Beranda > Celotehan > Yakin Hanya pada Keadilan Allah Bisa Menimbulkan Sifat Rigid (Kaku)

Yakin Hanya pada Keadilan Allah Bisa Menimbulkan Sifat Rigid (Kaku)

Sikap kaku dalam menjalankan agama utamanya ketika memandang dan memperlakukan orang lain yang tidak sepaham, seringkali ditemukan di berbagai media. Misalnya, ketika menemukan orang yang tidak melaksanakan shalat, maka akan dicap sebagai kaafir, iblis, kualat dan neraka. Konsekwensinya, orang yang tidak mengerjakan shalat itu akan dimusuhi dan dijauhkan dari pergaulan pribadinya karena menghawatirkan berpengaruh bagi dirinya. Atau dalam kasus yang sering ditemui, ketika menghadapi sesama orang Islam yang suka minum-minuman, berzina dan berbuat kesalahan lainya akan disikapi sama saja. Karena itu, jika berpegang hanya pada keadilan saja, orang akan mudah melibas dan tidak memiliki rasa toleransi yang utuh.

 Begitulah kira-kira gambaran orang yang hanya berpegang pada sifat keadilan Allah semata. Memang sifat adil adalah sifat yang bijaksana. Memberikan hukum kepada yang bersalah dan me reward kepada yang berbuat baik itulah sifat adil yang perlu diteladani. Manusia disuruh untuk berbuat adil sebagaimana Allah pun memliki sifat Adil. Namun dengan bertumpu kepada keadilan saja, sementara sifat Rakhmat Allah tidak disertakan, difokuskan, dikhawatirkan menyebabkan hidup kita jadi kaku atau rigid. Apalagi jika keadilan ini dijadikan sebagai parameter untuk mengukur kadar keimanan seseorang, sungguh akan dengan mudahnya menohok, menyalahkan dan menghakimi.

Menerapkan Sifat Adil dan Rakhmat Allah
Menerapkan kedua sifat Allah dalam kehidupan ini sangat membantu untuk membuat kedamaian. Bayangkan jika orang yang memegang sifat keadilan Allah swt., akan mengukur dengan parameter benar-salah, baik-buruk. Contoh jika ada yang tidak shalat pasti akan dicap kafir, zindik dll. Sedangkan bila menggunakan rakhmat Allah swt., orang ini akan memandang dengan biasa saja. Sebab bagi dirinya berpandangan jauh kedepan.

Pola pemikiran orang yang berpegang terhadap rakhmat Allah bisa jadi seperti ini: “dia sekarang berbuat melanggar aturan agama, mungkin saja besok atau lusa dia sadar dan akan berbuat baik terus-menerus kemudian beramal dengan perbuatan yang dapat mengalahkan diriku. Sebaliknya saya sekarang berjalan pada rel agama, apakah akan terus menjadi baik selamanya?”

Dalam cerita klasik banyak diungkapan, bagaimana dua hal tersebut direkam oleh sejarah. Terdapat dalam kitab-kitab ulama salaf. Barsiso, seorang ulama zaman pra Islam. Kealimannya luar biasa, menjadi panutan di negeri tersebut. Namun ia berbuat maksiat dengan meminum-minuman keras, berzina, dan membunuh. Cerita ini pernah disinetronkan dalam deretan acara televisi di negeri ini.

Pada sisi lain, ada orang yang sangat jahat dengan membunuh ulama sebanyak 99 orang lalu ia menyesali dosanya. Dia meminta pendapat kepada salah satu ulama lain bagaimana agar bisa bertobat dan Allah swt mengampuni dosa-dosanya. Tentu saja orang alim ini kaget luar biasa, dan ditolaknya mentah-mentah hingga diusir karena dianggap telah berbuat dosa yang sangat besar. Karena tidak suka diperlakukan seperti ini, akhirnya ulama ini dibunuhnya hinnga genaplah penjahat ini membunuh 100 ulama.

Pada perjalanan selanjutnya, rasa ingin bertobat ini terus menerpa dirinya, dan akhirnya dia meninggal di perbatasan kota. Pada saat itu dua orang malaikat pencatat amal baik dan buruk saling berargumen: Malaikat pencatat amal baik, menetapkan baiknya orang ini karena telah berniat untuk bertobat dengan keluar dari negeri tersebut. Sementara malaikat yang satunya tetap bersikukuh kalau dia adalah orang yang sangat jahat tanpa ada kebaikan yang dia lakukan sebagai penebusnya.

Akhirnya, diadamaikan kedua malaikat ini dengan cara mengukur jauhnya perjalanan orang ini untuk bertaubat kepada Allah swt dan ternyata lebih panjang jaraknya. Akhirnya ditetapkanlah orang itu masuk surga.

Dari peristiwa ini maka para penikmat rakhmat Allah akan berpatokan pada ayat. “Sesunguhnya rakhmat Allah itu meliputi segala sesuatu”… Rakhmatii wasi’at kulla syai’in.

Wallahu A’lam

Iklan
Kategori:Celotehan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: