Beranda > Celotehan, Keajaiban, Kultur > Anakku, Anakmu Anak kita Semua

Anakku, Anakmu Anak kita Semua

Kemarin diperingati Hari Anak Sedunia, 23 Juli 2007. Anak secara biologis membawa segi turunan dari kita. Anak baik, tentu diturunkan dari gen baik, anak “bego” tentu ada sisi “kebegoan” resesif menurun ke sana.  Disamping anak biologis ada pula anak-anak ideologis yang diturunkan oleh kita …

Anak biolgis tentu bermaksud menurunkan segala gen yang ada di diri. Dunia dicipta utuk direbuti oleh anak-anak turunan kita atau juga oleh para tetua kita. Rebutan pengaruh, rebutan kekayaan atau rebutan popularitas. Namun banyak pula anak-anak kita atau tetua kita yang tidak mendapat porsi banyak, namun juga tidak mau rebutan. “Saya tetap enjoy meskipun anak saya ada 9” kata Kang Jamul teman penulis yang usianya baru 40 tahun.

Bayangkan 9 anaknya itu sehat-sehat semuanya, masuk dalam kategori anak “cerdas” dengan nilai sekolah yang lumayan. Padahal, makannya konon, kalau sedang tidak beruntung pada hari itu, ia hanya cukup dengan gorengan tempe dan nasi. Kadang menurut cerita, pernah suatu ketika, makan dengan “garam bawang” saja lalu nasinya di kepel-kepel. Disamping itu anak-anaknya juga mandiri. Mereka bisa mencuri piring sendiri, mengurus keperluan sekolah sendiri. Ada 5 anaknya sekolah.

Mereka adalah anak-anak biologis dari orangtuanya. Banyak yang serba berekcukupan, ada pula yang serba berkekurangan. Namun tidak jarang dari keluarga yang serba kecukupan, anak-nakanya manja bin bawel. Sementara kasus anak teman saya tidak! Mereka rata-rata mandiri dan cekatan, menerima apa adanya, tidak bawel pada orang tuanya. Mereka pun belajar dengan tekun.

Sementara bagaimana dengan anak-anak ideologis. Mereka adalah anak-anak didik kita. Tepatnya jika seorang guru, ia memiliki anak ideologis yang banyak. Bagaimana tanggung jawab menurunkan gen-gen ideologis bagi mereka merupakan hal yang akan dipertanggungjawabkan. Maksudnya, tanggung jawab bagaimana mereka mampu menerapkan ideologi yang telah diajarkan mereka sehingga mampu bisa menghadapi alam yang kini, tengah gerah, panas, dan binal.

Begitu pula profesi yang lainnya, ada yang memiilki anak-anak ideologis. Anak-anak ideologis itu, bisa mendengar, melihat dan dan mungkin meraba-raba kita: ide, visi, misi dll. Sebab kita bisa jadi bos besar atau bos kecil di sebuah kantor atau kantor-kantoran. Sebagai orang tua ideologis tentu tidak ingin semua “anak buah” kita, akan melenceng ideologisnya. Maksudnya melenceng adalah membawa kerusakan di bumi kini dan bumi masa depan.

Jadi, anakku, anakmu secara biologis berbeda bahkan antara adik-kakanya. Begitupula anak kita semua baik murid, atau anak buah juga akan berbeda ideologi yang kita berikan pada mereka, namun ada perekat yang bisa membawa kebersamaan dalam perbedaan: menyadari keragaman, mencintai kedamaian. wallahu a’lam

  1. 24 Juli, 2007 pukul 3:39 pm

    Dimasa mendatang, mendidik anak semakin sulit. Karena sumber informasi, sumber belajar dan sumber teladan tidak semata2 dari orang tua atau guru. Mereka banyak belajar dari media masa baik cetak (koran, majalah dll) maupun elektronik (televisi, radio). Belum lagi internet, komunikasi (HP & SMS) dan gaya hidup bebas seperti narkoba, sex bebas dan segala macam.

    Semakin hari, semakin berat dan canggih. Oleh karena itu, sebagai orang tua (baik anak biologis, anak ideologis dll) harus tidak kalah canggih dengan kemajuan jaman. Semoga keprihatinan ini tidak menjadi kita konservatif tapi juga tidak menjadi vulgar.

  2. 24 Juli, 2007 pukul 3:57 pm

    Tetapi sepertinya yang lebih berperan untuk ke depan adalah faktor ideologi tsb ya Pak. Apalagi kalau lingkungannya tidak steril maka akan semakin repot tuch

  3. Nayz
    24 Juli, 2007 pukul 5:02 pm

    saya masih anak2.

  4. 24 Juli, 2007 pukul 6:48 pm

    bikin dongeng dong om!

  5. 25 Juli, 2007 pukul 4:20 am

    Mendidik anak (kandung maupun ideologis) tak mudah. Butuh ketulusan dan kemampuan (punya kompetensi).

    Duh sebenernya saya bingung gemana ya mendidik itu mr Kurt?

  6. 25 Juli, 2007 pukul 1:37 pm

    duh mendidik memang berat, saya masih banyak mal praktek dalam mendidik…
    ampuni aku ya Allah

  7. 25 Juli, 2007 pukul 4:20 pm

    erander
    betul bos… tq semoga…. 🙂

    deKing
    Yes sir!… orang tua ideologis ternyata mampu mengalahkan orang tua biologis semata.

    Nayz
    Ya benar ini bahasan 90 th ke bawah… heheh 🙂 gimana dek, gamenya rame tak?

    k’baca
    bikin dongeng, boleh, tapi ajarin yaa…. sebb kamu pinter ndongeng 🙂

    mathematicse
    Yaa semoga Al Jupri bisa menjelaskannya…. how to do it better (bener gak nulisnya?)

    kangguru
    😆 hahah… emang mendidik ada mal praktek yaa pak guru?

  8. 25 Juli, 2007 pukul 11:54 pm

    Mendidik “anak buah” di institusi yang sudah terkena wabah “gila uang” dianggap aneh pak.
    Saya punya pengalaman menarik, mendidik “anak buah” di dua tempat berbeda dalam kurun waktu bersamaan. Dengan methode dan pendekatan yang sama, hasilnya berbeda 180%. Rupanya faktor lingkungan punya pengaruh besar.
    Duhhh repotnya …

  9. 26 Juli, 2007 pukul 3:35 pm

    kasian amat anak anak. kecil kecil dah dicekokin ideologi .. 😀

  10. 26 Juli, 2007 pukul 5:08 pm

    cakmoki
    Memang repot ya pak, apalagi kalau prefesional harus repot-repot bikin report. memang begitu ya pak…

    papabonbon
    iya sih kalau Ideologi yang diajarkannya marxisme, liberalisme dan isme-isme. tapi kalau disuruh jujur, disuruh rajin belajar… boleh juga gak nih bos… ?

  11. 7 Agustus, 2007 pukul 7:41 pm

    ngasih makan anak dg menu 4 sehat 5 sempurna ato cuman nasi ama garem ato cuma singkong doang, itu bukan inti masalah nya Kang
    kalo menurut saya yg faqir ini, tergantung dari mana makanan itu berasal?
    hasil kerja halal kah? atau hasil dari yg bukan haq nya?
    itu yg penting

    *kata saya lho…*

  12. 7 Agustus, 2007 pukul 10:29 pm

    novee
    Makanan halal/haram kadang tipis yaa mengetahuainya. Namun tidak sedikit orang yang mampu mendeteksinya.. Duuh semoga saya pun pandai memilah, memilih dan memolahnya ya Neng… 😉

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: