Baju Santri

KH. Maemun ZUbeir, santrinya ratusan ribu... tersebar di Seluruh Indonesia.Wahai para santri hendaklah kalian memliki dua baju”. Itulah ungkapan pendek kyai saya di Sarang – Jawa Tengah. Kata Mahmud Syaltut, teman saya dari Buntet yang meneruskan mondok di sana.

Apa maksud ungkapan tersebut dan bagaimana aplikasinya dalam kehidupan seari-hari. Dalam benak saya, ungkapan ini sarat makna dan amat berguna dan menjadi bekal saya dan teman-teman dari Pesantrren untuk bisa fleksibel dan toleran kepada masyarakat sekitar.

Baju Phisik

Ungkapan Mbah Mun yang mengharuskan para santri memiliki dua baju, menurut saya ada dua pengertian. Pertama, yang dimaksud dengan baju di sini adalah benar-benar baju fisik. Di saat bergaul dengan masyarakat santri, maka berpakaianlah ala santri. Hal ini untuk memberikan nuansa alami atau sebagai penghormatan, sebagai adab atau tatkrama dalam bergaul dengan mereka.

Sebab kesan yang sudah baik di masyarakat terhadap santri, mestinya dipertahankan dengan budayanya. Jika budaya santri dirusak oleh santrinya sendiri dikhawatirkan membawa dampak negatif berupa anti terhadap santri. Jadi berpakaian di kalangan masyarakat santri mesti sesuai.

Kedua, jika baju pisik yang dikenakan di masyarakat yang heterogen atau kalangan non santri, maka sebaiknya disesuaikan dengan alamnya. Sebab di sini ada etika berpakaian sebagai bagian dari rasa hormat dengan budaya mereka. Di sisi lain untuk meberikan kebebasan dan keleluasaan dalam bergerak dan bertingkah laku agar tidak terkesan “sok alim” atau sejenisnya. Hal ini akan memberikan sikap yang kurang simpati terutama bagi kalangan yang kurang suka dengan “gaya santri”. Sebab boleh jadi sekarang terdapat banyak masyarakat yang tidak senang dengan gaya santri.

Karena itu cara berpakaian yang bisa menyesuaikan dengan masyarakat umum ini perlu menjadi perhatian. Pernah suatu kali beliau menasihati agar salah satu santrinya ketika hendak pulang pakailah celana jeans bila perlu. Alasannya biar kelihatan gagah, ganteng dan tegar. Sebab beliau tidak menginginkan santri-santrinya tergambar di masyarakat sebagai orang yang berpakaian lusuh, kotor, dan tidak terurus, tidak menghormati masyarakat umum, tidak bisa mengurus diri dan terkesan seenaknya. Namun tentu saja saya yakin, beliau tidak suka berpakaian yang tidak sepantasnya. Tetap dalam koridor menutup aurat. Bukan berarti ketika bergaul dengan suku Asmat lalu ikutan memakai koteka.

Baju non Phisik
Baju non pisik menurut pandangan saya dari nasehat Mbah Mun ini adalah agar para santri memiliki style santri yang bisa memberikan pandangan yang kontributif bagi masyarakatnya. Karena masyarakat dalah heterogen; ada masyarakat petani, ada masyarakat pedangan, pegawai, masyarakat militer, masyarakat birokrat dan lain-lain.

Maka tatatkala berinteraksi dengan masing-masing anggota masyarakat dalam berbagai kesempatan entah dalam posisi sebagai guru atau semacamnya hendaknya berbicara dengan kadar masyarakatnya. Pertama, Jika masyarkatnya berpengetahuan tinggi, maka milikilah pakaian yang sesuai dengan kadar mereka. Pengetahuan adalah baju yang bisa dipandang menarik dan enak dilihat, menyejukkan dan menentramkan.

