jump to navigation

Puasa Kembalikan Modal Hidup (2) 9 September, 2008

Posted by santribuntet in Celotehan, Kajian Kitab, Kultur, Peristiwa.
Tags: , , , , , , , , , , , , ,
15 comments

Harga diri (Muru’ah) sebagai modal hidup, maksud loh?

Harga diri rakyat dimana harga diri pemimpin?

Siapa yang membangkitkan? pemimpin, atau kita sendiri?

MODAL hidup rohani yang ketiga selain akal dan agama, menurut ahli ushul fiqh seperti ditulis di berbagai kitab ushul adalah harga diri atau murua’ah atau wibawa.

Dalam penjelasan kyai saya, orang yang tdak berwibawa minimal dimata keluarga, maka disarankan untuk meneliti mur’ah apa saja yang dilanggarnya. Sebaliknya, orang-orang yang mampu menahan diri dari berbagai godaan orang ini memiliki benteng kepercayaan diri dan tentunya menjadi berwibawa karenanya.

Pertanyaanya ada apa dengan harga diri itu dan dimana posisi harga diri kita selama ini. Saya tidak bermaksud meniru psikolog tetapi sekedar meniru kontemplasi Kang Zal yang superberat, sejauhmana harga diri kita di mata manusia dan tentu saja di hadapan Tuhan.

Untuk membahas itu, ada baiknya saya ungkapkan sebuah peristiwa yang kerap terjadi terkait masalah harga diri. Saya teringat ketika sebuah Keluarga yang saya kenal dulu, setiap hari cek-cok melulu. Ada saja masalah yang dicuatkan. Kalau tidak dari isterinya, ya dari anak-anaknya. “Bapak ini gimana sih, bego amat segitu saja tidak bisa.” ada lagi umpatan dari anaknya, “Pak kenapa bengong saja, cepat bawa ini” begitulah raungan suara dari keluarga yang terlihat kurang harmonis itu terdengar hingga ke beberapa rumah sebelahnya.

Orang-orang menjadi jamak, si bapak yang dimaksud ini orangnya terlihat kalem dan tidak pernah melawan umpatan dan makian dari isteri dan anak-anaknya. Masalahnya apakah dalam hal ini si isteri sudah kurang ajar karena berani membentak suaminya begitupula sang anak meniru tingkah polah ibunya? Apakah fenomena ini menjadi wajar manakala kebebasan berpendapat juga merambah dalam struktur formal seperti rumah tangga.

Ternyata, kasus ini tidak saja menimpa tetangga saya, di tempat kawan karib sayapun kejadian ini mirip. Kalau sinetron memang sehari-hari bisa ditemui kasus-kasus seperti judul: “suami takut isteri”. Kesimpulan saya sementara mengatakan bahwa sang suami tidak berwibawa di depan keluarga atau harga dirinya turun di mata isteri dan anak-anaknya.

***
(lagi…)

Puasa Kembalikan Modal Hidup (1) 5 September, 2008

Posted by santribuntet in Celotehan, Kajian Kitab.
Tags: , , , , , , , , , , ,
16 comments

Modal Hidup, maksud loh?

Marah-marah kok lucu sih bisa gandengan hidung?

Marah-marah kok lucu sih bisa gandengan hidung?

Maksud saya, dalam hidup itu ada modal yang melatarbelakangi eksistensi manusia dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam sebuah ungkapan ulama salah satu modal hidup manusia itu adalah Akal dan Agama. Namun katanya, akal dan agama yang jadi modal itu bisa jebol dan lama-lama terkikis habis. Seperti juga dalam berbisnis yang bangkrut itu karena tidak ada lagi modal yang bisa digoyang.

Bahwa modal menjadi penopang hidup itu biasa. Namun ternyata bukan saja modal hidup di dunia, bahkan modal yang akan diceritakan ini sebagai penopang dunia dan akherat: Akal, Agama dan harga diri. Ketiganya menjadi taruhan manusia apakah mampu mempertahankan atau tidak. Nah bagaimana modal-modal itu bisa bertahan dan apakah puasa mampu mengembelikannya?

(lagi…)

Tarik nafas, tutup mata 29 Agustus, 2008

Posted by santribuntet in Celotehan, Uncategorized.
Tags: , ,
13 comments

Gak mau banyak ngetik, hanya ingin sampaikan sesuatu, bentar lagi puasa, semoga umur kita sampai dan bisa menikmati puasa, layaknya orang yang sudah kelaparan ketemu makanan ternikmat sedunia… :D hidangan ternikmat itulah puasa.

Krisis Keyakinan? 27 Agustus, 2008

Posted by santribuntet in Celotehan, Hikmah, Ibadah, Pengalaman Rohani, bergumam.
15 comments

Krisis Keyakinan? ini sekedar merenungi komentar para tamu kehormatan khususya beliau yang mengatakan masalah kayakinan kepada Allah SWT pada komentar postingan ini . Sekaligus belajar memenuhi permintaan guru serbabisa. Intinya saya ingin mengatakan bahwa krisis keyakinan itu betapa mudah menggerogoti batin kita di setiap desahan nafas dan lintasan pikir.

Ini juga tidak jauh terkait dengan fenomena batin saya sendiri dan mungkin beberapa kawan juga ada yang senasib. Bahwa ternyata dari sekian banyak janji Allah Dzat Yang Maha Mulia, yang Maha Tepat Janji kadang kita sendiri abai. Sebaliknya, keyakinan besar kepada Yang Maha Besar itu justru kalah hanya oleh urusan remeh temeh. duuh Gusti, ampunilah hambamu ini. ….

(lagi…)

Bid’ahku Bid’ah Kita Semua 21 Agustus, 2008

Posted by santribuntet in Celotehan, Dunia Pesantren, Kajian Kitab, Kultur, Uncategorized.
Tags: , , , , , , , , , , ,
29 comments
Shalat sarana mendekatkan diri kepada Yang Maha

Bid'ah itu dibolehkan jika mengerjakan yang sunah, tapi yang wajib tidak!

DI KALANGAN pesantren utamanya para kyai mengajarkan berbagai ajaran bid’ah. Tidak perlu disebut-sebut lah sudah paham semuanya jenis-jenis apasaja yang dianggap bid’ah menurut konsumsi umum. Namun kawan, tahukah bahwa siapa pelaku bid’ah yang masuk neraka sebagiamana Sabda Nabi saw yang dicapkan oleh Ustadznya Mas Karjo di postingan sebelum ini?

Bagi saya sih, tak menjadi pusing manakala bid’ah dijadikan sebagai stempel untuk menyerang komunitas orang-orang yang berada di pesantren. Apakah ketidakpedulian ini membawa dampak tololnya hati nurani, atau menunjukkan dangkalnya keberislaman?

(lagi…)

Malam Nisfu Sya’ban, Agustusan dan Bid’ah 16 Agustus, 2008

Posted by santribuntet in Celotehan, Kultur, Peristiwa.
Tags: , , , ,
28 comments

Warga muslim beramai-ramai memperingati malam 17 Agustus itu dengan membaca dzikir, membaca quran, bersoalawat, ceramah agama dan lain-lain. Itulah kebiasaan yang dikerjakan pada kampung mas Karjo yang merantau ke Jakarta. Di RT lain justru malam 17-an diisi dengan hura-hura nyanyian dan lain-lain.

  (lagi…)

Polarisasi “Kyai Kampung” dan “Kyai Kampus” 20 Juni, 2008

Posted by santribuntet in Celotehan, Dunia Pesantren, Modernisasi, Pendapat.
Tags: , , , , , , , ,
22 comments

polarisasiOleh: Muhamad Kurtubi
Antara pendidikan pesantren dan pendidikan non pesantren ada semacam polarisasi pada pembimbingnya. Hal inipun berpengaruh pada cara pandang juga dalam hal menjalani kehidupan selanjutnya baik oleh para santri maupun para murid-muridnya.

(lagi…)

EURO 2008 di Tengah Konflik FPI-AKKBB dan Ahmadiyah 8 Juni, 2008

Posted by santribuntet in Celotehan, Kultur, Pendapat, Peristiwa.
Tags: , , , , , , , , ,
8 comments

Lama tak jumpa, lama tak menyua, lama tak menyapa, lama tak berkata maaf. Kawan-kawan setelah saya datang ke tetanggaku saya jadi mencoba posting lagi. Inipun maaf jika tak berkenan dan terlalu panjang.

——————————

Oleh: Muhammad Kurtubi Euro

DI TENGAH perselisihan Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), Front Pembela Islam (FPI), dan Ahmadiyah kini hadir pesta spektakuler ERURO 2008. Lumayan bisa mengendorkan sedikit urat-urat syaraf ketegangan. Mata publik tertuju ke perhelatan akbar di Austria dan Switzerland dari 7 Juni hingga 29 Juni 2008.

(lagi…)

Menikmati Misteri Hidup Menapaki Th. 2008 31 Desember, 2007

Posted by santribuntet in Aktivitas, Celotehan.
37 comments

Kehidupan bukanlah sebuah persoalan yang harus diselesaikan, tetapi misteri untuk dijalani. (M Scott Peck (1936-2005), Psikiater dan penulis AS)

Menjelang detik-detik pergantian tahun 2007 Indonesia masih dikepung bencana. 15 Kabupaten di sepanjang 16 km aliran bengawan Solo yang membelah dua propinsi itu kini sudah tidak mampu menadah luapan air. Ribuan hektar tanah terendam bersama harta kekayaan manusia.  Lumpuh total!

Ada yang berkata kalau bencana itu peringatan bagi manusia yang lalai. Yang lebih tega mengatakan musibah itu adalah adzab. Yang lebih ngaco mereka yang berkata musibah itu gara-gara presidennya  Susilo Bambang Yudhoyono. Tapi bagi yang setuju ungkapan M Scott di atas, bencana itupun adalah sebuah misteri yang terus akan berjalan seiring denyut nafas kehidupan itu sendiri.

Tidak ada yang perlu kita sesali hanya kepedulian sedikit atau banyak dari kemampuan kita untuk disumbangkan kepada kepentingan orang-orang yang terkena imbas musibah itu. Sebab “bencana kedua” bahayanya lebih banyak dari bencana pertama karena sifatnya resident life: kemiskinan, panyakit, semangat hidup yang luntur, dan seterusnya. (lagi…)

Kadung Kecebur di Sumur Maya 30 Desember, 2007

Posted by santribuntet in Aktivitas, Bahasa, Celotehan.
40 comments

Ini adalah Rekam jejak satu tahun blog santribuntet. Maaf tulisannya puanjang. Ditulis buru-buru dan linknya masih kacau. Maafkanlah semoga bisa diperbaiki nantinya.

Guru saya berkata:

Jika suatu aktivitas yang kecenderungannya melebihi yang lain, itu pertanda takdirmu menyertai di situ.

Kata-kata itu konon, dipungut dari sabda Rasulullah saw. Kata-kata itu juga sebagai jawaban dari pertanyaan saya yang diajukan padanya.

(lagi…)