jump to navigation

Khutbah tanpa Judul 22 Desember, 2007

Posted by santribuntet in Aktivitas, Amanat, Peristiwa.
18 comments

Postingan sekedar nyampah Curhat saja.

Lebaran Haji tahun ini saya masih di Jakarta. Lagi-lagi saya ketiban “kudu”. Yaitu kudu mengisi khutbah di lingkungan saya berada. Konon kabarnya, jama’ah sudah bosan dengan penghutbah yang biasa nangkring di mimbar saban tahun itu-itu saja. Tahun ini harus ada perubahan. Yang muda harus bicara!

Jder! sayalah yang “dijedotin” kudu mengikuti petuah orang-orang tua di sini. “Yang muda dilarang bicara!” sudah tidak berlaku lagi. Yang muda harus punya ilmu “kudu”: kudu mau, kudu bisa, kudu siap, kudu keras, kudu lurus… ah makin keras saja jedotan orang-orang tua itu.

Detik-detik mau berangkat setengah jam lagi, padahal sudah seminggu diberitahu, masih saja tidak mencari bahan ngomong. Bisul kecil makin sakit saja di hidung tapi sampai detik-detik terakhir menjelang shalat berlangsung baru buka-bukaan baju. Singkatnya, jam enam pagi, saya baru serius mencari bahan Mblegedez.

“apa yang harus saya omongin?” pikir saya masih linglung bingung.

(lagi…)

Ceramah Perkawinan yang OOT 16 Desember, 2007

Posted by santribuntet in Amanat, Lingkungan, Pengalaman Rohani.
27 comments

Dijamin panjang sekali tulisan ini. Tapi ada kok ringkasannya di akhir tulisan ini.  Saya lagi kena penyakit nafsu menulis banyak. Dikatakan nafsu karena tidak bisa mengendalikan…  Gimana ini Bang Ersis bagus tidak sih untuk perkembangan menulis bagi saya. :)

***

Pelaminan dan pengantin .... hari bersejarah dan sakralNASIBKU  hari ini harus rela menerima “paksaan” menggantikan kyai dan ustadz yang tidak dihadirkan dalam sebuah acara resepsi pernikahan. Saya tiba-tiba saja didaulat untuk menggatikan mereka. Saya protes, kenapa yang memberikan nasehat perkawinan itu bukan orang yang sudah pengalaman, para ustadz dan kyai di lingkungan tempatku tinggal? Bukankah acara ini sakral dan amat bersejarah bagi pengantin dan keluarganya. Tapi kenapa saya yang dipilih?

Jadilah jam 6.00 WIB saya harus datang ke rumah tetangga yang hendak resepsi hari ini. Saya membayangkan panas dingin jika sambutan itu dimulai. Bukan karena pengaruh global warming yang “dilecehkan” Amerika, Jepang dan Kanada, tapi betul-betul karena saya belum pernah berbicara di depan publik yang sangat banyak itu.

Kalau di blog saya mau bicara apa saja  tenang-tenang  saja. Tapi kalau di depan ratusan orang–orang yang berbaju safari, jas dan beraneka ragam sanggul wanita yang menggoda, ampuuun deh saya. Kenapa sih sampean menunjuk saya sebagai pengganti kyai-kyai yang terhormat itu? kenapa bukan sampean saja yang jadi ustad di lingkungan sini? Kenapa bukan pak tua yang suka berceramah di msholla dan di masjid? Kenapa bukan purnawirawan polisi yang suka bicara agama di mana-mana? Dan banyak lagi segudang kenapa?

Apa karena saya lulusan ponpes? Apa karena lulusan IAIN, apa karena suka pake sarung kalau di rumah, tapi kan di luar saya sering pake jeans. Atau jangan-jangan karena saya suka menulis di blog yang tulisannya hinggap di koran dan di majalah? Tidak ada yang menjawab. Pokoknya hari ini saya harus memberikan nasehat perkawinan untuk sebuah pernikahan yang sakral dan bernilai sejarah.

Pengantin.. pelaminan yang mengesankanGlabrukkk!… saya pusing mencari materi apa yang harus diomongkan, hingga jam 6.00 WIB saya mesti datang. Malam hari telepon dari tim sukses acara pernikahan berdering dua kali, tapi saya hiraukan saja. Sebab saya masih mencari materi. Saya mau searching, komputer lagi lemot, menulis materi tidak juga kedapatan.. Buka-buka buku tidak ada, buka Qur’an tidak ketemu ayat-ayatnya. Ya sudah bagaimanapun saya harus siap, jangan malu-maluin tetangga, almamater, harga diri bangsa  dengan bismillah, disertai deg-degan, saya berangkat dan saya bayangkan pasti OOT deh… tiba-tiba SMS menyapa:

“Pak Kurt, tamu-tamu dari pengantin sudah datang nih, buruan ke sini yaa”

(lagi…)

Mana ada Hidup Gratis… 12 Desember, 2007

Posted by santribuntet in Amanat, Inspirasi, Kajian Kitab, Politik.
Tags: , , , , ,
45 comments

Kenikmatan makan dan seterusnya... perlu diwaspadaiMaaf ya akhir2 ini postinganya lagi angot. Maksudnya angot menlis berbau sok moralis… dan tulisan ini untuk kalangan sendiri. Sudah lama di laci arsip … sekalian blajar nulis refleksi akhir tahun meniru pak Sawali

KYAI saya suatu ketika berpesan: “Berhati-hatilah ketika kita mendapatkan nikmat meskipun datang dari Tuhan.” Maksudnya boleh jadi kenikmatan yang diperoleh selama ini tidaklah gratis meskipun datang dari Allah swt. Karena semua kenikmatan mesti dipertanggungjawabkan. Rupanya, kyai saya mengutip ayat berikutperingat (Al Maa’uun: 7)

Artinya: “Kemudian pada hari nanti segala kenikmatan pasti akan dipertanggungjawabkan.”

(lagi…)

Baju Santri 9 Desember, 2007

Posted by santribuntet in Amanat, Dunia Pesantren, Kajian Kitab, Kultur.
Tags: , , , , , ,
47 comments

KH. Maemun ZUbeir, santrinya ratusan ribu... tersebar di Seluruh Indonesia.Wahai para santri hendaklah kalian memliki dua baju”. Itulah ungkapan pendek kyai saya di Sarang – Jawa Tengah. Kata Mahmud Syaltut, teman saya dari Buntet yang meneruskan mondok di sana.

Apa maksud ungkapan tersebut dan bagaimana aplikasinya dalam kehidupan seari-hari. Dalam benak saya, ungkapan ini sarat makna dan amat berguna dan menjadi bekal saya dan teman-teman dari Pesantrren untuk bisa fleksibel dan toleran kepada masyarakat sekitar.

(lagi…)

Menguak Tradisi Berkah 30 November, 2007

Posted by santribuntet in Amanat, Bahasa, Dunia Pesantren, Kajian Kitab.
Tags: , , , , , , , , ,
20 comments

WARNING: Postingan ini cukup panjang; terlalu berbau pesantren. Banyak huruf hijaiyahnya. Tulisan ini jawaban atas pertanyaan seorang alumni Buntet di sebuah kota nun jauh di sana. Karena jawabanya panjang belum sempat mengedit. Jadi masih apa adanya. Maksud hati mau meneruskan postingan tentang Satanic Strategy tapi gagal, karena kerjaan utak-atik kabel hari ini begitu melelahkan. Hingga ada bahasan poligami yang menarik dari Kang Edo belum sempat dinikmati (bukan poligaminya tapi tulisannya).

——————————————————————————

Sebetulnya saya tidak mengerti tentang berkah, barokah atau keberkahan. Meskipun ngendon di pesantren cukup lama; tapi karena lebih banyak molor dari pada mulurnya dan banyakan males kalau ngaji kitab, ya begini nih akibatnya. Ditanya tentang berkah nyaho.com jawabanya. Tapi meski nyahoo.com tulisan ini bisa diarsipkan.. (stop menghabiskan benwidth orang saja.. ayo kembali ke topik, maaf kawan stressing kerjaan hari benar2 menguras cairan tubuh :) ).

(lagi…)

Ketika Motor Lebih Pintar dari Pemiliknya 10 November, 2007

Posted by santribuntet in Amanat, Celotehan, Keajaiban, Pengalaman Rohani.
27 comments

ALAM dan manusia tanpa sadar terjadi “hubungan mesra” . Mungkin mirip seperti guru sama muridnya. Kita memang tidak perlu menyadari tanda-tanda alam itu, karena sama saja seolah melawan realitas akal manusia. Contoh kasus dalam postingan ini, bagaimana sebuah motor bisa berubah menjadi guru bagi pemiliknya.

(lagi…)

Misi Ampera: Laporan Pulang Kampung 21 Oktober, 2007

Posted by santribuntet in Amanat, Dunia Pesantren.
4 comments

SETIAP tahun pulang kampung selalu saja ada titipan Amanat Penggembira Rakyat (Ampera). Bentuknya berupa pembagian uang “angpau”, kadang sembako atau pakaian yang diperuntukkan bagi orang-orang yang layak bantu di kampung saya: Buntet Pesantren Cirebon dan sekitarnya. Tahun ini sengaja saya tuliskan di blog ini sebagai laporan Misi Ampera…

(lagi…)