Beranda > Ibadah, Modernisasi > Administrasi Dunia dan Akherat(1)

Administrasi Dunia dan Akherat(1)

Masih ingatkah film lama “The Net”. Gara-gara administrasi dihapus oleh orang jahat yang ada pada pusat data dalam hardisk mainframe (server besar), maka seorang wanita (kalau tidak salah diperankan oleh Cindy Crawford) hidupnya hampir tiada arti. Karena ia tidak bisa pergi kemanapun. Sebab semua sistem pembayaran atau apapun terkoneksi dengan server besar. Dengan dihapus datanya, otomatis tidak bisa menggunakan jasa publik seperti belanja, bepergian dll. Sebab saat membayar, ia tak memperoleh akses apapun karena tak dikenal. Itulah satire ala Hollywood tentang kehidupan modern yang tidak bisa hidup jika tak mengandalkan administrasi.

Saat meninggalkan rumah untuk pergi ke mana-mana seringkali diteriaki “Sudah bawa KTP, SIM, STNK belum?” kata mantan pacarku mengingatkan kalau hendak pergi. Sebab administrasi begitu penting bagi orang yang berurusan dengan Bank, Asuransi, pajak atau jasa publik lainnya.

Deminikan pula, sebuah administrasi merupakan prioritas pertama yang mesti disiapkan bagi orang yang bepergian ke luar negeri: Pasport, visa, fiskal, sejumlah uang dll. Tetapi jarang kita memperhatikan administrasi untuk meninggalkan dunia. Padahal jika direnungi, ke luar negeri saja administrasi merupakan prioritas, apalagi bagi yang hendak pergi ke dunia lain (the day after) semestinya lebih diprioritaskan. Padahal meskipun tidak setiap orang mampu terbang ke luar negeri, tapi bermigrasi ke luar dunia sesuatu yang pasti terjadi. Karena itu mestilah memiliki kelengkapan administrasi untuk kelancaran migrasi. Apa sajakah administrasi untuk bepergian ke dunia lai (the day after/akherat) itu?

Administrasi diri
Jika KTP dunia ada no kode yang hanya dimengerti oleh komputer, maka administrasi versi Tuhan pasti lebih canggih dan juga memiliki kode tertentu yang berbeda pada tiap individu. Contoh yang lahir adalah sidik jari. Antara jari si sidik dengan jari penyidik pasti berbeda pola. Begitupula gen baawaan yang tersimpul dalam jaringan kromosom (DNA), konon, setiap manusia membawa sifat bawaan (keturunan) baik yang dominan maupun resesif dari orang tuanya. “…sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.” (Ali Imran: 195). “… dan Kami (Allah) tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, …. (Al Hajj: 5).

Sebagaimana juga di dalam KTP tertulis alamat, maka setiap diri manusia pun ada “alamat” yang tidak akan sama meskipun dalam satu rumah, satu keturunan bahkan satu kembar identik. Dalam pengetahuan modern ada DNA (faktor turunan) dan sidik jari merupakan identitas diri yang tidak mungkin bisa tertukar dengan yang lainnya. Manusia keturunan Nabi Adam as, pasti berbeda antara sidik jari dengan DNAnya. Pendeknya, “KTP” pribadi sudah dibuat oleh Tuhan dengan sendirinya tanpa diurus, dan sudah jadi dengan sendirinya.

Administrasi Kolektif
Saat menjadi sebuah pegawai kita mengenal ada ID Card atau kartu anggota. Misalnya, NIP untuk pegawai negeri, NIM untuk mahasiswa, NRP untuk angkatan bersenjata dan kepolisian, Press Card untuk jurnalist. Begitu pula komunitas karyawan perusahaan tertentu dibuatkan tanda pengenal berupa ID Card. Semua ini tentu diamksudkan sebagai bagian dari pengadministrasian. Jadi, sesutu yang mutlak sebab memudahkan dan menjadi rapih dalam pengaturannya.

Demikian pula dalam bidang keagamaan. Administrasi kolektif ini bisa ditemui dengan berbagai macam golongan. Dalam Al Qur’an kita mengenal ungkapan Muttakin, Mukmin, Muslim, Munafik, kafir, fasik dll. Kesemuanya itu ada registrasinya. Puluhan ayat bisa di search dalam Al Qur’an dan hadits. Semuanya tercetak dan terpola “nomor registrasinya” pada hati, pikiran dan perbuatan sehari-hari. Seperti ID Card tercetak pula pada selembar kertas/plastik. Sebagaimana administrasi keduniaan, kadang kita pindah perusahaan atau kepegawaian, maka dengan otomatis, ID cardnya pun berubah.

Begitupula dalam urusan administrasi ucapan dan perbuatan, kita pun kadang bisa bermigrasi. Misalnya Muttaqin, munafik, muslim, mukmin atau kafir. Kita bisa berpindah dari satu ke yang lain, tanpa mengurus admistrasinya. Sebab malaikat Rakib dan Atid merupakan asisten yang akan senantiasa mengadministrasi segala ucapan (dan tulisan kita). ” Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18). Di samping ucapan, malaikatpun mengadministrasikan perbuatan-perbuatan manusia. “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Infithaar: 10-12)

Dalam istilah agama, jika orang yang bertobat lalu istiqomah menjalankan registrasi (ciri) golongan (komuniti) lain, maka kita masuk dalam golongannya. Barangkali, inilah yang tersebut dalam sebuah ungkapan: “Man tasyabbaha biqoumin fahua minum” Siapa yang berprilaku meniru suatu tingkah laku “komunity” lain, maka ia masuk di dalamnya. (maaf kata2 dikutipan ini diabaikan sementara, sebab masih dalam proses pencarian mana sumbernya apakah hadits (doif, soheh atau palsu…🙂 )

Malaikat saja sebagai petugas administrasi mengetahui ucapan dan perbuata kita, Allah apalagi. Ia mengetahui apa-apa yang ada di hati (Al Hadid:6), pikiran dan perbuatan. “Dia mengetahui apa yang diusahakan oleh setiap diri,… “(Ar Ra’d : 42)

Rekayasa Administrasi
Konon, jika di dunia ada istilah rekayasa administrasi misalnya merubah umur, alamat atau tanda tangan, maka dalam kehidupan akherat takkan bisa mengelak. Karena disamping malaikat sebagai saksi administrasi, segala anggota badan seperti kulit, tangan dan kaki pun bisa menjadi “saksi administrasi”. “pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (An Nuur: 24) atau dalam ayat lain: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Yasin:65)

Akhirnya, administrasi merupakan sebuah sunnatullah (hal yang alami), maka tidak ada beda antara administrasi dunia dan akherat dalam hal penatalaksanaanya. Namun adminisrasi akherat lebih canggih, dan sempurna karena tidak bisa dibohongi. Sehinggalah sebaik-baik manusia adalah orang yang tertib (jujur) secara administrasi baik di dunia maupun di akherat. Wallahu a’lam.

Kategori:Ibadah, Modernisasi
  1. 6 Agustus, 2007 pukul 1:08 pm

    artikel sih boleh biasa2 aja..
    yg penting niatnya ibadah.. insya Allah dapat pahala..

    saya bukan ahli..
    dan menurut saya membaca artikel ini tidak membuang2 waktu..
    🙂

    tetep semanget menulis dan beramal..
    insyaAllah..

    ———-
    iya mas terima kasih…

  2. 6 Agustus, 2007 pukul 4:46 pm

    bukan cindy crawford tapi sandra bullock

    . ah kaki jadi nginjek2 ubin saking senengnya atas koreksianmu… tengkyu Jeng

  3. 6 Agustus, 2007 pukul 8:39 pm

    bukan sandra bullock atau cindy crawford, tapi heti koes endang ? 🙂
    saya pernah liat filmnya. si cw tsb dibuat susah banget ama sistim begituan.
    rekayasa administrasi, tentu saja cumen berlaku di dunia.
    di Akherat ? begitu meninggal, sudah tertera di KTP akheratnya, golongan, serta tujuan akhirnya. hehehe…
    sebuah posting pencerahan yg ngademin, membuat berpikir ttg perbedaan identitas di Dunia dan Akherat.

    manggut-manggut… sambil ngelus2 jenggot. ingat kebiasaan pamanku

  4. 6 Agustus, 2007 pukul 11:02 pm

    mulai sekarang saya juga mo tertib administrasi ah…

    aku ikutan ah antri dibelakang mbak…

  5. 7 Agustus, 2007 pukul 10:13 am

    aku pernah denger tuh film tapi gak pernah nonton, jadi ceritanya seperti itu ya, susah juga kalo gitu, tapi kalo seandainya ada niat jahat, dia bisa berbuat jahat tanpa di ketahui orang

    benar orang hanya melihat sisi lahir sedangkan sisi batin perlu metateknologi…

  6. 7 Agustus, 2007 pukul 4:57 pm

    Tertin emang selalu menjadi syarat dalam setiap ibdah ya
    lho idup ini kan ibadah jadi ya kudu tertib

    bertanya dan jawab cuku satu orang… beres deh

  7. 7 Agustus, 2007 pukul 7:07 pm

    ya ampyun… aku malah ga hobi nonton apalagi di bioskop.
    soalnya gelap, aku jadi sering ketiduran jd ga tau cerita nya heheee

    kalo baca postingan ini jadi inget lagu nya alm. Chrisye…
    …akan tiba hari mulut dikunci
    kata tak ada lagi
    akan tiba masa tak ada suara dari mulut kita…

    *cari sendiri kaset nya ya, tp jgn minjem apalagi beli yg bajakan*

    pinjem aja deh … kan kalau lupa diikhlasin jadi berpahala… Neng

  8. 8 Agustus, 2007 pukul 1:49 am

    Maaf Pak Santri, agak OOT nih. Maap yaa… (*sebelum ditimpukin warga kampung gara-gara OOT, saya minta maap duluan, hehe*)

    The Net memang menyinggung mengenai sistem administrasi yang memang banyak sekali faktor bocornya. Setahu saya, kasus seperti The Net tidak pernah ditemukan. Karena ada undang-undang publik yang mengatur mengenai hal tersebut.

    Sayangnya undang-undang terhadap bocor dan rusaknya pengamanan informasi pribadi di Indonesia belum ada. Jadi katanya, banyak sekali scam dan spam karena bocornya hal tersebut. Rekayasa administrasi di RI (dan katanya di Philipine juga) mengakibatkan banyak sekali teroris yang tidak bisa berbahasa Indonesia, tapi memiliki paspor RI. Mereka melakukan kejahatan membawa nama agama dengan seenak jidatnya, lalu kalo ditangkep, nunjukin KTP/paspor RI.

    Pak, saya pikir orang-orang itu (teroris), sudah rekayasa administrasi dunia dan akhirat. Mau gampang masuk surga, nyogok pake C4. Emangnya Allah pegawai kelurahan tukang korupsi lulusan institut penyiksaan dalam negeri? Maen sogok sembarangan.

    Hehehe… bener kan..! OOT. Hehehe. Maap Pak Santri.

    benar2 komentar seorang OOT = orang-orang tjerdas!🙂 tq

  9. 8 Agustus, 2007 pukul 1:32 pm

    Hmm… karenanya orang bisa punya banyak ID dinegeri ini

    contohnya : http://www.peyek.copy.id …🙂

  10. 9 Agustus, 2007 pukul 1:30 am

    Waduh Pak Kurt, saya belum pernah lihat tuh film.😀

    Mengenai administrasi dunia, saya sih sebenernya suka ribet (suka ga praktis) karena banyak yang ga bener…, makanya seringkali males kalau ngedenger kata ‘administrasi” Kata “administrasi” saat ini sudah diselewengkan menjadi “biaya = uang”, dll. Contohnya, pas bikin surat keterangan kerja, “mas administrasinya,” kata oknum petugas. Padahal surat itu harusnya gratis…(ada-ada saja).

    Terus mengenai administrasi akhirat, itu sangat canggih, sangat simpel, sangat sederhana. Kita tak perlu ribet-ribet lagi….

    Btw, benar juga, karena ini masalh keadministrasian, makanya administrasi “akhirat” pun perlu dipersiapkan.

    Ya udah segitu saja komentarnya…😀

    satu lagi komentar matematikawan yang menarik, mengajarkan tentang simplisisme layaknya matematika jelas cleas, gak beribet ya bang –

  11. 9 Agustus, 2007 pukul 2:01 pm

    setuju… setuju….

  12. 9 Agustus, 2007 pukul 11:44 pm

    Jika KTP dunia ada no kode yang hanya dimengerti oleh komputer, maka administrasi versi Tuhan pasti lebih canggih dan juga memiliki kode tertentu yang berbeda pada tiap individu. Contoh yang lahir adalah sidik jari. Antara jari si sidik dengan jari penyidik pasti berbeda pola.

    Tentang bagian Administrasi Diri sepertinya lebih menekankan pada maslah fisik ya Mr?
    *************
    Menurut saya ke-serba otomatis-an administrasi akherat malahan melenakan manusia. Karena TERLIHAT dan TERASA tdk ada pengawasan secara ketat maka manusia seringkali melalaikan kalau sebenarnya ada administrasi akherat.
    *****
    BTW nice article…berangkat dr film.
    Saya suka tulisan2 yg berangkat dr sesuatu yg kelihatannya sepele dan terlewatkan lalu dicari kaitan dengan pemaknaan kehidupan.
    Terima kasih atas pencerahannya Pak😀

  13. miv
    10 Agustus, 2007 pukul 9:14 am

    ehm…ijo royo royo mas.met kenal

    kalo tertib administrasi, enak hidup enak mati. halahhh
    (kayak dah ngerasoni mati aja yah )

  14. 11 Agustus, 2007 pukul 8:07 pm

    yg pasti dalam administrasi akhirat, tidak akan ada data yang tertukar…😀 jadi inget cerita orang meninggal minta dikafanin pake kafan tua yg lusuh u/ mengelabui malaikat munkar nankir, biar dikira udah mati lama😛

  15. 12 Agustus, 2007 pukul 10:43 am

    kepala TU nya pak rokib sama pak atid ya?🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: