Beranda > Dunia Pesantren, Kultur > Khilafah; emang mau niru Katolik?

Khilafah; emang mau niru Katolik?

Perhelatan akbar ”Konferensi Khilafah Internasional” yang digelar oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang berlangsung di Senayan (12/8) kemarin mengundang banyak kalangan berkomentar. Termasuk kyai saya di Buntet. Jawabnya ”emang mau niru katolik?”

Maaf bagi warga Katholik, ungkapan itu bukan berarti mendiskreditkan, hanya sebagai sampel kepemimpinan.

Wajar sekali jika para ulama di NU menolak wacana khilafah. Sebab disamping tidak mau melanggar sabda Nabi saw: ”khilafatu ummati tsalatsuna sanatan” khilafah itu berlangsung 30 tahun yang telah dipimpin oleh Khulafaurrasyidin dan sudah selesai. Selebihnya kemudian adalah system kerajaan.

Para ulama rupanya tidak mau menyaingi para khulafaurrasyidin. Sebab kekuasaan Khalfiah meliputi dunia dan akhirat. Sebab mereka terjaga dalam keagamaanya.

Di Indonesia sendiri kita bisa melihat contoh sejarah. Sebuah organisasi bernama “Persis” (Persatuan Islam) dulunya berdiri karena merasa “capek deeh” melihat NU – Muhammadiyah “berantem” terus masalah qunut, tahlil dll. Lalu muncullah organsiasi ini yang salah satu maksudnya adalah bagaimana persatuan umat Islam di Indonesia itu terwujud. Tapi ternyata, NU tetap ada; Muhammadiyah pun hingga kin tetap.

Dasar Mendukung Pemerintah

Salah satu alasan para kyai mengapa sangat mendukung pemerintah sekalipun pemerintah itu jelek, korup, kapitalis dan segudang sebutan oleh para pengkritik. Sebab mengikuti sabda Rasulullah saw: ”Assultonul jaairu khoirum minal fitnah” Pemerintah yang jelek, ”nakal”, ”korupsi” itu (dianggap) lebih baik dari pada fitnah.

Konteknya, dari sabda Rosul tersebut bahwa bahaya dari sebuah fitnah (adu domba, mengkafirkan, menyebut thagut pihak lain, menuduh antek Yahudi, membid’ahkan dan menjelek-jelekkan komunitas lain) berdampak luas sekali. Karenanya masih lebih baik dari pemerintah yang jair. Sebab bukankah fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Al fitnatu Asyaddu minal qotl.

Sementara itu yang namanya jair suatu kejahatan yang sifatnya lokal. Perbandingan antara bahaya jair dengan fitnah bisa digambarkan sebagai berikut:

Para pemabuk minuman, tukang judi malam-malam keluyuran itu masuk pada katogori jair. Kejatahannya bersifat lokal. Namun jika berceramah di depan 100 ribu penonton kemudian men-thagutkan pemerintah, menuduh komunitas lain sebagai kafir bukankah itu merupakan ftinah yang didengar langsung oleh 100 ribu penonton, kemudian bisa jadi fitnah itu menyebar barang cetakan: buku, pamflet, selebaran dan brosur.

Kyai di Pesantren akan setia mengakui Ulil Amri. Bahkan kebijakannya cenderung dituruti. Maksudnya di situ mengakui pemerintah resmi. Sebuah contoh, KH. Maemoen Zubeir, (Mbah Maimun), sering bicara pada santrinya, ketika ditanya tanggal 1 ramadan dan lebaran, beliau selalu bilang: ”gimana pemerintah”, bagaimana puasa, ”terserah pemerintah”. Di Buntet Pesantren sendiri semisal almarhum KH. Nu’man Zen suatu ketika ditanya oleh warganya, ”Kyai bagaimana dengan pemilu?” dijawab: ”Anang ambekan bae ana itungane jeh, apamaning pemilu yaa wajib. (bernafas saja ada hitungan kebaikannya, apalagi pemilu, karnanya wajib ikut).

Akhirnya, jika khilafah kemudian ditetapkan karena menganggap system dan metode yang diterapkan oleh pemerintah itu dianggap tidak bagus (jelek/jair), tentu akan berlawanan dengan penetapan nabi: ”pemerintah yang jair lebih baik dari pada fitnah”. Karena itu wajar sekali jika kyai-kyai NU itu pasti mengerti politik dan tidak gegabah dalam bertindak. Alih-alih untuk menegakkan khalifah, akhirnya justru hanya meniru sistem ”khilafah” the other. Sebab bukankah dalam Islam sudah tidak berlaku namanya khalifah itu. Jadi, kalau di Islam sudah tidak ada, emang mau niru katolik? Wallahu a’lam (MK)

  1. 24 Agustus, 2007 pukul 4:47 pm

    Wah menarik nih mas Kurt. Sanggahan yang tajam….

    Iya ya, kelemen yah wakeh wong sing nganggep kyai-kyai (khususe sing ana ning kampung) iku ora weruh apa-apa. Wong “kota”, sing melu-melu oragnisasi semisal HTI, nganggep deweke sing bener. Padahal emebene weruh semit doang, ngomonge wis akeh, khalifah lah, khilafah lah, kaya wis weruh bener bae.wong sing nganggep. (Maaf Mr. Kurt, ngenggo bahasa Jawa, Banten, Cilegon). Terus maaf, boten ngenggo bahasa alus (maklum, rada bandel sih kula niki).😀

  2. 24 Agustus, 2007 pukul 4:51 pm

    Oh iya mr Kurt, saya juga pernah diskusi sama mahasiswa Belanda (teman satu flat), mereke menanyakan, umat Islam sekarang kan katanya tidak ada pucuk pimpinan di dunianya, lalu bagaimana mereka memutuskan segala perkara dengan terkait umat?

    Saya jawab saja, kita umat Islam punya pedoman, yaitu Al Qur’an dan Hadist (yang terjaga kebenarannya), jadi para ulama itu berijtihad berdasar kan kedua hal itu. (akhirnya diskusinya hanagt deh…).

    Duh jadi engga enak, bertukar bahasa (Indonesia and jawa)…

  3. 26 Agustus, 2007 pukul 3:47 pm

    apakah khilafah bertentangan dengan nash al quran dan sunnah? kok sisi itu tidak dibahas? bukankah pegangan kita umat islam adalah al quran dan sunnah? bukan yang lain…

  4. 26 Agustus, 2007 pukul 10:15 pm

    Wah wah ini cukup sensitif … pertanyaannya apakah sejarah mundur ke belakang … sementara kehidupan ke depan … apakah tidak lebih bijak mencari model baru tetapi berdasarkan nilai dasar Islam. Sekalipun demikian, jangan pula memcela kawan-kawan yang mau menghidupkan khilafah.

  5. 29 Agustus, 2007 pukul 3:21 pm

    mathematicse
    betul kang Jupri, kita semua tunduk kepada dua kepemimpinan Al Qur’an dan Hadits… Kemudian sebagai pribadipun juga sebagai pemimpin masing-masing akan ditanyai kepemimpinannya…

    Memimpin sendiri begitu susahnya, tanggungjawab dunia akherat, bagaimana jika memimpin seluruh Umat Manusia. Hanya para Khulafaurrasyidin yang mampu memimpin dunia akheat. Sekarang ulama satu berpendapat saja yang lain tidak setuju… jadi ikhtilafu ummati rakhmah….

    Ersis Warmansyah Abbas
    Wah suatu kehormatan gu(ruku) datang kemari dan mengoreksi tulisan… Makasih banyak Pak Dosen atas sentilannya. maklum pak wong ndeso, bisanya cuma gregetan, tapi tak bisa menganalisa lebih tajam….🙂 maafkan aku yaa pak…

  6. 29 Agustus, 2007 pukul 3:23 pm

    Farid Ma’ruf
    silahkan Pak Farid lihat artikel tentang Khilafah, 30 tahun.. atau membuka tafsir Surat Annur 55… makasih

  7. sigit budi
    31 Agustus, 2007 pukul 9:37 pm

    assalamu’alaikum
    saudaraku.kekhilafahan itu bukanlah hal yang dilarang, karena umat tidak mungkin tanpa pemimpin.hanya saja menurut ahlussunnah wal jama’ah kekhilafahan/kekuasaan bukanlah tujuan dakwah islam melainkan sebuah karunia/hadiah yang Alloh berikan kepada hamba-hambanya yang mampu menegakkan tauhid utamanya tauhid ubudiah(penghambaan kepada Alloh semata) dan berittiba’ kepada Rasululloh.Dan Indonesia adalah negara Islam dan Islam mengharamkan umat memberontak/membangkang kepada penguasanya walau penguasanya zalim kecuali sampai ada bukti yang sangat nyata bahwa penguasanya kafir.wallohu’alam

  8. sigit budi
    31 Agustus, 2007 pukul 9:40 pm

    maaf out of topik
    Minggu, 4 Februari 2007 10:54:52 WIB

    Halaman ke-1 dari 2

    KEUTAMAAN ISLAM DAN KEINDAHANNYA[1]

    Oleh
    Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
    Bagian Pertama dari Dua Tulisan 1/2

    Islam adalah agama yang memiliki banyak keutamaan yang agung dan membuahkan hal-hal yang terpuji dan hasil-hasil yang mulia. Di antara keutamaan dan keindahan Islam adalah:

    [1]. Islam menghapus seluruh dosa dan kesalahan bagi orang kafir yang masuk Islam.

    Dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla.

    “Artinya : Katakanlah kepada orang-orang kafir itu, (Abu Sufyan dan kawan-kawannya) ‘Jika mereka berhenti (dari kekafiran-nya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu; dan jika mereka kembali lagi (memerangi Nabi), sungguh akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang terdahulu (dibinasakan).” [Al-Anfaal: 38]

    Shahabat ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan kisahnya ketika masuk Islam, beliau Radhiyallahu ‘anhu berkata:

    “Artinya : … Ketika Allah menjadikan Islam dalam hatiku, aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan aku berkata, ‘Bentangkanlah tanganmu, aku akan berbai’at kepadamu.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammembentangkan tangan kanannya. Dia (‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu) berkata, ‘Maka aku tahan tanganku (tidak menjabat tangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Ada apa wahai ‘Amr?’ Dia berkata, ‘Aku ingin me-minta syarat!’ Maka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah syaratmu?’ Maka aku berkata, ‘Agar aku diampuni.’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Apakah engkau belum tahu bahwa sesungguhnya Islam itu menghapus dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya, hijrah itu menghapus dosa-dosa sebelumnya, dan haji itu menghapus dosa-dosa sebelumnya?’” [2]

    [2]. Apabila seseorang masuk Islam kemudian baik ke-Islamannya, maka ia tidak disiksa atas perbuatannya pada waktu dia masih kafir, bahkan Allah Azza wa Jalla akan melipatgandakan pahala amal-amal kebaikan yang pernah dilakukannya. Dalam sebuah hadits dinyatakan:

    “Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika baik keIslaman seseorang di antara kalian, maka setiap kebaikan yang dilakukannya akan ditulis sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Adapun keburukan yang dilakukannya akan ditulis satu kali sampai ia bertemu Allah.” [3]

    [3]. Islam tetap menghimpun amal kebaikan yang pernah dilakukan seseorang baik ketika masih kafir maupun ketika sudah Islam.

    “Artinya : Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memandang perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan sewaktu masa Jahiliyyah seperti shadaqah, membebaskan budak atau silaturahmi tetap mendapat pahala?” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau telah masuk Islam beserta semua kebaikanmu yang dahulu.” [4]

    [4]. Islam sebagai sebab terhindarnya seseorang dari siksa Neraka.

    “Artinya : Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Ada seorang anak Yahudi yang selalu membantu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia sakit. Maka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menengoknya, lalu duduk di dekat kepalanya, seraya mengatakan, ‘Masuk Islam-lah!’ Maka anak Yahudi itu melihat ke arah ayahnya yang berada di sampingnya, maka ayahnya berkata, ‘Taatilah Abul Qasim (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).’ Maka anak itu akhirnya masuk Islam. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar seraya mengatakan, ‘Segala puji hanya milik Allah yang telah menyelamatkannya dari siksa Neraka.’” [5]

    bersambung………….

  9. sigit budi
    31 Agustus, 2007 pukul 9:46 pm

    assalamu’alaikum
    ini ada artikel bagus,insya Alloh

    Selasa, 3 Juli 2007 14:00:37 WIB

    ADAKAH NASH DARI AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH YANG MENUJUKAN KEBOLEHAN BERBILANGNYA JAMA’AH DAN PARTAI

    Oleh
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

    Pertanyaan.
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah ada nash-nash dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan kebolehan berbilangnya jama’ah-jama’ah Islamiyah ?

    Jawaban
    Tidak ada di dalam Al-Qur’an dan tidak pula dalam As-Sunnah yang membolehkan berbilangnya jama’ah-jama’ah dan partai-partai. Bahkan sesungguhnya yang ada di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sesuatu yang mencela hal tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    ”Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabnya terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat” [Al-An’am : 159]

    Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    ”Artinya : Yaitu orang-orang yang memecah belah agamanya mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” [Ar-Rum : 32]

    Dan tidak diragukan lagi bahwa partai-partai ini menafikan apa yang diperintahkan Allah, bahkan (menyelisihi) apa yang dianjurkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firmanNya.

    ”Artinya : Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku” [Al-Mu’minun : 52]

    Apalagi ketika kita melihat kepada akibat-akibat perpecahan dan berpartai-partai ini, setiap partai dan setiap kelompok menuduh yang lain dengan menjelek-jelekan, mencela dan menuduh fasik, dan boleh jadi akan menuduh dengan sesuatu yang lebih besar dari itu. Oleh karena itu maka saya melihat bahwa berkelompok-kleompok ini adalah suatu kesalahan.

    Dan perkataan sebagian orang bahwa tidak mungkin berdakwah akan kuat dan tersebar kecuali jika berada di bawah sebuah partai ? Maka kami katakan : Perkataan ini tidaklah benar, bahkan dakwah itu akan semakin kuat dan tersebar jika seseorang semakin kuat berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, dan semakin ittiba (mengikuti) jejak-jejak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para Khulafa beliau yang Rasyidun.

    [Disalin dari kitab Ash-Shahwah Al-Islamiyah Dhawabith wa Taujihat, edisi Indonesia Panduan Kebangkitan Islam, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerjemah Muhammad Ihsan Zainudin, Penerbit Darul Haq]

  10. sigit budi
    31 Agustus, 2007 pukul 9:51 pm

    ini juga mungkin relevan dalam masalah ini.insya Alloh
    Selasa, 27 Maret 2007 01:44:52 WIB

    AHLUS SUNNAH TAAT KEPADA PEMIMPIN KAUM MUSLIMIN

    Oleh
    Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

    Di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajibnya taat kepada pemimpin kaum Muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat kemaksiyatan, meskipun mereka berbuat zhalim. Karena mentaati mereka termasuk dalam ketaatan kepada Allah, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wajib.

    Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

    “Artinya : Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian”[An-Nisaa : 59]

    Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Artinya : Tidak (boleh) taat (terhadap perintah) yang di dalamnya terdapat maksiyat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebajikan” [1]

    Juga sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    “Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.” [2]

    Apabila mereka memerintahkan perbuatan maksiyat, saat itulah kita dilarang untuk mentaatinya namun tetap wajib taat dalam kebenaran lainnya.

    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    “Artinya : …Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi, tetaplah mendengar dan mentaati, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak hitam…“ [3]

    Ahlus Sunnah memandang bahwa maksiat kepada seorang amir (pemimpin) yang muslim merupakan perbuatan maksiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    “Artinya : Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada amirku (yang muslim) maka ia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat kepadaku.” [4]

    Imam al-Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin Abi al-‘Izz ad-Dimasqy (terkenal dengan Ibnu Abil ‘Izz wafat th. 792 H) rahimahullah berkata: “Hukum mentaati ulil amri adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan) meskipun mereka berbuat zhalim, karena kalau keluar dari ketaatan kepada mereka akan menimbulkan kerusakan yang berlipat ganda dibanding dengan kezhaliman penguasa itu sendiri. Bahkan bersabar terhadap kezhaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan dapat melipatgandakan pahala. Karena Allah Azza wa Jalla tak akan menguasakan mereka atas diri kita melainkan disebabkan kerusakan amal perbuatan kita juga. Ganjaran itu bergantung pada amal perbuatan. Maka hendaklah kita bersungguh-sungguh memohon ampunan, bertaubat dan memperbaiki amal perbuatan.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan musibah apa saja yang menimpamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaaf-kan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan).” [Asy-Syuraa: 30]

    Allah Azza wa Jalla juga berfirman.

    “Artinya : Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan”[Al-An’aam: 129]

    Apabila rakyat ingin selamat dari kezhaliman pemimpin mereka, hendaknya mereka meninggalkan kezhaliman itu juga.” [5]

    Syaikh al-Albani rahimahulah berkata: “Penjelasan di atas sebagai jalan selamat dari kezhaliman para penguasa yang ‘warna kulit mereka sama dengan kulit kita, berbicara sama dengan lisan kita’ karena itu agar umat Islam selamat:

    [1]. Hendaklah kaum Muslimin bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
    [2]. Hendaklah mereka memperbaiki ‘aqidah mereka.
    [3]. Hendaklah mereka mendidik diri dan keluarganya di atas Islam yang benar sebagai penerapan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d: 11]

    Ada seorang da’i berkata:

    “Tegakkanlah negara Islam di dalam hatimu, niscaya akan tegak Islam di negaramu.”

    Untuk menghindarkan diri dari kezhaliman penguasa bukan dengan cara menurut sangkaan sebagian orang, yaitu dengan memberontak, mengangkat senjata ataupun dengan cara kudeta, karena yang demikian itu termasuk bid’ah dan menyalahi nash-nash syari’at yang memerintahkan untuk merubah diri kita lebih dahulu. Karena itu harus ada perbaikan kaidah dalam pembinaan, dan pasti Allah menolong hamba-Nya yang menolong agama-Nya.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : … Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Maha Perkasa”[Al-Hajj: 40] [6]

    Ahlus Sunnah wal Jama’ah menganjurkan agar menasihati ulil amri dengan cara yang baik serta mendo’akan amir yang fasiq agar diberi petunjuk untuk melaksanakan kebaikan dan istiqamah di atas kebaikan, karena baiknya mereka bermanfaat untuk ia dan rakyatnya.

    Imam al-Barbahari (wafat tahun 329 H) rahimahullah dalam kitabnya, Syarhus Sunnah berkata: “Jika engkau melihat seseorang mendo’akan keburukan kepada pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk salah satu pengikut hawa nafsu, namun jika engkau melihat seseorang mendo’akan kebaikan kepada seorang pemimpin, ketahuilah bahwa ia termasuk Ahlus Sunnah, insya Allah.”

    Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Jikalau aku mempunyai do’a yang baik yang akan dikabulkan, maka semuanya akan aku tujukan bagi para pemimpin.” Ia ditanya: “Wahai Abu ‘Ali jelaskan maksud ucapan tersebut?” Beliau berkata: “Apabila do’a itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya.”

    Kita diperintahkan untuk mendo’akan mereka dengan kebaikan bukan keburukan meskipun ia seorang pemimpin yang zhalim lagi jahat karena kezhaliman dan kejahatan akan kembali kepada diri mereka sendiri sementara apabila mereka baik, maka mereka dan seluruh kaum Muslimin akan merasakan manfaat dari do’anya.” [6]

    [Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam ASy-Safi’i, Cetakan Ketiga. PO Box 7803/JACC 13340
    __________
    Foote Note
    [1]. HR. Al-Bukhari (no. 4340, 7257), Muslim (no. 1840), Abu Dawud (no. 2625), an-Nasa’i (VII/159-160), Ahmad (I/94), dari Sahabat ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (1/351 no. 181) oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah.
    [2]. HR. Al-Bukhari (no. 2955, 7144), Muslim (no. 1839), at-Tirmidzi (no. 1707), Ibnu Majah (no. 2864), an-Nasa’i (VII/160), Ahmad (II/17, 142) dari Sahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma. Lafazh ini adalah lafazh Muslim.
    [3]. HR. Ahmad (IV/126,127, Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimi (I/44), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/205) dan al-Hakim (I/95-96), dari Sahabat ‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Lafazh ini milik al-Hakim.
    [4]. HR. Al-Bukhari (no. 7137), Muslim (no. 1835 (33)), Ibnu Majah (no. 2859) dan an-Nasa’i (VII/154), Ahmad (II/252-253, 270, 313, 511), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (X/41, no. 2450-2451), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.
    [5]. Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 543) takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin at-Turki.
    [6]. Lihat Syarhus Sunnah (no. 136), oleh Imam al-Barbahary.

    —————————————–
    oya mengenai konferensi yang diadakan oleh HizbutTahrir, kalo boleh saya nasehatkan agar tidak suuzhon dulu.bisa jadi niat mereka ikhlas namun menurut yang tampak pada saya mereka belum berittiba’ kepada Rasululloh dan masih miskin ilmu seperti saya.wallohu’alam.maka kita doakan saja semoga Alloh mengampuni kesalahan dan kebodohan kita dalam memahami agama islam ini dan menunjukkan kita jalan-Nya yang lurus.

  11. sanggardewa
    5 September, 2007 pukul 2:47 pm

    yg suka dg khilafah monggo…, yg g’ ya juga monggo…
    gitu aja ko’ repot

  12. Abu Tsaur
    7 September, 2007 pukul 1:19 pm

    Apakah Betul Khilafah Islamiyyah Hanya Berumur 30 Tahun dan Selebihnya Kerajaan?

    Sebagian kaum muslim ada yang berpendapat bahwa masa kekhilafahan hanya berumur 30 tahun dan selebihnya adalah kerajaan. Mereka mengetengahkan hadits-hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan ulama-ulama lainnya.

    Rasulullah saw bersabda, “Setelah aku, khilafah yang ada pada umatku hanya berumur 30 tahun, setelah itu adalah kerajaan.”[HR. Imam Ahmad, Tirmidziy, dan Abu Ya’la dengan isnad hasan]

    “Khilafah itu hanya berumur 30 tahun dan setelah itu adalah raja-raja, sedangkan para khalifah dan raja-raja berjumlah 12.”[HR.. Ibnu Hibban]

    “Sesungguhnya awal adari agama ini adalah nubuwwah dan rahmat, setelah itu akan tiba masa khilafah dan rahmat, setelah itu akan datang masa raja-raja dan para diktator. Keduanya akan membuat kerusakan di tengah-tengah umat. Mereka telah menghalalkan sutr, khamer, dan kefasidan. Mereka selalu mendapatkan pertolongan dalam mengerjakan hal-hal tersebu; mereka juga mendapatkan rejeki selama-selamanya, sampai menghadap kepada Allah swt.”[HR. Abu Ya’la dan Al-Bazar dengan isnad hasan]

    Hadits-hadits inilah yang dijadikan dalil bahwa masa kekhilafahan itu hanya 30 tahun dan selebihnya adalah kerajaan. Lebih dari itu, mereka juga menyatakan bahwa perjuangan menegakkan khilafah Islamiyyah hanyalah perjuangan kosong dan khayalan. Sebab, Rasulullah saw telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa masa kekhilafahan itu hanya berumur 30 tahun. Walhasil, kekhilafahan tidak mungkin berdiri meskipun diperjuangkan oleh gerakan-gerakan Islam. Kalau pun pemerintahan Islam berdiri bentuknya tidak khilafah akan tetapi kerajaan.

    Lalu, apakah benar bahwa hadits-hadits di atas dalalahnya menunjukkan bahwa umur khilafah Islamiyyah itu hanya 30 tahun dan selebihnya adalah kerajaan?

    Untuk menjawab pendapat-pendapat ini kita harus menjelaskan satu persatu maksud dari hadits-hadits di atas.

    Hadits Pertama

    Kata khilafah yang tercantum dalam hadits pertama maknanya adalah khilafah nubuwwah, bukan khilafah secara mutlak.

    Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath al-Bariy berkata, “Yang dimaksud dengan khilafah pada hadits ini adalah khilafah al-Nubuwwah (khilafah yang berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip nubuwwah), sedangkan Mu’awiyyah dan khalifah-khalifah setelahnya menjalankan pemerintahan layaknya raja-raja. Akan tetapi mereka tetap dinamakan sebagai khalifah.” Pengertian semacam ini diperkuat oleh sebuah riwayat yang dituturkan oleh Imam Abu Dawud,”Khilafah Nubuwwah itu berumur 30 tahun”[HR. Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud no.4646, 4647]

    Yang dimaksud khilafah Nubuwwah di sini adalah empat khulafaur Rasyidin; Abu Bakar, ‘Umar , ‘Utsman, dan Ali Bin Thalib. Mereka adalah para khalifah yang menjalankan roda pemerintahan seperti Rasulullah saw. Mereka tidak hanya berkedudukan sebagai penguasa, akan tetapi secara langsung benar-benar seperti Rasulullah saw dalam mengatur urusan pemerintahan. Sedangkan kebanyakan khalifah-khalifah dari dinasti Umayyah, ‘Abbasiyyah dan ‘Utsmaniyyah banyak yang tidak menjalankan roda pemerintahan seperti halnya Rasulullah saw, namun demikian mereka tetap disebut sebagai amirul mukminin atau khalifah.

    Ada diantara mereka yang dikategorikan sebagai khulafaur rasyidin, yakni Umar bin ‘Abdul ‘Aziz yang dibaiat pada bulan Shafar tahun 99 H. Diantara mereka yang menjalankan roda pemerintahan hampir-hampir dekat dengan apa yang dilakukan oleh Nabi saw, misalnya Al-Dzahir bi Amrillah yang dibaiat pada tahun 622 H. Ibnu Atsir menuturkan, “Ketika Al-Dzahir diangkat menjadi khalifah, keadilan dan kebaikan telah tampak di mana-mana seperti pada masa khalifah dua Umar (Umar bin Khaththab dan Ibnu Umar). Seandainya dikatakan, “Dirinya tidak ubahnya dengan khalifah Umar bin Abdul Aziz, maka ini adalah perkataan yang baik.”

    Para khalifah pada masa-masa berikutnya meskipun tak ubahnya seorang raja, akan tetapi mereka tetap menjalankan roda pemerintahan berdasarkan sistem pemerintahan Islam, yakni khilafah Islamiyyah. Mereka tidak pernah menggunakan sistem kerajaan, kesultanan maupun sistem lainnyan. Walaupun kaum muslim berada pada masa-masa kemunduran dan keterpurukan, namun mereka tetap menjalankan roda pemerintahan dalam koridor sistem kekhilafahan bukan dengan sistem pemerintahan yang lain. Walhasil, tidak benar jika dinyatakan bahwa umur khilafah Islamiyyah itu hanya 30 tahun. Yang benar adalah, sistem kekhilafahan tetap ditegakkan oleh penguasa-penguasa Islam hingga tahun 1924 M.

    Hadits Kedua & Ketiga

    Kata “al-muluuk”(raja-raja) dalam hadits di atas bermakna adalah,” Sebagian tingkah laku dari para khalifah itu tidak ubahnya dengan raja-raja”. Hadits di atas sama sekali tidak memberikan arti bahwa mereka adalah raja secara mutlak, akan tetapi hanya menunjukkan bahwa para khalifah itu dalam hal-hal tertentu bertingkah laku seperti seorang raja. Fakta sejarah telah menunjukkan pengertian semacam ini. Sebab, para khalifah dinasti ‘Abbasiyyah, Umayyah, dan ‘Utsmaniyyah tidak pernah berusaha menghancurkan sistem kekhilafahan, atau menggantinya dengan sistem kerajaan. Mereka tetap berpegang teguh dengan sistem kekhilafahan, meskipun sebagian perilaku mereka seperti seorang raja.

    Meskipun kebanyakan khalifah pada masa dinasti ‘Abbasiyyah, Umayyah, dan ‘Utsmaniyyah ditunjuk selagi khalifah sebelumnya masih hidup dan memerintah, akan tetapi proses pengangkatan sang khalifah tetap dilakukan dengan cara baiat oleh seluruh kaum muslim; bukan dengan putra mahkota (wilayat al-‘ahdi).

    Makna yang ditunjuk oleh frasa “dan setelah itu adalah raja-raja” adalah makna bahasa, bukan makna istilah. Dengan kata lain, arti dari frasa tersebut adalah “raja dan sultan” bukan sistem kerajaan dan kesultanan. Atas dasar itu, dalam hadits-hadits yang lain dinyatakan bahwa mereka adalah seorang penguasa (khalifah) yang memerintah kaum muslim dengan sistem khilafah. Dituturkan oleh Ibnu Hibban, “Rasulullah saw bersabda,”Setelah aku akan ada para khalifah yang berbuat sebagaimana yang mereka ketahui dan mengerjakan sesuatu yang diperintahkan kepada mereka. Setelah mereka berlalu, akan ada para khalifah yang berbuat tidak atas dasar apa yang diketahuinya dan mengerjakan sesuatu tidak atas apa yang diperintahkan kepada mereka. Siapa saja yang ingkar maka ia terbebas dari dosa, dan barangsiapa berlepas diri maka ia akan selamat. Akan tetapi, siapa saja yang ridlo dan mengikuti mereka maka ia berdosa.”

    Penjelasan di atas sudah cukup untuk menggugurkan pendapat yang menyatakan bahwa sistem khilafah Islamiyyah hanya berumur 30 tahun dan selebihnya adalah kerajaan. Hadits-hadits yang mereka ketengahkan sama sekali tidak menunjukkan makna tersebut. Sistem khilafah Islamiyyah tetap berlangsung dan terus dipertahankan di sepanjang sejarah Islam, hingga tahun 1924 M. Meskipun sebagian besar khalifah dinasti ‘Abbasiyyah, Umayyah, dan ‘Utsmaniyyah bertingkah laku tak ubahnya seorang raja, namun mereka tetap konsisten dengan sistem pemerintahan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw, yakni khilafah Islamiyyah.

    Tugas kita sekarang adalah berjuang untuk menegakkan kembali khilafah Islamiyyah sesuai dengan manhaj Rasulullah saw. Sebab, tertegaknya khilafah merupakan prasyarat bagi tersempurnanya agama Islam. Tidak ada Islam tanpa syariah, dan tidak ada syariah tanpa khilafah Islamiyyah.

  13. buntetpesantrencom
    10 September, 2007 pukul 2:24 pm

    Ayo semangat terus mengakkan Khalifah di bumi INdonesia mumpung tidak diharamkan, mumpung pemerintahnya tidak melarang … pokoke hayooo yang mau khalifah silahkan berjuang habis2an, yang tidak setuju kok pada diem saja… contoh yang semangat menegakkan Khilafah Pak Abu Tsaur… iinilah tokoh dari HTI yang patut dicontoh…. 🙂

  14. buntetpesantrencom
    10 September, 2007 pukul 2:30 pm

    Oh yaa satu lagi.. “insan yang patut dicontoh” dalam menegakkan khilafah di Indonesia dan dunia akherat yaitu Pak Sigit Budi lihatlah tulisannya baik dari copy paste maupun dari argumennya… begitu semangat begitu kompak, begitu gigih. Semoga usahanya tidak sia-sia!

    Hayo siapa lagi yang mau berkomentar!. Mumpung tidak dilarang baik oleh Allah swt maupun oleh Nabi saw apalagi oleh Presiden SBY…🙂

  15. Abu Tsaur
    11 September, 2007 pukul 8:45 am

    Saya berharap, argumen-argumen tersebut dapat memberikan pemahaman yang benar tentang islam, bukan semata adu argumen, bisa jadi ada beberapa pemahaman saya yang salah, dan saya bisa mendapatkan pemahaman baru dari pak sigit atau yang lain.

    Jadi marilah kita berargumen dengan dengan benar dan menggunakan dalil yang benar (syar’i), sehingga bisa menambah ilmu kita.

    Bagi yang menolak khilafah, silahkan ungkapkan dalil-dalilnya, bukan asal menolak.

  16. Abu Tsaur
    11 September, 2007 pukul 8:51 am

    Mohon maaf pak dari buntenpesantrencom, saya ini bukan tokoh HTI, saya hanya orang biasa, yang ilmunya juga belum seberapa, masih terus harus belajar, tapi yang jelas, saya punya keyakinan dan semangat, syariat islam adalah wajib, karenanya sata memiliki semangat juga untuk berjuang demi tegakknya syariah dan khilafah. Meski dilarang atau tidak dilarang semangat itu harus tetap membara.

  17. sigit budi
    4 November, 2007 pukul 4:32 pm

    assalamu’alaikum

    akh abu tsaur,yang saya hormati.tampaknya antum masih terkena syubhat HT.antum bagus dalam menyuguhkan dalil,namun sayang antum tidak konsisten mengikuti dalil.cobalah baca kembali apa yang saya copy paste di blog ini.

  18. mariana
    15 November, 2007 pukul 6:45 am

    ulil amri di antara kamu (kaum muslimin).siapa ulil amri diantara kaum muslimin saat ini???
    tidak ada
    toh kalau bisa disebut pemimpin, mereka bukan pemimpin kaum muslimin. pemerintah saat ini bukan pemimpin kaum muslimin. tidak menerapkan hukum Allah dan RosulNya. kalaupun menerapkan hanya separuh-separuh sama ketika mereka nawarkan ke Rosulullah tercinta untuk sebentar nyembah Allah dan sebentar nyembah patungnya kaum kafir Quraisy mekkah.
    jangan menafsirkan hadist separuh gitu dong. kalau mau jaya dan sejahtera ikuti cara nabi bagaimana gemilangnya kaum muslimin saat itu.dan cara nabi yang saya tahu yaitu dengan menerapkan hukum islam secara kaffah. dan metodenya cuman mendirikan sebuah dawlah di madinah.

  19. d34th
    23 Februari, 2008 pukul 12:45 am

    mariana co pa ce?
    ah.. duli amat dah co pa ce. endline loe cucok bok!
    cuman ane lom ngerti, bikin dawlah gimane care?

  20. 26 Februari, 2008 pukul 3:00 pm

    saya ini heran terhadap syabab HTI…? mereka tetap kekeh bahwa khilfah Islamiyah itu wajib, sedangkan dalam al_qur’an & hadits tidak pernah disebutkan secara jelas… yang ada juga wajibnya tentang mengangkat seorang pemimpin dgn melalui sistem yang diserahkan sepenuhnya kepada umat “tidak spesifik melalui khilafah”. jadi syabab hti ini ngaji tafsirnya sampai dimana.? apa semua kitab tafsir dibaca atau cuman kitab2 dari golongan mereka aja…??? sehingga menyalahkan yg tidak sependapat dgn mereka.!

  21. 24 Maret, 2008 pukul 3:41 pm

    ndak tahulah yang namanya sebuah keyakinan apalagi karena doktrin ya sulit untuk diubah, debat saja dengan temen2 HTI atau gema pembebasan, pasti ngeel terus, dan gak ada keterbukaan dialogis…adanya adalah argumentasi defensif…

  22. Jaka
    8 Mei, 2008 pukul 8:46 pm

    Dalam hal ini saya fikir jangan asal mengeluarkan komentar, baca dulu / cari literatur yang berkaitan banyak kok. Kalau tidak percaya/tidak setuju dengan literatur yang ada kenapa harus percaya atau bangga dengan pemikiran yang tanpa dasar.

    Nabi dan para sahabat adalah contoh bagaimana mengembangkan umat Islam. Kalau umat manusia tidak akan sanggup mengikuti jejak Nabi kenapa Allah mengharuskan kita mengikutinya.

    sebuah koran pernah mengeluarkan berita berjudul “4 Sekenario dunia pada tahun 2020” yang dikeluarkan oleh Sebuah badan nasional Amerika (NIC atau NIE)yang bertugas memprediksi perkembangan dunia:

    1. Munculnya Cina dan India sebagai kekuatan Tengah
    2. Tegaknya sistem Khilafah
    3. ……….. (gak ingat)
    4. Dunia tidak menentu

    Negara Amerika saja memprediksikan akan tegaknya Khilafah Islam kenapa kita pesimis.

  23. haydar
    11 Mei, 2008 pukul 9:59 pm

    kutip”
    Salah satu alasan para kyai mengapa sangat mendukung pemerintah sekalipun pemerintah itu jelek, korup, kapitalis dan segudang sebutan oleh para pengkritik. Sebab mengikuti sabda Rasulullah saw: ”Assultonul jaairu khoirum minal fitnah” Pemerintah yang jelek, ”nakal”, ”korupsi” itu (dianggap) lebih baik dari pada fitnah.

    pantesan ajah umat islam di bloon bloonin sama pemerintahan yg korup dan dzalim wong dalilnya aja kaya gini…dari ulamanya
    btw..jgn2 ini dalil keluar dari ulama2 kerajaan zamanya Muawiyah…and gank..
    he..he….tobat…tobat…buka mata bro….

  24. Athif Ahsani
    19 Mei, 2008 pukul 1:07 am

    khilafah islamiyah ?? hmm…pemimpinnya bersorban, menunggang onta, menghunus pedang dan selalu melirik curiga terhadap pengawal-pengawalnya. saya hanya ingin tetap bisa sholat dengan tenang seperti sekarang, zakat diperbolehkan, masjid dimakmurkan, dan kerukunan terpelihara.Nggak lebih..
    Silahkan rame-rame perjuangkan khilafah kawan, saya gak ikut-ikut ah.., lagian belum punya bini juga, nggak kayak sampeyan-sampeyan yang sudah beristri empat.

  25. fadyl
    30 Oktober, 2008 pukul 2:00 pm

    khilafah yesssss……

  26. fadyl
    30 Oktober, 2008 pukul 2:05 pm

    orang pinter pasti berjuang tuk khilafah……..

  27. nawa
    5 Januari, 2009 pukul 9:21 am

    okelah sistem khilafah!
    tapi gimanaya sistem itu? sejarah mengatakan abu bakar dipilih karna ada hadis yang berbunyi pemimpin hharus dari qurais, umar dipilih karna ditunjuk abu bakar, usman dipilih oleh dewan (yang anggotanya 6) ali juga? trus selanjutnya sudah pewarisan tahta. lalu kalo nanti khilafah berdiri pakek cara pemilihan yang mana?????
    saya pilih sistem yang bisa mengakomodir penerapan syari’at islam di tempat saya berpijak. gak ngurus tu khilafah, kerajaan ato bahkan demokrasi!!!
    wes sak karepe gusti Allahlah!!!!

  28. sadri
    24 Maret, 2009 pukul 6:46 pm

    ALLAHU AKBAR……………..

    sungguh artikel yang tidak hanya sekdar wacana, akan teatpi memberikan pencerahan terhadap kita apa makna khilafah itu sendiri

    komentar singkat….

    islam sebagai agama rahmatan lil alamin menngajak para pengikutnya untuk berbuat demi kejayaan bangsa dan ummat
    jadi mengenai isu-isu khilafah serta polemik yang menyertainya
    hanya akan memperparah akan sulitnya persatuan dan kesatuan
    seberapakah eksisnya seorang khilafah tanap suatu daerah wilayah kekuasaan. tak dapat dipungkiri adanya seorang khilafah menuntut pula adanya suatu teritori khusus yang berada dibawah naungan khilafah itu sendiri……..

    singkatnya berikanlah sesuatu yang bermanfaat dan dapat diwariskan kepada isla dan negara…………

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: