“Bacalah!” dimana Semangatmu? 11 Februari, 2008
Posted by santribuntet in Modernisasi, Nasionalisme, Pendapat, sastra.Tags: agama, Islam, kurtubi, Modernisasi, Pesantren, tulisan santribuntet, zaldeeho
82 comments

Bacalah! dengan nama Tuhanmu yang menciptakan… Wahyu pertama al quran surat al Alaq ini sifatnya umum, berlaku bagi siapa saja dan kalangan mana saja. Namun sepertinya kurang diminati oleh penduduk Indonesia pada umumnya yang mayoritas muslim.
Ironisnya diimani oleh bangsa-bangsa (negara) maju. Sebab di sini, tingkat minat baca berdasar penelitian di Jawa Barat baru-baru ini ada 1:45 (satu koran dibaca untuk 45 orang). Jauh di bawah Filipina dan Sri Lanka.
Dengan dua negara Asia saja negara kita masih kalah apalagi negara maju seperti USA dan Jepang. Memang ada korelasi antara minat baca dan kemajuan bangsa. Menurut sumber data dari media, di Jepang jumlah tiras koran yang dibaca mencapai 1 juta perhari sementara di Amerika 2.8 juta per hari. Tetapi Indonesia masih mending karena ada dua negara di bawah Indonesia yaitu Laos dan Kamboja.
Di Sri Lanka, minat baca masyarakat terhadap media cetak 1:38 dan Filipina 1:30.Idealnya,untuk ukuran penduduk Indonesia yang tergolong besar ini satu media cetak dibaca sepuluh orang atau 1:10 tapi kenyataanya 1:45. Pantas saja jika media massa di negara kita kurang menggembirakan.
Buntet Pesantren di Bawah Bayang-Bayang Konflik Agama 27 Desember, 2007
Posted by santribuntet in Dunia Pesantren, Inspirasi, Kultur, Lingkungan, Modernisasi, Nasionalisme, Ngliput, Pengalaman Rohani, Peristiwa, Tokoh.Tags: agama, Atambua, Dakwah, Konflik, Konflik Agma, Nasionalisme, Timor Timur, toleransi, toleransi beragama
43 comments
Bergemuruhlah dada kang Cecep, panggilan akrab KH. Cecep Nizomuddin salah satu kyai pengasuh Pondok Buntet Pesantren di Asrama Al Muttaba. Sebab beliau diminta menengahi konflik SARAP (suku, agama, ras, antar golongan & partai) di bagian wilayah republik ini. Tepatnya di daerah dekat Atambua Propinsi Timor Barat, perbatasan Timor Timur. Tapi alhamdulillah, Pendeta dan Romo di sana berterima kasih kepada kyai ini setelah dipertemukan.
Mumpung masih dalam moment “Maulid Nabi Isa as” maka postingan ini saya ungkap ke publik. Meski primordial tapi bernilai nasional menirukan semangat sang fenomenal: Kang Peyek
.
Enterpreneur Jiwa 19 Desember, 2007
Posted by santribuntet in Kajian Kitab, Kultur, Modernisasi, Nasionalisme, Pendapat.Tags: agama, Alumni, bisnis, Enterpreneur, Guru, Jakarta, Komunitas, Lingkungan, Pragmatis, Santri, Sosial, Ustadz
35 comments
Hanya berupa postingan curhat yang kepanjangan. Bersifat primordial dan untuk lingkungan sendiri.
Yang tak Bisa Berbisnis Gigit Jari Saja… (2)Sebagaimana artikel kemarin, 90% rezeki itu dikuasai oleh pedagang dan petani. Itu adalah ungkapan Rasulullah saw. Faktanya, negara yang banyak menjalani itu, menjadi “berkah” negaranya. Tetapi bisakah bagi yang bukan pedagang/petani mampu berjiwa enterpreneur?
Di penghujung tahun 2007, Ekonomi merupakan titik terlemah pemerintah. Di sini menurut, pemerintah gagal membangun optimisme rakyat, apalagi mewujudkan kesejahteraaan yang pernah dijanjikan. Bidang ekonomi ini kemudian dinilai sebagai titik terlemah kinerja pemerintah saat ini. (di kemukakan oleh Zulkifli Hasan, Ketua Fraksi PAN – Kompas, Selasa, 18 Desember 2007).
Setiap tahun Indonesia melahirkan 750.000 lebih sarjana menganggur. Di sisi lain, jumlah wirausahwan di Inonesia hanya sekitar 0,08% jumlah penduduk. Itu sebabnya ke depan bagi Indonesia adalah keharusan melibatkan lebih banyak wirausahawan muda. (Disampaikan oleh Ciputra, penerima penghargaan Erst and Young Enterpreneur of the Year (EOY) 2007 – )
SUMPAH, (BUKAN) PEMUDA! 28 Oktober, 2007
Posted by santribuntet in Bahasa, Kultur, Nasionalisme.30 comments
Jangan salahkan pemuda dong, jika dalam hati kami tidak muncul semangat nasionalisme tindakan. Sementara kami terus-menerus diteriaki, dimaki-maki dan dicaci di mana-mana. Bukannya kami diberi contoh yang baik-baik dan diajari bagaimana nilai-nilai nasionalisme itu bisa bergetar di hati kami.




