Bukan Cacat Jiwa 27 Desember, 2008
Posted by kurtubi in Aktivitas, Hikmah, Inspirasi, Keajaiban, Lingkungan, Modernisasi.Tags: Aktivitas, cacat, Komputer, Tuna grahita, tuna rungu, YPAC
11 comments

Ada keasikan tersendiri saat saya selama lima hari bergaul dengan para penyandang tuna rungu, dan tuna-tuna lainnya yang jelas tidak ada tuna wisma. Kami bertemu dalam sebuah perhetalan pelatihan komputer tingkat lanjut yang disponsori oleh Disnakertrans bekerjasama dengan Koperasi Purna Bakti Astra (AHM) Indonesia.
Selama lima hari itu saya hanya memberikan tutuorial standar bagaimana mengoperasikan komputer office. Namun yang menarik adalah mereka yang terlihat tidak mepunyai tangan seperti biasanya, begitu pula anggota badan lainya tidak lengkap namun rasa untuk belajar dan memahami keadaan diri yang dianggap serba kekurangan itulah yang membuat saya ta’jub pada mereka.
Enakan memilih Duit atau Pemimpin? 5 Januari, 2008
Posted by kurtubi in Lingkungan, Peristiwa, Politik.Tags: Pemilihan Pengurus RW, Pilkada DKI, RT/RW
45 comments
Jika ada pemilihan pemimpin yang tanpa disembling dengan duit, maka seperti malam kemarin, pemilihan ketua RW yang menurut saya paling bersih dari politik kepentingan. Setidaknya itulah yang saya alami di wilayah saya malam kemarin. Saya diundang acara pemilihan ketua RW dan singkat sekali acara itu. Hanya 2 jam selesai, tanpa kampanye tetapi memenuhi undang-undang pemilihan demokrasi dan tanpa rekayasa.
Jika pemilihan presiden dan kepala daerah sarat dengan keributan dan asesoris misalnya “ado jotos” antar pendukung, adu kekuatan antar kubu dan adu harisma antar golongan, maka tidak demikian semalam itu. Tidak ada partai yang tertarik mencalonkan jadi ketua RW, tidak ada yang berantem, bahkan cenderung pemilihan itu sepi dari peminat selain para pengurus RT saja yang terlibat.
Buntet Pesantren di Bawah Bayang-Bayang Konflik Agama 27 Desember, 2007
Posted by kurtubi in Dunia Pesantren, Inspirasi, Kultur, Lingkungan, Modernisasi, Nasionalisme, Ngliput, Pengalaman Rohani, Peristiwa, Tokoh.Tags: agama, Atambua, Dakwah, Konflik, Konflik Agma, Nasionalisme, Timor Timur, toleransi, toleransi beragama
43 comments
Bergemuruhlah dada kang Cecep, panggilan akrab KH. Cecep Nizomuddin salah satu kyai pengasuh Pondok Buntet Pesantren di Asrama Al Muttaba. Sebab beliau diminta menengahi konflik SARAP (suku, agama, ras, antar golongan & partai) di bagian wilayah republik ini. Tepatnya di daerah dekat Atambua Propinsi Timor Barat, perbatasan Timor Timur. Tapi alhamdulillah, Pendeta dan Romo di sana berterima kasih kepada kyai ini setelah dipertemukan.
Mumpung masih dalam moment “Maulid Nabi Isa as” maka postingan ini saya ungkap ke publik. Meski primordial tapi bernilai nasional menirukan semangat sang fenomenal: Kang Peyek
.
Ceramah Perkawinan yang OOT 16 Desember, 2007
Posted by kurtubi in Amanat, Lingkungan, Pengalaman Rohani.27 comments
Dijamin panjang sekali tulisan ini. Tapi ada kok ringkasannya di akhir tulisan ini. Saya lagi kena penyakit nafsu menulis banyak. Dikatakan nafsu karena tidak bisa mengendalikan… Gimana ini Bang Ersis bagus tidak sih untuk perkembangan menulis bagi saya.
![]()
***
NASIBKU hari ini harus rela menerima “paksaan” menggantikan kyai dan ustadz yang tidak dihadirkan dalam sebuah acara resepsi pernikahan. Saya tiba-tiba saja didaulat untuk menggatikan mereka. Saya protes, kenapa yang memberikan nasehat perkawinan itu bukan orang yang sudah pengalaman, para ustadz dan kyai di lingkungan tempatku tinggal? Bukankah acara ini sakral dan amat bersejarah bagi pengantin dan keluarganya. Tapi kenapa saya yang dipilih?
Jadilah jam 6.00 WIB saya harus datang ke rumah tetangga yang hendak resepsi hari ini. Saya membayangkan panas dingin jika sambutan itu dimulai. Bukan karena pengaruh global warming yang “dilecehkan” Amerika, Jepang dan Kanada, tapi betul-betul karena saya belum pernah berbicara di depan publik yang sangat banyak itu.
Kalau di blog saya mau bicara apa saja tenang-tenang saja. Tapi kalau di depan ratusan orang–orang yang berbaju safari, jas dan beraneka ragam sanggul wanita yang menggoda, ampuuun deh saya. Kenapa sih sampean menunjuk saya sebagai pengganti kyai-kyai yang terhormat itu? kenapa bukan sampean saja yang jadi ustad di lingkungan sini? Kenapa bukan pak tua yang suka berceramah di msholla dan di masjid? Kenapa bukan purnawirawan polisi yang suka bicara agama di mana-mana? Dan banyak lagi segudang kenapa?
Apa karena saya lulusan ponpes? Apa karena lulusan IAIN, apa karena suka pake sarung kalau di rumah, tapi kan di luar saya sering pake jeans. Atau jangan-jangan karena saya suka menulis di blog yang tulisannya hinggap di koran dan di majalah? Tidak ada yang menjawab. Pokoknya hari ini saya harus memberikan nasehat perkawinan untuk sebuah pernikahan yang sakral dan bernilai sejarah.
Glabrukkk!… saya pusing mencari materi apa yang harus diomongkan, hingga jam 6.00 WIB saya mesti datang. Malam hari telepon dari tim sukses acara pernikahan berdering dua kali, tapi saya hiraukan saja. Sebab saya masih mencari materi. Saya mau searching, komputer lagi lemot, menulis materi tidak juga kedapatan.. Buka-buka buku tidak ada, buka Qur’an tidak ketemu ayat-ayatnya. Ya sudah bagaimanapun saya harus siap, jangan malu-maluin tetangga, almamater, harga diri bangsa dengan bismillah, disertai deg-degan, saya berangkat dan saya bayangkan pasti OOT deh… tiba-tiba SMS menyapa:
“Pak Kurt, tamu-tamu dari pengantin sudah datang nih, buruan ke sini yaa”
Air dan Global Warning! 6 Desember, 2007
Posted by kurtubi in Dunia Pesantren, Inspirasi, Lingkungan.Tags: atom, dzikir, Global warming, global warning, Hexagonal, hidrogen, ikatan atom, ion, molekul, oksigen
24 comments
Air adalah sumber kehidupan sebagaimana ayat quran berbunyi: “waja’alnaa minal maai kulla syain hayy”, Kujadikan dengan air itu segala sesuatu menjadi hidup. Tapi baru saja tadi siang seusai juma’atan kulihat motor-motor gagal dihidupkan karena basah terkena hujan.
Berarti air bukan sumber kehidupan mesin itu sendiri dong. Tetapi justru sebagai penghambat lajunya energi mesin yang perlu dihiupkan demi hdiupnya roda perekonomian si pemilik motor. Saya lihat putus asa di selah berkali-kali engkol motornya, sales itu akhirnya putus asa dan bersandar kembali ke masjid. Merenung sendiri.
Dzikiran Bersama di Bali 4 Desember, 2007
Posted by kurtubi in Lingkungan, Modernisasi, Peristiwa.Tags: climate change, dzikir, efek, Global warming, polutan, rumah kaca
17 comments
Dzikir bagi kalangan pesantren tidak asing dan takkan usang. Amalan budaya yang masuk katogori bid’ah ini tumbuh subur di pesantren, sesubur orang-orang yang menentangnya. Ya, bid’ah, suatu pekerjaan yang dituduh sia-sia karena tidak dikerjakan zaman Nabi saw, dan pelaku bi’dah bakalan masuk naroka. Haiyaa semua orang2 tahlilan bakalan masuk neraka dan semua yang menuduh bakalan masuk syurga?
Pantas Ibnu Qoyim sendiri berkata, “Emang yang mengatur pahala itu sampean-sampean semua!”
Tapi saya tidak akan bicara tahlilan yang dihukumi TBC itu, sebab sejak abad ke 2 kalau tidak salah, sudah beres. Kalau sekarang dipertentangkan lagi, boleh jadi, mereka sedang giat-giatnya belajar agama di “fakultas tekstual” jurusan “olok-olok” dengan dosen yang bertitel “paling the best” pendapatnya.




