Sukses karena Hormati Ibu 26 November, 2009
Posted by kurtubi in Celotehan, Dunia Pesantren, Hikmah, Ibadah, Inspirasi, Kajian Kitab, Keajaiban, Kultur, Modernisasi, Uncategorized.Tags: Ibu, oran tua
4 comments
Ibu, Ummi, Mother atau apa saja panggilannya bila kita hormati dengan tulus serta melayaninya dengan tabah, niscaya akan membawa kedamaian dalam hidup. Dalam bahasa pesantren, anak yang berbakti kepada ibunya (orang tua) maka dia akan “sukses” lahir batin, dunia akherat. Mau Bukti?
Abu Yazid Al Bustami, seorang ulama yang sangat dihormati dikalangan para sufi dan generasi kini, banyak pula karangan kitabnya ternyata beliau sangat hormat dan bakti kepada ibunya.
Lembaran Penghapus Luka 6 Oktober, 2008
Posted by kurtubi in Dunia Pesantren, Ibadah, Kultur, Uncategorized.Tags: amal, Donatur, santunan, wa, zakat, zakat mal
26 comments
SEBELUMNYA saya mohon maaf lahir & batin kepada semua teman dan tetangga. Saya juga mohon maaf karena tidak bisa leluasa mengomentari komentar dan berbalas kunjung. Kali ini saya berkesempatan memberikan tulisan yang isinya adalah laporan pulang kampung buat.

Lembaran Penghapus Luka
PERJALANAN pulang kampung kali ini memberikan torehan sejarah yang sangat berkesan. Satu demi satu tetangga yang kudatangi disapa dengan akrab. Tidak itu saja, mata mereka berbinar tanda bersuka cita saat saya memberikan lembaran-lembaran penghapus luka, senyum mereka berbinar-binar. Ucapan syukur bertebar tiada henti kepada Allah dan kepada orang-0rang yang rela menyumbang dan menyambung tali kasihNya.
Ada sekitar 50 orang lebih tetangga saya itu yang diberikan uluran tangan orang jakarta ini. Mereka sangat minim dari segi ekonomi. Kepedulian warga sekitar memang ada namun angkanya masih kecil. Para kyai sebagai pemegang otoritas di kampung pesantren ini pun masih belum mampu memberikan pencerahan bendawi, para ulama di sana masih terbatas pencerahan ruhani.
Puasa Kembalikan Modal Hidup (2) 9 September, 2008
Posted by kurtubi in Celotehan, Kajian Kitab, Kultur, Peristiwa.Tags: Amalan, dengki, harga diri, hasud, Ibadah, iri, Islam, kewibawaan, marah, mur'ah, puasa, ramadhan, Santri, ubudiyah
15 comments
Harga diri (Muru’ah) sebagai modal hidup, maksud loh?

Siapa yang membangkitkan? pemimpin, atau kita sendiri?
MODAL hidup rohani yang ketiga selain akal dan agama, menurut ahli ushul fiqh seperti ditulis di berbagai kitab ushul adalah harga diri atau murua’ah atau wibawa.
Dalam penjelasan kyai saya, orang yang tdak berwibawa minimal dimata keluarga, maka disarankan untuk meneliti mur’ah apa saja yang dilanggarnya. Sebaliknya, orang-orang yang mampu menahan diri dari berbagai godaan orang ini memiliki benteng kepercayaan diri dan tentunya menjadi berwibawa karenanya.
Pertanyaanya ada apa dengan harga diri itu dan dimana posisi harga diri kita selama ini. Saya tidak bermaksud meniru psikolog tetapi sekedar meniru kontemplasi Kang Zal yang superberat, sejauhmana harga diri kita di mata manusia dan tentu saja di hadapan Tuhan.
Untuk membahas itu, ada baiknya saya ungkapkan sebuah peristiwa yang kerap terjadi terkait masalah harga diri. Saya teringat ketika sebuah Keluarga yang saya kenal dulu, setiap hari cek-cok melulu. Ada saja masalah yang dicuatkan. Kalau tidak dari isterinya, ya dari anak-anaknya. “Bapak ini gimana sih, bego amat segitu saja tidak bisa.” ada lagi umpatan dari anaknya, “Pak kenapa bengong saja, cepat bawa ini” begitulah raungan suara dari keluarga yang terlihat kurang harmonis itu terdengar hingga ke beberapa rumah sebelahnya.
Orang-orang menjadi jamak, si bapak yang dimaksud ini orangnya terlihat kalem dan tidak pernah melawan umpatan dan makian dari isteri dan anak-anaknya. Masalahnya apakah dalam hal ini si isteri sudah kurang ajar karena berani membentak suaminya begitupula sang anak meniru tingkah polah ibunya? Apakah fenomena ini menjadi wajar manakala kebebasan berpendapat juga merambah dalam struktur formal seperti rumah tangga.
Ternyata, kasus ini tidak saja menimpa tetangga saya, di tempat kawan karib sayapun kejadian ini mirip. Kalau sinetron memang sehari-hari bisa ditemui kasus-kasus seperti judul: “suami takut isteri”. Kesimpulan saya sementara mengatakan bahwa sang suami tidak berwibawa di depan keluarga atau harga dirinya turun di mata isteri dan anak-anaknya.
***
(lagi…)
Beda Ibadah Satu Aliran 31 Agustus, 2008
Posted by kurtubi in Kultur.Tags: Arab Saudi, beda paham, hisab, NU, rukyatul hilal, tarawih, wahabi
43 comments

yang penting semangat bukan jumlah rokaatnya tah?
PEMAHAMAN awam saya terhadap orang-orang yang berbeda cara ibadah seperti tarawih 8-an dan 20-an, menjadi warna tersendiri setiap bulan ramadhan. Meskipun metode cara beribadah itu masih terus berkembang tanpa bisa disatukan. Kenapa tidak bisa disatukan tidak lain karena beda ibadah satu aliran.
Sebut saja antara orang-orang NU dan non NU. di Indonesia lebaran bisa dua -tiga kali, kemudian tarawih pun berbeda-beda. Konon kalangan non NU itu sumbernya dari ulama wahabi, Arab Saudi. Si negeri sana sebuah kelompok pemahaman agama yang diadopsi dari ulama di Arab Saudi. Semua sudah paham jika kelompok Wahabi ini teguh dalam pendirian dan biasanya berteriak tentang bid’ah.
Bid’ahku Bid’ah Kita Semua 21 Agustus, 2008
Posted by kurtubi in Celotehan, Dunia Pesantren, Kajian Kitab, Kultur, Uncategorized.Tags: Allah, amalan sunnah, Bid'ah, Islam, Pesantren, ramadhan, Rasulullah saw, Rosuullah, Santri, taraweh, tradisi, wajib
29 comments

Bid'ah itu dibolehkan jika mengerjakan yang sunah, tapi yang wajib tidak!
DI KALANGAN pesantren utamanya para kyai mengajarkan berbagai ajaran bid’ah. Tidak perlu disebut-sebut lah sudah paham semuanya jenis-jenis apasaja yang dianggap bid’ah menurut konsumsi umum. Namun kawan, tahukah bahwa siapa pelaku bid’ah yang masuk neraka sebagiamana Sabda Nabi saw yang dicapkan oleh Ustadznya Mas Karjo di postingan sebelum ini?
Bagi saya sih, tak menjadi pusing manakala bid’ah dijadikan sebagai stempel untuk menyerang komunitas orang-orang yang berada di pesantren. Apakah ketidakpedulian ini membawa dampak tololnya hati nurani, atau menunjukkan dangkalnya keberislaman?
Malam Nisfu Sya’ban, Agustusan dan Bid’ah 16 Agustus, 2008
Posted by kurtubi in Celotehan, Kultur, Peristiwa.Tags: amalan sia-sia, Bid'ah, Kemerdekaan, nisfu sya'ban, sesat
28 comments
Mendambakan Front Penyejuk Islam “(FPI)” 10 Juni, 2008
Posted by kurtubi in Dunia Pesantren, Kajian Kitab, Kultur, Modernisasi.Tags: agama, fiqh, FPI, islam damai, islam sejuk, laskar, mdernisasi, toleransi
18 comments
Siapa bilang Islam itu seperti yang dikenalkan oleh saudara-saudara dari FPI (Front Pembela Islam) dan para laksar di belakangnya. Islam yang “beraneka ragam” cara pandang ternyata ada satu jenis Islam yang menyejukkan. Salah satunya saya temukan dari posting kang Imam Brotoseno dan satu lagi dari kawan senior saya di situs buntetpesantren.org.
EURO 2008 di Tengah Konflik FPI-AKKBB dan Ahmadiyah 8 Juni, 2008
Posted by kurtubi in Celotehan, Kultur, Pendapat, Peristiwa.Tags: bola, buntet, Euro 2008, goal, gool, olahraga, Pesantren, Santri, sepak bola, tradisi
8 comments
Lama tak jumpa, lama tak menyua, lama tak menyapa, lama tak berkata maaf. Kawan-kawan setelah saya datang ke tetanggaku saya jadi mencoba posting lagi. Inipun maaf jika tak berkenan dan terlalu panjang.
——————————
Oleh: Muhammad Kurtubi 
DI TENGAH perselisihan Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), Front Pembela Islam (FPI), dan Ahmadiyah kini hadir pesta spektakuler ERURO 2008. Lumayan bisa mengendorkan sedikit urat-urat syaraf ketegangan. Mata publik tertuju ke perhelatan akbar di Austria dan Switzerland dari 7 Juni hingga 29 Juni 2008.
Sumpah 29 Desember, 2007
Posted by kurtubi in Cerpen, Dunia Pesantren, Keajaiban, Kultur, Pengalaman Rohani, Peristiwa.Tags: Bid'ah, Bidah dolalah, Marhabanan, Maulid, Santri, Sumpah, Tahlilan
29 comments
Peringatan: Cerita ini cukup panjang. Sok bikin cerpen atas permintaan Kang Al Jupri disemangati Kang Sawali dan disupport ilmu oleh Bang Ersis lalu terinspirasi jalan cerita Hanna. Tapi susah bikin ending jadi kepanjangan. Maafkanlah. Tapi saya bikin sinopsisnya (singkat cerita) di belakang. Isunya sih cukup lama tapi ini adalah kejadian nyata. Hanya alur cerita dan tokohnya disamarkan.
Pagi ini Danang bangun telat sekali. Matahari sudah hampir nongol. Ia tidak bisa shalat sepagi biasanya kemudian melakukan wirid dan membaca dzikir hingga terbit matahari. Apalagi ikut shalat jamaah di mushola samping kostanya di Purwokerto. Semalam ia diadili oleh senat mahasiswa di kampusnya. Karena Danang dianggap mahasiswa pembawa ajaran sesat. Bukan itu saja ia pun dituduh kafir dan musyrik.
Sehabis shalat subuh, Danang tidak beranjak seperti biasanya. Pagi itu, Danang malas memberesi buku-buku yang berserakan di kamarnya. Matanya berat sekali. Ia justru merebahkan kembali badannya, berharap bisa tidur kembali. Sebab semalam hingga pukul 21.00 WIB masih di senat disidang oleh teman-temannya.
Demokrasi Lumpuh Total oleh Bom 28 Desember, 2007
Posted by kurtubi in Kultur, Peristiwa, Tokoh.Tags: Benazir Bhutto, Bom, demokrasi, Ekstrimis, Fundamentalis, Islam garis keras
17 comments
Bagi kalangan yang suka dengan kekerasan atas nama agama campur-sari dengan politik, mungkin wafatnya tokoh fenomenal di Pakistan, Benazir Bhutto dianggap sebagai kekalahan kaum modernis atau liberal. Sebab tokoh pejuang demokrasi Palestina itu sangat berani menentang arus kuat kekuasaan di satu sisi dan dipihak lain penentang Islam garis tebal, nama lain dari Islam garis keras.
Salah satu ajaran Islam fundamentalis adalah dilarang wanita jadi pemimpin. Karenanya, keberanian mengusung demokrasi ala Benazir ini mendapat tekanan kuat pada kalangan ini. Sebab semangat demokrasi Benazir itu begitu kuat seperti dia katakan:
Demokrasi sangatlah penting bagi kelangsungan perdamaian dan untuk mengatasi terorisme.





