Yang Mati lebih Mendengar 24 November, 2008
Posted by santribuntet in Ibadah, Kajian Kitab, Keajaiban, Peristiwa, Uncategorized.Tags: alam arwah, fenomena, Kajian Kitab, kematian, mati, ruh, ziarah kubur
24 comments
Lama tak posting maafkanlah para saudara/i ku. Keterbatasan menjadi sifat melekat pada saya. Karenanya atas segala khilaf, dan khelah (alasan) apapun mohon dimaklumi. Ini saya memberanikan diri mengawali masuk kembali ke dunia blog.
Dalam wacana perbedaan pendapat itu biasa. Tetapi dari kecil masalah ziarah kubur sudah tahu itu juga menjadi perbedaan. Karena saya penasaran kemudian ada kitab digital yang saya peroleh dari kawan iseng-iseng membaca (tentu yang saya bisa) karena banyak kitab yang berkarakter gundul itu (kitab tanpa harokat) tidak saya pahami.
Sayap-sayap Patah 12 Oktober, 2008
Posted by santribuntet in Ibadah, Keajaiban, Modernisasi.Tags: Hikmah, keadilan, refleksi, sayap, syawwal
30 comments
Refleksi Syawalan

Selamat tinggal ramadhan… kau telah memberikan masa ingkubasi untuk para shoimin. Kau juga telah memberikan rehat bagi tubuh-tubuh yang butuh istirahat. Dari proses “mbrongsongi” menjadi kepongpong lalu melahirkan sayap bagi ulat-ulat yang semula hina menjadi kupu-kupu indah. Lalu apa hasil dari “mbrongsongi” itu bagi manusia.. ?
(lagi…)
Lembaran Penghapus Luka 6 Oktober, 2008
Posted by santribuntet in Dunia Pesantren, Ibadah, Kultur, Uncategorized.Tags: amal, Donatur, santunan, wa, zakat, zakat mal
26 comments
SEBELUMNYA saya mohon maaf lahir & batin kepada semua teman dan tetangga. Saya juga mohon maaf karena tidak bisa leluasa mengomentari komentar dan berbalas kunjung. Kali ini saya berkesempatan memberikan tulisan yang isinya adalah laporan pulang kampung buat.

Lembaran Penghapus Luka
PERJALANAN pulang kampung kali ini memberikan torehan sejarah yang sangat berkesan. Satu demi satu tetangga yang kudatangi disapa dengan akrab. Tidak itu saja, mata mereka berbinar tanda bersuka cita saat saya memberikan lembaran-lembaran penghapus luka, senyum mereka berbinar-binar. Ucapan syukur bertebar tiada henti kepada Allah dan kepada orang-0rang yang rela menyumbang dan menyambung tali kasihNya.
Ada sekitar 50 orang lebih tetangga saya itu yang diberikan uluran tangan orang jakarta ini. Mereka sangat minim dari segi ekonomi. Kepedulian warga sekitar memang ada namun angkanya masih kecil. Para kyai sebagai pemegang otoritas di kampung pesantren ini pun masih belum mampu memberikan pencerahan bendawi, para ulama di sana masih terbatas pencerahan ruhani.
Krisis Keyakinan? 27 Agustus, 2008
Posted by santribuntet in Celotehan, Hikmah, Ibadah, Pengalaman Rohani, bergumam.15 comments
Krisis Keyakinan? ini sekedar merenungi komentar para tamu kehormatan khususya beliau yang mengatakan masalah kayakinan kepada Allah SWT pada komentar postingan ini . Sekaligus belajar memenuhi permintaan guru serbabisa. Intinya saya ingin mengatakan bahwa krisis keyakinan itu betapa mudah menggerogoti batin kita di setiap desahan nafas dan lintasan pikir.
Ini juga tidak jauh terkait dengan fenomena batin saya sendiri dan mungkin beberapa kawan juga ada yang senasib. Bahwa ternyata dari sekian banyak janji Allah Dzat Yang Maha Mulia, yang Maha Tepat Janji kadang kita sendiri abai. Sebaliknya, keyakinan besar kepada Yang Maha Besar itu justru kalah hanya oleh urusan remeh temeh. duuh Gusti, ampunilah hambamu ini. ….
Diharuskan Riba 24 Desember, 2007
Posted by santribuntet in Dunia Pesantren, Ibadah, Inspirasi, Kajian Kitab, Tamu.Tags: Akuntasi, Keuangan, Rentenir, Rezeki, Riba
44 comments
RIBA dalam Al Qur’an dilarang keras! alisas diharamkan. Tapi jangan salah. Justru jika ingin hidup makmur dunia-akherat, berbuatlah: tiada hari tanpa riba. Aya aya wae!
Jika kebetulan diantara kita ada yang tengah dilanda masalah keluarga. Utamanya ekonomi salah satu sendi penggerak keharmonisan. Atau jika Anda tengah mengalami berbagai kendala usaha (bangkrut misalnya). Baik usaha pribadi atau kelompok. Maka tidak salah jika menyi¬mak nasehat salah seorang kyai Buntet kepada tamunya. Beliau memberikan nasehat agar berbuat riba sesering mungkin.
Ada seorang tamu datang ke rumah kyai, lalu berkonsultasi (harap maklum, kyai itu kadang jadi pendengar yang baik bagi tamunya) . Tiba-tiba saja dalam obrolannya, ia mengadukan masalah kebangkrutan eknominya yang selama ini dibangun.
Kepada tamunya kyai itu bertanya: “Apakah njenengan suka memberikan uang kepada orang tua?”, “tidak!” jawabnya tegas. Orang ini mengadu karena ingin mengubah nasib yang menimpanya. Usahanya hampir tidak membawa keberkahan (kebaikan ilahi yang menetap dan bersinergi dalam hidupnya).
Dari pengaduan orang ini, cara yang dilakukannya, menurut Kyai itu kurang tepat! Sebab prioritas bersedekahnya tidak sesuai tata aturan baik aturan eko¬nomi maupun agama. Untuk mengatasi agar uang kita bisa stabil, bisa melalui dua jalan. Kata Kyai itu dengan yakin.
Adu Pengalaman Rohani 14 November, 2007
Posted by santribuntet in Ibadah, Pengalaman Rohani, Supranatural.22 comments
Salah satu ajaran nabi palsu atau komunitas baru yang bertentangan dengan Nabi versi kitab-kitab suci agama-agama dunia adalah ajaran yang melawan inti ajarannya. Contoh dalam agama Islam, pengalaman rohani Nabi Muhammad saw adalah Shalat. Namun bagi nabi palsu, shalat adalah ajaran yang tidak wajib diikuti dan dilaksanakan.
Sebuah agama, pastilah ada ritualitas tertentu sebagai bentuk hubungan spesial antara si makhluq dengan Penciptanya. Jika agama kemudian tidak memiliki ritualitas, tentu diragukan sebagai sebuah agama. Di samping itu, adanya kitab suci sebagai wahyu merupakan syarat mutlak sebuah agama itu berdiri. Kitab suci inilah yang menjadi titik sentral ajaran yang harus dipedomani.
Salat dalam agama Islam, sebagai salah satu inti ajaran yang sangat mudah dan singkat dalam mempelajarinya. Namun kemdian digugat oleh para penyebar ajaran-ajaran baru. Misalnya yang baru-baru ini dipegang oleh Ahmad Mushadeq dan kawan-kawan serta Lia Aminudin dan komunitasnya.
Menurut kedua aliran baru itu, shalat tidaklah diwajibkan. Adanya pernyataan itu, sangat masuk akal dan didukung oleh sebuah pengalaman rohani yang didapatnya. Misalnya Ahmad Mushodiq mendapatkan ajarannya hasil dari berkhlawat (menyepi) selama 40 hari. Demikian juga yang terjadi pada Lia Aminudin juga pada aliran-aliran baru lainnya.
Shalat yang mula-mula diperintahkan Allah pada Nabi Muhammad saw adalah hasil dari pengalaman rohani berupa peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Peristiwa ini didukung oleh fakta-fakta yang sangat kuat (shahih) oleh para sahabat-sahabat Nabi yang terpercaya hingga dibukukan dalam buku-buku hadits.
Pada perkembangan selanjutnya, ajaran hasil dari pengalaman rohani Nabi ini dilaksanakan sebagai sebuah kepatuhan seorang hamba kepada Penciptanya. Namun kemudian entah bagaimana banyak yang menentang dan berusaha menghilangkan ajaran Nabi ini. Penentangan ini pun didukung oleh pengalaman rohani juga.
Belajar “Ekonomi” lebih Sulit dari Agama 4 November, 2007
Posted by santribuntet in Celotehan, Ibadah, Pendapat.25 comments
Siapa bilang belajar “agama” itu sulit. Cukup singkat bahkan hanya beberapa menit saja. Namun prakteknya seumur hidup. Bandingkan dengan belajar Ekonomi misalnya, apalagi matematika sosial atau matematika filsafat, lebih-lebih teknik pasti sulit. Waktu belajarnya lama, tapi prakteknya kadang tidak terpakai.
Contohnya dalam Islam belajar berwudu paling memakan waktu 1 menit, shalat 2 menit dan puasa cukup dikasih tahu teorinya yang berjumlah dua saja: niat dan menahan lapar dari fajar subuh hingga sore hari (maghrib). Lalu kenapa yang disalahkan kurikulum?
Energi Getaran dalam Hati 26 Oktober, 2007
Posted by santribuntet in Ibadah, Modernisasi, Tokoh, Uncategorized.13 comments
Apa jadinya dunia, kalau tidak ada getaran. Bunyi-bunyian adalah produk dari getaran yang simultan. Semakin lemah getaran, semakin longgar frekuensi getarannya. Semain keras getaran, semakin rapat frekuensinya. Maka kita berterima kasih kepada Heinrich Hertz (1857-1894), Macaroni yang mampu membuat teori getaran sehingga para pakar gelombang suara mampu menghasilkan berbagai temuannya.
Akhir Puasa harus Ngintip? 11 Oktober, 2007
Posted by santribuntet in Dunia Pesantren, Ibadah, Kultur, Modernisasi.20 comments
Awal dan akhir ramadhan biasanya ramai oleh perdebatan masalah ngintip bulan apakah ia nongol atau tidak. Sebab memang tanpa mengintip tak bisa menikmati indahknya sinar yang ronanya menerangi jagat ini. Mirip wanita rupanya bulan itu. Sebab hampir semua organisasi keislaman ikut pula mengintip bulan. Namun yang paling berpengalaman denganurusan mengintip adalah Nahdlatul Ulama sementara Muhammadiyah tak tertarik rupanya.
Mencuci Jiwa secara Aktif & Pasif 1 Oktober, 2007
Posted by santribuntet in Ibadah, Kajian Kitab.10 comments
IBADAH yang selama ini dilaksanakan baik shalat, puasa, zakat dan lainlain merupakan amalan yang utama untuk pencuci jiwa. Penciptanya langsung dari Allah swt. Selama peredaran udara melaui tarikan nafas, peredaran makanan terus berlanjut dan lintasan hati serta fikir terus berkecamuk, selama itu pula manusia harus membersihkannya. Karena hasil reaksi berbagai un-sur tubuh jiwa itu meninggalkan reaksi yang menghasilkan zat sisa (residu), maka ada yang rajin membersihaknya secara aktif. Namun ada pula yang tidak mau mencucinya secara rutin (pasif). Bagaimana se-baiknya mencuci jiwa yang terbaik?




