Merdeka! Versi Ulama

Dirgahayu Republik Indonesia ke-6.. para ulama membela kemerdekaan RIHASIL ngaji dengan kyai (guru)  kita bisa mengetahui makna merdeka versi ulama. Ternyata ada banyak makna merdeka yang connect bainal teks wal konteks. Setidaknya ada empat kata: Dua diambil dari Al Qur’an, satu dari Hadits dan terakhir dari makna budaya. Makna keempatnya itu tercerap dalam Pancasila dan UUD 45.

Bermula dari kata, merambati niat dan menapaki aksi merupakan suatu kontinuitas budaya yang selalu didengung-dengungkan pesantren (ulama). Al Qur’an dan Hadits adalah kumpulan teks. Dari sana kemudian manusia bertindak. Bermula dari teks Proklamasi, lahirlah Pancasila dan UUD 45 sebagai arah kebijakan untuk mengatur langkah sebuah organisasi besar: Negara. Sumbangsih ulama dalam menggelotorkan Pancasila merupakan bukti pentingnya sebuah teks. Karenanya, teks “merdeka” dalam dunia pesantren (ulama), ternyata pula memiliki makna yang sinergi bagi kehidupan masyarakat pada umumnya.

Versi Ulama

Kata “merdeka” kita jumpai dari Al Quran ada dua: hurriyah dan fakka, lalu dari sabda nabi: itqun minannar; dari kata harian, Istiqlal. Singkatnya, ada empat kata yang menunjuk arti sama (merdeka), namun beda lafadz. Masing-masing kata memiliki pengertian yang istimewa.

1. Itqun minannar, potongan naskah hadits yang sering dibaca pada moment ceramah tarawih searti dengan kata “merdeka” yaitu bebas dari api neraka.

Konteks dari itu adalah bahwa kemerdekaan terjadi jiakalau sudah terbebas dari penindasan, dari ancaman, intimidasi dari pihak lain. Itulah artinya merdeka. Misalnya sebuah kehidupan jika tidak ada yang memaksa, tidak ada yang mengancam, tidak ada yang mengintimidasi, inilah makna “merdeka”. Kemudian jika ancaman, intimidasi itu membebaskan dalam sebuah bangsa disebut bangsa yang merdeka. Itulah makna “merdeka” yang diambil dari kata “itqun minannaar”, bebas dari api neraka.

2. Fatahriru roqobah. Potongan ayat dari Al Qur’an. Banyak sekali kata fatahriru roqobah misalnya dalam Annisa ayat 92 saja ada tiga kata. Kata dasar dalam bahasa Arab tahrir dan khurriyah juga artinya “merdeka”.

Makna “merdeka” di sini adalah : asyrofuhum, yuqolu huwa hurriyatu min qoumih. Artinya, dikatakan merdeka di sini ini jika seseorang itu menjadi mulya. Pengertiannya, tidak ada kelas di dalam kehiupan manusia; tidak ada kasta, tidak ada “nomor satu”, tidak “nomor dua”, tidak ada ningrat, tidak ada suku yang merasa unggul dipihak lain.

Seandainya masih ada berarti belum merdeka. Karenanya, dengan ungkapan kata hurriyah semuanya tidak ada. Sedangkan dalam quran yang ada adalah Inna akromakum ‘indallahi atqoqum. Sesungguhnya yang mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Jadi kalau masih ada yang merasa “tuan”, atau menganggap “itu anak buah dari saya”, berarti belum ada kemerdekaan dalam dirinya. Padahal pengertian manusia semuanya sama di hadapan Allah. Tidak ada budak, tidak kelas.

Kolonialisme, penjajah dahulu, menganggap bangsa Indonesia dikategorikan orang kelas dua, sementara kelas satunya orang Belanda. Karena itu kata hurriyah tidak berlaku. Berarti bangsa kita dahulu belum merdeka. Kemudian sekarang, jika dikatakan merdeka, mesti merujuk pada kata hurriyah, baru dikatakan merdeka.

3. Fakku roqobah. Artinya, melepaskan budak dari perbudakan. Diambil dari ayat Al Qur’an Wamaa adroka mal ‘aqobah, fakku roqobah (Al Balad: 12-13). Fakku di sini juga pengertianya “merdeka“. Seabab fakku di situ didefinisikan dengan:

إبطال الرق والعبودية (ibtlolur roqqi wal ‘ubudiyah) atau أبان بعضه عن بعض (Abaana ba’dhuhu ‘an ba’d) maksudnya kemerdekaan itu mestinya bisa tampil bersama-sama antara satu individu dengan individu lain, atau antar kelompok satu dengan lainnya. Sehingga bukannya yang satu tampil yang lainnya tidak boleh tampil (disembunyikan) gara-gara dianganggap kelas dua, atau karena dianggap tidak sejajar dengan bangsa-bangsa lain, atau dianggapnya tidak berarti. Kalau saja hal tersebut masih berlaku di negeri kita, atau di negeri lain, bahkan bisa terjadi dalam diri kita, berarti belum ada “merdeka”. Contoh yang sering kita dengar: “sudah, umpetin saja dia!”, “kita saja yang maju, jangan sampai dia tampil” dan lain-lain.

Kata fakku roqobah di atas diambil dari Qur’an yang artinya adalah memerdekakan budak. Kontekstualnya bisa diambil pelajaran bahwa jika sebuah hukum dalam suatu bangsa masih disembunyikan di “belakang layar” sedangkan yang tampil di depan adalah “duit”, ini berarti suatu bangsa belum “merdeka”. Karena hukum tidak pandang bulu, di mata hukum semuanya sama. Kemulyaan pun juga merdeka, orang yang tidak salah, mestinya bebas bukan sebaliknya. Yang salah tetap salah, yang benar hukum harusnya membela. Jadi jika bangsa itu merdeka, maka istilah yang diterapkan dalam masyrakat: intimidasi, diskriminasi, character, kekerasan dalam rumah tangga, dan lainnya, tidak boleh ada maka baru namanya sebuah komunitas bangsa dikatakan “merdeka”.

4. Istiqlal  Diambil dari bahasa sehari-hari. Sebagai kenangan ada masjid Istiqlal. Pengertiannya adalah, تفرد به ولم يشرك فيه (taffarroda bihi walam yusyrik fiih) Artinya: Mandiri. Tidak mau dicampur tangani oleh siapapun. Maksudnya, sebuah bangsa yang “merdeka” (istiqlal) berarti tidak bisa dicampurtangani negara lain. Negara merdeka berarti negara itu mandiri, memanaj diri sendiri. Negara merdeka, berarti bukan negara common weal (betulkah nulisnya?), bukan negara boneka, bukan negara yang diatur oleh negara lain. Kalau masih diatur oleh negara lain tentu belum merdeka. Demikian juga bila makna istiqlal atau merdeka bagi seorang individu. Jika kita masih dipengaruhi oleh duniawi, masih dipengaruhi oleh jabatan atau oleh macam-macam itupun belum dikatakan mandiri namanya, belum merdeka.

Dirgahayu RI...Kesimpulannya, pertama, negara dikatakan merdeka jika merdeka dari intimidasi. Merdeka dari rasa ketakutan. Sebab betapa banyak negara yang ditakut-takuti. Kedua, merdeka adalah hurriyah artinya tidak ada kelas-kelasan. Ketiga, merdeka adalah fakku, tidak ada tukar-tukaran maksudnya merdeka dari hukum. Keempat diambil dari kata Istiqlal, artinya manakala merdeka, berarti tidak ada campur tangan dengan pihak lain; mandiri.

Karena itulah pantas jika yang masuk syurga adalah orang-orang yang “merdeka”. Bukan hamba. Kenapa dikatakan merdeka. Karena bagi si hamba akan merdeka jika hidupnya murni hanya kepada Allah; tidak merasa takut kecuali kepada Allah; tidak merasa cinta kecuali kepada Allah; tidak melakukan penyembahan kecuali kepada Allah. Itulah yang sebenar-benarnya yang merdeka dalam konsep para ulama.

Pendeknya, konsep ulama (syariat) yang diambil dari naskah-naskah wahyu tentang kemerdekaan itu apakah bertentangan dengan naskah teks yang tersusun dalam UUD 45 dan Pancasila? Menurut hemat penulis UUD dan Pancasila tidak bertentangan. Karena itu jika terjadi disconnection bainal teks wal konteks itu karena kita belum merasakan makna “kemerdekaan” itu sendiri. Baik secara individu atau secara kebangsaan. Karena itu kita mesti meneruskan perjuangan ulama/tentara zaman dahulu yang berhasil melepaskan belenggu penjajahan. Sementara giliran kita, memperjuangan kemerdekaan agar “merdeka” itu connect bainal teks wal konteks. Semoga. Wallahu a’lam.

Sumber: kitab-kitab ulama salaf (kitab kuning)

  1. alkohol dua botol
    24 Agustus, 2007 pukul 10:13 am

    ah gak ada yang baru, kyai. sudahlah!

    ————
    emang benar gak ada yang baru, makanya banyak komponen bangsa yang tak tertarik ….

  2. 24 Agustus, 2007 pukul 4:26 pm

    Berarti di dunia ini, belum ada negara yang benar-benar merdeka. Betul ga mas? <
    Arab saudi saja, masih dicampur tangani AS.

    Di negeri Eropa (misal Belanda), warga kulit berwarna, masih didiskriminasikan (walaupun katanya tidak, tapi faktanya berkata lain).

    Bahkan negeri kita sendiri, seringkali masih takut dengan campur tangan negeri lain, masih nurut-nurut saja. (Maaf kalau salah). 😀

    Abis kalau nuruti “orang kaya” enak sih mas… lagian gak repot kan?

  3. 24 Agustus, 2007 pukul 5:51 pm

    Hmmm…mantapz Mr. Kurt
    Berarti “penjajah” di satu bentuk kemerdekaan juga bisa menjadi “yang terjajah” pada bentuk kemerdekaan yang lain ya?

    kalau orang matematikawan yang nyimpulin mantaps juga

  4. akira
    10 September, 2007 pukul 7:51 pm

    orang yang mau merdeka pada diri sendiri dulu. orang merdeka pasti udah merdeka financialnya ,bebas waktu ,bebas stress.

    zaman sekarang di dunia masih di jajah dengan waktu dan fiancial

    kalau anda mau merdeka secara financial dan waktu

    di sini ada peluang kerja bisnis yang bisa mengabulkan anda
    menjadi bebas finacial dan waktu tapi harus kerja keras.

    hubungi kami lebih lanjut

    akiroyamin@hotmail.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: