Demokrasi Lumpuh Total oleh Bom 28 Desember, 2007
Posted by kurtubi in Kultur, Peristiwa, Tokoh.Tags: Benazir Bhutto, Bom, demokrasi, Ekstrimis, Fundamentalis, Islam garis keras
17 comments
Bagi kalangan yang suka dengan kekerasan atas nama agama campur-sari dengan politik, mungkin wafatnya tokoh fenomenal di Pakistan, Benazir Bhutto dianggap sebagai kekalahan kaum modernis atau liberal. Sebab tokoh pejuang demokrasi Palestina itu sangat berani menentang arus kuat kekuasaan di satu sisi dan dipihak lain penentang Islam garis tebal, nama lain dari Islam garis keras.
Salah satu ajaran Islam fundamentalis adalah dilarang wanita jadi pemimpin. Karenanya, keberanian mengusung demokrasi ala Benazir ini mendapat tekanan kuat pada kalangan ini. Sebab semangat demokrasi Benazir itu begitu kuat seperti dia katakan:
Demokrasi sangatlah penting bagi kelangsungan perdamaian dan untuk mengatasi terorisme.
Buntet Pesantren di Bawah Bayang-Bayang Konflik Agama 27 Desember, 2007
Posted by kurtubi in Dunia Pesantren, Inspirasi, Kultur, Lingkungan, Modernisasi, Nasionalisme, Ngliput, Pengalaman Rohani, Peristiwa, Tokoh.Tags: agama, Atambua, Dakwah, Konflik, Konflik Agma, Nasionalisme, Timor Timur, toleransi, toleransi beragama
43 comments
Bergemuruhlah dada kang Cecep, panggilan akrab KH. Cecep Nizomuddin salah satu kyai pengasuh Pondok Buntet Pesantren di Asrama Al Muttaba. Sebab beliau diminta menengahi konflik SARAP (suku, agama, ras, antar golongan & partai) di bagian wilayah republik ini. Tepatnya di daerah dekat Atambua Propinsi Timor Barat, perbatasan Timor Timur. Tapi alhamdulillah, Pendeta dan Romo di sana berterima kasih kepada kyai ini setelah dipertemukan.
Mumpung masih dalam moment “Maulid Nabi Isa as” maka postingan ini saya ungkap ke publik. Meski primordial tapi bernilai nasional menirukan semangat sang fenomenal: Kang Peyek
.
Antara Syariat Syekh Siti Jenar & Wali Lainnya 15 November, 2007
Posted by kurtubi in Kajian Kitab, Pengalaman Rohani, Supranatural, Tokoh.45 comments
Terinspirasi oleh Tulisan Danalingga yang menarik tentang masalah Syahadat Siti Jenar yang dikaitkan dengan merebaknya aliran sesat. Tulisan ini sequel dari tulisan sebelumnya.
MENUJU Tuhan rupanya menjadi hal yang terus menerus diupayakan para hamba pencinta. Dalam ajaran agama, banyak cara dan jalan yang ditempuh oleh para ulama (rohaniwan) mengajarkan pada kita. Salah satu contoh di dalam ajaran Islam mengenal istilah adalah gerakan batin (hakekat).
Semisal yang dicanangkan oleh Al Hallaj dan diteruskan oleh Syekh Siti Jenar di Indonesia. Wali ini tidak dimasukan dalam lingkungan atau anggota Wali Sanga. Mungkin karena sistem dan metodanya tidak sama. Tetapi generasinya terus berkembang hingga kini. Tidak mengetahui di mana shalatnya.
Di samping itu ada banyak jenis gerakan selain Syekh Siti Jenar yang dicanangkan oleh para Wali (songo). Diantaranya adalah thareqat. Pertanyaanya, apakah gerakan tarekat yang dicanangkan para wali itu masuk dalam kategori syareat atau gerakan hakekat?
Islam lahir didahului oleh hakekat baru kemudian syareat. Buktinya Nabi saw lama bertahannuts (bermalam) di gua Hira. Beliau menghabiskan malam-malamnya di sana untuk beribadah dengan mengabdikan diri kepada Allah swt. Beberapa malam kemudian, turunlah wahyu pertama. Di sinilah syareat mulai dibentuk untuk umatnya.
Namun pada giliran periode berikutnya, muncul gerakan yang mirip hakekat yang diajarkan oleh Al Hallaj yang cukup bertentangan dengan syareat pada umumnya. Beratus tahun kemudian hadir pula di Indonesia. Pelopornya adalah Syekh Siti Jenar.
Gerakan ini cukup berhasil membawa para pengikutnya untuk terus mengupayakan gerakan ini berkembang. Entah bagaimana, akhirnya syareat yang biasanya dianut oleh masyarakat umum tiba-tiba tidak lagi menjadi fokus utama dalam beribadah kepada Allah. Yang hadir dan ramai di anut oleh masyarakat adalah sejenis hakekat. Di antara yang kerap dibicarakan orang adalah ungkapan “eling”. Atau “manungaling kaula Gusti”. Semacam penyadaran akan penyatuan antara hamba dengan Tuhannya.
Konon ajaran itu masuk dalam kategori hakekat. Adapun syareatnya tidak seperti para penganut Islam biasanya. Atau barangkali tidak ada syareat sama sekali. Seandainya pun ada syareat, maka dipastikan sangat berbeda dengan para pemegang rukun Islam pada umumnya.
Ajaran Syekh Siti Jenar, salah satunya, menurut salah satu pembimbing tarekat, adalah gerakan shalat di atas daun. Generasinya hingga kinipun masih mempraktekkannya. Selembar daun dipotong dan digelar sebagai sajadahnya lalu melaksanakan shalat di atas daun itu di permukaan air.
Energi Getaran dalam Hati 26 Oktober, 2007
Posted by kurtubi in Ibadah, Modernisasi, Tokoh, Uncategorized.13 comments
Apa jadinya dunia, kalau tidak ada getaran. Bunyi-bunyian adalah produk dari getaran yang simultan. Semakin lemah getaran, semakin longgar frekuensi getarannya. Semain keras getaran, semakin rapat frekuensinya. Maka kita berterima kasih kepada Heinrich Hertz (1857-1894), Macaroni yang mampu membuat teori getaran sehingga para pakar gelombang suara mampu menghasilkan berbagai temuannya.
KH. Abdullah Abbas Wafat 14 Agustus, 2007
Posted by kurtubi in Dunia Pesantren, Tokoh.15 comments
Sehari sebelum meninggal, di Cirebon terjadi gempa berkekuatan 7.sekian sekala richter (bener gak nulisnya). Tak tahunya, Jum’at subuh jam 4.10 wib seorang “paku bumi” telah tiada. Ya seorang ulama yang didengar oleh kalangan siapa pun. Dari presiden hingga tukang becak.
Selamat Tinggal kyaiku, selamat jalan menuju kedamaian. Semoga ilmu dan warisan semangatnya menulari kepada kita.
Karena saya mengelola web pesanten buntet, maka akhir2 ini tulisan tentang KH. Abdullah Abbas telah saya upload semuanya di www.buntetpesantren.com Silahkan bagi yang hendak mengetahui ulama ini. Ada hampir 10 tulisan dalam dua hari saya tulis demi menghormati Guru, pemimpin, tokoh dan orang tua kami.
Anehnya media nasional dari mulai detik.com hingga kompas dan koran-koran lokal ramai-ramai memuat berita KH. Abdullah Abbas. Bagi yang sudah mengenal tidak heran akan kharisma kyai yang tidak pernah merasa tinggi hati ini. Bahkan kata anaknya, kyai ini lebih banyak berbuat daripada berbicara dalam mendidik anak-anaknya.
Selamat jalan kepada kyai yang telah hidup di lima zaman. semoga semangatmu menyemangai kami para santri dan alumni untuk berjuang bersama negara menegakkan “kasih sayang di bumi”
Pancasila Mitos yang Makin Atos? 2 Juni, 2007
Posted by kurtubi in Kultur, Nranapi tulisan orang, Pendapat, Politik, Tokoh.35 comments
Benarkah pancasila masih bisa dijadikan sebagai ideologi bangsa Indonesia, falsafah atau pandangan hidup? Ataukah hanya sekadar mitos belaka yang kini makin atos (keras) mengejawantahkannya dalam kehidupan sehari-hari?
Jujur, Duit dan Amin Rais 24 Mei, 2007
Posted by kurtubi in Celotehan, Politik, Tokoh.17 comments
Rupanya, yang namanya jujur di negeri kita ini masih tergolong langka. Apalagi jujur itu diungkap oleh mantan petinggi yang kini sudah tidak menjadi pejabat di atas. Siapa lagi kalau bukan Amin Rais. Beliau kini tengah ramai dibicarakan terkait dengan pengakuannya menerima uang sejumlah Rp. 400 juta. Saat itu Pak Amin sebagai pemimpin PAN (Par¬tai Amanat Nasional). Uang itu sendiri diperoleh dari Departemen Perikanan dan Kelaautan (DPK). Konon uang itu dibuat untuk biaya kampanye 2004 lalu. Hebatkah Pak Amin Rais sebagai rais yang amin?




