Beranda > Kultur, Modernisasi > Sisi Lain Masyarakat Cirebon

Sisi Lain Masyarakat Cirebon

Gadis kecil bersama ibunya yang tak tertraik sekolahSAAT mudik pulang ke Cirebon kemarin, saya bertemu dengan salah satu warga Kota Cirebon yang membikin miris hati. Betapa tidak, geliat kota Cirebon yang hingar bingar dengan aneka macam industri dan perdangan, ditambah sarana transportasi yang membuat indah kota Cirebon, semua itu sedikit menghapus stigma positif terhadap kotaku tercinta: Cirebon.

Saat jalan-jalan untuk suatu keperluan, saya menaiki taxi ala kota Cirebon. Taxi kota yang dimaksud oleh orang-orang Cirebon adalah angkutan kota (semacam kopabun di Jakarta). Di dalamnya terdapat 4 penumpang. Satu gadis cantik duduk disamping kananku, harum mewangi . Tapi yang mengusik hati adalah seorang anak gadis kecil duduk persis di depan bersma ibunya. Matanya bening, rambutnya sebahu tapi kulitnya coklat gelap. Menandakan kalau dia berasal dari kampung nelayan yang sehari-hari hidup di pesisir laut.

Sesuatu yang menggodaku, tepat di bawah jok ibunnya, kulihat ada ember berwarna biru yang terisi oleh benda kecil-kecil putih berkilauan sebesar kerang tapi pipih lonjong. Saya penasaran.

“Apa sih kuen bu?”( itu apa bu?)
“Kuen tah, arane lemis” (ini namanya Lemis)
“Kanggo apa Lemis?” (buat apa Lemis?)
“Ya kanggo mangan masa kanggo turu? 🙂 ” (ya buat makan masa buat tidur!)
(ana2 bae bocah edan sungane, gumamnya dalam hatinya… kalimat ini ngarang yaa!)

Dalam pengakuannya, Ibu ini sudah sedari kecil bergelut mencari ikan lemis untuk dijual. Satu ember bisa menghasilkan Rp. 25.000,- untuk dijual. Padahal ia mencari lemis hanya setengah hari. Ia mencari di sepanjang pesisir pantai Cirebon. Saat itu kami bertemu di dalam mobil persis di Depan Gedung BCA dekat Pelabuhan menuju simpangan “tiga berlian”.

Anak kecil berbaju merah itu hanya memperhatikan dialog saya dengan ibunya. Mungkin dalam hatinya, si om ini kok sok akrab sih bicara-bicara sama ibu saya. Padahal selama ini belum ada penumpang berani mengajak ngobrol sama orang-orang seperti saya. Sebab kami kan orang-orang yang berbau amis dan kotor setiap hari.

Ini Lemis (remis)Entahlah waktu itu saya terusik untuk mengalihkan perhatian kepada gadis di samping saya yang aduhai cantiknya. Daripada nglamun dan salah tingkah akhirnya ku beranikan diri mengobrol sama ibu yang berbau amis itu.

“Kuen anake ibu tah?” (itu anak ibu bukan?) tanya saya meneruskan obrolan.
“Ya iya anake isun masa anake Kebo?” (Ya betul masa anake kerbau?) (kata kebo karangan saja.. yaa)
“Wis sekolah kelas pira nok” (sekolah kelas berapa dek?)
“Beli sekolah jeh!” (saya tidak sekolah) jawab gadis kecil itu.
“Ngapa sih bli sekolah kuh, kan ambiran bisa kaya Rokhmin Dahuri, sang pahlawan Nelayan” (kenapa tidak sekolah, nanti kalau sudah besar meneruskan cita-cita Bp. Rochmin Dahuri, sang pahlawan nelayan Cirebon.)
“……” dengan senyum ia diam saja. sementara si supir kaget kali, ia melirik kepada saya entah mengapa.

Apa yang saya temui dari dialog ini membuat saya miris. Kenapa masih ada generasi muda secerah dia yang tidak mau melanjutkan sekolah. Bahkan jika saya lihat ia masih usia sekolah SD namun tidak mau bersekolah. Jika masalah biaya saya kira SD saat ini di kota Cirebon pun sama dengan di Kota lain: gratis, tis!.

Jika saja dikatakan keluarga itu miskin, saya perhatikan tidak juga. Orang tuanya berpenghasilan, barangkali bapaknya juga pun sebagai nelayan berpenghasilan. Si ibunya menurut cerita, ia sedari kecil mencari lemis di laut kota Cirebon. Tapi anehnya sama sekali tidak memperhatikan pendidikan anaknya.

Udara di mobil itu memang sangat panas, namun angin semilir dari laut pelabuhan Cirebon saat itu cukup kencang. Poster-poster pilkada berserakan di mana-mana berjejer menghiasai jalanan di kota itu. Namun sangat kontras sekali jika masih ada warganya yang tidak menganggap penting terhadap pendidikan.

Atau memang pendidikan sudah dianggap tidak penting oleh segelitir masyarakat nelayan di Cirebon. Karena beralasan bahwa sekolah tinggi-tinggi sekarang tetap saja susah mencari pekerjaan. Daripada sekolah membuang biaya, sementara setelah sekolah sulit juga mencari pekerjaan. Mendingan “sekolah alam” dengan bergaul bersama laut dan benda-benda yang ada di sekitar laut untuk diberdayakan dan dipelajari. Siapa tahu nanti kalau sudah gede, si gadis berbaju merah ini, akan menjadi “penguasa laut”.

Ya begitulah oleh-oleh dari Kotaku. Ternyata jika pemikiran anak kecil yang cukup mendewasa itu, saya yakin sekolah alam gaya anak Cirebon ini bagus juga untuk didiskusikan. Bisa jadi ia berpendoman bahwa omong kosong pendidikan yang dibanggakan itu kemudian menghasilkan manusia yang bijaksana. Toh koruptor yang dia lihat di televisi dan radio-radio yang ramai di kota Cirebon, bukankah berasal dari pendidikan tinggi. Ah mbuh gah ah….

Wahai para calon Bupati dan Pak Pati, lihatlah masyarakat bahwa warga kota Cirebon ternyata cukup kritis tindakan sementara tidak sedikit para pejabat hanya kritis pemikiran tapi miskin tindakan.. begitulah kira-kira alam pikiran anak kecil itu… Ah mbuh gah ah!…. Gumam anak kecil dalam hatinya…

Kategori:Kultur, Modernisasi
  1. 23 Oktober, 2007 pukul 1:00 am

    Hihih… dialaog cirebonnya mengingatkan saya dengan yang sering dipakai teman-teman saya yang dari Cirebon.

    Iya ya kerunya snok cilik kuen, beli sekola. Apa masih wakeh ning cirebon sing mengkonon mr Kurt? Padahal kan kudune mah ya minimal SD mah kudu sekola endah bisa ngewaca semit mah… (duh kerunya ne snok kuen ya..?)

    (maaf boten enak mun ngegunaken bebasan mah… alesan be, boten bangkit padahal mah )

    —————-
    @mathematicse
    Masih akeh ning Crebon kaya konon kuh. Dari hasil survey yang cuma 2 orang dua2nya gak sekolah. Jadi yaa boleh gak kesimpulannya 100% penduduk Crebon ora Sekolah? … *plettak kena gaplokan*

  2. 23 Oktober, 2007 pukul 9:05 am

    piye ya
    katanya jawa barat sibuk menegentaskan wajib belajar 9 tahun tapi kok…..
    ach sudahlah

    ————–
    @kangguru
    Ah sudahlah… enakan mengurusi perut minimal 9 th… heheh 🙂

  3. 23 Oktober, 2007 pukul 9:19 am

    Gyahahaaaa…
    lebih bnyk in lg postingan yg pk dialog ginian yah…
    kt2nya bagai berjiwa, seolah saya lg ada di cirebon!

    oya, wkt mudik kmrn sy jg sempet minum air mineral cup yg iklan nye : Wayahe noto Cirebon

    btw :
    Siapa tahu nanti kalau sudah gede, si gadis berbaju merah ini, akan menjadi “penguasa laut”.

    Halah, penerus Nyi Roro Kidul kali yeh…

    ————-
    @novee
    Dialog bukannya enakan ngomong langsung 🙂 kan wayae, wong crebon ora kuper… 🙂

  4. 23 Oktober, 2007 pukul 12:30 pm

    Kemarin saya mudik juga lewat cirebon, sempat main and jalan-jalan sekitar alun-alun and grage mall.

    sambil nunggu keberangkatan Cirex

    salam kenal,

    ————–
    @understeering
    hello Mr. F1… mudik lewat crebon pake Mobil F1 jugakah? heheh slam kenal juga.

  5. han
    23 Oktober, 2007 pukul 1:17 pm

    saya mudik lwt madiun

  6. 23 Oktober, 2007 pukul 3:13 pm

    Tragis dan sekaligus ironis. hare gene masih ada yang belum sekolah? Weleh2 lha wong SD dan SMP itu ada bantuan BOS, kok. Dia bisa sekolah gratis, mestinya, meski dia bisa berguru pada alam, tapi kan juga butuh pendidikan formal. Keduanya kalau dipadukan bisa lebih “kaffah”. Jangan jadikan dalaih banyaknya koruptor lantaran pendidikan. Banyak juga orang pinter yang berpikiran arif. Tergantung mental manusianya, Mas. Kalau dari sononya dah bermental korup, nggak sekolah pun bisa belajar jadi koruptor :mrgreen:

  7. 23 Oktober, 2007 pukul 4:58 pm

    Sekarang Buat saja Sekolah Gratis Dicebon… serba gratis tis! biar mereka pada mau nyekolahkan anaknya semua!

  8. 23 Oktober, 2007 pukul 9:27 pm

    @han | lewat Cirebon jugakah?

    Sawali TUhusetya:
    hahah… maklum pak pikirannya barangkali mengatakan sebaliknya, kalau pemerintah peduli sama pendidikan yaa didik aku dong di laut .. sambil bermain sambil belajar…

    sayangnya yang diadengar dalam radio, kok yang dihukum2 itu pada pinter2 jeh Kang, heheh 🙂

    Pokoknya kata si gadis, saya mau belajar tapi di alam terbuka, gak mau pake Peer, gak mau pake seragam, trus langsung belajar tentang laut. Bagaimana belajar laut tapi di kelas susah dong pak … plis deh ah katanya dalam hati… 🙂

    teman2 dia pun banyak di laut alangkah bagusnya kalau kumpul2 tiap hari di laut belajar ngitung kerang, belajar reaksi kimia campuran antara air laut dengan garam… bikin sudut, ukur bintang waah banyak deh.. bukankah lebih asyikkk

    @: rivafauziah
    Sekolah gratis sudah banyak om, tapi aku ga mau di ruang kelas… aku mau kaya di Ciganjur Sekolah Alam… tapi almku adalah laut yaa ayo dong para guru turun ke laut… kata si gadis kecil bermata bulat…

  9. 23 Oktober, 2007 pukul 10:31 pm

    Mas Kurtubi pura-pura nggak tau apa memang nggak pernah baca berita? 😯 Rokhmin Dahuri kan lagi dipenjara atas tuduhan korupsi… model yang sangat tidak sesuai untuk program wajib belajar 😆 Mungkin itu sebabnya si ibu cuma mesem2 aja, dan pak sopir melirik dengan penuh makna 🙄

  10. Kur
    24 Oktober, 2007 pukul 8:06 am

    @Catchade
    Hahaha… mas Psikolog bisa aja… membaca yang tak tersirat! 🙂

    Yaa kali aja Pak Rokhmin Dahuri bisa senyum-senyum membaca tulisan saya, lumayan buat menghibur beliau. 🙂

  11. 'K,
    24 Oktober, 2007 pukul 5:57 pm

    saya tertarik dengan kalimat ‘kritis pemikiran miskin tindakan’
    ungkapan yg sangat dalam (tidak ingin menjelaskan lbh lanjut :P)

  12. 26 Oktober, 2007 pukul 7:21 am

    owalaaaaa….Kurt itu kamu tooohhh…huehehe..kirain siapaaaa..
    lha kok pake ‘salam kenal’, bukannya kita udah kenal dari kapan2???

    belom telat kan kalo mau bilang maap lahir batin? 😀

  13. 26 Oktober, 2007 pukul 8:16 am

    @K’
    yang ktiris saya apa sampean 🙂

    @venus
    salam kenal mbak Venus yang sekarang jadi lengkap profilenya, fotonya, anak²nya sampe semuanya… deh 🙂

  14. shinobigatakutmati
    31 Oktober, 2007 pukul 8:02 pm

    wah saya juga punya nenek di cirebon ^ ^

  15. 1 November, 2007 pukul 11:36 pm

    😀 shinobigatakutmati
    heheh kayanya kenal deh sama kamu 🙂 upsss sok akrab..

  16. Opi
    6 November, 2007 pukul 1:12 pm

    Wah, sesama orang Cirebon dilarang saling mendahului aaahh…
    Btw, suka banget sama blognya… 🙂

    😀 Opi
    iyaa betul, sesama iyaa kita sama2 supir angkot

  17. dHuNteaaa
    8 April, 2008 pukul 12:28 pm

    sekolah ora penting sa iki sing penting nyong mangan sing wareg amber bisa kerja maning, urip senang ning dunia ning akherat…hehehehe

    culture Lag and culture sHOck, masih terjadi walopun di kota2 besar di JAwa..
    kombinasi indigenious knowledge/local knowledge dan modernization knowledge yang kadang2 bikin orang pd bingung menentukan nilai sosial yang berlaku sebagai acuan salah dan benar, karena suatu penelitian hanya berguna sebagai pembuktian nilai yang telah distandarisasi (oleh siapa?darimana?)…bukan maksud mendahului, tapi dalam masyarakat kita yang kulturalis bukan plural atau multikultur itu masih terjadi, program2 pemerintah tdk melakukan pendekatan yg bisa diterima, masy serasa dijejali semua perkara yang mereka gak ngerti maksud dan tujuannya buat mereka atau kepentingan lain…hehehehe…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: