Beranda > Keajaiban, Pengalaman Rohani, Peristiwa > Loh, Inikan Nikmatnya Mati

Loh, Inikan Nikmatnya Mati

Banyak jalan orang menuju mati. Sebab kematian adalah “jalan tol” yang melintas alam dunia dan alam berikutnya. Meski beda definisi mati antara ahli hukum (agama) dan dokter, yang jelas kematian itu bermacam ragamnya: ada yang menyakitkan, ada yang terkesan mati bunuh diri dan adapula yang mati enak via euthanasia.

Kamis kemarin, Josua jatuh dari lantai 12 di UNIKA Atmajaya Jakarta. Ada pula yang sekaligus rombongan ratusan ribu mati tersapu angin Topan Sidr di Bangladesh yang jumlah korbannya hampir sama dengan korban tsunami di Aceh. Akibat gempa bumi pun ribuan sekaligus meninggal di Yogyakarta tahun kemarin.

Jika siang kemarin Jhosua meninggal tragis, malam tadi, sekitar pukul 22.00 WIB dinihari, Fayumni, saudara dekat saya, remaja kalem dan baik hati ini, meninggal dengan mengenaskan: motor menabrak trotoar lalu terpental bersama temannya di tengah jalan, kemudian diduga tertabrak oleh kendaraan yang melaju kencang.

Dalam hitungan menit saja kedua insan pengendara motor itu langsung terkapar di tengah jalan Pantura yang gelap gulita. Atas kebaikan warga melarikan ke rumah sakit Pelabuhan Cirebon, Fayumni menghembuskan nafas terkahir, sementara Lukman, lulusan Pesantren Ploso itu hingga kini masih koma. Udara malam Jum’at di Buntet Pesantren begitu dingin mencekam.

***

Memandang Mati

Karena merupakan “jalan tol” dan tidak ada yang mengambatnya. Tapi meski setiap berjiwa pasti mati dan tanpa bisa lari ditunda, rasanya siapapun kita saat meninggal tidak mau dalam keadaan yang tragis atau lama menderita. Misalnya tertabrak kereta, mobil, pesawat jatuh, atau mati dalam keadaan yang menyakitkan.

Tapi apa yang dikatakan salah satu Ulama kharismatik di Cirebon: KH. Mahfudz, sepupu KH. Abdullah Abbas (alm) mengatakan:

Kematian orang-orang yang dianggap tragis itu adalah dalam pandangan orang yang hidup. Tapi bila dilihat dari yang mati itu sendiri, barangkali dia akan mengatakan, “inilah mati yang ku inginkan.

Kematian yang dianggap tragis ini bila dalam hadits Rasulullah saw misalnya : “Nabi saw. bersabda: “Orang-orang yang dianggap mati syahid yaitu orang-orang yang mati karena tenggelam, wabah, penyakit perut, atau terpendam hidup-hidup karena kejatuhan bangunan”. (haditsnya masih di cari sumbernya yaa)

Jadi mati syahid ternyata bukan saja meninggal karena peperangan. Bahkan saya teringat waktu ngaji di kyai di salah satu kitab bahwa termasuk seorang Ibu yang melahirkan anaknya kemudian meninggal, masuk dalam kategori syahid.

Dalam sejarah kitapun mengenal jelas bagaimana para khalifah meninggal dalam kondisi yang masuk kategori tragis.

Jadi, jika kematian tragis dipandang dari sudut orang hidup sebagai sesuatu yang menakutkan, ternyata tidak sama dengan yang dipandang oleh orang-orang yang mati sendiri. Sehingga bisa jadi ada ungkapan: “Loh ini kah nikmatnya mati” wallahu a’lam.

Note:

Definisi mati: Secara medis seseorang dikatakan mati ketika batang otak tidak berfungsi. Sedangkan menurut hukum positif di Indonesia, kematian seseorang dilihat dari detak jantungnya. Namun apapun yang didefinisikan, Kitab suci pun menyatakan bahwa setiap yang berjiwa itu akan mati.

—-

Postingan ini mohon dilengkapi.. dari para pemirsa sekalian… mohon maaf belum bisa konek lama.. jadi maafin juga, jika belum pula bisa komentar ke tempat sodara-sodara…

 

  1. 23 November, 2007 pukul 3:56 pm

    *Alhamdulillah, bisa vertamax nih.*

    Ikut berduka cita ya Mas Kurt atas meninggalnya saudara Sampeyan, mudah2an diampuni segala dosanya dan dilapangkan jalan menuju ke haribaan-Nya, sekaligus keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan, amiin.
    Hingga saat ini saya masih mempunyai keyakinan bahwa kematian manusia hanya Allah yang mahatahu dengan jalan kematian yang berbeda-beda. Kematian saudara Sampeyan itu juga saya yakini atas kehendak Allah semata. Maaf kalau salah Mas Kurt. OK, salam.

    :D Sawali Tuhusetya
    makasih pak, atas doanya… yupe benar kematian sendiri adalah karunia Tuhan yang terbaik …. :) benarkah saya berkata itu?

  2. edo
    23 November, 2007 pukul 3:58 pm

    saya keduax dong :p

  3. edo
    23 November, 2007 pukul 4:00 pm

    mati buat saya ketika saya sudah tidak bisa lagi berkreasi, ketika kreatifitas saya dipasung, ketika saya tidak lagi bisa memberikan kontribusi kepada banyak orang. itulah kematian.

    numpang posting kang..
    http://www.edo.web.id/wp/2007/04/14/psikologi-kematian/

    :D edo
    mati sebagai sebuah ilmu ternyata di tangan bos Edo melahirkan psikologi… layak direnungi pak

  4. 23 November, 2007 pukul 4:51 pm

    Pertama, turut berduka cita atas kematian tragis saudaranya pak …

    Ada pikiran begini :
    “Kalo saya [sekiranya] mati dalam waktu dekat ini, gmana nasib anak istri saya ya …, siapa yg bakal ngurusin mereka… :(

    Pikiran begitu baik atau gak ya pak, atau gmana sih semestinya kita menyikapi [bakal] kematian sendiri… Mohon pencerahan

    #Siap2 betulin sarung utk mendengar pengajian kyai … :)

    :D Herianto
    sudah cerah dicerahin … nanti kebanyakan sinar pak… heheh kalau versi saya sih (maaf terlalu menggampangkan) bisa saja dengan cara tawakal active atau tawakkal passive. active misalnya versi asuransi, passive semisal memasrahkan diri saja segala life assurance-nya kepada Gusti Allah … :) kumaha kang Heri?

  5. 23 November, 2007 pukul 5:08 pm

    aduuh masih diedit ini tulisan.. sudah ada yang komentar… duuh maafin masih belumlengkap

  6. 23 November, 2007 pukul 6:57 pm

    turut berduka cita, pak
    ditunggu lanjutannya

    :D caplang™
    OK makasih Plang…

  7. 24 November, 2007 pukul 12:58 am

    Mati itu memang menarik, sebab sebuah misteri bagi yang hidup.

    :D danalingga
    misteri yang tetap misteri…. karenanya menarik

  8. 24 November, 2007 pukul 1:31 am

    Salam,
    Turut berduka cita pak,
    Hidup ini memang tidak pasti, Yang pasti kita akan meningggal dunia.Kehidupan yang penuh misteri dan selalu berubah-ubah ini merupakan kenyataan yang setiap mahkluk mengalami. Sebenarnya dengan perubahan itulah seharusnya kita berusaha untuk mempertahankan kebahagiaan yang selalu ingin berubah menjadi penderitaan, agar nantinya hidup ini berarti bagi sesama.

    :D ROCH AKSIADI
    hidup itu mempertahankan kebahagiaan untuk diri dan orang lain.. dengan demikian ada kehidupan. Jika tidak berarti “kematian”… begitu jugakah? TQ

  9. 24 November, 2007 pukul 2:12 am

    makanya eling…eling…eling…
    sapa tau besok giliran kamu???
    hiiyyy takut gak?

    :D icha
    Mengapa mati ditakutkan? takut atau tidak, mati juga kan.. besoknya giliran icha yaaa ?? heheh

  10. 24 November, 2007 pukul 3:48 am

    mati….mati yang nikmat, mati karena nikmat di hentikannya hidup kita

    :D reeyo
    mati nikmat adalah pandangan bukan dari sisi yang hidup.. “misteri” kata danalingga…

  11. zal
    24 November, 2007 pukul 3:51 am

    ::siapa kamu, ..aku aisyah.., aisyah siapa…?? lho Rasulullahnya mana…
    “percaya kepada RasulKUpun cukuplah bagimu”, lho mengapa Allah mengatakan demikian…???
    postingan yang ini >>Nabi saw. bersabda: “Orang-orang yang dianggap mati syahid yaitu orang-orang yang mati karena tenggelam, wabah, penyakit perut, atau terpendam hidup-hidup karena kejatuhan bangunan”. lho koq Rasulullah tahu ukurannya…???, darimana…???
    mereka yang timbangannya dalam….menemukan bentuk baru dari perkawinan, bernama anak…wajahnya mirip ibu/bapaknya..tapi dia bukanlah ibu/bapak itu…,
    menemukan hujan, yg menghidupkan bumi, sehingga rumput hidup sbg makanan ternak, menumbuhkan pohon yg menghasilkan buah…ah pohon itu..manakah dia…????

    :D zal
    Loh ibu yang meninggal saat melahirkan bukan berarti sembarang ibu dong… sama seperti syurga di bawah telapak kaki Ibu, itu pun bukan sembarang ibu… tetapi menurut guru saya, adalah Ibu yang mengikuti jalan beliau…

  12. 24 November, 2007 pukul 5:50 am

    hmmm.. mati, tetap menjadi sebuah rahasia ya
    kenapa kita harus dihidupkan tapi kemudian dimatikan? apa hakekatnya uncle kurt? kenapa Tuhan terlalu banyak menyimpan rahasia?
    ternyata saya punya banyak pertanyaan untuk-Nya..

    :D brainstorm
    bertanyalah terus sama Tuhan…. hingga menemukan jawaban :)

  13. 24 November, 2007 pukul 6:00 am

    Semua di dunia ini tak ada yang pasti, kecuali mati. Hanya,
    kita tak tahu, kapan, dimana, dan bagaimana cara kematian kita…jadi berbuat baiklah seolah-olah kita akan mati dalam waktu dekat.

    “Ikut berduka cita atas meninggalnya Fayumni dan Lukman, semoga arwahnya diterima Allah swt, serta diampuni segala dosa-dosanya. Amien.”

    :D edratna
    Ada loh Bu di dunia ini yang pasti selain mati. Kalau 5+5 = 10 nilai 10 itu pasti juga … heheh (kidding)

  14. 24 November, 2007 pukul 6:05 am

    Saya pertama2 mengucapkan turut berdukacita atas kematian saudaranya Pak Kurt.
    Hmmmm…. saya susah mau komentar dari mana ya?? Yang jelas proses kematian ini sekarang juga masih obyek dari penelitian ilmiah *halah*
    Kalau dari segi agama mungkin kematian adalah awal dari kehidupan di fase berikutnya yang secara ilmiah masih misteri, karena di antara kedua fase kehidupan, belum diketemukan pintu penghubungnya **halaah lagi**

    Saya juga mendoakan mudah2an amal2 saudara sampeyan selama hidup di dunia ini diterima di sisi Allah swt. Amin.

    :D Yari NK
    makasih Pak…. saya juga susah pak menjawabnya hehehe makasih atas doanya…

  15. 24 November, 2007 pukul 9:55 am

    Turut berduka cita ya, Pak Kurt.

    Postingan bagus tapi belum selesai yach? Masih ditunggu kelanjutannya ya…

    Hidup ini memang penuh teka-teki. Hanya Maha Kuasa yang tahu kapan kematian menjemput kita.
    Mungkin yang penting semasa hidup jangan sampai iman kita yang mengalami kematian terlebih dahulu…

    :D Hanna
    Iyaa makasih Ci.
    kelanjutannya diserahkan saja deh kepada para komentataor.. bioritme menulisku lagi melandai Ci…

  16. 24 November, 2007 pukul 10:12 am

    Turut berduka cita atas saudara sampean kang!

    Sungguh menarik, tapi gimana ya menurut ahli sufi, saya berpikir, tentu mereka punya sesuatu yang indah tentang kematian…

    …Di jemput oleh para guru, ulama, sahabat rasul dan tentu sampai rasulullah…

    Ah kang, sampean tentu bisa menuliskannya dengan lebih menyentuh…

    :D peyek
    TQ kang Peyek… hm, itulah kematian spesial yang hanya dipunyai oleh mereka2 yang spesial… aku bukan orang spesial jadi dimensinya jauh kang…

  17. 24 November, 2007 pukul 1:54 pm

    comment sayah kok ilang yah :mrgreen:

    hmm turut berduka cita jga pak…
    kematian mungkin awal perjalanan baru.. dan kayaknya harus menyiapkan bekal seperti biasanya

    :D almascatie
    waah masa seh bos, di spam dan moderasi gak ada tuh… mungkin kelelp kali.. heheh
    bagi2 bos bekalnya

  18. 24 November, 2007 pukul 1:56 pm

    Saya pernah baca, ada orang minta mati karena “sudah siap”, ingin berjumpa dengan Tuhan, atau “benci” dengan dunia. Gimana nih?

    :D Junarto Imam Prakoso
    hahah bacannya gak salah apalagi yang baca… yang salah adalah memaknai yang tidak2…
    karena takut salah, maka saya pun tidak beranai memaknainya …… tapi disamping ada yang cinta dunia saja, maka lawan orang ini adalah orang yagn cinta akherat…

  19. 24 November, 2007 pukul 2:41 pm

    Kyai kurt, bagaimana mereka yang menginginkan mati sesegera mungkin karena kecintaannya yang mendalam pada Allah, sehingga do’anya tiap hari menginginkan kematian.

    Mohon pencerahannya.. Matur Nuwun..

    :D gempur
    waduuhh dipanggil kyai … plis deh ach! sebaiknya tanyakan pada yang mau mati bos… kalau saya belum pengen mati segera… tapi jawaban di atas boleh juga tuh

  20. 24 November, 2007 pukul 3:21 pm

    kematian adalah kiamat buat diri sendiri.. bukan begitu ?? :D

    innalillahi…. :)

    :D dobelden
    yupe …

  21. aLe
    24 November, 2007 pukul 3:33 pm

    kaget aku,
    kirain si Jhosua penyanyi cwilik itu td :lol:

    btw, thanks atas pencerahan hari ini :)

    :D aLe
    hahaha ternyata bukan..

  22. 24 November, 2007 pukul 4:19 pm

    pertama turut berduka pak atas musibah yang menimpa saudara sampeyan.

    mati itu adalah ketika kita berhenti berpikir buat selama-lamanya.

    :D Curhat Bebas
    berarti hidup itu harus mikir terus… ya non, pusssiiiing!

  23. 24 November, 2007 pukul 6:52 pm

    Turut berduka cita bang….

    Sesungguhnya setiap yang hidup memiliki batas waktu dan semua akan kembali kepadaNya dalam keadaan yang berlainan. Lalu tetap, kematian adalah sebuah dari sekian banyak rahasiaNya,

    Bang tulisan kali ini tidak seperti biasanya

    :D perempuan
    hmmm entahlah aku pun gamang menulis bahkan tak selesai… :)

  24. 24 November, 2007 pukul 7:30 pm

    Meski ditakutkan, mati memang akan kita nikmati.

    Meski (juga) begitu, saya lebih memilih mati dengan cara yang tenang serta dikunjungi dengan beberapa ratus orang. Masih angan – angan sih… :)

    :D Mihael “D.B.” Ellinsworth
    Semoga tercapai keinginanmu

  25. sneef
    24 November, 2007 pukul 8:41 pm

    mati
    adalah
    kematian
    akan datang

    :D sneef
    siap2 menyambut….

  26. zal
    24 November, 2007 pukul 9:07 pm

    ::Pak Kurtubi, kalimatnya ngga runtut ya.. :lol:

    tentang aisyah yang ditanya aisyah siapa itu, yang bertanya adalah Jasad Muhammad Bin Abdullah, yg sedang bermuhasyadah, yg ditutup dalam riwayat hadist, dengan kalimat setelah itu tahulah aisyah bahwa Rasulullah sedang tidak bersamanya…padahal tubuh itu jelas menyapanya… dimana bentuk matinya…
    ::Tentang hadist itu, bahwa kalimah itu adalah kalimah Allah yg dibahasakan dengan bahasa manusia dan seorang Rasul bernama Muhammad, jika kalimah itu terfahami dengan kalimat Rasul itu maka cukuplah,
    Timbangan yang dalam, ini tersebut dalam AQ, namun sering terfahami dengan kejadian padang masyhar, adalah langkah permohonan pernyataan “Robbana dzolamna anfusana….” jika merasa belum cukup terfahamkan dengan gambar kumpulan huruf tersebut, sebab sesungguhnya dalam genggaman Allahlah segala taqwil…
    tentang hujan yang turun, dan bumi hidup, bukankah bumi juga terdiri dari tanah dan air, sama dengan kita…???, pohon dan buah..salah satu bentuk buah adalah buah fikiran…dan kinerja pohon adalah mengambil makanan dari bumi, bukankah kalimah AQ juga terdiri dari Muhkamat dan mutasyabih…
    mohon maaf Pak Kiyai, jika terkesan nguyai segoro…saya cuma risih dengan yg saya tulis sendiri…
    :D zal
    Makasih banget koreksi komentnya dan juga muatan kisahnya… semakin menerangi kebun ini, semoga ada manfaatnya… saya bukan kyai, ntar ketawa loh para kyai saya yang saat membaca blog ini.

  27. 24 November, 2007 pukul 10:08 pm

    Pertama2 saya juga turut berduka cita. Semoga almarhum diterima disisi-Nya. Amien.
    :D >>> makasih kang erander

  28. 24 November, 2007 pukul 10:11 pm

    Kedua .. cerita diatas ada 2 hal yang dapat dibahas. Hal pertama adalah pendapat tentang mati itu sendiri dipandang dari dunia dunia medis atau hukum.

    Saya pernah tahu, kalau orang dinyatakan meninggal harus dilihat dari 2 hal tersebut yaitu detak jantung dan batang otak (pikirannya). Banyak contoh kasus, ketika detaknya tidak terasa dan dinyatakan meninggal. Ketika mau dikuburkan .. eh, malah bangkit atau hidup lagi hehe :D

    Penjelasannya panjang om. Jadi singkat aja seperti itu.

  29. 24 November, 2007 pukul 10:12 pm

    Ketiga .. jika dilihat dari sudut agama. Bahwa mati adalah bagian dari iman. Jika orang yang beriman, kematian adalah yang ditunggu2. Bukan begitu kang Kurt??

    *halah* malah jadi hetrix deh :D

  30. sneef
    24 November, 2007 pukul 11:11 pm

    mati
    adalah
    kematian
    akan datang

  31. 25 November, 2007 pukul 7:11 am

    erander #1
    Terima kasih

    erander #2
    hahaha ya saya pernah dengar ituh. Peristiwa tsb cukup langka karennya, baik ilmu kesehatan dan ilmu hukum pasti kebingungan mencari bab pembahasanya… mungkin terlalu pendek definisinya heheh.

    erander #3
    Yupe, semua yang “berjiwa” akan mati… believe it or not :)

    erander #1
    mati.. oooh semua akan mati…

  32. 25 November, 2007 pukul 7:18 am

    erander 1
    Terima kasih

    erander 2
    hahaha ya saya pernah dengar ituh. Peristiwa tsb cukup langka karennya, baik ilmu kesehatan dan ilmu hukum pasti kebingungan mencari bab pembahasanya… mungkin terlalu pendek definisinya heheh.

    erander 3
    Yupe, semua yang “berjiwa” akan mati… believe it or not :)

    sneef
    mati.. oooh semua akan mati…

  33. 25 November, 2007 pukul 7:24 am

    hehe … dzikrul matu nih pak

  34. 25 November, 2007 pukul 7:54 am

    “..ternyata tidak sama dengan yang dipandang oleh orang-orang yang mati sendiri. ….”

    Betul sekali wallahualam saja… karena orang mati tidak akan mengabarkan kesenangan atau kesusahannya…., namun melihatnya dari sudut pandang prosesi kejadian bisa menjadi sebuah keberuntungan bagi simati atau juga bagi yang hidup. (jadi ingat kisah nabi Khidir membunuh seorang anak) :D

  35. 25 November, 2007 pukul 10:01 am

    semua pasti akan mati.namun yang membedakan orang sial dan orang beruntung adalah cara matinya…

    yang paling sial adalah yg tak pernah menyangka kalo dia bakal mati…dan lupa utk memperbaiki hidupnya…

  36. halliva
    25 November, 2007 pukul 11:22 am

    Yah…kematian tidak memandang bulu, muda, tua bahkan yang baru lahir. Turut berduka cita Mas. membaca tulisan tentang kematian dan anda yang pernah nyantri di Buntet mengingatkan saya pada sahabat lama yang sudah almarhum Anwar Haris, salah seorang keluarga besar Buntet pesantren.Allahumagfirlahu warhamhu Waafihi Wa’fuanhu.

    Salam kenal…
    Halliva

  37. 25 November, 2007 pukul 1:31 pm

    jadi inget seseorang, yang kemaren kekeh pengen mati

  38. 25 November, 2007 pukul 9:43 pm

    :D bachtiar
    Oooh ini namanya dzikrul maut ya.. heheh

    agorsiloku
    betul bos, kalau yang mati bisa mengabarkan … apa kata duniaa…. ?? (mengingatkan ungkapan kang Deddy Mizwar)

    daeng rusle
    duuuh jadi koreksi diri nih bos… :)

    halliva
    “Allahumagfirlahu warhamhu Waafihi Wa’fuanhum”
    Amiiiiiiiiiiiin…. salam kenal juga kang Halliva. Mana dong blognya.. kok malu-malu sih :lol:

    liezmaya
    Nah loh jadi benar ada nih orang yang kekeuh pengen mati Teh Liez???? Posting dong teh critain orang tersebut :)

  39. 26 November, 2007 pukul 6:26 pm

    merinding inget mati..
    :) merinding diterima heheh

  40. 26 November, 2007 pukul 7:33 pm

    Turut … berdukacita. Yeah, mati adalah kepastian yang manusia tidak tahu kapan waktu pastinya. Bersiapkan hidup menuju kematian, hidup dalam kepastian mati.

    :) Ersis WA
    mati adalah kepastian karenanya mate[mati]ka juga ilmu pastikah?

  41. 26 November, 2007 pukul 9:19 pm

    haduh, udah tentang mati, panjang pula isinya…

    Mati…! pintu untuk berjumpa dg Nya
    *itupun kalo Dia nya mau ketemu… gimana caranya supaya Dia mau ketemu? tanya ahlinya lah, saya jg belum paham banar caranya…*

    yg jelas sih…
    jangan takut mati tp jangan cari mati

    —-
    @noveeatau dalam bahasa lain, beranilah u mati dan carilah kehidupan u hidup di dunia dan di akhirat… :)

  42. edo
    26 November, 2007 pukul 9:21 pm

    btw, kl mati yang itu jangan dulu deh kang..
    blon kawin nih hihihi….

    —-
    @edohaaa belum kawwwiiin… hihihi masa sih bos maksudnya belum kawin yang ke-10??? (becanda)
    eh maap nih, kalau ndak salah yang di atas kometnku juga , ngakunya belum tuh… kekekek… sila tanya sendiri :)

  43. 27 November, 2007 pukul 9:48 am

    Menurut Stephen Covey, kematian bisa sebagai salah satu cara untuk memotivasi diri. Dengan membayangkan bila kematian kita tiba, kemudian sanak keluarga, teman, handai taulan datang, bagaimana kenangan mereka akan kita? Apakah kita menjadi seseorang yang berguna untuk mereka, ataukah menjadi seseorang yang merugikan mereka?? Membuat kita *semoga* semakin bermanfaat selama menjalani kehidupan, sebelum datangnya kematian.

    Kemudian, ketika hidup adalah perjalanan untuk “pulang” bukankah sudah selayaknya bila kita membawa oleh-oleh?? Dan kematian, apa artinya “hanyalah” sebuah pintu, ataukah itu rumah yang dituju?
    Selanjutnya, turut berduka cita untuk saudara paman Kurt, semoga diterima semua amal dan ibadahnya.

    :D goop
    menginspirasi sekali kata-kata kang goop… makasih doanya kang goop

  44. 11 Maret, 2008 pukul 11:19 am

    Oh gitu ya pak? wah dapat pencerahan nih. saya yang tiap hari naik kendaraan roda dua pulang pergi ciwaringin – kejaksan suka ngeri kalo liat kecelakaan dan berdoa supaya kalopun saya meninggal saya ga mau dengan jalan kecelakaan (nawar nih Rabb….). kayanya koq tragis banget ya. tapi setelah membaca tulisan pak kurt. doa saya jadi begini : “Ya Allah bagaimanapun caranya KAU panggil hamba, mudah2an hamba menghadapmu dlm keadaan husnul khotimah”.
    aminin ya….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: