Beranda > Uncategorized > Inna LIllahi… Proses Tenggelam di Laut itu begitu Singkat

Inna LIllahi… Proses Tenggelam di Laut itu begitu Singkat

Tenggelam di dasar laut atau terbawa arus gelombang yang ganas; kemudian tidak ditemukan jasadnya berhari-hari karena hilang ditelan ombak, biasanya berita itu hanya di televisi, koran, radio atau internet. Berita-berita itu sudah sering kita dengar bahkan menjadi irama bencana yang terus-menerus meniupkan nada-nada yang menggedor nurani dan Iman kita. Tetapi kemarin, Minggu, 4 Maret 2007, berita itu hadir bukan di dunia maya, tetapi di depan mata kepala sendiri. Kami serombongan, tengah mandi di Pantai Suraga, Anyer,  menyaksikan dengan jelas bagaimana kawan serombongan kami, Toni Harsono, tengah berjuang mempertahankan hidup. Tampak dengan jelas badan yang timbul-tenggelam dalam jarak pandang kira-kira 60 meter ke tengah laut. Proses tenggelamnya Toni kawan saya, begitu cepat dan hilang ditelan air laut yang luas itu. Lalu kami semua rombongan ternganga, terpana, begitu cepat proses hilangnya manusia.

Sungguh kami semua rombongan tidak bisa berkata-kata. Teman-teman laki-laki sesama panitia berteriak: “toloong….. cepat Toni tenggelam!”. Para wanita dan ibu-ibu yang tengah ikut ke tepi pantai pun langsung buru-buru bringsut dari air. Anak-anak kecil yang tengah mandi di pantai itu terbirit-birit digiring langsung ke tepian. “Cepat semuanya jangan mandi, ada orang tenggelam….!” begitu teriak ibu Ning. Saat itu saya tengah duduk agak jauh dari pinggir pantai, sambil menikmati cerpen kompas yang baru di baca 1/3 bagian. Namun begitu mendengar ribu-ribut di pantai, langsung koran itu aku buang. Kedua anakku yang tengah mandi langsung ditarik ke tepian oleh isteriku dan diserahkan pada saya agar diamankan ke darat. Para wanita dan anak-anak muda rombonganku berlarian melihat toni yang tengah meregang nyawa. Isteriku berlari-lari dan mencerit-jerit minta tolong kepada orang-orang agar menolong Toni yang tengah tenggelam.

Teman-teman wanita lainya pun menjerit-jerit meminta tolong. Saat itu Toni masih jelas  melambaikan tangannya di atas permukaan laut. Ia timbul tenggelam sebanyak dua kali. Lambaian pertama seakan memberi kode “selamat tinggal” sebab lambaian itu mirip orang yang mau pergi jauh dengan memekarkan lima jarinya, dan digeser ke kanan dan ke kiri. Lambaian kedua seolah-olah meminta tolong dengan gerakan seperti orang memanggil. Kedua lambaian tangan itu hanya dua kali. Sementara kepalanya tidak tampak di permukaan.

Awalnya, Toni bersama 3 kawannya, menyewa ban milik petugas pantai. Kemudian seperti biasanya mereka bermain dengan ban itu di pinggiran pantai. Namun entah mengapa tiba-tiba saja ban itu menggeser sedikit-demi sedikit ke tengah laut, bukannya mengikuti ombak ke pinggir. Rupanya mereka semakin bingung, karena ban itu seolah-olah terbawa arus ke tengah. Dengan kepanikan tersebut, rupanya, Toni telepas oleh sapuan ombak yang cukup deras. Di tengah kepanikan itu, Toni, sebagai ketua rombongan, mungkin bertanggung jawab dan berusaha meminggirkan ban itu agar jangan ke tengah. Namun sayang nasib kehidupan tidak berpihak padanya. Ban itu justru telepas jauh kira-kira empat meter. Telepasnya pegangan tangan Toni dengan ban kemungkinan besar karena sapuan ombak yang deras menerpanya. Di tambah dengan kepanikan empat orang di dalam satu ban bagian dalam bekas Truk itu. Karena ketiga temannya tidak bisa meraih tangan Toni, akhirnya Toni tinggal sendirian dan tenggelam entah kemana.

Kini kepanikan melanda tiga temannya: Bagus, Damanik, dan Abdulah. Mereka pun makin menggeser ke arah tengah pantai. Beruntung 4 orang petugas penyelamat pantai mengejar dengan gesit. Saat lambaian tangan Toni baru diketahui oleh semua orang. Saat itu dua orang peselancar mengejar Toni yang berjuang mempertahankan nyawa, sementara dua petugas pantai lainnya mengejar ban yang tengah menuju ke arah tengah pantai. Alhamdulillah ketiga orang yang berada di dalam ban dapat diselamatkan, namun sayang, Toni yang sudah melambaikan tangan dua kali itu tidak bisa diselamatkan. Lama petugas mencari-cari tapi hasilnya nihil.

Sebelum Kejadian

Saat itu udara sebenarnya sangat cerah. Terik matahari begitu menyengati kulitku ditambah dengan alunan angin pantai yang cukup kencang berdesis di telinga dengan nada yang berganti-ganti. Saat menunjukkan jam 13.30 wib. Tidak banyak anak-anak muda yang turun ke laut, karena melihat gelombang yang agak besar. Tidak ada satupun peringatan yang diberikan oleh petugas pantai. Bahkan petugas pantai justeru menyediakan ban mobiil untuk bermandi ria di pantaio.

Toni dan kawan-kawan sebelum turun ke pantai saat jam 12.10 ikut shalat di masjid depan pantai. Saya berada di sebelah kanan Toni dengan diselingi 3 orang. Imam shalat adalah Bapak Masykur Ali, salah seorang anggota tour. Saat kami selesai shalat, anak-anak muda menyelesaikan tanpa dzikir panjang, namun kami orang tua, menghabiskan waktu cukup lama. Saat itu saya, H. Aselih, Masykur Ali, H. Abbas masih di masjid dan kami bersama-sama menuju mobil.

Sebagai anggota rombongan, kami kemudian menuju kerumunan orang di pantai. Mereka rupanya banyak yang telah berada di pinggiran pantai sehingga menggoda saya untuk mengikuti mereka, apalagi anakku dan isteri sudah berada di sana. Buru-buru saya menuju pantai. Tampak ramai sekali anak-anak gadis dan remaja serta bocah-bocah termasuk anakku tengah bermandi ria di pinggiran pantai. Namun keceriaan itu tidak berlangsung lama, kira-kira seperempat jam saya berada di tepian pantai agak jauh, jeritan orang-orang menggedor kekagetan saya dan langsung semua orang dibuat panik.

Toni masih belum ditemukan jasadnya ketika kami pada waktu maghrib dipulangkan oleh panitia, sedangkan 5 orang pantia bersama anggota keluarga Toni tetap tinggal di sana untuk menemani Tim Sar agar bisa ditemukan segera. Toni masih ada di pantai Suraga yang gelombangnya makin besar saja. Lalu menjelang sore para wartawan berdatangan dan serombongan bolisi dari berbagai kesatuan pun ikut membantu. Mereka kamudian mencoba mencari-cari namun masih juga gagal. Akhirnya pencarian dihentikan menjelang maghrib dan kami dipulangkan oleh panitia. Di mobil kami semua terdiam seribu bahasa memikirkan ketidakmengertian akan nasib Toni yang ditinggal begitu saja di pantai yang dingin.

Hingga tulisan ini ada, Toni masih terbenam dan tidur nyenyak karena dinanabobokan oleh ayunan gelombang yang menerpa jasadnya. Ia tidak bisa melawan habitat yang bukan tempat tinggalnya. Ia pun tidak mampu menolak ketentuan harus tenggelam di air laut. Namun ia hanya bisa menghadap ke Hadiratnya dengan penuh kasih dan sayang. Semoga ketenangan didapat dalam rohmu Toni, setenang wajahmu yang mirip 4Tse dan selalu menebarkan senyum indah…

Innalillahi wainna Ilaihi Rajiuuun.

Kategori:Uncategorized
  1. 7 Maret, 2007 pukul 10:50 am

    Berita tentnag kematian begitu akrab di telinga kita, dan ia sering kali berlalu begitu saja. Namun ketika berita tersebut terkait dengan orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan kita apalagi dekat dengan kita maka ia berbeda. Ada kesedihan yang mendalam ketika itu.

    Nah, bagaimana jika berita itu terkait dengan diri kita?

  2. 27 Oktober, 2008 pukul 11:02 am

    Innalillahi.. Semoga arwahnya diterima disisi Allah SWT..

    Btw, bgmn “alam” kubur org yg meninggal tenggelam di dalam laut, sedangkan tubuhnya tidak pernah dikuburkan..???

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: