Beranda > Celotehan, Politik, Tokoh > Jujur, Duit dan Amin Rais

Jujur, Duit dan Amin Rais

Rupanya, yang namanya jujur di negeri kita ini masih tergolong langka. Apalagi jujur itu diungkap oleh mantan petinggi yang kini sudah tidak menjadi pejabat di atas. Siapa lagi kalau bukan Amin Rais. Beliau kini tengah ramai dibicarakan terkait dengan pengakuannya menerima uang sejumlah Rp. 400 juta. Saat itu Pak Amin sebagai pemimpin PAN (Par¬tai Amanat Nasional). Uang itu sendiri diperoleh dari Departemen Perikanan dan Kelaautan (DPK). Konon uang itu dibuat untuk biaya kampanye 2004 lalu. Hebatkah Pak Amin Rais sebagai rais yang amin?

Pak Amin sendiri mengklaim bahwa dana DKP yang dipimpin Rokhmin Dahuri itu diberikan juga kepada partai-paritai lain. Jadi bukan melulu PAN saja. Pak Amin pun mengaku bahwa pernyaataan jujurnya itu sebagai upaya untuk menaikkan pamor dan perolehan suara PAN pada pemilu 2009 nanti. Aneh ya kok ujung-ujungnya begitu sih Pak.

Padahal, menurut saya jika Pak Amin tidak mengatakan itu, saya mungkin tidak menulis kegudahan ini. Lihatlah partai lain juga ramai-ramai membantah telah menerima dana subhat (tidak jelas kehalalannyaa) itu seperti Golkar, PKS dan PPP. Mereka keukeuh tidak mengaku. Tapi dengan gentelnya Pak Amin pagi-pagi sekali sebelum ayam jago berkokok sudah berniat mengaku pada masyarkat.. Menurut saya, Pak Amin kurang bisa mendidik masayarakat dengan niatan itu. Meskipun pernyataan itu bermakna ke sana sejatinya jangan diungkap sendiri. Tetapi biarlah masyarakat yang menilai.

Tirulah pengalaman partai baru seperti PKS dimana dulu para anggota dewannya, ramai-ramai mengembalikan uang amplop dengan disaksikan jutaan pemirsa. Lalu para kader partainya menjadikan moment bagus itu, sebagai bahan obrolan manis untuk menggaet calon pemilih dengan berkata: lihatlah partai kami para pempimpinnya jujur. Bisa mengembalikan uang amplop.” Tapi di sini sayang sekali, Pak Amin rupanya ingin berjalan sendirian untuk berusaha mengegolkan bolanya.

Sinetron Politik

Gaya politik kita rupanya masih diwarnai hal-hal seperti itu. Di satu sisi ada yang bertindak sebagai “pahlawan kesiangan” dengan mengaku jujur menerima dana non budgeter sekaligus menyeret lawan-lawan politiknya, di sisi lain mereka yang merasa kebakaran jengkot berusaha menjegal upaya kejujuran dari Pak Amin agar jangan sampai meleleh kemana-mana. Betul sih kan jadi malu nantinya!

Itulah barangkali sinetron politik. Kadang ada yang berperan sebagai hero dan yang lain sebagai antagonis tapi dua2nya tidak mewakili yang sebenarnya. Istilahnya dunia politik itu dunia abu-abu. Yang kusam bisa bagus dan yang bagus kadang bisa kinclong di mata masayarakat.

Akhirnya menurut saya, semakin jelas pengakuan Pak Amin itu tidak 100% ikhlas dan tulus. Sebab ternyata memiliki embel-embel tendensi. Istilahnya politisasasi. Duuh sayang ya, Pak Amin Rais. Sebelumnya saya salut banget deh pada beliau. Tapi mudah-mudahan kesimpulan saya yang salah. Smoga niat ikhlas itu bisa diperbaiki dan biarlah masyarakat yang menilainya. Wallahu a’lam.

Kategori:Celotehan, Politik, Tokoh
  1. 24 Mei, 2007 pukul 1:47 pm

    politik …. yaaa gitu deehhh …
    *sorry kalo komennya ga bermutu … hehehehe*😀
    ————
    Beginilah jika politik gaya Jurig, “yaa gitu deehhh…”
    yang g bermutu itu … bukan komentnya tapi koment dibawah komentt hehehe…. tq🙂

  2. riza
    24 Mei, 2007 pukul 2:33 pm

    ga perlu menjustifikasi apa pak amin rais ikhlas atau ngga. yg penting sekarang kita tahu kan gmn sepak terjang partai-partai yg ada. juga negara yang ga berat menghamburkan uang rakyat. bwt apa se sebenarnya bagi2 uang kayak gitu? ini yang patut diperhatikan. TANYA KENAPA?

    ———–
    betul perntayaan kenapa itu seakan2 memang menggoda iman kita… bahkan pertanyaan : tanya kenapa pun mengandung pertanyaan berikutnya.. maka jadilah bangsa ini saling bertanya2 ada apa gerangan politk jadi begini…

  3. 24 Mei, 2007 pukul 2:55 pm

    Ya memang begitu adanya yang namanya politik…
    Jujur sich jujur tetapi ternyata tidak ikhlas karena ada pamrihnya…

    ———
    kalau begitu memang antara jujur dan pamrih….. memang mesti harus ada batas jelas yaa…

  4. 24 Mei, 2007 pukul 5:34 pm

    jujur sama duit kalo digabung politik kayaknya cuma mimpi tuh

    ————-
    pantas saja… jarang yang ‘bermimpi’ politik jujur yang diimpikan justru politik yang mujur dengan cara apapun yaa bos…

  5. 24 Mei, 2007 pukul 9:29 pm

    hahahaha, aku ndak percaya ada yang beres sampai nanti memang ada partai yang bener2 terbukti beres😀

  6. 24 Mei, 2007 pukul 11:12 pm

    semua….pada bela diri deh…

    ———
    betul kang arul, soalnya ga ada yang membela jadi bela diri… walaupun ga sampai sabuk hitam heheh🙂

  7. aLe
    25 Mei, 2007 pukul 1:03 am

    yah, begitulah dalam politik.
    1 + 1 bisa = 3 dalam politik, so kita hanya bisa berdoa dulu.
    jika suda keterlaluan, baru kita Bergerak!!™😉

    ————-

    bergerak! waaah benar ayo kita bergerak membetulkan 1 + 1 biar sama dengan 2 jangan dikorupsi jadi 3 bahkan 3M dan 3T.. wah satire yang bagus kang aLe… tq.🙂

  8. 25 Mei, 2007 pukul 1:31 am

    Itu baru satu departeman dan ketahuan. Bola panas uang gak jelas sudah menggelinding, akankah mereka mengakui tanpa embel-embel perbandingan dengan dana masuk dan keluar di DKP? Saya ikut menunggu, walaupun jawabannya bisa diduga: MBULET lha yauw😦

    —————–
    hahah paling bisa kita itu dalam menjawab mbulet kalau gak yaa bersayap.. istilah ini benar sekali sering didengar dari para pengamat politik yang cuma bisa ngamati juga… heheh tq.

  9. 25 Mei, 2007 pukul 7:46 am

    Hmn… Hmn… Kejujuran dalam berpolitik boleh diburuksangkakan (mungkin). Mengapa Pak Amien bergerak sendirian tanpa ada beking di belakangnya? Tentunya ada alasan tersendiri.
    Apa gerakan Pak Amien ini sekadar cari popularitas? Entah…

    —————–
    sama2 entah juga. Tapi memang kata pengamat, disebutkan cara Pak Itu masuk kategori, High class politick thingking… (bener ga nulisnya)

  10. 26 Mei, 2007 pukul 9:14 pm

    Masa sih Om Kurt, Pak Amien Rais berkata jujur untuk menaikan pamor PAN?
    “Pak Amin sendiri mengklaim bahwa dana DKP yang dipimpin Rokhmin Dahuri itu diberikan juga kepada partai-paritai lain. Jadi bukan melulu PAN saja. Pak Amin pun mengaku bahwa pernyaataan jujurnya itu sebagai upaya untuk menaikkan pamor dan perolehan suara PAN pada pemilu 2009 nanti. Aneh ya kok ujung-ujungnya begitu sih Pak.”

    ———–
    bener kang Jufri, itu data omongan didapat dari KORAN SINDO aku lupa tanggalnya… makanya karena aneh ku jadikan tulisan bos…

  11. Mr. Fulus
    27 Mei, 2007 pukul 12:22 pm

    hehehehe…. dimana-mana ada fuluuuuuuuuuuuuuus

    ————–
    ahaa Mr. Fulus langsung nyambung deh kalau ada kata fulussss… kata2 fulus di Google cuma 42,600 tapi Duit ada 2,760,000… kata. pantesan kang fulus bikin account fulus biar memperkaya google yaa.. hehehe cande kang

  12. 23 Agustus, 2007 pukul 11:55 pm

    jgn asal ngomentarin org pak..

    kalo ujung2nya cuma mo mamerin partai anda.pdhl, knyataannya lbh busuk!

  13. 24 Agustus, 2007 pukul 9:53 am

    buntet

  14. 24 Agustus, 2007 pukul 10:06 am

    alaaah.. santri buntet ini sok kritis aja sih. sudah terbukti hanya pak amien rais yang berani jujur (media indonesia 16 mei 2007, satjipto rahardjo di kompas 18 mei 2007, detikcom 16-30 mei 2007 yang isinya statement dari rokhmin dahuri yang salut dengan kejujuran pak amien sampai dengan denny indrayana, saldi isra, fahmi badoh ICW yang bersyukur karena indonesia masih punya pak amien. dan tidak ada koran sindo yang menyebut kalau pak amien ngomong “jujur demi pamor pan”) tapi masih saja santri buntut ini menggelar fitnah murahan a la pki. kalau mau nulis ya yang jujur dong si santri buntet ini. contohlah kejujuran pak amien. pake data. jangan asal nyebut koran sindo tapi terus ngelak lupa tanggal. kalau itu mah orang ndeso katrok asal tegal yang gak pernah sekolah juga bisa waton muni. dasar mulut busuk loe santri buntut!

    pake nyebut pks segala. pks bersih emang? partai yang isinya cari duit pakai topeng islam. demi ‘islam’ pula anggota dpr-nya pada nyimpen istri banyak (tulisan ttg buku poligami pks di jawapos 30 juli 2007). benar benar penindas perempuan karena dianggap bisa dikawini asal disumpel duit. lihat aja anggota-anggota dpr nya pks pada seneng kawin setelah duduk di dpr. kayak gitu kok masih mau nyebut islam. islam yang menjijikkan!

    tobatlah santri buntut!

  15. alkohol dua botol
    24 Agustus, 2007 pukul 10:11 am

    betul pak basiyo! anda lebih meyakinkan dibanding santri buntut yang ternyata bicara tanpa data, nylekop waton muni, ngecap tanpa rasa, ngeblog tanpa etika, bicara modal otak dengkul. itulah santri buntut. sedih rasanya setiap kepala bangsa indonesia isinya kayak isi otak santri buntut ini. merasa populer dan kritis atas dasar kebohongan, dusta dan fitnah! blah!

  16. 24 Agustus, 2007 pukul 11:22 am

    basiyo

    alaaah.. santri buntet ini sok kritis aja sih.
    (namanya juga lagi blajar bos, saya bukan apa2 tanpa tendensi apapun. hanya menuliskan ulang oPINI SINDO, tapi lupa tanggal) saya mengakui tulisan ini memang tidak bertanggung jawab.

    sudah terbukti hanya pak amien rais yang berani jujur (media indonesia 16 mei 2007, satjipto rahardjo di kompas 18 mei 2007, detikcom 16-30 mei 2007 yang isinya statement dari rokhmin dahuri yang salut dengan kejujuran pak amien sampai dengan denny indrayana, saldi isra, fahmi badoh ICW yang bersyukur karena indonesia masih punya pak amien. dan tidak ada koran sindo yang menyebut kalau pak amien ngomong “jujur demi pamor pan”)

    ==> saya percaya hanya pak amin itu jujur. Semua koran menulis begitu, saya sangat mendukung kejujuran Pak Amin. Hanya saja, kok SINDO pernah menulis di OPINI tentang itu. saya dapatkan dari koran langganan jadi bukan online. Makanya ini jadi menarik, untuk catatan pribadi loh. Nah ketika ditanya tanggal, aku tak ingat, berarti kabar dari saya Dhoif (lemah). Jangan dipercaya alias gak usah dipusingkan. Nyebut PKS itu hanya satire bos. aku non partisan, non blok.

    tapi masih saja santri buntut ini menggelar fitnah murahan a la pki.
    ==> ya sekali lagi maaf bos, kalau ini tidak berkenan, anggap saja artikel ini tidak ada.

    kalau mau nulis ya yang jujur dong si santri buntet ini. contohlah kejujuran pak amien. pake data. jangan asal nyebut koran sindo tapi terus ngelak lupa tanggal. kalau itu mah orang ndeso katrok asal tegal yang gak pernah sekolah juga bisa waton muni. dasar mulut busuk loe santri buntut!

    ==>buntut-buntutnya, saya memang baru “bisa nulis” baru2 ini saja. Saya punya guru (bintang dari timur) yang tidak merasa digurui dari Yogya, tetangganya Pak Amin. Dialah yang banyak menginspirasikanku. sudah gitu, banyak inspirasi dari gaya Tukul Arwana yang orang ndeso itu. Jadi maklumlah kelas saya adalah kelas katronya Tukul, bukan kelasnya Pak Amin Rais, karenanya jika saya menulis nulis tanpa data, ya karena ke-katroannya itu. Jadi mohon dimaklum. se-x lagi please forgive me..

    pake nyebut pks segala. pks bersih emang? partai yang isinya cari duit pakai topeng islam. demi ‘islam’ pula anggota dpr-nya pada nyimpen istri banyak (tulisan ttg buku poligami pks di jawapos 30 juli 2007). benar benar penindas perempuan karena dianggap bisa dikawini asal disumpel duit. lihat aja anggota-anggota dpr nya pks pada seneng kawin setelah duduk di dpr. kayak gitu kok masih mau nyebut islam. islam yang menjijikkan!

    ==> sebenarnya nulis PKS itu karena fenomenal saja. Orang secerdas Anda tahu itu adalah satire dari saya. Saya orang bebas, tanpa ada ikatan partai… saya mengikuti pendirian Imam Hanafi seolah2 dia bilang: “audzubillahi minassiyasah” (saya berlindung kepada ALlah dari politik). Jika PKS begitu, hmm sereeem!!

    tobatlah santri buntut!
    ===> Ya Allah saya bertaubat… berilah kebaikan buat si pengingat saya ini. semoga dia tetap semangat mengingatiku… ku rasakan bayangnya, kurasakan bahasanya, kurasakan getaran kata2nya.

    alkohol dua botol
    ===> duuh sewotnya, alkohol dua botol ini. Oooh jadi data itu superpenting ya, dan kesalahanku tak menuliskan data OPINI dari SINDO itu. Aku jadi baru tahu. btw, thanks anyway. lain kali guntingan koran itu mesti diklikping dan kalau perlu di scan..

    Duuh dapet banyak nih ilmu dari Pak basyio dan dari sang arjuna 2 botol alkohol.

  17. jagoan
    4 November, 2007 pukul 3:32 pm

    Good🙂

    Kejujuran dan keikhlasan gak bisa dipraktekkan oleh anak TK Bosss
    😀 jagoan
    hahah anak TK maunya diajak dolanan tah?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: