Beranda > Keajaiban, Pendapat > Alternatif Donor Darah…

Alternatif Donor Darah…

Donor Darah ... mengalir ke segala arahKEMARIN diperingati sebagai  hari donor darah Internasional. Hampir semua lembaga meresponnya. Tidak kurang dari ribuan manusia rela melenggangkan unsur kehidupan itu (darah) mengaliri selang-selang bening jadi mereh, lalu ditampung di kotak plastik. Dari sini darah dikumpulkan oleh PMI (Palang Merah Indonesia). Kemudian dirawat, diawetkan menunggu siapa saja yang butuh. Sayangnya, darah-darah ini kemudian bukan disumbangkan semuanya, tetapi dijual kembali ke pada para pasien yang kaya raya. Sehingga siapa saja yang butuh darah di rumah sakit mesti membeli… Padahal awalnya gratis tapi malah dijual. Tapi yaa memang begitulah standar internasionalnya. Adakah cara lain dari donor darah itu?

Tips ini sekedar memberi alternatif gaya donor darah model lain  biar langsung mengenai sasaran. Biar jangan darah kita tanpa sia-sia dan tidak di sia-siakan. Tips ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Dari orang yang berdarah biru, hitam, putih maupun darah asli: merah. Bahkan orang kurus kering yang darahnya diragukanpun bisa. Atau bagi yang mau donor darah tapi ditolak oleh petugas kedokteran yang mau mengambil darah kita karena lemah misalnya.

Satu lagi yang penting tips donor darah ala saya ini bisa dilakukan oleh orang yang “dimusuhi” masyarakat. Misalnya penderita AIDS dan pecandu narkoba. Hanya bagi yang tidak punya darah saja yang tidak bisa mengikuti program ini. Karena dia bukan pendonor tapi “teror” kematian…. kaya wajah film kita itu.

Donor darah yang saya maksud adalah donor darah bahan sembako. Bukan darah betulan. Caranya gampang saja: berikan uang sejumlah tertentu seharga sembako untuk bahan darah. Bisa indomie, beras, gula dll. Saya yakin donor darah bahan darah seperti ini lebih mengenai sasaran dan to the point untuk memenuhi darah bagi mereka yang kekurangan darah hakiki. Sebab kekurangan darah yang diakibatkan oleh kurang gizi berimbas pada orang lain: anak-anak keturunannya, generasi Indonesia. Sementara para penikmat darah dari PMI biasanya orang2 yang gizinya lebih… (dari cukup).

yaa itu saja program donor darahnya… siapa tertarik, silahkan jalankan sendiri tak perlu woro-woro kasihkan saja di depan rumah orang-orang yang kekurangan giizi itu. Atau mau undang wartawan biar ngeliput sumbangan Anda pun boleh saja.. yang penting bahan darah itu bisa sampai kepada mereka yang benar2 kekuarangan darah. Wajah mereka benar2 sudah pucat pasi. Bukan karena malu, tapi hasil pemeriksaan benar2 kurang darah. Tanyakan saja sama pak dan bu dokter kalau gak percaya. Pucat pasinya juga bukan karena menghadapi orang-orang kaya, tapi pucat pasi memikirkan denyut darahnya yang makin tak berdarah…

gambar dicolong dari sini

Kategori:Keajaiban, Pendapat
  1. 17 Juni, 2007 pukul 7:46 am

    Waduh… mas Kurt ini ada-ada saja. Tapi, bener juga yah. Daripada buang-buang darah (percuma?) alias donor darah yang nantinya kemungkinan besar cuma bisa dinikmati yang berduit, mendingan ngedonor bahan pembentuk darah (sembako). Jadinya, PMI ga repot-repot nyediain telur + makanan bergizi + pin emas segala bagi para pendonor. Lebih simple, and praktis.

    Wajah orang-orang yang kurang darah itu, selain pucat pasi juga matanya kuyu, muka lemes and memelas, kurang bergairah, vitalitas rendah (waduh ngomong apaan sih saya ini…).

  2. awi
    17 Juni, 2007 pukul 10:51 pm

    hahahaha oke juga sarannya, donor sembako untuk bahan darah memang lebih penting, karena mereka lebih membutuhkan dan memang benar2 membutuhkan, kalo nggak dapet donor bahan darah ini, mereka mungkin nggak punya darah lagi.

  3. 18 Juni, 2007 pukul 12:00 pm

    Salam kenal…
    Donor darah dan donor sembaku, adalah nilai-nilai kemanusiaan…..

  4. 18 Juni, 2007 pukul 12:51 pm

    hehehe 🙂
    *cuma numpang nyengir aja kang… boleh kan… ?*

  5. 18 Juni, 2007 pukul 5:12 pm

    nampaknya perlu dipikirkan mekanisme pembiayaan baru untuk pemeliharaan darah

  6. 19 Juni, 2007 pukul 3:20 pm

    zakat memang g musti lebaran aja kli ya om…hehehe

  7. 19 Juni, 2007 pukul 8:32 pm

    banyak jalan menuju donor darah,yah? nggakhanya harus nyumbang darahnya aja – postingan yang bagus nih!…

    Seneng udh bisa mampir kesini, salam hangat dari afrika barat…

  8. 19 Juni, 2007 pukul 8:57 pm

    <b>mathematicse </b>
    “Waduh… mas Kurt ini ada-ada saja. ”
    Soalnya Pak Jupri, saya mau mendonor darah, malah ditolak. Sebab malam sebelumnya saya tidak tidur. Jadi darahnya lemah waktu mau disedot…. waaah, ya wis enakan donor bahan daarah saja.. praktis ekonomis sedikit berkumis…
    <b>awi </b>
    selain gampang, gak perlu panggil dokter lagi.. soalnya dokternya biar nulis aja di blog tuh, kaya Bu Evi sama CakMoki heheh

    Cahaya Islam
    Salam kenal… juga …

    elpalimbani
    Nyengir di terima dengan neyengir lagi 🙂

    kangguru
    setuju………. 🙂
    senja
    Jeng menurut saya bagus nya justru habis lebaran:
    lebaran dari kerja, lebaran ngliput, bar terima gaji, bar ngeblog heheh 🙂

    kampret nyasar!
    Siap Pak! salut sama bapak yang bisa mmbagi pengalaman jadi PeaceKeepingForce… Siap Pak!

  9. 19 Juni, 2007 pukul 10:08 pm

    donor komen nih kang !

    wah tak kirain ada saran tentang donor darah model baru kang

  10. 20 Juni, 2007 pukul 2:20 pm

    Ngomong2.. aku belum pernah donor darah sekali pun nieh 😦

  11. 20 Juni, 2007 pukul 9:39 pm

    peyek,/b>
    hahaha… yaa udah aku tunggu DD model barunya kang peyek yang selalu nyruput kopi… iiih jadi ngiler pengen ngopi…

    chielicious
    waaah ngomong2mu itu sama looh. seklinya mau donor darah waktu itu, ditolak… karena darah lemah katanya.. duuuh selalu saja orang lemah ga ditrima kecuali ama lemah (tanah). makasih neng mampir…

  12. 21 Juni, 2007 pukul 2:44 pm
  13. syam
    19 Agustus, 2007 pukul 2:03 am

    Busyeeet, seumur-umur saya belum pernah donor darah. Habis pasti ditolak lantaran proporsi berat badan tidak seimbang dengan tinggi. hehehe, langsung nulis badan kerempeng saja harus berbelit. Susah, kan?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: