Beranda > Celotehan, Kultur > Untung Ses(a)at

Untung Ses(a)at

untung.gif

SEORANG Ibu ‘ngedumel’ terus ketika menimbang berat buah mangga yang dibelinya dari pasar Kebayoran Lama tidak sesuai berat sesungguhnya. Timbangan di rumahnya jelas menunjukkan kurang dari 1/4 kilo dari berat satu kilo seharusnya. Berarti si tukang buah mengurangi timbangan sebanyak 25 ons. Wadau! Fenomena ini klasik tapi menarik sebab konon, terkait dengan hukum grafitasi yang sesat-menyesatkan.

Tentu saja keuntungan yang diperoleh si tukang buah itu berlipat ganda. Pertama ia peroleh keuntungan dari selisih beli dan jual sesuai standar dari grosir. Ditambah keuntungan kedua, ia peroleh dari mengurangi neraca bikinan. Begitulah sering ditemui pada pedagang di Pasar Kebayoran Lama, karena itu hati-hatilah berbelanja di sana. Mungkin pasar-pasar lain tidak. Sebab saya tidak pernah menemuinya.

Fenomena mengurangi timbangan diperkirakan karena ingin memperoleh keuntungan yang sesaat. Faktor psikologis memegang peranan penting. Misalnya, karena persaingan antara pasar besar dan pasar tradisional. Ditambah mereka yang selalu berdagang di trotoar jalanan di pinggir jalan, kerap menjadi sasaran penggusuran. Tapi kebisaan ini ada juga yang memang sudah menjadi kebiasaan hidupnya: mengurangi timbangan. Pada yang terakhir ini tidak bisa diharapkan untuk berubah kecuali ia sendiri mau merubahnya. Sebagaimana Tuhan pun berfirman seperti itu, kaum yang ingin maju, maka mulailah dari diri sendiri nanti Tuhan akan mengiringi.

Komunitas penimbang fiktif di kebayoran diprediksi semakin marak. Tidak ada yang pedulikan itu. Namun karena kebiasaan itu terus berlanjut, maka ibu tadi yang merasa ditipu, mulai mencari pedangan yang lain atau pindah ke pasar swalayan. Namun aneh, ada seorang Ibu yang tidak mempermasalahkan pengurangan timbangan ini. Dalam hatinya ia membeli bukan satu kilo standar international namun satu kilo versi pedagang itu. Jadi mau kurang seberapapun tidak masalah, asal tawar-menawar lebih dahulu. Sebab biasanya, para penimbang fiktif ini, harganya lebih murah ketimbang pedangan yang jujur.

Prof. Dr. Nurkholis Madjid, pernah menulis, atau ceramah. Dua-duanya saya tidak ingat jeh. Tapi yang teringat kata-katanya. Orang yang mengurangi timbangan kenapa mendapat dosa besar, adalah karena dia melawan hukum alam. Bayangkan berat satu kilogram itu berarti dia melawan hukum grafitasi yang pusatnya di dasar bumi. Hukum ini telah dibuat standar internasional, sebagaimana satuan meter. Satuan berat rumusnya didapat dari keliling bumi dan penjumlahan gravitasinya. (kalau salah mohon dibetulkan, sekalian rumus berat). Maka pantas saja, jika coba-coba mengurangi satu gram saja, berarti merusak hukum alam. Dan ini berarti gravitasi yang telah dibuat oleh Tuhan menjadi kacau balau di tangan manusia.

Rupanya, para penimbang fiktif ini baik di Pasar Kebaoran Lama dan para penimbang angka-angka akuntansi di pelayanan publik dan negara boleh jadi penyumbang terbesar dari geramnya alam Indonesia karena hukum kausalitasnya diganggu. Jadi jangan tersinggung dong jika alam banyak protes. Sebab mereka mengejar keuntungan sesaat lalu sesat. Wallahu a’alm.

Iklan
Kategori:Celotehan, Kultur
  1. 28 Mei, 2007 pukul 4:15 pm

    wih … tinjauan yg mengena …
    ———–
    mengena? terima kasih.. eh tapi bukan seperti lempar batu mengenai kepala mu kan hehehe… 😀

  2. 28 Mei, 2007 pukul 9:23 pm

    Kalau ditotal sudah berapa kuintal tuh penipuan berat ini…
    Benar2 gak bisa komentar…
    Lha mereka saja nyuri timbangan gitu kok masih ada saja yg teriak2 ttg korupsi,…
    Jangan2 yg teriak keras2 ttg korupsi itu yg gak kebagian jatah korupsi ya? Coba kalau kebagian jatah maka dijamin diam saja..
    Uppsss… Astaghfirulloh kok jadi suudzon gini

    —————-
    Kang Deking aku pengen tahu rumus mencari massa yang satuannya newton itu bagaimana sih… dan benarkah standar berat itu ada seperti juga standar meter.. ( upss kok saya tidak koment for koment seh )

  3. 28 Mei, 2007 pukul 11:01 pm

    Selain hukum gravitasi hukum apalagi yang disalahgunakan mas Kurt?
    Mengurangi timbangan artinya kan sama saja dengan berbohong…

    ————–
    yup benar… sayangnya, kita pun sangat berpotensi untuk itu … makanya postingan ini pengingatku … 🙂

  4. Dee
    29 Mei, 2007 pukul 1:13 pm

    memberikan barang atau jasa yang tidak sesuai kualitasnya dengan yang seharusnya juga masuk ngurangi timbangan gak mas kurt? mark up harga, masuk kategori ngurangi timbangan juga nggak?
    —————-
    itulahmasalah kita …… masih banyak disekitar jauh dari kita dekat dengan kita dan ada pada diri kita… eh saya ding.. 🙂

  5. aLe
    29 Mei, 2007 pukul 9:26 pm

    memang repot… bgmn ya sebaiknya memberi pelajaran moral bangsa kita tercinta ini dengan baik dan benar..

    —————–
    naah itu dia aku mau tanya sama aLe.. bikin tulisan yaa biar aku baca bagaimana jawaban dari masalah di sini.. heheh kok nyuruh seh… 🙂

  6. 29 Mei, 2007 pukul 10:39 pm

    Saya sering bertemu manusia yang ber”alhamdulillah”, sambil mengurangi takaran….. juga rajin bersedekah…. bingung… kenapa bisa begini ya…

  7. 30 Mei, 2007 pukul 4:42 am

    Begitulah sering ditemui pada pedagang di Pasar Kebayoran Lama, karena itu hati-hatilah berbelanja di sana. Mungkin pasar-pasar lain tidak

    Mungkin “tidak ada bedanya” dalam jenis dan bentuk lain 😦

  8. 30 Mei, 2007 pukul 2:50 pm

    hem sederhana aja sich kalo timbangan ngak boleh dikurangi, tapi pedagang kan di beri kebebasan untuk menentukan harga
    *lama ngak mampir nich banyak ketinggalan*

  9. 30 Mei, 2007 pukul 5:09 pm

    @agorsilaku
    berarti suatu hil yang tak mustahal ya, faseh kalimat suci, tapi tak faseh ke aplikasi… duhhh ini kadang menimpa saya..

    @cakmoki
    hmmm… dalam jenis dan bentuk lain pastinya yaa… duuuh sayang sekali … 🙂

    @kangguru
    betul…. sekali hanya istilah satu kilo buat ‘pedagang curang’ itu mesti distandarkan lagia… heheeh bukan standar internasional

  10. 31 Mei, 2007 pukul 12:21 am

    kenapa tanah kita sering kedatangan bencana, ??? karena kita tak pernah berhenti mengundangnya……

  11. 31 Mei, 2007 pukul 4:02 am

    “Kalo ditimbang timbang maka pak hakim putuskan saudara bersalah”… namanya timbangan memang gampang di akal-akalin… tapi itu kalo di Ilmu gak pasti…. sedangkan kalo di ilmu pasti kita mencurangi timbangan bisa-bisa merusak formula yang akhirnya gak dapat nilai A+ lagi. Tetapi baik di Ilmu pasti ataupun di Ilmu todak pasti … mencurangi timbangan pasti menimbulkan bencana

  12. 31 Mei, 2007 pukul 9:45 am

    Melawan hukum alam, sebuah argumen yang tepat.
    Argumen yang bisa dijdikan bahan debat para ilmuwan nih, nggak terbatas masalah moral, sosial, sama religi saja, soalnya berkaitan dengan ilmu gravitasi.

  13. 31 Mei, 2007 pukul 10:01 am

    Kalau sudah yang begini, kok ga ada keluar perintah jihad melawan kecurangan timbangan yang pak??

    Bingung…

  14. 31 Mei, 2007 pukul 3:14 pm

    @ ndarualqaz
    kenapa saya heran sama Anda, karena Anda bisa aja…

    @yunita berkata,
    Makin jelas saja… ternyata ilmu pasti n ilmu tak pasti ada korelasi yang g beres ternyata.. tq…

    @Master Li
    Itulah yang menjadi menarik argumen Cak Nur… jangan2 semua dosa sebenarnya dalah kembali kepada lingkungan bukan kepada Tuhan saja…
    btw… avatar mas Gunawan “Jet” Lee makin keren aja…

    manusiasuper
    Jihad melawan timbangan… stuju banget mari kita perangi tuh…

  15. 31 Mei, 2007 pukul 3:21 pm

    @ ndarualqaz
    kenapa saya heran sama Anda, karena Anda bisa aja…

    @yunita berkata,
    Makin jelas saja… ternyata ilmu pasti n ilmu tak pasti ada korelasi yang g beres ternyata.. tq…

    @Master Li
    Itulah yang menjadi menarik argumen Cak Nur… jangan2 semua dosa sebenarnya dalah kembali kepada lingkungan bukan kepada Tuhan saja…
    btw… avatar mas Gunawan “Jet” Lee makin keren aja…

    manusiasuper
    Jihad melawan timbangan… stuju banget mari kita perangi tuh…

  16. onoda
    31 Mei, 2007 pukul 3:40 pm

    “mungkin tuhan mulai bosan melihat tingkat kita yang selalu bangga dengan dosa-dosa,mungkin alam mulai enggan bersahabat dengan kita,cobalah kita tanya pada diri kita masing-masing…”hehehe…
    tulisan yang bagus kang,terima kasih atas waktunya kemarin mampir ke rumah..

    ————-
    hu hu huhuuuu huhuhuhhh ou ouooo ououou… aku jadi inget guru SD ku yang mengajari lagu2 Kang Ebiet…
    iyaa menarik rumahnya bayangkan aja, sambel kang niron harganya sampe 350 juta… hehehe 🙂

  17. 31 Mei, 2007 pukul 4:10 pm

    Waduh…. di dunia saya rasanya juga banyak yang beginian…, ngurangin pasir, ngurangin semen…., Yang itu kan juga termasuk ngurangin timbangan khan, Pak?? **Blethak.., dilempar sandal, karena pura-pura oon**

    —————
    bletak juga… sandalnya mental ke aku Pak Dosen… 😀

  18. 1 Juni, 2007 pukul 5:19 pm

    newton itu kg.m/s.s
    berarti itu satuan apa yah?
    berat kali yah?

    kalo kilogram itu satuan massa bukan yah?

    ga cuman di kebayoran kaya’ gt nyah
    di jogja juga ada…
    tapi biarin lah…
    yg penting qta slamet sndr…

    hehe… 😀 egois ah

  19. 1 Juni, 2007 pukul 8:44 pm

    @superkecil
    nnyelamatin sendiri itu sangat penting, agar jangan sampai ditembak sama yang punya bedil kaya di Alas Tlogo, Pasuruan… dan bisa juga niru pak Sutiyoso, kabur menyelamatkan diri dari Polisi Ausie… 🙂

  20. kus
    2 Juni, 2007 pukul 6:32 am

    Prof …. bla bla bla melawan hukum alam.

    ah Nurcholis memang orang Islam yang gak doyan Qur’an , sebenarnya yang lebih tepat hukum Islam

    see: source

  21. awi
    2 Juni, 2007 pukul 6:48 pm

    mengurangi timbangan itu dosa besar, salah satu bentuk korupsi. ih kesel banget kalo beli buah ternyata timbangannya dikurangi.

  22. 3 Juni, 2007 pukul 10:38 am

    @kus
    Cak Nur gak doyan qur’an? sebenarnya saya saja yang tidak mencantumkanya. waktu itu buru2 sekali postingan ini. Kalau diselingi ayat, hampir semua ayat di quran berkaitan dengan masalah itu… bahkan ada ayat khusus ttg. menimbang seperti di sini. dan itu Cak Nur kalau tidak salah mengutipnya. Menarik komentarnya, tapi mana nih blognya?

  1. 18 September, 2008 pukul 11:34 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: