Beranda > Celotehan > Banyakan Lupa dari Pada Ingat

Banyakan Lupa dari Pada Ingat

TERNYATA tidak semua makanan yang ada di perut kita, bisa diserap sebanyak yang masuk. Sama halnya tidak semua kalimat yang kita baca mampu diserap oleh organ rohani kita. Artinya, input yang banyak tidak tidak sama dengan outputnya.

Jika saja makanan yang masuk ke badan terserap semuanya, tentu badan kita membengkak dong, karena kotoran tidak bisa keluar. Tapi ternyata, hanya sedikit saja yang diserap dan selebihnya –yang paling banyak– dibuang kembali. Begitupula betapa banyak sampah-sampah kehidupan berserakan dalam diri kita dan diri orang lain, sementara sari hidup pasti lebih sedikit tersemai di hati.

Bagaimana dengan Rohani

Begitu pula hukum di atas berlaku bagi roh-nya si ani atau rohnya kita. Karena rohani pun mirip dengan jasad tubuh. Ia butuh makanan penguat, penyegar, penyedap dan perangsang. Karenanya, tidak banyak rohani mampu menyerap sari-sari makanan yang kita masukan ke dalamnya, meskipun yang kita masukkan sebanyak apapun. Orang yang sehat badannya biasanya, karena gizinya cukup. Begitupula sebaliknya.

Karena itu sejatinya, agar rohani bisa kuat tentu makanan yang dimasukkan ke dalam rohani mesti banyak sekali karena kita tahu, yang menjadi sari-sari gizi sangat sedikit. Demikianlah maka bagi mereka yang mengolah rohani lebih banyak akan lebih menenang hidupnya, dibanding yang sedikit olah rohaninya. Hal ini setara dengan para penikmat makanan sehat dan berolah raga teratur hidupnya lebih sueger dibanding mereka yang leha-leha saja dalam mengelola tubuh.

Shalat adalah salah satu menu makanan rohani, disamping amalan lain semisal puasa dengan variasai di dalamnya, sedekah/zakat dengan berbagai variasinya dan banyak ibadah2lain yang merohani. Semua itu mengelolanya memang cukup berat apalagi bagi kalangan yang tidak biasa berberat-berat dalam beribadah. Kita yakin kepada shalat saja, sebanyak rakaat yang kita kerjakan, manfaatnya tidak lantas banyak diserap oleh rohani. Karenanya tidak sedikit orang yang terbiasa shalat namun masih suka berlawanan arah dengan tujuan shalat itu sendiri. Tetap saja masih ada yang menjadi “trouble maker” meski dari kalangan kyai, santri. Boleh jadi, nutrisi shalat yang diserap oleh rohani sedikit sekali atau bahkan tidak meresap di usus (relung) rohani. Sayang yah, kalau begitu. Padahal tenaga ruh itu begitu dahsyat, mampu melihat, begitu halus, bahkan bisa menerawang jauh hingga ke akhirat dan hingga ke Yang Maha Sumber serhingga hidupnya bisa terkonsentrasi ke sana.

Karena itu dalam masalah ibadah ini, shalat yang berjenis-jenis macamnya, dan ibadah lainnya, bila dikerjakan sejatinya merupakan makanan siap saji bagi rohani siapa saja yang perlu penyegar, penyejuk dan pemanis. Sehingga jika saja banyak memperhatikan makanan rohani ini, niscaya akan semakin banyak nutrisi yang masuk. Lalu meskipun nutrisi rohani ini tidak banyak yang diserap, tapi karena rutin, semoga saja kesehatan itu terjaga. Bukankah ini sama halnya dengan memakan pizza, namun yang diserap sedikit sedang yang menjadi sampah banyak dibuang di kolong got.

Tidaklah heran orang-orang yang suka menyepi di keheningan malam, bertafakur, merenung, membaca dzikir, membaca fikir, membaca tubuh, apalagi disertai dengan shalat malamnya, tak heran orang ini rohaninya bertubuh subur. Sehat rohani. Karena rohani bersemayam dalam hati, maka mereka itu biasanya banyak sekali tingkah lakunya yang memancarkan: ketenangan, keseimbangan, kearifan, rela berkorban, tidak kagetan menjalani problema hidup, kalem, menggairahi kehidupan, murah senyum, bukan seorang negativism, positif thinking, rela, sabar, rido… dst.

Doakan saja semoga saya, anda, dia dan kita semuanya tidak abai dalam mengelola kesehatan rohani. Sebagaimana kita tidak abai dalam mengelola kesehatan jasmani. Memang, dalam masalah ini banyakan lupa daripada ingat. Dan mengingati diri lebih baik daripada mengingati orang lain. Karena itu saya jadi teringat dengan sebuah peristiwa tragis gara-gara rohani sakit. Kalau sudah parah, sulit sekali mencari dokternya, bahkan psikiater sendiri di negeri sekaliber negara Amerika saja. Tengokah baru-baru ini ada 32 mahasiswa Universitas Tekhnik Virginia, AS diberondong dengan senjata otomatis, beserta dosen dan kawan-kawannya. Baru kemudian dirinya sendiri hingga genap 33 orang. Wallahu’alam.

Kategori:Celotehan
  1. 28 April, 2007 pukul 6:08 am

    “Doakan saja semoga saya, anda, dia dan kita semuanya tidak abai dalam mengelola kesehatan rohani.”

    Amin.

    Btw, bukankah kualitas juga penting, bukan hanya kuantitas saja?

    Salam kenal ya…

    yaa doaku, doa dia, doa kita semua, buat cak alif yang mau Menuntut ilmu ke NTUT eh NTUST di Taiwan, semoga niat untuk pergi ke sana kesampaian dan berhasil bikin robot buat menumpas korupsi.. ini salah satu yang berkualitas sekaligus kuantitas.. salam kenal juga

  2. 29 April, 2007 pukul 1:43 am

    Gara2 kesibukan kerja mengejar materi, sekarang banyak orang yang bahkan sampai lupa untuk makan
    Jika orang bisa sampai lupa untuk makan (yg notabene merupakan salah satu kebutuhan paling dasar manusia), maka bagaimana mereka bisa mengingat untuk mengkonsumsi hidangan rohani. Apalagi mungkin sampai saat ini hidangan rohani masih sebatas pada suatu kewajiban (atau bahkan keterpaksaan) daripada suatu kebutuhan.

    kalau pengalaman saya, gara-gara sibuk ngeblog kerja, komentar pak guru dan ngomentarin blog lain, atau lalu keliling blog gak sempat2. Apalagi ngeblog amat jarang2. Lebih-lebih ngeblog untuk rohani duuh iya yaa ngomong sih enak prakteknya yaa mas… susah sekali… tapi semoga saya, anda, dia kita semua bisaaa…

  3. ayah nabiil
    30 April, 2007 pukul 8:01 am

    Ass Wr Wb
    Isi blognya oke2, boleh kan saya copy isi blognya utk di email ke kawan2
    keep on blogging

    Salam kenal

    وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
    waaah makasih ayah nabiil bekunjung di kebun hijau yang gak berbuah pohonnya… tapi yaa lumayan daunnya bisa buat makani kambing, buat kompos dll… btw… ayah nabiil mana neh blognya buat saling bertukar kata pengganti saling bertutur kata.

  4. 1 Mei, 2007 pukul 1:05 am

    Assalamu’alaikum

    Mas/Pak/Om mau nanya nih…?
    Supaya ga kagetan mengahadapi problema kehidupan itu gmn? Supaya bisa memotivasi diri itu gmn? Supaya bisa tenang itu gmn? Makasih atas jawabannya. Saya tunggu lho…. Terimakasih.

    Wassalam

    ———–
    waduh diberondong toh 3 pertanyaane sekaligus… satu aja blm tentu bisa. Btw ini ajang diskusi, dan itu pula bukan problem Anda saja tapi problem kita semua… sekedar memulai diskusi bagaimana mengatasi itu, saya punya teori pendapat jare dewek bahwa orang kagetan mirip dengan mereka yang tengah berdiri di mobil pengumuman tanpa berpegangan besi. Sedangkan yang tidak kagetan mereka yang duduk manis, dan berpegangan pada kursi. Saat bus oleng, yang tak berpegangan akan limbung badannya, sedang mereka yang berpegangan tenang-tenang saja. Pertanyaanya: tinggal pilih manakah pegangan kita? harta bendakah, jabatankah, titelkah, wong wadonkah. Tapi konon, semua itu tak menenangkan.

    Lalu apa yang menenangkan. Sekedar ilustrasi jare dewek, konon, jika berpegangan pada yang Maha Tenang, maka kemungkinan aliran ketenangan itu mudah merasuk dan mengalir berdesir-desir ke relung hati. Teori ini sama dengan kita mencintai seseorang. Bukankah dengan berdekat2 kepada yang kita cintai rasanya damai hidup ini…. tapi ngomong2 pak dosen, bukankah katanya, orang matematik hidupnya lebih tenang karena sudah paham masalah rumit bin njlimet… dan sebagaimana kata bu dokter Evi katanya matematik itu g ribet g bingung… ah jangan2 pak dosen lebih ahli neh… yaa wis segitu dulu…

  5. 1 Mei, 2007 pukul 2:57 pm

    lha iyah, banyakan lupa daripada inget. lha yang diperhatiin ya terbatas..

    ———

    Bttul tikabanget… mestinya kan sedikit lupa banykan inget. ini berlaku banget buat ‘tika’. 🙂

  6. 2 Mei, 2007 pukul 9:51 pm

    Wah makasih banget nih kang santri (Kurtubi) atas pengingatannya.
    Seringkali kita (saya) tahu teorinya, tapi seringkali pula kita (saya) tak mengikuti petunjuk teori yang sudah diketahui tersebut.

    Entah kenapa ya?

    Saya yakin dan percaya, kebanyakan santri itu lebih mumpuni dalam hal menghadapi problema kehidupan. Saya perlu dan butuh belajar banyak dari yang ahlinya. Betul?

    ——
    betul sekali, pengingat itu memang berseliweran di tiap2 diri, sama juga “pembuat lupa” pun berseliweran di tiap2 kita. Rupanya hukum keseimbangan-Nya betul2 adil. Kadang kita dibuat bingung yaa, antara lupa-dan-ingat. tapi memang hidup bukankah berkutat di sekitar itu2 saja. Antara senang-susah; sedih-gembira; banyak duit-sedikit duit. Kayanya, hidup itu tidak jauh2 dari situ… berputar di tempat. Mungkin sama persis dengan gelombang sinus, frekuensinya begitu2 saja…

    Rupanya kita pun mirip dengan transformator arus; jika dihidupkan (bernafas) sinusnya bergelombang tak rata, gak karu2an. baulah jika ingin difungsikan ia perlu diode sehingga gelombangnya bagus dan jika diberi kapasitor terlihat beda jalur + dan -nya. Seandainya kita laksana transformator, maka arus hidup yang tengah kita lalui, akan bermanfaat jika ada penyeimbang arusnya itulah diode, resistor, transistor atau apapun. Rupanya banyak dikehdiupan ini orang2 jenis transistor, resistor, capasitor, diode. Meski tidak semua baik, namun sebuah rangkaian elektronika akan menghasilkan berbagai keperluan justru dari hukum keseimbangan arus listrik… yaa arus listrik yang dihidupkan dalam diri kita yang bersumber dari Yang Maha Kuat Arusnya…

  7. 7 Mei, 2007 pukul 6:43 am

    Pendaftaran Top-Posts Maret-April 2007 telah dibuka.
    Silakan daftarkan postingan Anda di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/05/02/pendaftaran-top-posts-maret-april-2007/

  8. faizalkamal
    20 Oktober, 2008 pukul 10:52 pm

    Iya pak, Saat usia makin bertambah, HARDISK mangkin sedikit yang belom terisi, ditambah makin bnyak yang dipikirin, jadinya yang harus nya diinget mulu malah jadi sering kelupaan.

    Huh . . . Penuh tantangannya jadi orang Jakarta.

    http://faizalkamal.wordpress.com/

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: