Beranda > Dialog, Kajian Kitab, Keajaiban, Ngliput, Pendapat > Orang Baik Akrab dengan Musibah?

Orang Baik Akrab dengan Musibah?

Rampoooooooooookk...!DALAM waktu dua hari setelah mudik dari Cirebon, mobil dan motor teman saya dibawa kabur maling. Kini ia hanya meratapi nasibnya. Kawanku yang lain pernah pula ditempa musibah yang cukup hebat. Juga saya sendiri dan Anda pembaca sekalian. Akankah mereka tetap kuat??

“Kang, motor isun wingine ilang.” (Mas, motor saya hilang dua hari yang lalu.)

“Ha!” jawabku kaget.

“Nembe bae sekie, mobil isun ilang” (baru saja, mobilku hilang juga)

“Haaaaaaa….!!!!!”

Begitulah kawan sedaerah yang tinggal di Ciputat ini menelpon saya saat kejadian kedua. Tak bisa dimengerti, dalam tempo dua hari kendaraanya hilang begitu saja.

Motor GL MAX tahun 2005 hilang saat diparkir di garasi rumahnya. Ketahuan, setelah ia datang dari kampung. Sedangkan mobil barunya yang biasa untuk mengangkut komputer dagangannya dua hari berikutnya, saat ia sendiri memarkir sebentar di kantin miliknya, samping UIN Ciputat. Padahal ia sendiri hanya sebentar masuk ke dalam. Begitu ke luar mobil itu kabur sendiri tanpa terdengar apa-apa.

Kini, ia hanya menunggu dalam ketidakpastian apakah kendaraanya bisa kembali atau tidak. Yang jelas ia sudah melaporkan kasus itu kepada polisi sektor Ciputat.

“Tolongin dong kang, punya orang pinter tidak yang bisa menolong saya?”

“Maksude?”

“Ya barangkali bisa menolong secara hikmah”

“Wah kalau itu sih saya tidak tahu. Mungkin kalau David Copperfield jadi datang ke sini, kita bisa minta tolong dia untuk menyulap mobilmu kembali.”

“Bocah geblg!”

“Iyaa Mud isun turut prihatin atas musibah sing menimpamu. Tapi yaa kepriben maning, isun bli bisa nulungi.”

“Kenen Mud, jare wong tua ning Crebon, sumangsane wong dagang rumbah soun sambele tumplek, iku tandae bakalan dagangane laris.”
Aku mulai menghibur.

(begini Mud, kata orangtua di Cirebon, kalau ada tukang gado-gado sambel cairnya tumpah berantakan, maka itu pertanda baik kalau dagangannya bakalan laku keras.)

“huhahahaha…” ia tertawa tertawa lepas.

***

Saya melihat kejadian ini betul-betul mengagetkan. Kawanku yang dianggap orang baik-baik saja, terkena musibah beruntun. Namun juga sepertinya musibah itu tidak mengenal apakah orangnya baik atau buruk.

Namun secercah informasi dalam ajaran agama (Islam) kita pun bisa memperoleh informasi bahwa orang baik itu bisa akrab dengan musibah. Yang membedakan barangkali adalah bagaimana menyikapi musibah itu sendiri.

Menyikapi Musibah
Yang paling ekstrim ada yang tega melakukan bunuh diri sedangkan yang paling bagus adalah bersabar.

Namun sesungguhnya Allah akan bersama dengan orang-orang yang sabar ketika ditimpa musibah (QS. Al Anfal: 46, 66). Sedangkan yang bunuh diri (tidak sabar) akan peroleh konsekwensi berat di akhe¬rat. Diantaranya alat yang digunakan untuk membunuh dirinya akan hadir di akhirat dan terus-menerus menyiksanya unlimit. (Lih. Sunan Al-Bukhory : 5333). Musibah itu sendiri hakikatnya berasal dari Allah, karenanya dikembalikan kepadaNya (Albaqarah: 156).

Dibalik musibah itu pasti terdapat hikmah yang mendalam. Pertanyaannya, apakah hikmah dibalik musibah itu dan bagaimana menyikapinya?

Musibah (cobaan) bermacam-macam jenisnya.

Misalnya yang biasanya bekerja lancar, kini di PHK; yang biasanya beroleh keuntungan 5 juta kini hanya 500 ribu; bahkan yang biasanya tidak pernah berhutang, kini menghadapi jeratan hutang hampir mencekiknya. Bahkan teman saya hilang kendaraan berhar-ganya dalam tempo yang singkat. Dampaknya orang menjadi stress, putus asa, resah dan gelisah. Kekuatan hati dan jiwanya merosot tajam. Padahal musibah itu bukan tidak selamanya adzab dari Allah, bahkan ia lahir dari tangan (kesalahan) dirinya (Arrum: 36; Asyuura: 30).

Manusia yang tenang-tenang saja ketika ditimpa musibah bisa kita tiru. Mungkin ia menganggapp seba¬gai angin dari Selatan. Dia meyakini angin Utara dan angin Barat akan bertiup berganti-ganti. Kebangkrutan, kegagalan dan kekecewaan seberapa parahnya, dibawanya tenang-tenang saja.

Gambaran orang yang kedua ini bisa jadi karena jiwanya tersadarkan oleh kekuatan ilmu yang meruhani. Seringkali kalimat yang terucap: “hidup bagaikan roda berputar”, “hidup tidak ubahnya gelombang sinus dalam osciloscope” dst.

Musibah Identitas
Seorang mukmin senantiasa hidupnya dikelilingi oleh penyebab yang membuatnya ketar-ketir. Namun hal ini tidak lain karena Allah mencintainya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Artinya: “Seorang mukmin tidak pernah sepi dari penyebab yang membuat hidupnya tidak dirasakan: “nama baiknya dirusak, kebutuhannya terus-menerus membebaninya….. ”

Nama baik yang dirusak meru¬pakan sebuah cobaan yang cukup berat. Nama adalah identitas yang paling pribadi.

Musibah Menguji Kebaikan
Salah satu hikmah dari musibah itu sendiri adalah saat datang dan menimpa pada seorang hamba, tidak lain untuk menguji dan meningkatkan derajat kebaik¬an. Bukankah Allah akan terus menguji hakekat keyakinan (iman) hati seorang hamba terhadap Tuhannya (QS. Al Ankabut: 2).

Karenanya, boleh jadi orang yang tengah ditimpa musibah dan cobaan semata-mata orang itu tengah dikaruniai suatu nikmat atau suatu kebaikan. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُرِدْ الله بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

Artinya: Rasulullah bersabda: “barang¬siapa yang akan diberi kebaikan maka Allah berkehdak mem¬beri cobaan berupa musibah.” (Soheh Al Bukhary. Hadits no. 5313)

Menurut Abu Abi Alharwi, maksud hadits tersebut adalah diujinya seseorang dengan berbagai musibah yang menimpanya semata-mata agar memperoleh pahala kebaikan. Adapula yang mengartikan bahwa maksud hadits itu adalah untuk menampakkan suatu kebaikan maka ditimpalah musibah pada seseorang. (Fatkhul Baari)

Musibah Diampuni Dosa
Hikmah berikutnya dari suatu cobaan adalah diampuni dosanya. Sebagaimana hadits Rasulullah yang didengar oleh Abu Ubaidah:

رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : من ابتلاه الله ببلاء في جسده فهو له حطة ”

Abu Udaidah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang diuji oleh Allah dengan suatu cobaan yang menimpa badannya, maka itu adalah pengampunan dosanya.” (tafsir Al Qurthubi).

” إذا أحب الله قوما ابتلاهم فمن صبر فله الصبر ومن جزع فله الجزع ”

“Jika Allah mencintai suatu kaum mereka dicoba dengan musibah; apabila sabar dicap sebagai orang yang sabar, jika tidak akan ditimpa kegelisahan.”

Musibah tak Terelakkan
Musibah juga merupakan cobaan yang akan terus menimpa orang-orang beriman seperti hembusan angin yang menerpa pepohoanan. Karena orang-orang beriman akan selalu diujicoba. Sementara orang munafik cobaanya lebih berat.

Dalam hadist yang lain, Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan musibah yang menimpa orang mukmin itu seperti tanaman. Tidak akan henti-hentinya diterpa angin. Sementara perumpamaan orang munafik se¬perti batang pohon yang kuat dan tak bisa digoyang oleh angin sehingga harus ditebang.” (Albayaan: 1580).

Wallahu a’lam.

Sumber: Nuzhatul Majalis, Tafsir Al Qurthubi, Tafsir Ibnu Katsir, Albayan (Alquran/Hadits digital), Fatkhul Baari, Soheh Al Bukhary.

*****
Buat Mahmud kawanku mohon bersabar. Buat Nokayu, bocah grage yang pernah mengalami cobaan berat namun kini sudah hingar-bingar hidupnya, tulisan ini sebagai refleksi pembelajaranku. Kalian semua adalah orang-orang baik, karenanya siap-siap diuji kembali kekuatan kebaikan kalian…

  1. 24 Oktober, 2007 pukul 10:33 am

    halah-halah… *sambil geleng2 mode on*
    hingar-bingar? waduh, tolong yah… hiperbola tuh trademark sayah… hingar-bingar tuh apaaah…?

    yah garis besarnya siy tabah sampe akhir & sabar tiada akhir.

    andainya mbayangin masa lalu yg bagaikan sudah jatuh, tertimpa tangga, kecebur kali, dikejar anjing gila…! yah seperti itulah kira2.
    pahit dikenang pedih dirasakan.

    tp yah kita harus think positif pd Allah swt…
    Rasul SAW, manusia yg pilihan yg paling Dia cintai, ga lepas dari cobaan…
    lha kita yg kutu kupret inih *sori…* kl mau dicintaiNya juga ya harus mau dicoba.
    itu yg bikin sayah bertahan walo rasanya siy dah ga sangup bgt wkt ngadepin nya.
    tp bukti nya…? fine2 aja kan? semua bakal berasa indah jg pd wkt nya.

    untunglah saya saat itu teringat surat al inshiroh, Allah sampai menyebutkan 2x (ayat 5 & 6) bahwa setelah kesulitan ada kemudahan…
    inilah yg bikin saya pede menyikapi hidup karna janjiNya yg amat saya yakini akan terbukti.
    subhanallah… alhamdulillah…

    Ayo Smangaaad!

    ————
    @bocah gendeng
    hahaha… semangat gendengmu semoga membuat santribengal semakin bengal (ben ngalim).. makasih mampir Nokayu… semakin memperjelas

  2. 24 Oktober, 2007 pukul 3:39 pm

    Jarang sekali orang yang bisa mengambil hikmah dari sebuah musibah. Contohnya aku sendiri….aku terkadang masih sulit menemukan hikmah dari usibah2 yang aku alami.

    ———-
    @senyumeva
    pokoknya untuk mbak Eva teruslah senyum…. maka kami² jadi senang dan musibah jadi lupa heheh 🙂

  3. 24 Oktober, 2007 pukul 3:52 pm

    Musibah memang perlu dimaknai sebagai sebuah ujian. Makin besar musibah yang dialami oleh seseorang pada umumnya juga ada unsur *halah* “blessing in disguise”-nya. Banyak hikmah tak terduga yang bakal bisa dipetik dari sohibul mushibah. Ya, semoga saja sahabat Mas Kurt itu sabar dan tawakkal menghadapinya.

    ———–
    @Sawali Tuhusetya
    ameen Allahumma aamin….

  4. 'K,
    24 Oktober, 2007 pukul 6:03 pm

    postingan yg mencerahkan,,mudah2an musibah saya merupakan pengampunan dosa saya,amin

    ———-
    @’K,
    komentarnya Cerah tapi sampai saat ini ‘K, tetap misteri.. 🙂

  5. 24 Oktober, 2007 pukul 11:51 pm

    semoga sabar!

    ——-
    @peyek
    bagi kopinya dong!

  6. 25 Oktober, 2007 pukul 1:35 am

    wah saya sering bgt ditimpa musibah… alhamdulillah… itung2 ngurangin hisab di akhirat nanti

  7. 25 Oktober, 2007 pukul 8:43 pm

    sekedar info, david coperfil g jadi ke indonesia. doi masih berurusan dengan fbi seputar pelecehan seksual kepada wanita…

  8. 25 Oktober, 2007 pukul 9:12 pm

    @Icha,
    amiiin…. allahumma amiiin

    @cewektulenbangetan
    untuk bukan ctb yang dilecehkan… 🙂

  9. 25 Oktober, 2007 pukul 9:27 pm

    Allah swt sering mencoba hamba Nya dengan berbagai cobaan, biasanya jika mendapat musibah lebih dekat kepada Allah. Yang paling berat jika mendapat cobaan senang, yang semestinya bersyukur atas karunia Nya.

    Kehidupan saya bagai gelombang, naik turun, musibah dan hikmah bergantian…..dan saya percaya, jika kita sabar, memohon ampunan…biasanya dibalik cobaan tadi selalu ada hikmahnya. Ditunggu saja…

    😀 edratna
    luar biasa pengalaman rohani sendiri membuat ibu semakin matang yaa… saya jadi malu sendiri nih hehehe kadang g sabaran, maunya marah dan memuntahkan sumpah serapah hahaha

  10. 26 Oktober, 2007 pukul 11:38 am

    Kalau musibah yang berupa hilangnya harta benda, saya selalu mudah untuk mengatasinya karena saya nggak punya harta selalu berpandaangan bahwa harta benda itu hanya titipan. Selain itu, saya juga berpandangan selama harta benda itu masih menjadi hak saya maka dia tidak akan hilang. Kalau hilang, bisa jadi ada hak orang lain atau mungkin juga hak Allah yang belum kita penuhi (misalnya bayar zakat).

    Musibah yang belum pernah saya alami adalah musibah kehilangan orang-orang yang saya cintai. Akan tetapi, saya selalu mencoba menata dan menyiapkan diri untuk menghadapi hal itu. Salah satunya dengan menerima sunnatullah bahwa yang hidup akan maut. Kapan datangnya, itu hanya masalah waktu. Wong saya sendiri juga akan maut kok.

  11. 26 Oktober, 2007 pukul 10:04 pm

    edratna
    memang berat juga yaa kalau naik-turun gunung ibarat cobaan.. hanya para anggota Mapala yang bisa mengatasi. 🙂

    Kang Kombor
    Mau mati ya Kang.. duuh Gustiiii… nanti dulu masih banyak ndosae… 🙂

  12. 28 Oktober, 2007 pukul 1:03 pm

    Sebagai salesman… saya selalu mengunci motor dengan dua kunci. Kunci pertama kunci yang dibuat oleh produsen. Kunci kedua adalah kunci tambahan yang dikaitkan ke roda atau rantai sepeda motor.

    Setelah kunci itu, maka dicari pula tempat yang secara akal paling aman (tempat parkir dijaga), menitipkan ke satpam yang terdekat, atau ke pedagang kaki lima.

    Jika ini sudah dilakukan dan semisal terjadi juga hilang karena sebab yang tidak teratasi. Barulah mempertimbangkan bahwa ini betul-betul musibah.

    Tapi kan cuma 5 menit. Yah… pencuri juga hanya butuh waktu kurang dari 3 menit……

    (hanya satu argumen untuk membuat skala, mana yang musibah… mana yang khilaf…)

    —————
    @agorsiloku
    manggut-manggut… inggih-inggih….

  13. tika
    8 November, 2007 pukul 4:01 pm

    to mas mahmud,

    wah kalo hanya soal cobaan berat sih saya sgt sering mengalaminya. bisa juga tuh setahun sampai nemui 3 x masalah besar. bukannya sombong lho, tapi saya justru sangat berbangga krn Gusti Allah sungguh perhatian pd saya dan keluarga saya. hmm.. saya jd merasa lebih bijaksana dan mampu mengendalikan emosi saya yg dulunya lebih meletup-letup dibanding vulcano. selain itu juga saya mendapatkan berkah yg luar biasa sebagai gantinya meski tdk dalam bentuk materi.

    to mas kurt,

    terimaksih utk semuanya. dibalik banyak hari2 merah jambu dan kelam yg kita lewati, banyak hal menyejukkan yg saya petik saat ini. sekali lagi meturnuwun.. 🙂

    :D tika
    TQ, tika, senyum2 sendiri di depan cermin tersipu-sipu kaya siput… 🙂

  14. edo
    10 November, 2007 pukul 3:27 pm

    musibah itu buat saya sebuah berita baik mas. karena setelah siang itu pasti malem, setelah dibawah ya diatas. hidup buat saya sebuah siklus. jadi, kl dapet musibah harusnya kita bilang “alhamdulillah”.
    karena setelah itu pasti sebuah kebahagiaan
    karena berarti benda yang hilang itu sudah tidak layak untuk kita, udah waktunya make yang lebih bagus
    atau berarti kita belum pantas memilikinya, krn kl punya kita bisa sombong dan terjerumus.
    hehehhe…

    mungkin ini cuma sugesti saya. tapi membantu tuh buat saya. lagian ngga ada gunanya berburuk sangka atas hidup dan sang pencipta. cuma bikin pusing kekekkeke

  15. 19 November, 2007 pukul 9:14 am

    @ edo

    Sependapat dengan komentarnya Edo. Good point. Ga perlu berburuk sangka dengan Sang Pencipta.

    Saya pernah menulis disini tentang orang2 yang selalu beruntung dan yang tidak beruntung. Yang kalau ditilik lebih jauh .. justru berhubungan dengan kebaikan seseorang.

  16. 19 November, 2007 pukul 10:01 am

    edo enak ya jika punya positif thinking seperti mas Edo. Bagaimana tidak istimewa bahwa musibah itu dianggap sesuatu yang menyenangkan. Ini hanya “diderita” oleh orang2 yang secara ruhani tercerahkan… 🙂

    erander
    sudah saya baca, dan ternyata si untung dan si sial, dua2nya berbeda sekali baik dalam sikap dan prilakunya. Terutama dalam menghadapi sesuatu yang ada di depannya. benar2 penelitian yang bagus. 🙂

  17. 21 November, 2007 pukul 5:38 am

    Kami mengundang Cak Kurtubi menjadi juri di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/11/19/pemilihan-top-posts-september-oktober-2007/

    Sebagaimana juri lain, boleh memilih postingan sendiri, boleh pula postingan orang lain. Terima kasih.

  18. edo
    21 November, 2007 pukul 12:46 pm

    to erander dan zaldeeho : saya kebetulan punya beberapa argumentasi tentang topik ini. tapi, daripada saya menuh2i blog kang kartubi, mungkin saya akan nulis tema ini di blog sayah heheeh…moga-moga kita bisa diskusi disitu.

    to kang kartubi, maap yak blognya jadi media cross posting 🙂

  19. 21 November, 2007 pukul 3:36 pm

    edo
    oooh dengan senang hati saya disambangi kang edo di sini… apalagi statementnya menyejukkan.. 🙂

  20. candra
    5 Desember, 2007 pukul 6:02 pm

    Musibah ibarat perjalanan seseorang dgn menggunakan kendaraan, jika jalanan macet dia akan tersendat bahkan berhenti tapi jika jalanan lancar dia akan berlari selama itulah yang terjadi jika kita mengendarai kendaraan dan akan terjadi selama perjalanan kita.

  21. Ali
    16 Desember, 2007 pukul 3:49 pm

    mungkinkah musibah juga karena kesalahan kita, bukan karena kita diuji misalnya karena kita enggan berjakat, sodakoh tidak sholat dan lain lain? mohon penjelasannya. Wassalam, Ali

    ————-
    Semua itu mungkin saja kang Ali. Hanya saja saya tidak bakalan menulis gara-gara kurang sedekah atau karena kita pelit kuran berzakat dll. heheh 🙂 kenapa? karena itu masuk judgement dan saya paling tidak bisa… jadi maafkanlah…

  22. 16 April, 2008 pukul 11:06 am

    ass salam kenal dari erfani semarang

  1. 10 November, 2007 pukul 10:16 am
  2. 21 November, 2007 pukul 7:29 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: