Beranda > Kajian Kitab > Awwabin | awal begadang para penikmat malam

Awwabin | awal begadang para penikmat malam

Shalat Awwabin: Awal Begadang bagi Orang Sholeh


B

egadang jangan begadang kalau tiada artinya bega­dang boleh saja kalau ada perlunya. Jelas sekali lagu Rhoma Irama ini tidak melarang begadang (melek malam) yang banyak memberi faedah seperti menghidupkan malam untuk shalat, dzikir dan lainnya. Mungkin begadang yang dilarang bang Haji itu adalah begadang yang tidak sesuai dengan tuntunan agama; misalnya dugem atau lainya.   Begadang yang benar justeru diperintahkan Allah dan terma­suk dalam kategori ciri orang yang berupaya menyem­pur­nakan keimananya. Orang-orang yang gemar begadang (menghi­dupkan malam) adalah mereka yang meng­amal­kan perin­tah Allah swt. Sebab di malam hari ter­dapat keutamaan yang besar untuk berdzikir baik melalui sha­lat atau yang lainya. Banyak ayat yang membicarkan kehebatan orang yang hobi begadang (menghi­dup­kan malam). Misalnya surat  Al Muzam­mil:6, mene­kan­kan bahwa bangun di waktu malam adalah lebih te­pat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Pada surat As Sajdah: 16 Allah swt memuji orang yang ba­ngun malam sebab mereka mampu men­jauh­­kan diri dari tempat ti­durnya kemu­dian mere­ka selalu berdoa kepada Rabbnya de­ngan penuh rasa takut dan harap. Mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam (Adzariyat: 17). Pada akhir­nya Allah akan meng­angkat derajat mere­ka ke tempat yang lebih tinggi (Al Isra: 79).  

Batas Waktu BegadangKita semua menyadari bahwa menghidupkan malam (begadang) dengan shalat malam merupakan amalan orang-orang sholeh dan kita semua rindu untuk bisa mengerja­kannya. Kadangkala sesekali bisa mengerjakan shalat malam tapi sayang, liburnya lebih  panjang dan entah kapan lagi.  Tujuan tulisan ini adalah untuk memperkaya pengetahuan bagi yang belum terbiasa shalat malam (tahajud)  tidak perlu hawatir bahwa ada cara untuk latihan menghidupkan malam sehingga jika sudah terbiasa maka ba­ngun malam di atas jam 12 dini hari pun akan terasa enteng. Bedasarkan penjelasan ulama yang mengutip beberapa tafsir Alqur’an dan hadits Nabi saw, termasuk menghidupkan malam adalah mengisi ibadah antara magrib dan Isya. Jika belum mampu untuk meng­hidupkan malam lebih panjang, maka menghidupkan di awal malam antara shalat maghrib dan Isya sudah termasuk dalam mengamalkan ayat Allah swt. Shalat di waktu itu disebut Shalat Awabin.  

Makna dan Kedudukan Shalat AwwabinDalam kitab Maroqil Ubudiyah Awwabin sama artinya dengan Attawwabiin artinya orang-orang yang taubat atau orang-orang yang berusaha kembali kepada Allah. Menurut Istilah awabin adalah nama shalat yang dikerjakan antara waktu magrib dan isya.  Ayat yang berkaitan dengan shalat awwabin ini cukup banyak dan seper­tinya khusus. Bahkan menurut sahabat Anas bin Malik ra. asbabun nuzul dari salah satu ayat-ayat berikut adalah ketika para sahabat Rasulullah saw tengah shalat antara maghrib dan isya kemudian turun ayat.  

1.    Surat As Sajdah: 164’nû$yftFs? öNßgç/qãZã_ Ç`tã ÆìÅ_$ŸÒyJø9$# tbqããô‰tƒ öNåk®5u‘ $]ùöqyz $YèyJsÛur $£JÏBur öNßg»uZø%y—u‘ tbqà)ÏÿZムÇÊÏÈ Artinya: Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan terhadap rezki yang kami berikan. Rasulullah saw ditanya mengenai ayat ini lalu beliu bersabda: هي الصلاة ما بين العشــائين  maksudnya adalah shalat antara dua waktu yaitu maghrib dan isya. Anas bin Malik ra ditanya jika tidur pada waktu ini, beliau menjawab: لا تفعل فإنها الســاعة المرادة بقوله تتجافى جنوبهم عن المضاجع   (maksudnya jangan tidur di waktu ini atau ba’da maghrib sebab Allah menurun­kan ayat as Sajdah:16 itu adalah untuk meng­hidup­kannya).  

2. Surat Al Muzammil: 6¨bÎ) spy¥Ï©$tR È@ø‹©9$# }‘Ïd ‘‰x©r& $«ôÛur ãPuqø%r&ur ¸x‹Ï% Artinya: Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Kitab Maraqilubudiyah menjelaskan bahwa ayat ini memberi pengertian bahwa shalat di awal waktu malam manfaatnya sangat besar karena dapat terciptanya konektivitas (perta­lian kuat) antara hati, mata dan telinga serta lisan. Sehingga perbuatan shalat dan memba­ca/tadabbur Al Qur’an dapat meresap ke kalbu dikarena­kan lingkungan sekitarnya tenang; tiada suara berisik aktivitas keduniaan juga sudah reda. Wajarlah jika Ali bin Husain ra ketika menjalankan shalat awal malam terse­but beliau berkata: هو ناشئة الليل   

Kitab Aunil Ma’bud menerangkan bahwa lafadz  ناشئة الليل  menurut Tafsir Ibnu Abbas adalah awal waktu malam. Ibnu Malikah pernah bertanya kepada Ibnu Abbas ra dan Ibnu Zubair ra bahwa Nasyiatallail adalah ungkapan orang Haba­syah yang berarti sama dengan qiyaamulail (shalat malam).  Menurut tafsir Al Qurtubi para ulama berbeda pendapat tentang awal waktu malam: Ibnu Umar dan Anas bin Malik ra mendefinisikan Nasyiatallail yaitu waktu antara maghrib dan Isya sama pendapatnya dengan Imam Atha dan Ikrimah yaitu awal waktu malam. Sebab lafadz nasyiah  lebih tepat dimaknai sebagai permulaan; Sedangkan menurut Imam Muja­hid ra Nasyiatallail adalah seluruh waktu malam. Namun menurut Siti Aisyah ra shalat malam adalah setelah tidur sehingga tidak di­ka­takan nasyiatallail  jika belum tidur. Akhir­nya, pendapat yang lebih shoheh menu­rut al Qurthubi adalah awal waktu (awwalussaa’ah)  

3. Adzariyaat: 17(#qçR%x. Wx‹Î=s% z`ÏiB È@ø‹©9$# $tB tbqãèyföku‰ Artinya: Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.  Menurut Ibrahim An Nakhai, pada ayat ketiga ini Allah swt memuji orang-orang yang sewaktu di dunia banyak melak­sana­kan shalat tetapi sedikit tidurnya. Sedangkan menurut penafsiran Imam Anas bin Malik ra. Ayat ini menjaskan bahwa:   

عن أنس في قوله عز وجل كانوا قليلا من الليل ما يهجعون قال كانوا يصلون فيما بين المغرب والعشاء زاد في حديث يحيى وكذلك تتجافى جنوبهم (سونن ابي داود 1127) Artinya: Yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang yang se­nan­tia­sa mengerja­kan shalat di antara waktu maghrib dan Isya. (Sunan Abi Dawud: hadits no. 1127) 

Sebab turun ayat ini menurut riwayat Muhammad bin Nasr yang bersumber dari Anas bin Malik ra. adalah ketika para sahabat nabi tengah mengerjakan shalat antara magh­rib dan Isya. Orang-orang yang tengah shalat diantaranya adalah Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin ‘Amr, Salman Al Farisi, Ibnu Umar dan Anas bin Malik ra dan orang-orang Anshar. Menurut Al Iraqi, sanad hadits tersebut shahih.  Keutamaan Shalat AwwabinYahya bin Ayub meriwayatkan hadits dari Abdul Karim ra, Rasulullah saw bersabda: Man shalla ‘asyra raka’aatin bainal maghrib wal isya banaa lahu qishrun filjannati. Artinya: “barangsiapa yang shalat awwabin 10 rakaat antara maghrib dan isya maka Allah akan mem­buatkan istana kemegahan di surga. Kemudian Umar bin Khattab bertanya kepada Rasul saw : “Kalau begitu apakah istana dan tempat tinggal kami akan semakin banyak? Rasul menjawab: “Allahu Akbar! Waafdhola!” benar!.  

2. Abdullah bin Umar bin Ash r.a berkata:  Shalat awwabin sebagai khalwat antara waktu maghrib dan isya hatta tastawwabannasu ila sholati. 3. Suatu ketika Abdullah bin Mas’ud shalat awabin lalu berkata: shalat ghoflah dikerjakan antara maghrib dan isya.  

4. Menurut riwayat Ats Tsa’laby, Ibnu Umar berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Artinya: barangsiapa yang berusaha menjauh­kan tempat tidur (untuk berdzikir atau menger­ja­kan shalat) antara maghrib dan isya maka Allah akan menghadiahkan dua istana di surga sebagai tempat peristirahatan orang-orang. Di dalamnya terdapat pohon seandainya orang-orang dari timur dan barat dikumpulkan  buah­nya masih lebih  banyak dari mereka. )  Cara Shalat Awwabin dan RakaatnyaImam Al Ghozali ra, dalam kitab Bidayatul Hidayah membagi ilmu bahwa setelah shalat dua rakaat sunah ba’diyah (rawa­tib) jika mau dipersilahkan shalat empat rakaat awwa­bin atau bila ingin beri’tikaf karena mau meng­hidup­kan waktu bainal isya’aini (awwabin) dengan shalat maka jangan ragu-ragu kerja­kan­lah karena manfaatnya lebih besar.  Sedangkan Imam Nawawi dalam kitab Maro­qil­’ubudiyah mengutip pendapat Imam Bujai­rimi dari Imam Ramli ra bahwa bilangan raka­at shalat awabin paling ba­nyak adalah  20 rakaat. Al Ghazali dalam Ihya paling tidak ada 6 rakaat sebagaimana Rasulullah saw pernah mengerjakan­nya.  Singkat­nya, dipersilahkan me­­­nger­­­jakan shalat awabin paling sedikit dua rakaat, jika mau empat, enam atau paling ba­nyak hingga 20 rakaat. Wallahu a’lam. (MK).

Kategori:Kajian Kitab
  1. 19 Januari, 2009 pukul 8:58 am

    Makasih yah infonya. Saya baru tahu nih tentang shalat sunah awwabin. 🙂

  2. uliia
    4 Februari, 2009 pukul 10:47 pm

    maksih z!!! infonya moga bermanfaat bagi kita semua
    amin ya robbal alamin

  3. Tohiran
    16 April, 2009 pukul 11:58 pm

    Apakah benar ada/boleh juga sholat awwabin istikharoh,hajat,taubat,muthlaq,ikhlas?

  4. rahma
    19 Agustus, 2010 pukul 3:16 pm

    sholat awwabin sama dengan sholat dhuha, hadist tentang sholat awwabin adalah antara magrib dan isya dhoif… ane jadi bingung…

    • trihandoko
      8 Februari, 2011 pukul 11:55 pm

      sama friend ana juga bingung

    • Doel
      4 Juli, 2011 pukul 4:47 pm

      iya nih yang bener yang mana sih..banyak juga orang yang belom seberapa ilmunya sudah membuat pernyataan hadist dhoif lah..hadist shahih lah…ummat bener2 di buat bingung..mao ngerjain takut salah ..gak dikerjain takut rugi…ahh andaikan saja ane hidup di jaman rasulullah….mungkin anae gak bingung kayak gini..wallahu,alam bisawwaf.

      • 19 Oktober, 2011 pukul 5:11 pm

        heheheheh, perkara sunnah itu tidk perlu dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sedagnakan yang berbahaya dan merusak agama itu adalah perkara yg wajib yang ditambah2 … sedangkan sunnah sejauh bermanfaat maka itu sangat mulia. Contoh sunnah: sedekah tanpa hitungan, sholat sunnah tanpa hitungan; contoh yg salah, shalat subuh 3 rokaat …

    • elvia rahmi
      4 November, 2011 pukul 9:59 pm

      insya Allah bnyak yang mendhoifkan. selain itu, bgaimanapun juga untuk melakukan suatu ibadah harus ada dasar yang shahih dulu, gak bisa sembarangan. Jika rasulullah tidak mengerjakan, mengapa kita melaksanakan? hanya berusaha menjaga diri dari hal yang bid’ah.

      —————-
      Ya endak apa2 mendoifkan dan mensahihkan itu sudah biasa
      masing2 memiliki argumen dan tanggung jawabnya di akhearat

    • a1a2a3
      17 September, 2012 pukul 10:55 pm

      maka nya ngaji.jangan ngomong bid’ah terus.makanya orang2 muhamadiah ga da yang jadi waliullah.kaya abuya dimyati BANTEN

  5. chairil nasution
    24 Oktober, 2010 pukul 8:38 am

    ass. wr.wb. seharusnya kita orang islam sholat berjamaah di masjid, karena pahalanya 27 kali lipat dari sholat sendirian, dan dizaman rasul semua orang islam sholat di masjid dgn rasul sebagai imamnya. dan ingatlah : umur ummatku kata nabi antara 60 dan 70 tahun, kenikmatan surga akhirat 99 kali lipat dari kenikmatan di dunia, azab neraka 69 kali lipat dibandingkan azab di dunia, wass.wr.wb.

  6. 11 November, 2011 pukul 1:30 pm

    Makanya pengen nggak bingung kalau ngajinya pake dunk tahapan jagan dah kawakan baru mau belajar sok pinter… jadinya ya bingung sendiri masa kecil pada kemane lo pada…

    praktiskok semuanya lo pada ada iman kaga? kalau percaya jalanin petunjuk yang ada jika tidak ya dah jangan dilakukan… emang dari sononya orang goblok itu selalu rugi karena kaga tau ilmunye… sorri ye

  7. d
    13 Januari, 2012 pukul 2:35 pm

    istiqomahkan dulu yang wajib/fardhu lalu yg sunnah sesuai tingkatannya.jgn membid’ahkan sesuatu yg kita tdk tahu n cuma katanya.pada dasrnya shalat selain shalat fardhu dianggap shalat “tahajud”

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: