Beranda > Kultur, Politik, Uncategorized > Mengisrakan Kemerdekaan RI

Mengisrakan Kemerdekaan RI

Hiduplah Indonesia raya... Refleksi 62 Tahun Indonesia

Kemerdekaan Republik Indonesia telah menjadi gaung yang membahana saat apel peringatan kemerdekaan atau tepatnya di bulan Agustus. Tepat hari ini, 17 Agustus diperingati pagi-pagi mulai dari Iistana Kepresidenan hingga istana karesidenan. Seremonial Kemerdekaan RI ini sudah menjadi bagian rutinias bangsa kita. Pperingatan Isra Mi’raj pun tidaklah beda. Bulan ini pula bertepatan dengan Rajab, di tempat-tempat ibadah, di rumah maupun di majlis-majlis ulama dimana-mana tidak luput dari seremonial serupa. Kedua peringatan ini diakui sebagai olah refleksi bagi para generasi yang meyakininya.

Jika isra mi’raj diperingati sebagai sebuah “kemerdekaan” ruhani, dengan kemerdekaan itu ia telah benar-benar “memerdekakan” individu manusia dari belenggu nafsu. “Kemerdekaan” yang dimaksud adalah berupa “shalat” yang telah dihadiahkan Allah kepada Kanjeng Nabi Muhammad saw. Kemudian hadiah Allah ini pula bukan untuk diri sendiri melainkan diberikan kepada umatnya. “Kemerdekaan” yang telah diproklamirkan di sidratul Muntaha dihadapan Allah SWT, merupakan alat juang untuk mpertahankan dan merawat “kemerdekaan” selanjutnya. Sebagaimana Rasulullah saw seolah bersabda bahwa perjuangan kemerdekaan jiwa tidak akan habis-habisnya. “Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad akbar”.

Jiwa manusia dalam awal penciptaanya, telah memproklamirkan dirinya merasa “merdeka” dari segala belenggu kemusyirikan dengan mengikat pada Satu Kesatuan Ilahi. Maka dalam perjuangan berikutnya, rupanya masih tertatih-tatih. Rasa “kemerdekaan” atas proklamasi yang telah digaungkan dulu dalam banyak individu telah banyak yang melupakannya.

Namun demikian masih banyak para pejuang “kemerdekaan jiwa” yang masih melanglang buana membuat “jembatan”, membuat “jalan” memfasilitasi siratal mustaqim dan mendorong terus para prajurit jiwa itu menuju medan pertempuran dengan benar. Jadi para “pejuang jiwa” dengan sarana dan prasarana masih terdapat di mana-mana.

Ind(ONE)sia
Negara yang kita cintai telah merdeka 62 tahun yang lalu. Saat rakyat bersatu dan menyatu dalam kesatuan: kata, gerakan dan tujuan. Ia mampu menghantarkan Indoensia menju satu negara: Ind(ONE)sia. Perjuangan menuju satu kata merdeka pada akhirnya kemudian menyatukan kultur, budaya, bahasa, ideologi dan segala bentuk “kemusyrikan modern” dalam Negara Kesatuan Republik Ind(one)sia.

Sayangnya, kemerdekaan itu tidak lama bergelimang dalam perayaan jiwa. Di saat belenggu pejajah zaman dahulu ada, maka kini “penjajah jiwa” masih terus melepaskan “bom-bom” sebagai mass destruction. Ada “bom kemunafikan”, “bom kemusyrikan”, “bom kemiskinan”, “bom korupsi”, dan lain-lain. Senjata-senjata itu kemudian berdesingan tanpa henti. Hampir pula serangan senjata massal itu tidak bisa diatasi dan dihadapi oleh para serdadu S1 hingga S3. Padahal pelatihan yang mahal telah diekeluarkan, beasiswa dan segala fasilitas perguruan “pencak-silat-lidah-dan-otak” itu banyak dihidupi dari uang rakyat sendiri. Bahkan kini senjata baru telah lama ditembakkan dan diarahkan kepada genarasi Indoensia termasuk para pendekar pencak silat-lidah-dan-otak. Senjata itu berupa daun yang mampu menghancurkan jutaan generasi kita.

Sepertinya, para serdadu yang telah belajar banyak itu, masih kurang untuk melawan penjajah ipoleksosbud (ideologi, politik, sosial dan budaya). Karenanya bangsa Indonesia perlu memiliki “senjata ampuh” yang telah diahadiahkan oleh Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw oleh-oleh dari Isra Mi’raj.

***

JIKA kemudian bagi bangsa Indonesia yang telah memiliki “senjata” itu tidak bisa digunakan karena supercanggih dan rumit pengoperasiannya, maka sebagaimana teknologi Indonesia yang serba impor, teknologi “senjata” pemusnah massal dari Nabi itupun perlu “diimpor” kembali. Di “litbang” kan kembali. “Dipasarkan” kembali Karenanya di sini peran pesantren sebagai salah satu “laboratorium” latihan menggunakan “senjata” jiwa ini sangat layak untuk tidak mengabaikan persoalan ini.

Akhirnya, keterpurukan jiwa raga yang membelenggu kemerdekaan orang-orang Indonesia mestilah disikapi dengan arif dan bijaksana. Sebagaimana ind(ONE)sia adalah hadiah dari Allah yang Esa, yang mampu menyatukan berbagai kultur, maka kemerdekaan haruslah dikembalikan kepada kata ONE (satu) itu tadi. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa INDONESIA. Dengan demikian maka kemerdekaan Indonesia diisra’kan kepada YANG MAHA ESA. Dirgahayu ind(ONE)sia. Wallahu a’lam.

Iklan
  1. 24 Agustus, 2007 pukul 4:34 pm

    Merdeka!!! 😀

    Terimakasih info-nya Mr. Kurt, saya baru tahu bila shalat itu merupakan salah satu kemerdekaan jiwa. Bukannya belenggu, yang dianggap mengikat (oleh orang-orang non muslim).

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: