Beranda > Celotehan, Dunia Pesantren, Kultur > Pancasila dan Barongsai di Pesantren

Pancasila dan Barongsai di Pesantren

Tanggal 1 Juni kemarin, diperingati hari lahirnya pancasila. Bersamaan pula, hari Waisak bagi umat Budha tahun 2551. Pancasila tak ubahnya sebagai sebuah ideologi negara yang mempersatukan berbagai muliti: multi etnis, multi kultur, multi bahasa, multi agama dan segala multi nafsu. Masing-masing kemultian itu berusaha hadir menjadi dominan. Utamanya adalah agama. Namun hebatnya, yang paling getol memperjuangkan pancasila itu justru lahir, setahu saya, dari para ulama NU. Mereka bukannya getol memperjuangkan agar syariat Islam menjadi paku bumi di Indonesia. Tapi loh kok, aneh, mereka justru seolah-olah menyembunyikan syariat di ruang publik?

Konon, dalam pandangan agama yang lebih mendalam, kebaikan itu sebaiknya disembunyikan. Misalnya, orang bersedekah antara terang-terangan dan sembunyi sama-sama berpahala, namun pahala sedekah sembunyi lebih bagus. Karena itu, para pejuang kyai biasanya tidak ada dalam catatan sejarah anak-anak SD. Padahal saksi sejarah yang berjuang hebat mengusir penjajah, dominasi para kyai itu sangat kentara. Dasar kyai, setelah berjuang mereka tidak mencatat apapun. Selesai berperang, pulang ke kandang lalu mengajar kembali di setiap gelanggang santri.

Begitupula dalam masalah pancasila. Ungkapan para kyai jelas sekali dan istiqomah. Dari dulu, Nadhlatul Ulama jelas sikapnya tidak nyleneh menyikapi pancasila sebagai dasar negara. Bentuk Negaranyapun memilih negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini sudah menjadi keputusan final. “Pintu perdebatan terhadap permasalahan itu sudah ditutup rapat.” Kata Prof. Dr. Aqil Siradj saat Maulid kemarin di Jakarta. Alasan beliau dalam piagam madinah sejumlah 47 butirpun, tak berkeinginan membentuk negara Islam. Mirip dengan Indonesia, Madinah zaman dahulu pun multi kultur. Yahudi dan Kristen diikat dalam perjanjian yang mengikat bersama untuk hidup secara bersama-sama.

Maka tidak aneh saat saya jadi santri di Buntet Pesantren, kebiasaan upacara bendera itu merupakan aktivas yang paling mengasikkan. Satu hal yang menarik adalah dikumpulkan semua santri yang sekolah formal itu di sebuah lapangan besar. Dengan berbaris rapih kita dibagi dalam kelas masing-masing. Saat itulah kita bisa mengintip santri-santri putri yang berkerudung satu-satu bisa diplototi. Mereka yang cantik dan setengah cantik tampak jelas dibalik kerudungnya yang putih. Duuh nuansa itu amat segarnya bisa diingat.

Upacara hari Senin bagi sekolah formal adalah hari di minggu pertama. Sedangkan kami libur pada hari Jum’at. Seperti biasa diawali oleh pembacaan teks pancasila dan pembukaan UUD 45. Saat itu semua petugas harus hafal diluar kepala. Hampir semua santri hafal itu semua. Sehingga ada perasaan cinta kebangsaan itu terpompa dengan sendirinya.

Kesetiaan untuk bergaul bersama komunitas multi etnis pun dunia pesantren jelas ditunjukkan di ruang publik. Dan itu berlaku cukup lama. Di Cirebon kehidupan antar agama dan etnis begitu damai. Kepeloporan pesantren memegang peranan besar. Misalnya dalam moment setiap haul di Buntet Pesantren, yang dihadiri ribuan santri dan tamu, tidak lepas diramaikan oleh barongsai dari Vihara Kota Cirebon. Seakan para santri di pesantren diajarkan oleh para kyai, agar menghormati perbedaan dalam sebuah kenyataan berbangsa dan bernegara. Bahkan pergaulan antar agama bukan saja dalam wacana melainkan dalam berbagai bentuk sentuhan budayanya. Itu terjadi cukup lama di pesantren Buntet dan mungkin pesantren lainnya.

Santri Kota

Komunitas santri kota berbeda lagi. Mereka hanya mengikuti pengajian pada masa-masa libur. Anggotanya adalah para pekerja dan juga para pelajar SLTP dan SLTA atau Kuliahan. Pondok pesantrennya di mana-mana bisa: di rumah anggota, di masjid, di langgar, di kantoran dan sebagainya. Pokoknya asal jangan di WC saja. Para kyai nya diambil pula yang lulusan luar negeri terutama dari Timur Tengah. Bahasa Arabnya Fasih, hafal alqur’an dan hadits juga hafal. Bukankah itu sangat mumpuni dalam membentuk ajaran agama untuk para santri kota itu?

Sayangnya menurut saya hanya satu: mereka tidak ada ucapacara bendera. Juga gurunya pun tidak pernah ikut upacara bendera. Di sana di Arab saudi mana ada upacara. Karena itu, wajah lah kalau ada diantara pesantren kota itu mengajarkan berbagai sentimen ajaran dan ideologi pancarasila. Mulailah berceramah dengan menggoyang kyai-kyai pesantren itu dianggap keblinger. Masa pancasila dianggap sebagai ajaran? Masa menghormat kok kepada bendera? Menghormat itu kan sama Allah saja. Inikan musyrik. Nah loh! Pengajian pun makin panas. Sehingga ada saj ayang menyimpulkan sendiri para santrinya itu. Jadi kyai-kyai itu sebagai musyrikin. Bukankah para musryikin itu akan masuk naroka! Makin panas lagi, para kyai santri dadakan itu pun mengungkapkan dalil-dalil penguat bahwa pancasila itu tidak adal dalam qur’an maupun hadits. Pun dilontarkan dengan bahasa yang fasih.

Kontan saja para jamaah (santri kota) yang baru belajar agama itu sangat percaya sekali. Apalagi mereka tidak pernah tahu kehidupan pesantren. Bahkan para mahsiswa yang ber IPK 3 ke atas pun boleh jadi tidak bisa berpikir kritis kalau masalah agama. Mungkin takut mengkritik Al Qur’an dan hadits. Jadilah mereka itu sebagai penurut pada guru-gurunya. Persis seperti para santri pesantren yang tidak bisa protes pada kyai kalau berbicara. Bedanya kyai pesantren membolehkan mengikuti upacara bendera tapi kyai kota itu tidak bahkan ada yang ‘mengharamkan’… Itu saja bedanya.

  1. 2 Juni, 2007 pukul 7:41 pm

    *tepuk tangan*
    Untuk masalah yang diam-diam atau sembunyi-sembunyi itu, bukankah ada filsafah di dunia persilatan Nusantara bahwa seorang pendekar tidak boleh memamerkan ilmunya? Hehehee….

  2. 3 Juni, 2007 pukul 2:30 am

    hmm … kyai kota itu salah satu fenomena “Islam dadakan” itu ya mas ??? …

  3. 3 Juni, 2007 pukul 11:31 am

    @Master Li
    *tepuk tangan*
    disambut dengan tepuk tangan pula… biar jadi lagu tepuk tangan.. ingat dulu waktu kecil bermusk dengan tepuk tangan.. heheh

    jurig
    Ssstt… jangan berisik itu cuma opini saya… jangan tersinggung ya neng! dadakan itu cuma istilah.. maksudnya, saya mendukung upaya mendadak dari para guru2 yang kini banyak bertebaran majlis ta;lim di berbagai lini kehidupan…🙂

  4. 4 Juni, 2007 pukul 6:22 pm

    Pak, kalau semua upacara hanya berhenti sebatas pada seremonial belaka sepertinya sungguh menyedihkan
    Upacara yang banyak dilakukan/diselenggarakan di negara kita sepertinya hanya sebatas suatu seremonial belaka yang dibungkus suatu hafalan atau refleks… (upacara= pembacaan teks Pancasila, Pembukaan UUD ’45 dan pengibaran bendera)
    Sepertinya sedikit sekali (atau malahan tidak ada?) yang berusaha memahami esensi upacara tsb…upacara bukan sekedar hafalan kan?
    Kita seharusnya mengenang perjuangan para pendahulu kita dalam meraih kemerdekaan…kita seharusnya menyadari betapa sulit dan beratnya kemerdekaan negara ini diraih..
    Dengan kesadaran tsb ada beban yg lebih besar lagi, yaitu kita harus sadar juga bagaimana seharusnya kita meneruskan perjuangan para pendahulu kita

  5. 5 Juni, 2007 pukul 9:51 pm

    Ini sarkasme halus, tapi mengena. Cara jawanya,”Menang tanpa ngasorake”. Dan bukankah kekerasan tak perlu dilawan dengan kekerasan pula? Kata Pak Kyai Hasyim Muzadi.

    Saya punya pengalaman di sini, juga pernah didatangi “para beliau” itu. Apalagi saya juga berjenggot, meski “kruwis-kruwis” (tapi kalo dolan ke Singapur, khawatir juga, jadi terpaksa dirapikan pendek…hehehe). Ya, namanya tamu, “beliau” saya layani dengan baik. Beliau-beliau cerita kalau pernah melakukan tabligh di banyak negara, Indonesiapun pernah sampai Papua juga. Lalu saya tawari, mbok sekali-kali ke desa saya. Di sana ada dua pesantren (kecil, tak seperti pesantren Buntet), ada madrasah Diniyah sampai Aliyah, mungkin dengan begitu tabligh akan meriah karena ada dialog yang bagus. Saya katakan, masa kecil sayapun saya habiskan di desa saya, di lingkungan NO (maklum, orang desa tak bisa bilang NU).

    Dari dialog perkenalan itu, mungkin “para beliau” sudah bisa menebak “tampang” saya tak laku di kelompoknya. Jadi setelah pamitan, sampai sekarang tak pernah datang lagi.

    Pesan moralnya: Yang berjenggot (seperti saya), belum tentu garis keras lho… Masalahnya, begitu dicukur… besoknya malah tumbuh tambah lebat… hehehe😀

  6. raihanaazzahra
    10 Juli, 2007 pukul 2:34 pm

    Santri kota2………..kl saya santri kota apa santri “desa”ya….?
    Kyai saya juga membolehkan upacara bendera.
    seringkali memang orang menjustifikasi salah dan haram, buruk dan jelek suatu perkara tanpa tahu yang “sebenarnya”. Salah dan benar menurut saya sangat sulit ditentukan oleh manusia.

  7. irfan irawan
    20 Agustus, 2007 pukul 4:25 pm

    ya gitu deh kadang kadang orang itu dibikin susah sendiri.kayawong gendeng,ada lagi budaya orang lain kok di bawa ke pondok gt lho.kan masih banyak kebudayaan islam yang lain yg perlu dikembangkan,bukan …. lagian hati hati zaman ini lagi ngetren kaya gitu penghamburan jati diri…..jadi ayolah kita mulimin harus kembali ke jalan Allah yang lurus….ok…,ni sli orang cirebon lho dr pondok pesantren Al Muhibbin kel.Pasalakan’

  8. dodi
    23 Agustus, 2007 pukul 12:40 am

    pancasila dan kyai-kyai khususnya yang berbintang sembilan (kalah banyak dengan bintangnya jendral besar soeharto) dengan pandangan keagamaan yang keindonesiaan bukan yang kearab-araban. ntah karena ingin cari aman atau selamat agar tidak kena petrusnya pak harto, yang jelas ini sebuah konsensus tanpa kesepakatan oleh seluruh kyai dengan background kehijau-hijauan. sebab keinklusifan pemahaman keagamaan para kyai tidak diraguka lagi.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: