jump to navigation

Krisis Keyakinan? 27 Agustus, 2008

Posted by santribuntet in Celotehan, Hikmah, Ibadah, Pengalaman Rohani, bergumam.
15 comments

Krisis Keyakinan? ini sekedar merenungi komentar para tamu kehormatan khususya beliau yang mengatakan masalah kayakinan kepada Allah SWT pada komentar postingan ini . Sekaligus belajar memenuhi permintaan guru serbabisa. Intinya saya ingin mengatakan bahwa krisis keyakinan itu betapa mudah menggerogoti batin kita di setiap desahan nafas dan lintasan pikir.

Ini juga tidak jauh terkait dengan fenomena batin saya sendiri dan mungkin beberapa kawan juga ada yang senasib. Bahwa ternyata dari sekian banyak janji Allah Dzat Yang Maha Mulia, yang Maha Tepat Janji kadang kita sendiri abai. Sebaliknya, keyakinan besar kepada Yang Maha Besar itu justru kalah hanya oleh urusan remeh temeh. duuh Gusti, ampunilah hambamu ini. ….

(lagi…)

Sumpah 29 Desember, 2007

Posted by santribuntet in Cerpen, Dunia Pesantren, Keajaiban, Kultur, Pengalaman Rohani, Peristiwa.
Tags: , , , , , ,
29 comments

Peringatan: Cerita ini cukup panjang. Sok bikin cerpen atas permintaan Kang Al Jupri disemangati Kang Sawali dan disupport ilmu oleh Bang Ersis lalu terinspirasi jalan cerita Hanna. Tapi susah bikin ending jadi kepanjangan. Maafkanlah. Tapi saya bikin sinopsisnya (singkat cerita) di belakang. Isunya sih cukup lama tapi ini adalah kejadian nyata. Hanya alur cerita dan tokohnya disamarkan.

Pagi ini Danang bangun telat sekali. Matahari sudah hampir nongol. Ia tidak bisa shalat sepagi biasanya kemudian melakukan wirid dan membaca dzikir hingga terbit matahari. Apalagi ikut shalat jamaah di mushola samping kostanya di Purwokerto. Semalam ia diadili oleh senat mahasiswa di kampusnya. Karena Danang dianggap mahasiswa pembawa ajaran sesat. Bukan itu saja ia pun dituduh kafir dan musyrik.

Sehabis shalat subuh, Danang tidak beranjak seperti biasanya. Pagi itu, Danang malas memberesi buku-buku yang berserakan di kamarnya. Matanya berat sekali. Ia justru merebahkan kembali badannya, berharap bisa tidur kembali. Sebab semalam hingga pukul 21.00 WIB masih di senat disidang oleh teman-temannya.

(lagi…)

Buntet Pesantren di Bawah Bayang-Bayang Konflik Agama 27 Desember, 2007

Posted by santribuntet in Dunia Pesantren, Inspirasi, Kultur, Lingkungan, Modernisasi, Nasionalisme, Ngliput, Pengalaman Rohani, Peristiwa, Tokoh.
Tags: , , , , , , , ,
43 comments

Kang Cecep (KH. Cecep Nidzomuddin)Bergemuruhlah dada kang Cecep, panggilan akrab KH. Cecep Nizomuddin salah satu kyai pengasuh Pondok Buntet Pesantren di Asrama Al Muttaba. Sebab beliau diminta menengahi konflik SARAP (suku, agama, ras, antar golongan & partai) di bagian wilayah republik ini. Tepatnya di daerah dekat Atambua Propinsi Timor Barat, perbatasan Timor Timur. Tapi alhamdulillah, Pendeta dan Romo di sana berterima kasih kepada kyai ini setelah dipertemukan.

Mumpung masih dalam moment “Maulid Nabi Isa as” maka postingan ini saya ungkap ke publik. Meski primordial tapi bernilai nasional menirukan semangat sang fenomenal: Kang Peyek :) .

(lagi…)

Ceramah Perkawinan yang OOT 16 Desember, 2007

Posted by santribuntet in Amanat, Lingkungan, Pengalaman Rohani.
27 comments

Dijamin panjang sekali tulisan ini. Tapi ada kok ringkasannya di akhir tulisan ini.  Saya lagi kena penyakit nafsu menulis banyak. Dikatakan nafsu karena tidak bisa mengendalikan…  Gimana ini Bang Ersis bagus tidak sih untuk perkembangan menulis bagi saya. :)

***

Pelaminan dan pengantin .... hari bersejarah dan sakralNASIBKU  hari ini harus rela menerima “paksaan” menggantikan kyai dan ustadz yang tidak dihadirkan dalam sebuah acara resepsi pernikahan. Saya tiba-tiba saja didaulat untuk menggatikan mereka. Saya protes, kenapa yang memberikan nasehat perkawinan itu bukan orang yang sudah pengalaman, para ustadz dan kyai di lingkungan tempatku tinggal? Bukankah acara ini sakral dan amat bersejarah bagi pengantin dan keluarganya. Tapi kenapa saya yang dipilih?

Jadilah jam 6.00 WIB saya harus datang ke rumah tetangga yang hendak resepsi hari ini. Saya membayangkan panas dingin jika sambutan itu dimulai. Bukan karena pengaruh global warming yang “dilecehkan” Amerika, Jepang dan Kanada, tapi betul-betul karena saya belum pernah berbicara di depan publik yang sangat banyak itu.

Kalau di blog saya mau bicara apa saja  tenang-tenang  saja. Tapi kalau di depan ratusan orang–orang yang berbaju safari, jas dan beraneka ragam sanggul wanita yang menggoda, ampuuun deh saya. Kenapa sih sampean menunjuk saya sebagai pengganti kyai-kyai yang terhormat itu? kenapa bukan sampean saja yang jadi ustad di lingkungan sini? Kenapa bukan pak tua yang suka berceramah di msholla dan di masjid? Kenapa bukan purnawirawan polisi yang suka bicara agama di mana-mana? Dan banyak lagi segudang kenapa?

Apa karena saya lulusan ponpes? Apa karena lulusan IAIN, apa karena suka pake sarung kalau di rumah, tapi kan di luar saya sering pake jeans. Atau jangan-jangan karena saya suka menulis di blog yang tulisannya hinggap di koran dan di majalah? Tidak ada yang menjawab. Pokoknya hari ini saya harus memberikan nasehat perkawinan untuk sebuah pernikahan yang sakral dan bernilai sejarah.

Pengantin.. pelaminan yang mengesankanGlabrukkk!… saya pusing mencari materi apa yang harus diomongkan, hingga jam 6.00 WIB saya mesti datang. Malam hari telepon dari tim sukses acara pernikahan berdering dua kali, tapi saya hiraukan saja. Sebab saya masih mencari materi. Saya mau searching, komputer lagi lemot, menulis materi tidak juga kedapatan.. Buka-buka buku tidak ada, buka Qur’an tidak ketemu ayat-ayatnya. Ya sudah bagaimanapun saya harus siap, jangan malu-maluin tetangga, almamater, harga diri bangsa  dengan bismillah, disertai deg-degan, saya berangkat dan saya bayangkan pasti OOT deh… tiba-tiba SMS menyapa:

“Pak Kurt, tamu-tamu dari pengantin sudah datang nih, buruan ke sini yaa”

(lagi…)

Sisi Lain para Pencinta Tuhan 13 Desember, 2007

Posted by santribuntet in Dunia Pesantren, Kajian Kitab, Kultur, Pendapat, Pengalaman Rohani, Peristiwa.
Tags: , , , ,
45 comments

Maaf postingan ini untuk kalangan sendiri, bersifat teori,  banyak huruf hijaiyahnya :) dan panjang sekali… menjawab sedikit pertanyaan Hanna dan Icha dan lainnya.

Apakah tangga itu dengan dzikir?

A

lhamdulillah syukur kita kepada Allah karena telah mencip­takan tangga yang bisa dipakai untuk menuju kepada-Nya. Tangga itu kini tengah dinaiki step-by-step. Menurut pandangan para pengikut tasawuf, tidaklah salah memilih tasawuf sebagai salah satu tangga yang Insya Allah dapat sampai kepada tujuan. Para guru/syekh sering membe­ri­kan nasehat agar tetap berdisiplin dalam menjalani dan me­nai­ki tangga ini.

Selain itu Allah swt. akan memberikan fasilitas ekslusif kepada mereka yang berusaha menaiki tangga menuju Tuhan. Ada tiga fasilitas yang akan diberikan sesuai dengan golongan orang-orang yang mende­kati-Nya. Untuk lebih jelasnya siapa ketiga golongan yang berusa­ha mendekat sang Khalik itu dan apa fasilitas ekslusif Allah kepada mereka.

(lagi…)

Siklus Makanan Rohani 10 Desember, 2007

Posted by santribuntet in Inspirasi, Kajian Kitab, Pengalaman Rohani.
Tags: , , , , , , , ,
22 comments

Warning: Postingan ini untuk kalangan sendiri, rada-rada sok alim.  Sedikit menyinggung permintaan dari Icha di Mesir. Yah namanya juga nulis apa saja lah. Sok-sokan itu memang harus dilatih jangan satu sok saja kan heheh :)

——————————————————————————————————————————-

Image PreviewArtinya: “Makan dan minumlah kalian, dari rizki Allah “(Al Qur’an)

Bersyukur kepada Allah swt atas kehebatan-Nya membuat sistem pencernaan makanan di tubuh kita sehingga tidak semua makanan yang masuk menjadi daging dan darah.

Bayangkan jika semua makanan yang masuk ke perut menjadi daging semuanya tanpa ada sisa-sisa makanan yang diurai oleh usus dan dibuang, niscaya pertumbuhan badan manusia tidak terkendali; disamping ukuran tidak terkendali, tidak ada lagi siklus makanan. Singkatnya, setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh kita, yang terpakai hanya sedikit sekali sedangkan yang terbuang sangat banyak. Siklus tersebut berlaku pada sistem pertumbuhan dan perkembangan rohani.

(lagi…)

Loh, Inikan Nikmatnya Mati 23 November, 2007

Posted by santribuntet in Keajaiban, Pengalaman Rohani, Peristiwa.
44 comments

Banyak jalan orang menuju mati. Sebab kematian adalah “jalan tol” yang melintas alam dunia dan alam berikutnya. Meski beda definisi mati antara ahli hukum (agama) dan dokter, yang jelas kematian itu bermacam ragamnya: ada yang menyakitkan, ada yang terkesan mati bunuh diri dan adapula yang mati enak via euthanasia.

Kamis kemarin, Josua jatuh dari lantai 12 di UNIKA Atmajaya Jakarta. Ada pula yang sekaligus rombongan ratusan ribu mati tersapu angin Topan Sidr di Bangladesh yang jumlah korbannya hampir sama dengan korban tsunami di Aceh. Akibat gempa bumi pun ribuan sekaligus meninggal di Yogyakarta tahun kemarin.

Jika siang kemarin Jhosua meninggal tragis, malam tadi, sekitar pukul 22.00 WIB dinihari, Fayumni, saudara dekat saya, remaja kalem dan baik hati ini, meninggal dengan mengenaskan: motor menabrak trotoar lalu terpental bersama temannya di tengah jalan, kemudian diduga tertabrak oleh kendaraan yang melaju kencang.

(lagi…)

Antara Syariat Syekh Siti Jenar & Wali Lainnya 15 November, 2007

Posted by santribuntet in Kajian Kitab, Pengalaman Rohani, Supranatural, Tokoh.
45 comments

Terinspirasi oleh Tulisan Danalingga yang menarik tentang masalah Syahadat Siti Jenar yang dikaitkan dengan merebaknya aliran sesat. Tulisan ini sequel dari tulisan sebelumnya.

MENUJU Tuhan rupanya menjadi hal yang terus menerus diupayakan para hamba pencinta. Dalam ajaran agama, banyak cara dan jalan yang ditempuh oleh para ulama (rohaniwan) mengajarkan pada kita. Salah satu contoh di dalam ajaran Islam mengenal istilah adalah gerakan batin (hake­kat).

Semisal yang dica­nangkan oleh Al Hallaj dan diterus­kan oleh Syekh Siti Jenar di Indonesia. Wali ini tidak dimasukan dalam ling­kungan atau anggota Wali Sanga. Mungkin kare­na sistem dan metodanya tidak sama. Tetapi gene­rasinya terus berkem­bang hingga kini. Tidak mengetahui di mana shalatnya.

Di samping itu ada banyak jenis gerakan selain Syekh Siti Jenar yang dica­nang­kan oleh para Wali (songo). Dianta­ranya adalah thareqat. Pertanyaanya, apa­kah gerakan tarekat yang dicanang­kan para wali itu masuk dalam kategori syareat atau gerakan hakekat?

Islam lahir didahului oleh hakekat baru kemudian syareat. Buktinya Nabi saw lama bertahannuts (bermalam) di gua Hira. Beliau menghabiskan malam-malam­nya di sana untuk beribadah dengan mengabdikan diri kepada Allah swt. Beberapa malam kemu­dian, turun­lah wahyu pertama. Di sinilah syareat mulai dibentuk untuk umatnya.

Namun pada giliran periode berikutnya, muncul gerakan yang mirip hakekat yang diajarkan oleh Al Hallaj yang cukup bertentangan dengan syareat pada umum­nya. Beratus tahun kemu­dian hadir pula di Indonesia. Pelopor­nya adalah Syekh Siti Jenar.

Gerakan ini cukup berhasil membawa para pengi­kutnya untuk terus mengupayakan gerak­an ini berkembang. Entah bagai­ma­na, akhirnya syareat yang biasanya dianut oleh masyarakat umum tiba-tiba tidak lagi menjadi fokus utama dalam beri­badah kepada Allah. Yang hadir dan ramai di anut oleh masyarakat adalah sejenis hakekat. Di antara yang kerap dibicarakan orang adalah ung­kapan “eling”. Atau “manungaling kaula Gusti”. Semacam penyadaran akan penya­tuan antara hamba dengan Tuhannya.

Konon ajaran itu masuk dalam kategori hakekat. Adapun syareat­nya tidak seperti para penganut Islam biasanya. Atau barang­kali tidak ada syareat sama sekali. Sean­dainya pun ada syareat, maka dipastikan sangat berbeda dengan para pemegang rukun Islam pada umumnya.

Ajaran Syekh Siti Jenar, salah satunya, menurut salah satu pembimbing tarekat, adalah gera­kan shalat di atas daun. Generasinya hingga kinipun ma­sih mem­praktek­kannya. Selembar daun di­po­tong dan digelar sebagai sajadahnya lalu melak­sanakan shalat di atas daun itu di per­muka­an air.

(lagi…)

Adu Pengalaman Rohani 14 November, 2007

Posted by santribuntet in Ibadah, Pengalaman Rohani, Supranatural.
22 comments

Salah satu ajaran nabi palsu atau komunitas baru yang bertentangan dengan Nabi versi kitab-kitab suci agama-agama dunia adalah ajaran yang melawan inti ajarannya. Contoh dalam agama Islam, pengalaman rohani Nabi Muhammad saw adalah Shalat. Namun bagi nabi palsu, shalat adalah ajaran yang tidak wajib diikuti dan dilaksanakan.

Sebuah agama, pastilah ada ritualitas tertentu sebagai bentuk hubungan spesial antara si makhluq dengan Penciptanya. Jika agama kemudian tidak memiliki ritualitas, tentu diragukan sebagai sebuah agama. Di samping itu, adanya kitab suci sebagai wahyu merupakan syarat mutlak sebuah agama itu berdiri. Kitab suci inilah yang menjadi titik sentral ajaran yang harus dipedomani.

Salat dalam agama Islam, sebagai salah satu inti ajaran yang sangat mudah dan singkat dalam mempelajarinya. Namun kemdian digugat oleh para penyebar ajaran-ajaran baru. Misalnya yang baru-baru ini dipegang oleh Ahmad Mushadeq dan kawan-kawan serta Lia Aminudin dan komunitasnya.

Menurut kedua aliran baru itu, shalat tidaklah diwajibkan. Adanya pernyataan itu, sangat masuk akal dan didukung oleh sebuah pengalaman rohani yang didapatnya. Misalnya Ahmad Mushodiq mendapatkan ajarannya hasil dari berkhlawat (menyepi) selama 40 hari. Demikian juga yang terjadi pada Lia Aminudin juga pada aliran-aliran baru lainnya.

Shalat yang mula-mula diperintahkan Allah pada Nabi Muhammad saw adalah hasil dari pengalaman rohani berupa peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Peristiwa ini didukung oleh fakta-fakta yang sangat kuat (shahih) oleh para sahabat-sahabat Nabi yang terpercaya hingga dibukukan dalam buku-buku hadits.

Pada perkembangan selanjutnya, ajaran hasil dari pengalaman rohani Nabi ini dilaksanakan sebagai sebuah kepatuhan seorang hamba kepada Penciptanya. Namun kemudian entah bagaimana banyak yang menentang dan berusaha menghilangkan ajaran Nabi ini. Penentangan ini pun didukung oleh pengalaman rohani juga.

(lagi…)

Ketika Motor Lebih Pintar dari Pemiliknya 10 November, 2007

Posted by santribuntet in Amanat, Celotehan, Keajaiban, Pengalaman Rohani.
27 comments

ALAM dan manusia tanpa sadar terjadi “hubungan mesra” . Mungkin mirip seperti guru sama muridnya. Kita memang tidak perlu menyadari tanda-tanda alam itu, karena sama saja seolah melawan realitas akal manusia. Contoh kasus dalam postingan ini, bagaimana sebuah motor bisa berubah menjadi guru bagi pemiliknya.

(lagi…)