Dalam menerangkan atau berdakwah dengan masyarakat terpelajar ini tentunya tidak vulgar dalam ucapan, tidak compang-camping dalam logika pemikiran. Runut, to the point, logis, dan uptodate. Sebab pakaian yang up to date biasanya menjadi sorotan publik. Karenanya, style dalam berpikir mesti perlu diperbaharui agar bisa survive dalam berkiprah di masyarakat. Karenanya baju-baju pemikiran dan pengetahuan yang upto date terdapat banyak sekali didapat. Apakah dari koran, dari majalah, apalagi dari kitab-kitab terlebih dari Al Qur’an dan Hadits.

Kedua, jika yang dihadapi dengan masyarakat yang non akademis, masyarakat yang masaih banyak membutuhkan belajar. Maka hendaknya pakaian ucap dan pikir  hendaknya disesuaikan. Berbicara dengan tukang becak pasti berbeda dengan ucapan dan obrolan dengan mahasiswa. Harus disesuaikan dengan pola dan kadarnya. Demikian juga berbicara dengan para petani miskin kota dan miskin desa maka itupun akan berbeda. Jadi masing-masing disesuaikan dengan kadar audiensinya.

Baju Hati
Akhirnya, menurut hemat saya, ungkapan beliau yang sarat makna ini kemudian mengacu kepada bagaimana seorang santri bisa memiliki koleksi pakaian hati. Hal ini sangat penting sekali sebagai barometer kesantrian ketika dituntut bisa berkiprah di tengah-tengah masyarat yang majemuk dan menempati segala bidang.

Mbah Mun pernah bertutur dalam satu salah pengajiannya, bahwa seorang santri mestinya bisa berkiprah di segala bidang. Tidak mesti harus menjadi guru agama formal namun bisa mengisi pos-pos di masyarakat; apakah ia masyarakat pedagang, masyarakat petani, pegawai negeri atau sipil atau bahkan menjadi tekhnokrat sekalipun.

Jika pos-pos masyarakat yang strategis ini diisi oleh kalangan para santri niscaya diharapkan masyarakat akan bisa menikmati sejuknya pancaran sinar ruhani para murid-murid ulama. Dengan demikian para murid ulama merupakan cermin tembus pandang dari sinarnya ulama. Jika santrinya memiliki cermin yang kusam dan kotor, niscaya masyarakat tidak akan tersinari karena tidak tembus pandang. *hahaha *, ini  ungkapan narsis (jangan dipercaya ya).

Barangkali keyakinan beliau dengan ucapannya ini boleh jadi mengacu kepada kepercayaan beliau terhadap baju hati yang dimiliki oleh para santri. Dan ketika di pesantren mereka terus-menerus belajar bagaimana memiliki dan cara berpakaian baju hati ini. Tidak lain, baju hati yang dimaksud adalah libasuttaqwa, “baju takwa”.

Maka hatipun mesti memiliki koleksi pakaian. Jadi ungkapan Mbah Mun harus memiiliki dua baju sangat relevan untuk baju hati. Dua pakain dalam nasehat tersebut berarti lebih dari satu. Dalam disiplin ilmu bahasa arab disebut jama baik jama’ muannas atau jamak takstir. Maka pakaian hati pun mesti memiliki koleksi yang jamak (banyak).

Kita bisa melihat seberapa banyak koleksi baju hati dari ungkapan ayat berikut:

Dan pakaian takwa itulah yang terbaik. (QS. Al ‘Araf: 26)

Menurut Qosim bin Malik bin ‘auf dari ma’bad al Juhni pakaian takwa adalah malu. Sedangkan menurut Ibnu Abbas pakaian takwa adalah amal sholeh dan menampakkan kebaikan di wajah. Sedangkan menurut ‘Urwah bin Zubeir takut kepada Allah swt.

Dalam suatu syair disebutkan:

وخي لباس المرء طاعة ربه * ولا خير فيمن كان لله عاصيا

“Baju dan hiasan yang paling indah adalah taat kepada Rabbnya dan tidak ada kebaikan bagi orang yang bermaksiat pada Allah.”

Memliki dua baju sejatinya adalah memiliki banyak baju. Ia bisa dipakai untuk shalat, untuk kondangan, untuk bekerja untuk mengikuti acara kenegaraan. Demikian pula baju jasmani bagi santri ia bisa menyesuaikan dengan alam sekitarnya.

Begitu juga dengan baju rohani seorang santri harus banyak memiliki merek. Ada merek takwa, ada ikhlas, ada sabar, ada yang bermerek tawadlu dll. Itulah barangkali inti dari nasehat KH. Maemoen Zubeir, Matta’anallahu bi’uluumihi fiddunya wal akhirah.

About these ads
  1. 9 Desember, 2007 pukul 12:03 pm | #1

    Bagaimana kabarnya mas Kurt? Saya ngabsen duluan nih. Minta nasihatnya boleh? Saya kok kalau nulis takut ya, maksudnya gak berani nulis dengan gaya yang blak-blakan alias sekarepnya. maunya sih bisa nulis tanpa beban. Jujur aja mas, saya kalau nulis selalu terbebani dengan banyak hal. Panjenengan kalau nulis kayanya tanpa beban. Kasih sarannya yah…

    BTW, kalau gak salah kyai Kurt orang Malaysia ya? Saya prihatin dengan perang di dunia maya antara orang Indonesia sama orang Malaysia. Kok sampai segitunya ya Kyai? Mau mihak ke mana nih? hehehe

    Soal baju, sepakat pisan. Kyai saya, (alm) KH. Sihabuddin Muhsin, kalau berpakaian bisa setengah jam. karena menurut beliau, pakaian yang rapi akan cukup membantu kita merapikan jiwa.

  2. 9 Desember, 2007 pukul 12:32 pm | #2

    Setuju, memiliki minimal baju….agar bisa dicuci bersih, dan saling menggantikan.
    Arti yang lebih dalam, setuju yang diceritakan di atas, kita harus bisa menyesuaikan dengan berbagai keadaan, dan juga harus berpakaian bersih agar dihargai orang. Bukankah kalau pakaian kita bersih, hati kita juga ikut bersih…semoga…

  3. 9 Desember, 2007 pukul 12:42 pm | #3

    Tidak mesti harus menjadi guru agama formal namun bisa mengisi pos-pos di masyarakat

    He he, pemikiran bagus pak :grin:
    Ada berbagai cara untuk berbagi berkat, damai dan kesejukan hati.

  4. Muhammad Rachmat
    9 Desember, 2007 pukul 12:44 pm | #4

    Santri..
    santri..
    Santri..
    saya juga dulu pernah jadi santri dan mondok. Jadi Lurah/KM santri. Dan juga jadi santri Kalong…

  5. 9 Desember, 2007 pukul 1:02 pm | #5

    Kyai Kurt salah ketik judul, maksudnya Baju Santri, bukan Baru Santri, betul gak Kyai? Hehehe

  6. 9 Desember, 2007 pukul 2:32 pm | #6

    Ada merek takwa, ada ikhlas, ada sabar, ada yang bermerek tawadlu dll.

    Wah, meskipun bukan santri rasa-rasanya saya juga ingin memakai baju-baju bermerk seperti itu, boleh ya?

  7. 9 Desember, 2007 pukul 3:21 pm | #7

    Maaf, Mas Kurt. Judul postingan ini yang bener baju santri atau baru santri. Maaf, kalau saya yang salah.
    Ngomong2 tentang baju, tiba2 saya jadi teringat dakwah KH Zainuddin MZ yang kini sudah terjun dalam ranah politik. Katanya, “Kita bisa hidup di tengah2 perbedaan, terlepas warna baju atau jaket yang kita pakai!”
    Kalau dikaitkan dengan pernyataan itu, kira2 ada hubungannya dengan postingan ini nggak Mas Kurt?

  8. 9 Desember, 2007 pukul 4:01 pm | #8

    Pak baju ama jubah sama nggak ?

    Soale kalo sama, kok saya jadi merasa bersalah telah menyuruh orang menanggalkan jubahnya di blog saya. :lol:

  9. 9 Desember, 2007 pukul 9:02 pm | #9

    Bagaimana dengan pernyataan “Berbaurlah dengan siapapun, namun jangan melebur dan berprinsiplah”. kira-kira maksudnya sama nggak pak Kurt? :)

    Wassalam

  10. 9 Desember, 2007 pukul 10:12 pm | #10

    Mbah Mun pernah bertutur dalam satu salah pengajiannya, bahwa seorang santri mestinya bisa berkiprah di segala bidang.

    Setuju 1001%.

    Mengenai baju…
    Tetapi hati2 … jangan sampai kita memakai “baju” hanya untuk menutupi kebobrokan kita :D

  11. blogkeimanan
    9 Desember, 2007 pukul 10:38 pm | #11

    Boleh punya satu baju… boleh punya dua baju…
    Juga boleh banyak baju….
    Dan sebaik-baik baju adalah Baju Takwa….

    Allahu A’lam….

  12. blogkeimanan
    9 Desember, 2007 pukul 10:41 pm | #12

    Sepertinya semacam pilihan yg diberikan dari Kyai anda, tinggal bagaimana kita mencernanya…
    ———–

    Barangkali keyakinan beliau dengan ucapannya ini boleh jadi mengacu kepada kepercayaan beliau terhadap baju hati yang dimiliki oleh para santri. Dan ketika di pesantren mereka terus-menerus belajar bagaimana memiliki dan cara berpakaian baju hati ini. Tidak lain, baju hati yang dimaksud adalah libasuttaqwa, “baju takwa”.

    ———–
    *On focus*

  13. zal
    9 Desember, 2007 pukul 11:12 pm | #13

    ::Pak Kurt, sebenarnya baju yg mana yg dipesankan itu…ya Pak..???, dan mengapa ya setiap penyampaian selalu masih dalam bungkusan global..sepertinya selalu ada ruang dalam membangun persepsi… seperti yang Pak Kurt gambarkan dan ditutup dengan Pakaian Taqwa…, sedang dalam pakaian taqwa sendiri masih ada ruang lagi, seperti “yaa ayyuhallazina amanu itaqullahu haqqotuqoti” dan seruan saum ditutup masih dalam kategori semoga engkau bertaqwa…ruang lagi…hmmmh apa ya… :roll:

  14. 10 Desember, 2007 pukul 2:38 am | #14

    wah bahasannya berat nih..membahas baju ketakwaan…mmhhh… mundur teratur ajah…seracaya memperbaiki diri sendiri :)

  15. 10 Desember, 2007 pukul 2:58 am | #15

    Wah saya dapat ilmu baru nih dari pengajian mr Kurt ini. :D

    Btw, kalau bukan santri (seperti saya ini) bagaimana dunk mr Kurt?

  16. 10 Desember, 2007 pukul 4:01 am | #16

    Hehe, bagus nih buat dijadikan refleksi :) saya sangat setuju dengan pandangan-pandangannya :)

  17. 10 Desember, 2007 pukul 7:35 am | #17

    Baju santri adalah bahasa khas kiyai yang penuh arti. Orang yang berhaji harus menanggalkan bajunya dan menggantinya dengan ihram, iya sih ihram juga baju santri kan..Dan ketika masuk liang kubur semua baju kita lepas digantikan dengan kain kafan. Mungkinkah semua baju hanya untuk komunikasi antar manusia??

  18. 10 Desember, 2007 pukul 7:43 am | #18

    Mas Kurt, baju luar dan dalam saya masih compang-camping nih…Salam

  19. Dee
    10 Desember, 2007 pukul 8:41 am | #19

    Boleh dirangkepi Jaket Kang Kurt, biar tambah anget?

  20. Sayap KU
    10 Desember, 2007 pukul 8:46 am | #20

    Ade pernah denger “perhiasan terindah adalah wanita salehah…” semoga Ade menjadi salah satunya.

    Amin ya Allah
    -Ade-

  21. 10 Desember, 2007 pukul 9:02 am | #21

    Kita memang paling sering lupa untuk memakai “baju santri” tatkala kita beraktivitas sehari-hari. Padahal kalau tidak lupa, niscaya kita akan menjadi orang yang selamat nantinya :D

  22. 10 Desember, 2007 pukul 9:41 am | #22

    mengena,..
    bagus juga filosofi nya :D

  23. 10 Desember, 2007 pukul 10:20 am | #23

    Ajining diri soko lathi
    Ajining sariro soko busono
    _____________________________
    Jadi teringat wejangan ini paman Kurt :D
    terima kasih, mengingatkan
    -salam-

  24. 10 Desember, 2007 pukul 3:29 pm | #24

    wah weruh pangewuh nih.
    seneng bacane mas !….
    kapan nurunin elmu ma vino?

  25. 10 Desember, 2007 pukul 4:06 pm | #25

    flow chartnya gini tah?
    menemukan “baju”
    menggunakan “baju”
    menyesuaikan “baju” dengan situasi
    bersetia mengenakan”baju” itu

    waduh puyeng

  26. 10 Desember, 2007 pukul 4:32 pm | #26

    Ternyata jadi santri susah juga ya, Kang Kurt. Bajunya saja lebih dari satu. Namun, insya’ Allah semua santri mampu memakai semuanya. Kalau saya sih belum tentu mampu.

  27. 10 Desember, 2007 pukul 5:45 pm | #27

    sebagai santri punya beban lebih dimasyarakat, namun jg untuk bermasyarakat dan menjadi panutan masyarakat gak harus santri :)

  28. 10 Desember, 2007 pukul 7:04 pm | #28

    Kalau dikaitkan dengan mainstream harakah yg disebut2 pondasi gerakan islam modern abad ini, tampaknya istilah baju di sini mirip dengan istilah wasilah. Mungkin baju entah dari bahasa apa, dan wasilah itu dari bahasa arab. Ah, apalah arti sebuah bahasa. Pasti sangat berarti … :)
    Tapi saya tidak setuju saat dikatakan istilah arab adalah keharusan. ;)
    —————–
    Wasilah dalam pengertiannya sebagai cara, metoda, sistem, dstnya adalah sesuatu yg sangat dinamis. Penyesuaian (adaptasi) terhadap lingkungan atau terhadap situasi mad’u sangat dianjurkan.
    ——————
    Wasilah boleh bertukar bahkan digantikan dengan wasilah lain, karena dia cuma alat. Seperti halnya organisasi, jema’ah, partai, dstnya… Itu juga alat, dan itu adalah bagian dari wasilah, mirip dengan istilah baju yang difahami sebagian dari kita. Sebagian yang belum [mencoba memakai baju, dia akan mengira baju itu semacam bid’ah, pembangkit warna-warni percek-cokan, dan pengelabu niat pemiliknya (karena bisa jadi semacam topeng katanya).
    Tapi segala sesuatunya tentu ada positip-negatip. Kalo terbukti untuk era ini ternyata baju kbanyakan negetipnya dari positipnya, maka baju itu pun layak untuk dilepaskan. Tapi apa buktinya. Semestinya kita mencoba mencicipinya dulu, karena bedalah, apa yg kita liat dari orang yg memakai baju dibandingkan kita sendiri mencoba mengenakannya. Seperti suku pedalaman yg kadang masih malu2 menggunakan baju.
    ——————
    Kbanyakan ngomong, jangan2 persepsi “baju” kita berbeda ya pak … :D
    ——————

  29. 10 Desember, 2007 pukul 9:55 pm | #29

    Analogi yang bagus pak. Baju adalah sesuatu yang dipergunakan utnuk menutupi diri.

  30. Moerz
    10 Desember, 2007 pukul 10:17 pm | #30

    *beli baju*

  31. 10 Desember, 2007 pukul 11:15 pm | #31

    Enaknya klo punya banyak baju :)

  32. 11 Desember, 2007 pukul 6:44 am | #32

    Setuju pa Kurt. Memang sebaiknya kita menyesuaikan kondisi tapi tetap memegang prinsip.

  33. 11 Desember, 2007 pukul 9:55 am | #33

    setuju juga huhuhuu
    baju kalau dipake dengan pas akan dipandang menarik dan enak dilihat, menyejukkan dan menentramkan.
    tapi baru tau ternyata bisa dipake untuk pengetahuan juga

  34. 11 Desember, 2007 pukul 3:29 pm | #34

    teguh prinsip

  35. 11 Desember, 2007 pukul 3:45 pm | #35

    Kang Kurt .. saya kaget. Ternyata postingan ini muncul di Surat Kabar Post Metro Balikpapan edisi Senin dan Selasa (menjadi dua tulisan bersambung) yang dimuat dihalaman 7 tentang Mistik dan Supranatural. Saya sudah scan halaman tersebut.

    Tapi alamat blog Kang Kurt ditulis koq Kang. Hebat euy.. masuk koran di Balikpapan.

  36. 11 Desember, 2007 pukul 4:07 pm | #36

    :) Ram-Ram Muhammad
    Pak Kyai, kalau nasehat bukanya kebalik nih? saya suka blak-blakan karena saya suka kejujuran *halah* satu lagi, saya tidak punya ilmu menulis seperti njenegan yang ahli komunikasi. Jadi mungkin sampean banyak ilmu di segenap kata, sikap dampak dan pengaruh dari sebuah tulisan.. kalau aku mbuh ente ngenah… :)
    Kan saya dah bilang, sekarng lagi nyangkul di Jakarta dan bolak-balik ke Cirebon…

    :) edratna
    yupe bu, masalah bersih hingga ke hati.. ingat pantun warkop:
    darimana datangnya lintah
    dari sawah turun ke kali
    darimana datangnya cinta
    dari mata turun ke hati

    :) sigid
    Benar Mas Sigid, lagian kearifan tidak hanya menjadi guru saja… justru cobaannya lebih besar… :)

    :) Muhamad Rachmat
    Wah pak Rachmat mondok dimanakah di Buntet Pesantren jugakah?

    :) Ram-Ram Muhammad
    Betul banget kyai Ram, terima kasih sudah diperjelas …. dan sudah diganti

    :) Hanna
    Boleh Han, dan gak usah diukur dulu ukurannya, semua orang kayanya pas deh heheh

    :) Sawali Tuhusetya
    Yap betul sekali… yang penting jangan “telanjang”, heheh masalah warna dan harganya kan bebas ya pak…

    :) danalingga
    Saya mengartikan menyuruh orang menanggalkan jubah di blog mas Dana, karena untuk melihat ukurannya berapa, bahannya pake apa dan kayanya mau diganti sama yang lebih bagus kali yaa :)

    :) Rozy
    Kalau menurut saya, tepat sekali maksudnya begitu…

    :) deKing yang diluar biasanya
    Justru baju itu kang, bagi yang borokan, untuk menutupinya seperti di dada, kaki, tangan. Kan malu kalau ada belang2 heheh entar gak kelihatan cantik dan ganteng.. :)

    :) blogkeimanan
    Takwa itu hanyalah Allah Yang Maha Tahu.
    Allahu A’lam…. *on focus too*

    Menurut Qosim bin Malik bin ‘auf dari ma’bad al Juhni pakaian takwa adalah malu. Sedangkan menurut Ibnu Abbas pakaian takwa adalah amal sholeh dan menampakkan kebaikan di wajah. Sedangkan menurut ‘Urwah bin Zubeir takut kepada Allah swt.

    :) Zal

    zal on 9 Desember, 2007
    Orang secerdas kang Zal pasti tahu lah .. seperti kutipan di atas, tentang makna takwa lebih jelas tuh…

    :) Icha
    ah bisa aja… pake mundur segala… jadi malu ane. Ya udah mundurnya ati-ati awas ada lubang.. eh di padang pasir mah gak ada ya Cha rata semua pasir… :)

    :) mathematicse
    Kalau saya sebut, njenengan itu, mahasantri, sudah bisa ngaji, bisa matematika, kuliah di Belanda, jadi dosen, wonge ganteng, pinter nulis.. anake wong sugih, waaah apalagi yaa.. lengkap banget deh.

    **promosi on**

    :) Donny Reza
    Terima kasih…

    :) Ar-to
    Hmmm filosofis sekali mas Arto makasih yaa…

    :) daenglimpo
    hahahah bajunya robet kenapa dipatok ikan yaa… daeng, mendingan bagi saya Soto Conronya dong dari kapal Phinisi.. :)

    :) Dee
    Hmmm… hangat tenan… lagi hujan nih

    :) Sayap KU
    Amin… dan wanita solehah adalah harta terbaik… heheh semoga saya punay wanita sholehah…

    :) djunaedird
    iyaa benar ya mas… makasih.

    :) alle
    maksudnya mengena, baju dikuwel2 terus disambit kena kepala ?? :) (cande bos)

    :) goop
    paman goop ahli bahasa inggil kromo yaa… jadi tahu saya … makasih.

    :) vino
    amin… semoga ilmu mas vino juga mengena di sini…

    :) ordinary
    wah mbak Ordy.. pake flow chrt segala btw menarik jadi ringkas… tapi banyak model kok dari seorang designer kenapa pusing … tinggal dikombinasikan saja antara nilai2 baju ituh… liat saja baju co dari dulu ya begitu, tapi cewe bajunya bejibun…. tapi kan tetap saja sama hakekatnya penutup aurat heheh iya tah?

    :) kombor
    Ternyata jadi santri susah juga ya, Kang Kurt. Bajunya saja lebih dari satu. Namun, insya’ Allah semua santri mampu memakai semuanya. Kalau saya sih belum tentu mampu.

    :) dobelden
    betul, bahkan santri kan bukan masyrkat panut, tapi masyarakat yang manut saja.. jarang kok santri jadi pemimpin… mereka justr follower..

    :) Herianto
    Wah makasih banget pak Herianto telah melengkapi yang kurang… memang ia semacam wasilah, alat dan metodologi deh atau juga sebagai seperangkat prosesedur sebuah proyek… kali yaa….

    Apapun persepsinya, orang itu harus memakai baju iyaa toh pak? heheh :)

    :) erander
    penutup diri yes biar jangan kelihatan… ups! :)

    :) Muerz
    silahkan pilih…

    :) dwihandyn
    hehehe… :) bisa bagi2 lagi.

    :) indra kh
    Setuju pa Kurt. Memang sebaiknya kita menyesuaikan kondisi tapi tetap memegang prinsip.

    :) bedh
    Lah, bedh, designer2 baju ternyata hidupnya bergelmangan bahan2 dan duit… :”)

  37. 11 Desember, 2007 pukul 4:08 pm | #37

    Di Pondok ojo akeh2 duwe klambi,mas. bener iku. Akeh klambi gampang ilang. Selain males nyuci, akeh sing ngoshob..

  38. 11 Desember, 2007 pukul 4:31 pm | #38

    Yusuf alias abeeyang kembali dari hiatus
    teguh beriman = kaya moto Jakarta

    erander
    waah masa sih bos. Syukur deh artinya mungkin tulisan itu dianggap bermanfaat….

    santri alit
    hahahah… iyaa bener santrialit… soale klambi ilang bagi santri ora apa2… sebab dianggap milik bersama tah heheheh *ups itu pengalaman saya dulu* sekarang mah enggak lebih disiplin kayae…
    salam kenal santri alit…

  39. 11 Desember, 2007 pukul 4:37 pm | #39

    Waduh, kyai Kurt, kalau baju saya banyak gimana dong?!

    Ganti tempat ganti baju, jadi kayak bunglon saya?!

    Tapi, mudah2an, doakan saya tetap pake satu baju dalam yang utama! Amin!

  40. 11 Desember, 2007 pukul 4:38 pm | #40

    Mas Kurt, moga sehat dan kaya raya selalu, amin. Mulai kemarin, para santri di pondok sudah saya instruksikan untuk membuat blog dan mencurahkan kreatifitasnya di sana, belajar nulis, bisa ngambil banyak informasi yang Insya Allah bermanfaat, lagipula, warnetnya punya istri saya, biar rame, saya ikhlas kalau para santri menghabiskan waktunya di internet, sekalipun mereka TETEP WAJIB BAYAR ALIAS GAK GRATIS… (terkekeh-kekeh…)

  41. 11 Desember, 2007 pukul 4:40 pm | #41

    Honor tulisannya simpen baik-baik, buat biaya berobatnya Danalingga, dia lagi dirasuki cinta, semaleman ngingaunya puisi cinta terus….

  42. 11 Desember, 2007 pukul 4:43 pm | #42

    gempur
    benar satu kelemahan argumen saya adalah itu, kesannya banyak baju seperti bunglon yaa.. tapi bener juga baju yang banyak itu yang bagus2 dan indah2 kan enak… :)

    Ram-Ram Muhammad
    amin, semoga juga untuk kyai dan santri2 disana yang lagi bikin blog… waaah sampean luar biasa, warnet digratiskan pada santri…. salutt ey… :)
    amin semoga berkah yaa mas…

  43. 11 Desember, 2007 pukul 4:45 pm | #43

    klo baju politik??? minta penjelasan om…

  44. 11 Desember, 2007 pukul 5:18 pm | #44

    cewektulenbanget
    baju politik tiu pol… ngerti tah pol, ukuran yang gak bisa dibearin lagi. .. alias cekak.. heheh :)

  45. 27 Desember, 2007 pukul 8:33 am | #45

    kalau kita lihat, mungkin sekarang ada salah kaprah tentang nama baju nih pak…
    maksudnya, maknanya jadi menyempit gitu pak kurt..

    Kita sering menyebut baju koko [baju muslim] sebagai “BAJU TAQWA”..
    padahal kalau mbaca artikel ini..
    berarti pas kita makai itu mestinya cemas donk ya..? [setidaknya saya lah.. :D ]..

    gimana ndak cemas? pakaiannya aja yang bernama BAJU TAQWA, tapi sebetulnya belum memakai “BAJU TAQWA” menurut definisi di posting ini hiks hiks… :(

    susah untuk menyelaraskan lahir dan batin…

    >>> Rupanya fenomena “baju” sekarang sedang marak pak… sebuah label masyarakat kalau gak pake baju bertulisan taqwa bukan muslim pak… atau muslim yang meragukan dan tiba2 jadi taqwa karena pake baju itu meskipun barusaja mencuri.. :D mudah2an kita terhindar dari ini ya Pak..

  46. razuka
    15 Mei, 2008 pukul 2:19 pm | #46

    kalo bicara baju an/lain:
    .>kemeja
    .>jaket
    .>rompi
    .>kulit ari
    .>daging dan tulan
    …..itu semua dikatakan baju / pelindung / tempat bersembunyi bagi Sang Hyang HIDUP

  47. أحمد سروري
    23 Mei, 2009 pukul 6:06 pm | #47

    السلام عليكم ketemu dengan konco PP sarang ne, baca sholawat sebanyak2 banyaknya ya, baju tinggal kita mencermati dan bserimajinasi, semoga kita satu tujuan, muslim yang taqwa, امين يارب

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: