jump to navigation

Buntet Pesantren di Bawah Bayang-Bayang Konflik Agama 27 Desember, 2007

Posted by kurtubi in Dunia Pesantren, Inspirasi, Kultur, Lingkungan, Modernisasi, Nasionalisme, Ngliput, Pengalaman Rohani, Peristiwa, Tokoh.
Tags: , , , , , , , ,
43 comments

Kang Cecep (KH. Cecep Nidzomuddin)Bergemuruhlah dada kang Cecep, panggilan akrab KH. Cecep Nizomuddin salah satu kyai pengasuh Pondok Buntet Pesantren di Asrama Al Muttaba. Sebab beliau diminta menengahi konflik SARAP (suku, agama, ras, antar golongan & partai) di bagian wilayah republik ini. Tepatnya di daerah dekat Atambua Propinsi Timor Barat, perbatasan Timor Timur. Tapi alhamdulillah, Pendeta dan Romo di sana berterima kasih kepada kyai ini setelah dipertemukan.

Mumpung masih dalam moment “Maulid Nabi Isa as” maka postingan ini saya ungkap ke publik. Meski primordial tapi bernilai nasional menirukan semangat sang fenomenal: Kang Peyek :) .

(lagi…)

Orang Baik Akrab dengan Musibah? 24 Oktober, 2007

Posted by kurtubi in Dialog, Kajian Kitab, Keajaiban, Ngliput, Pendapat.
24 comments

Rampoooooooooookk...!DALAM waktu dua hari setelah mudik dari Cirebon, mobil dan motor teman saya dibawa kabur maling. Kini ia hanya meratapi nasibnya. Kawanku yang lain pernah pula ditempa musibah yang cukup hebat. Juga saya sendiri dan Anda pembaca sekalian. Akankah mereka tetap kuat??

Ada yang kuat ada yang tidak??

Nagabonar (jadi) 2 | Nasionalisme dan Pesan Moral yang Santun 28 Maret, 2007

Posted by kurtubi in Celotehan, Ngliput.
18 comments

 Nagabonar (jadi) 2 merupakan film yang apik garapannya. Ceplas-ceplos, jujur, jenaka dan satu lagi pintar, dalam memandang Indonesia dan mencoba mencermati ketidakberesan modernitas dari kacamata pejuang kemerdekaan (Nagabonar) sebagai pelajaran bagi generasi muda. Itulah kekuatan film ini dan memang sengaja dibuat oleh Deddy Mizwar seperti yang diungkapnya dalam press confrence di Hotel Jayakarta, Selasa, 27 Maret 2007. Saya tanpa sengaja mendapat undangan dan berkesempatan menghadiri premiere (pemutaran perdana) film ini. Padahal film ini akan tayang secara nasional tanggal 29 Maret 2007.

(lagi…)

Kepedulian Kyai Muda terhadap Nasib Rakyat di Sekitarnya 20 Januari, 2007

Posted by Kurtubi in Ngliput.
2 comments

Kepedulian terhadap masyarakat sebagai elemen terpenting bangsa, harus terus digelorakan di mana-mana sesuai dengan profesi dan keahliannya masing-masing. Karena itu merupakan salah satu tema sentral dakwah Islam, rahmatan lil’alamin. Sangat tepat jika yang berberak adalah para kader ulama yang masih berusia muda yang kehidupannya paling dekat dengan elemen masyarakat yang masih belum beruntung ( low stratification )

Itulah salah satu kesimpulan hasil liputan bersama kyai muda Buntet Pesantren Kang Aris Ni’matullah, Jum’at, 18 Januari 2007, setelah menghadiri seminar Jaringan Komunikasi (Jarkom) yang dikelola oleh Fahmina yang diselenggarakan di Hotel Bumi Asih Cirebon, selama lima hari.

Sudah sepatutnya, para ulama muda (guru agama) di masyarakat bergerak dan menjadi bagian dari sharing problem and advocation yang terjadi di sekelilingnya. Tujuannya adalah disamping pesan-pesan agama bisa tersalurkan, aktivitas ulama muda ini dapat berinteraksi langsung ketika berinvestigasi ke masyarakat. Persoalan-persoalan yang ada di masyarakat marginal cenderung kurang ditangani dengan baik oleh para aparat hukum dan wakil rakyat maklum pekerjaan mereka amat komplek sementara jumlah warga yang menghadapi masalah lebih banyak.

Karena itulah kehadiran LSM sangat dibutuhkan di masayrakat sebagai pendamping terutama dalam advokasi terhadap masalah hukum, ekonomi, fiqh sosial, gender dan lain-lain. Dengan pendekatan para ulama muda ini, berarti peran ganda dakwah para ulama muda mulai dituntut. Satu sisi harus mendidik para murid-muridnya, di sisi lain, harus berkiprah di msyarakat yang kurang beruntung.

Menurut Kang Imat (sapaan akrab, Ust. Aris Ni’matullah), seminar itu sendiri diselenggarakan oleh sebuah LSM bernama Fahmina. Ia menyelenggarakan program membuat sebuah jaringan komunikasi berupa radio swasta masyarakat yang beroperasi untuk wilayah 3 Cirebon. “Saya hadir dalam kapasitas sebagai pemakalah untuk memberikan bekal kepada para pengelola radio ini. Bersama saya hadir pula dari Buntet Pesnantren Ust. Ayip Usmad, Ust. Husein, dan Ust. Aim. Kami memberikan materi yang berbeda-beda untuk memberikan bekal investigasi dan advokasi bagi para kader-kader ulama Cirebon.” Ujarnya menambahkan.

Fahmina sendiri berupa LSM yang peduli terhadap masyarakat. Dalam salah wujud kepeduliannya bisa dicatat, mereka telah banyak membantu mendampingi masalah-masalah yang terjadi pada para pedangan kaki lima (PKL) Pasar Pagi Cirebon, para supir angkutan kota (ankot) jenis kendaraan dalam kota, para supir elf (istilah untuk kendaraan antar kabupaten), karena kebetulan merek mobilnya Daihatsu Elf, kepada anak-anak jalanan. “Jadi prinspinya, program radio masyarakat yang dikelola para kader ulama ini bisa lebih optimal dapat membantu menyelesaikan problem-problem kemasyarakatan dengan cakupan yang lebih luas” sambung K. Imat, putra ke 3 KH. Izzuddin, pendiri asrama Al Inaroh.

Yang menjadi menarik adalah radio ini bakal dikelola oleh para ulama muda yang ada di wilayah 3 Cirebon (Indramayu, Kuningan, Cirebon) dan sekitarnya. “Radio ini bertujuan untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat grass root. Penyuluhan-penyuluhan program berupa pemberdayaan ekonomi, kehidupan sosial, fiqh (hukum peribadatan), masalah gender dan lain-lain.” Imbuhnya.

Yang menarik dari adanya ide yang bagus ini, menurut Kang Imat, lahir dari seorang pemikir kreatif, KH. Husein Muhamad, pimpinan Pondok Pesantren Ciwaringin Cirebon. Sebagai piminan LSM Fahmina yang membuat jarkom (jaringan komunikasi). Jarkom ini mirip dengan radio yang dikelola oleh namlapanha, milik Jaringan Islam Liberal di Jakarta. Namun yang dikelola KH. Husein ini murni lahir dari pesantren dan ditangani oleh kader-kader ulama.

Kita berharap, dikala bangsa ini tengah menghadapi cobaan yang bertubi-tubi, tentu imbas dari persoalan ini adalah rakyat juga. Karenanya, mendampingi rakyat dalam kondisi yang serba sulit, merupakan amal yang nyata, setidaknya bisa mendengarkan keluhan-keluhan orang dan memberikan masukan-masukan bagaimana menghadapi masalah tersebut. Semoga kiprah para kader ulama muda di wilayah Cirebon dan sekitarnya ini dapat membantu mayarakat bawah lebih optimal dan lebih luas dengan hadirnya radio swasta versi ulama ini. Amin.