri yang bisa memberikan pandangan yang kontributif bagi masyarakatnya. Karena masyarakat dalah heterogen; ada masyarakat petani, ada masyarakat pedangan, pegawai, masyarakat militer, masyarakat birokrat dan lain-lain.

Maka tatatkala berinteraksi dengan masing-masing anggota masyarakat dalam berbagai kesempatan entah dalam posisi sebagai guru atau semacamnya hendaknya berbicara dengan kadar masyarakatnya. Pertama, Jika masyarkatnya berpengatuan tinggi, maka milikilah pakaian yang sesuai dengan kadar mereka. Pengetahuan adalah baju yang bisa dipandang menarik dan enak dilihat, menyejukkan dan menentramkan.

Dalam menerangkan atau berdakwah dengan masyarakat terpelajar ini tentunya tidak vulgar dalam ucapan, tidak compang-camping dalam logika pemikiran. Runut, to the point, logis, dan uptodate. Sebab pakaian yang up to date biasanya menjadi sorotan publik. Karenanya, style dalam berpikir mesti perlu diperbaharui agar bisa survive dalam berkiprah di masyarakat. Karenanya baju-baju pemikiran dan pengetahuan yang upto date terdapat banyak sekali didapat. Apakah dari koran, dari majalah, apalagi dari kitab-kitab terlebih dari Al Qur’an dan Hadits.

Kedua, jika yang dihadapi dengan masyarakat yang non akademis, kaum yang msaih banyak membutuhkan belajar. Maka hendaknya pakaian ucapan dan pemikiran serta pengetahuan hendaknya disesuaikan. Berbicara dengan tukang becak pasti berbeda dengan ucapan danobrolan dengan mahasiswa. Harus disesuaikan dengan pola dan kadarnya. Demikian juga berbicara dengan para petani miskin maka itupun akan berbeda. Jadi masing-masing disesuaikan dengan kadar audiensinya.

Baju Hati
Akhirnya, menurut hemat saya, ungkapan beliau yang sarat makna ini kemudian mengacu kepada bagaimana seorang santri bisa memiliki koleksi pakaian hati. Hal ini sangat penting sekali sebagai barometer kesantrian ketika dituntut bisa berkiprah di tengah-tengah masyarat yang majemuk dan menempati segala bidang.

Mbah Mun pernah bertutur dalam satu salah pengajiannya, bahwa seorang santri mestinya bisa berkiprah di segala bidang. Tidak mesti harus menjadi guru agama formal namun bisa mengisi pos-pos di masyarakat; apakah ia masyarakat pedagang, masyarakat petani, pegawai negeri atau sipil atau bahkan menjadi tekhnorkrat atau bahkan memasuki dunia politik. Jika pos-pos masyarakat yang strategis ini diisi oleh kalangan para santri niscaya diharapkan masyarakat akan bisa menikmati sejuknya pancaran sinar ruhani para murid-murid ulama. Dengan demikian para murid ulama merupakan cermin tembus pandang dari sinarnya ulama. Jika santrinya memiliki cermin yang kusam dan kotor, niscaya masyarakat tidak akan tersinari karena tidak tembus pandang.

Barangkali keyakinan beliau dengan ucapannya ini boleh jadi mengacu kepada kepercayaan beliau terhadap baju hati yang dimiliki oleh para santri. Dan ketika di pesantren mereka terus-menerus belajar bagaimana memiliki dan cara berpakaian baju hati ini. Tidak lain, baju hati yang dimaksud adalah libasuttaqwa, “baju takwa”.

Maka hatipun mesti memiliki koleksi pakaian. Jadi ungkapan Mbah Mun harus memiiliki dua baju sangat relevan untuk baju hati. Dua pakain dalam nasehat tersebut berarti lebih dari satu. Dalam disiplin ilmu bahasa arab disebut jama baik jama’ muannas atau jamak takstir. Maka pakaian hati pun mesti memiliki koleksi yang jamak (banyak).

Kita bisa melihat seberapa banyak koleksi baju hati dari ungkapan ayat berikut:

ولباس التقى ذلك هو خير
Dan pakaian takwa itulah yang terbaik. (QS. Al ‘Araf: 26)

Menurut Qosim bin Malik bin ‘auf dari ma’bad al Juhni pakaian takwa adalah malu. Sedangkan menurut Ibnu Abbas pakaian takwa adalah amal sholeh dan menampakkan kebaikan di wajah. Sedangkan menurut ‘Urwah bin Zubeir takut kepada Allah swt.

Dalam suatu syair disebutkan:

وخي لباس المرء طاعة ربه * ولا خير فيمن كان لله عاصيا

Baju yang hiasan yang paling indah adalah taat kepada Rabbnya dan tidak ada kebaikan bagi orang yang bermaksiat pada Allah.

Memliki dua baju sejatinya adalah memiliki banyak baju. Ia bisa dipakai untuk shalat, untuk kondangan, untuk bekerja untuk mengikuti acara kenegaraan. Demikian pula baju jasmani bagi santri ia bisa menyesuaikan dengan alam sekitarnya. Begitu juga dengan baju rohani seorang santri harus banyak memiliki merek. Ada merek takwa, ada ikhlas, ada sabar, ada yang bermerek tawadlu dll. Itulah barangkali inti dari nasehat KH. Maemoen Zubeir, Matta’anallahu bi’uluumihi fiddunya wal akhirah.

Kategori:Celotehan
  1. 1 April, 2007 pukul 9:45 pm

    Semua orang seharusnya memiliki baju takwa terlebih santri yang sudah tahu ilmunya.. semoga kita semua menjadi muttaqin.

    #madsyair || Enggih kang, taqwa itu paling gampang nulisnya tinggal pencet-keyboard tapi masyaa Allah paling angel (susah) pelaksanaannya…. semoga jadi muttaqin? makasih atas do’anya. امين اللهم آمين Amiiin Allaaaahumma aamiin…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: