Beranda > bergumam, Celotehan > Resep Mematikan Mental

Resep Mematikan Mental

Mental bisa dimatikan.... ?ORANG yang hingar-bingar dalam kehidupan pribadinya, boleh jadi menandakan hidupnya tercerahkan. Mungkin pekerjaan yang dia lakukan selama ini mamapu mendatangkan kepuasan; fisik maupun mental. Tapi jangan dikira, orang semacam ini gampang sekali dimatikan mentalnya. Terlebih jika pekerjaan itu bersifat sosial. Tinggal dijewer, dijamin semangatnya melumer.

JIka tidak percaya tanyakan langsung sama saya. Pengalaman ini sangat unik dan baru sekali hidup mendapatkan “kematian mental”. Hingga saat ini gairah untuk menulis dan menuliskan sesuatu terasa berat. Dulu saat mental belum dimatikan, gairah atau semangat menulis tanpa pamrih begitu bergelora. Kini, jangalah menggerakkan pena, menorehkan komentar saja berat sakali.

Simpel sekali orang yang mematikan mental itu berkreasi. Mula-mula kami dikumpulkan dalam sebuah acara yang khas pesantren: ngaji, dzikir dan berdoa. Berkumpullan sekitar 30 orang hadir sore itu.

Saat acara dimulai, sebelumnya, sang pengundang memberikan sambutan yang intinya, maksud dari pertemuan dan diteruskan bla-bla sana sini. Dengan nada berapi-api khas senior saya itu, kuperhatikan ada yang aneh dari sambutan lanjutannya. Sang senior berkata tentang peran yang selama ini dilakukan untuk sebuah pekerjaan yang mendatangkan manfaat bagi orang banyak. Namun sayangnya yang didapat adalah sebuah kekecewaan yang tergambar dari kata-katanya yang berbau “sarkasme” dan tendensius.

Masih belum jelas apa yang dimaksud dengan kekecewaan itu, hingg kuperhatikan detil ucap-demi-ucap tanpa terlewati. Hingga kurang dari 1 jam ceramah berapi-api itu kudengar, barulah kudapati titik terang sumber kekecewaan itu dari mana.

Astaghfirullah ternyata sumbernya Kekecewaan itu bersumber dari saya, Si tukang web yang mengelola portal komunitas. Pasalnya, kekecewaan itu karena apa yang ditulis dan dimuat dalam web itu, tak satupun mengupas hal-hal yang berkaitan dengan peran serta beliau dalam ikut membesarkan nama pesantren. Padahal beliau adalah orang yang sangat gigih memperjuangkan nama besar pesantren. Jadi, sangat wajar dan pantas jika senior itu kecewa berat sama saya.

Dampaknya cukup dahsyat, kini, seolah-olah saya menjadi orang yang merasa bersalah dan mentalnya tidak sesemangat dulu. Bahkan imbasnya pada kreativitas menulis di blog ini pun jarang-jarang. Ternyata, menjatuhkan mental seseorang itu gampang. Katakan saja apa kesalahannya lalu ungkapkan itu jelas-jelas di hadapan orang banyak, pasti akan jatuh mentalnya. Pantas saja, jika ada orang bijak berkata: jika berkata kepada pencuri, janganlah kau katakan “kau mencuri ya”

Postingan ini bukan rasa kekesalan, melainkan sebagai pembelajaran bagaimana ilmu mematikan mental seseorang. Maklum orang yang katro dengan politik. Dari peristiwa ini saya tetap menghormati senior-senior yang sangat mumpuni, bahkan di tangan merekalah pesantren itu bisa dikenal di mana-mana. Di ahir puasa ini semoga ini adalah hikmah dari puasa ramadhan 1428 H.

Kategori:bergumam, Celotehan
  1. 9 Oktober, 2007 pukul 1:07 am

    Pak, sabar, euy.

    Insya Allah, badai pasti berlalu. Cepat atau lambat, pasti berlalu.

    Saya turut berduka cita, Mr Kurt. Tapi Insya Allah, badai pasti berlalu.

    Ketika capai, letih, sumuk keringetan, hadirnya angin sepoi-sepi itu luar biasa indah sekali. Ketika panas kerontang menjelang musim nandur, awan gelap akan hujan terasa luar biasa indah.
    Dan ketika suatu hari badai pun tiba, Inya Allah, tetap ada keindahan disana.

    Sabar yaaa, Mr Kurt.
    (*Oh yaa. Salam buat keluarga*)

    —————–
    @Bangaip bukan senior🙂
    andaikan senior itu bang Aip, waaah sudah ada di Boston kali bang.. heheh🙂
    salam balik juga bang gimana lebaran jadi mudikkah?

  2. 9 Oktober, 2007 pukul 8:17 am

    “(*()&*^&^_)(*&)*&)(*&^&%^&%”

    komentar @Erander sengaja diubah karakternya atas permintaannya…🙂

  3. 9 Oktober, 2007 pukul 8:22 am

    *mode GR ON*
    Pantesan sampeyan ga pernah mampir ke blog saya buat ngasih komentar lagi.
    *mode GR OFF*

    Pak Kurt .. jangan berkecil hati. Positive thinking aja pak. Justru komplain kritikan senior bapak dijadikan bahan bakar untuk terus menulis bukan sebaliknya malah jadi membakar kreativitas bapak.

    Saya justru merasa tahu tentang pesantren Buntet itu ada .. ya dari Bapak. Jadi .. senior bapak itu keliru.

    So .. jangan putus asa pak. Nulis terus aja. Coba baca support teman saya disini ketika saya berhenti menulis bicara.

    @erander
    aha puisinya nan indah dibaca, nan indah dilihat nan indah di tatap, namun lebih indah dipraktekkan yaa bang…

  4. 9 Oktober, 2007 pukul 12:02 pm

    Aha… jadi melek mata ini menikmati semilir angin Cilincing nan sepoi-sepoi…. Tq sir…

  5. 10 Oktober, 2007 pukul 12:40 am

    Ass,yang namanya hidup berbuat khilaf itu hal yang manusiawi kok pak asal gak keterusan aja yah… Sekaranglah saatnya mengobati rasa bersalah sampeyan he3….tulis dan tulis terus atuh pak…sip. Wassalam.

    @fira
    www. iyaa bu g bakal keterusan nanti malah ketagihan…🙂

  6. 10 Oktober, 2007 pukul 1:56 am

    Ass,wadduh ada yang ngirim puisi nih buat saya… kirain siapa eee ternyata pak Kurt Zainudin toh… makasih nih pak puisinya bagus amat dalem dan indah…boleh nih bagi ilmunya hehehe…Wassalam.

    @fira
    waaah kebalik masa guru berguru sama murid …

  7. 10 Oktober, 2007 pukul 2:48 am

    Wow … saya suka kasus ini, ntar komentar di tulis dalam bentuk artikel ya. Saya jamin Sampeyan jadi gila atau penggila menulis. Salam Ramadan menyambut Idul Fitri

    ————
    @Ersis Warmansyah Abbas
    waaah asyik dong bang nanti mirip judul film: Mati Mental, Bangkit menjadi “Gila”. Aku tunggu tulisannya Bang,
    Saya ucapkan juga Salam buat Ramadhan dari jauh…. Salam buat “Fitri” dari dekat🙂

  8. Sq
    10 Oktober, 2007 pukul 10:22 am

    Kayaknya cerita Pak Kurt nih bener-bener jadi pelajaran, terutama buat saya yang masih banyak belajar dari yang namanya “Hayatuddunnia”

    selamat Iedul Fitri ya pak..Mohon maaf lahir bathin ?

    @Sq
    Hayatuddunia emang mendunia termasuk di dunia pesantren, dunia blog dan dunia dalam berita…🙂
    sama2 kang, maaf lahir jangan lupa batinnya ikut serta🙂

  9. 10 Oktober, 2007 pukul 10:26 am

    oot pak

    Selamat hari raya Idul Fitri 1428 H

    Taqabalallahu minna wa minkum, shiamanaa wa shiamakum…

    Mohon maaf lahir dan bathin yaaa…🙂

    —————-
    @kangguru
    Buat kang gu(ruku) saya juga mau ngucapin:
    Maafin kesalahan lahir apalagi yang yang batin… kang

  10. 10 Oktober, 2007 pukul 10:55 am

    Pak .. komentar saya yang kedua .. dihapus aja. Tadinya saya pikir ga ke-kirim … eh, taunya masuk ke spam.

    Soal puisi Bicaralah itu puisi dua2nya dari orang yang sama. Dia suruh saya bicara dan juga tidak bicara kalau tidak ada maknanya.

    Jadi .. alangkah indahnya .. kata2 yang kita keluargkan itu memiliki makna. Gitu pak.

    @Erander
    wah pak yang dihapus justru yang pertamax, keduax ketigax, keempat dan Klimax pasti gak dihapus….🙂
    pokokna mantap teuing euy puisinya memberikan inspirasi…

  11. 10 Oktober, 2007 pukul 4:31 pm

    Senior Sampeyan itu pasti nggak ikhlas dalam berkarya dan berjuang untuk membesarkan pesantren. Kalau senior Sampeyan itu ikhlas, dia pasti tidak akan berbuat seperti itu.

    Saya rasa Kang Tub lebih ikhlas daripada senior Sampeyan itu sehingga Sampeyan akan terus menulis. Kalau perlu, tulislah semua sepak terjang senior Sampeyan dalam membesarkan Pesantren Buntet. Dia masih silap dengan sanjungan dan suka diwahi (red: mendengar kata “wah!”) sehingga dia membutuhkan hal itu. Padahal, kalau kiprahnya memang nyata, nggak usah ditulis di web pun semua civitas akademika Pesantren Buntet pasti mengakui.

    Gini Kang Tub, kalau yang membesar-besarkan peran dan perjuangan dalam membesarkan Pesantren Buntet itu dia sendiri, berarti dia hanya cari pengakuan. Sebaliknya, kalau semua orang membincangkan sedang dia sendiri tidak pernah membicarakan, maka pengakuan itu sudah ada di hati semua orang.

    Nggak perlu mati mental, Kang. Mosok ilmu ikhlas Sampeyan keok sama jegogan.

    ——————
    @Kang Kombor
    Duuh ternyata nyari orang bijak yang gak nginjak g usah jauh-jauh… si akang satu ini emang selalu menantang tuk berpikir jero…. tararengkyu kang…

  12. 10 Oktober, 2007 pukul 4:36 pm

    Ngomong-ngomong, ini kartu lebaran untuk Sampeyan.

    @Kang Kombor
    Waaah hebat kang isteri cantik, anak baru satu, bapaknya gagah… apalagi yagn kurang kang… ??? heheh
    kami sekeluarga punmengucapkan selamat beridul fitri maafin segala yang nampak dan yang tak nampak jua… sukses kang kombor…

  13. 10 Oktober, 2007 pukul 8:26 pm

    Saya minta email dan nomor telepon Sampeyan. Saya mau bikin Majalah Naya ‘Menulis Sangat Mudah’, dan kalau ada penulis blog yang menurut Sampeyan bagus tolong rekom, ntar saja ajak bergabung.

    @Ersis Warmansyah Abbas
    Pesanan sudah dikirim via “kontak”. Ada yang bisa saya bantu lainnya Bang ??🙂

  14. 11 Oktober, 2007 pukul 1:25 am

    Ass,pak Kurt…fira ucapin minal aidin wal faizin mohon maaf lahir bathin nih….Wassalam.

    @fira
    sama-sama bu Rakhmat maafin aku atas segelas segala kesalahan minal masyriq ilal maghrib, isya subuh dhuhur.. heheh🙂

  15. 15 Oktober, 2007 pukul 5:38 pm

    “Padahal beliau adalah orang yang sangat gigih memperjuangkan nama besar pesantren. Jadi, sangat wajar dan pantas jika senior itu kecewa berat sama saya.”
    Sangat wajar kah? bagaimana bila dihubungkan dengan “ilmu ikhlas”? 🙂

    ————-

    @lenijuwita
    Manusiawi bu, Ilmu ikhlas memang pernah diajarkan oleh Bang Deddy Mizwar dalam “Kiamat Sudah Dekat”

  1. 25 Oktober, 2007 pukul 4:37 pm
  2. 23 Juni, 2008 pukul 11:31 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: