Beranda > Celotehan, Uncategorized > Semakin Kaya Semakin Miskin?

Semakin Kaya Semakin Miskin?

Bahwa orang semakin kaya semakin banyak kebutuhan. Namun semakin tidak banyak kebutuhan semkin terasa mencukupi hidup ini. Ketenangan justru didapat dari ketiadaan banyak tuntutan. Karenanya mungkinkah orang yang semakin “kaya” hakekatnya ia semakin miskin keadaanya?

Jangan tersinggung wahai saudarakoe yang kaya. Ini hanya opini sesa(a)t tapi dijamin tidak bermaksud menyesatkan. Memang ada rumus kaya ala Lenijuwita. Ada reaksi dari keterpurukan dan keprihatinan bangsa ini dalam menapaki perjalanan panjang sejarah kita. Betul apa yang dikatakan Lenni bahwa rumus :

Hasil = (usia : 10) X pendapatan bersih setahun

Logika Kemiskinan (*halah*)

Benarkah logika kemiskinan itu mengatakan bahwa miskin sama dengan terpuruk? miskin itu keterbelakangan atau ketiadaan kemampuan, atau bahkan ada ajaran mengatakan bahwa miskin itu adalah kutukan? Yaa silahkan saja berlogika seperti itu. Sepanjang logika itu belum di patenkan apalagi dipateni.

Ada hal yang anehkah dari Hadits berikut ini:

“Allahumma ahyinî miskînan wa amitnî miskînan wahsyurnî ma’a zumratil masâkîn yawm al-qiyâmah” [Ya Allah, hidupkanlah aku dalam kemiskinan, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkan aku kelak di hari akhir dengan golongan orang-orang miskin]. (Riwayat sahabat Anas bin Malik RA., lihat Jâmi’ al-Ushul, juz V, hal. 373, no. Hadits: 2774).

Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan kepada Aisyah RA: “Hai Aisyah, cintailah orang miskin dan akrablah dengan mereka, supaya Allah pun akrab dengan kamu pada hari kiamat kelak”. karenanya Nabi saw bersabda seperti kutipan di atas.

Saya tidak ingin membahas hadtis itu. Namun yang jelas, bahwa orang yang miskin memang ada sesuatu yang dianggap baik. Setidaknya adalah ketiadaan harta mampu mengekang gejolak yang merusak. Meskipun tidak sedikit pula orang-orang msikin yang cinta harta sehingga tidak bersabar. Akibatnya banyak yang menjadi penghuni asrama polisi. Demikian pula orang-orang kaya yang cinta harta pun, tidak sedikit yang masih merasa kurang, dengan banyaknya angka daftar “maling birokrasi” adalah bukti itu.

Orang yang serba kurang akan lebih baik dari serba kecukupan bisa dilihat dari sebuah ceramah seorang kyai:

Orang-orang yang pas-pasan dalam hidupnya bisa selamat dibuatnya. Semisal jika seorang suami untuk bepergian hanya mengantongi 10.000- maka dipastikan tidak akan berbuat yang tidak-tidak. Sebab maksiat konon, identik dengan berbiaya tinggi.

Sebaliknya, seorang yang berharta cukup, jika hendak kemana-mana, pastinya nginep tidak mau di mushola/masjid. ia akan bertempat tinggal di hotel. Sehinga kemudian terjadilah sesuatu pada mereka berdua yaitu: hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya…”

Singkatnya, (halah padahal tulisan ini muter-muter juga.) menjadi kaya dan miskin adalah pilihan. Karenanya, Nabi saw berpesan bahwa Kekayaan yang hakiki adalah jiwa itu sendiri.Kalau tidak salah beliau bersabda:

“Sesunggunya bukanlah kekayaan itu adalah banyaknya harta namun lebih mengarah kepada hati”.

Jika demikian para blogger sebenarnya orang-orang yang kaya. Setidaknya jarang ditemui keluhan-keluhan yang membuncah di dalam sebuah postingan. Bahkan kebanyakan adalah pengalaman-pengalaman menarik, membuat memori atau justru, curhat sana-sini bagi-bagi ilmu dan berdiskusi. Pokoknya macam-macam lah.

  1. 31 Oktober, 2007 pukul 10:08 pm

    tp ttp aja aku berdoa jd kaya…tak mau miskin…. abis miskin bikin apa2 gak khusyuk

    >>😀 icha
    Amiin semoga jadi kaya raya bukan kaya hutang

  2. 1 November, 2007 pukul 11:28 am

    Tapi saya belajar nge Blog untuk mengeluh tentang kemiskinan saya mas… 😦 so, saya adalah blogger yang miskin (anomali) Jadi miskin aja bangga ya? gimana kalau nanti kaya?🙂

    😀 lenijuwita
    Hei, bagus juga kalau miskin bangga, jadi pas kaya bangganya sudah kaya. Jadi ngapain mau mengeluhkan lagi heheh🙂

  3. 'K,
    2 November, 2007 pukul 5:40 pm

    miskin enak tapi kalo kaya juga bisa lbh banyak berbuat (mudah2an positif)

    >>>😀 ‘K,
    emang betul, kita maunya kaya tapi tetap baiak.. (kata orang awak)🙂

  4. 9 November, 2007 pukul 8:26 pm

    Yang enak adalah bisa hidup layak, minimal tak punya hutang….dan bahagia.

    Miskin juga jangan sampai terjadi, karena kita jadi nggak bisa mikir yang lain-lain, kalau hidup layak, masih bisa memikirkan orang lain. Kaya? Tentu saja mau, masalahnya godaan juga banyak, karena pada dasarnya manusia tak pernah puas….dan jarang orang yang tahan uji jika ujiannya adalah menjadi kaya.

    >>>>:D edratna
    Benar sekali bu, terima kasih tipsnya… dipostinganku sebenarnya mempermasalahkan perbaindingan “kebutuhan” yang menghinggapi orang-orang kaya, semakin kaya akhirnya kebutuhan semakin banyak. sementara si miskin yang tidak mempermasalahkan kemiskinannya, kebuthannya sedikit.. secara sentilan saya ingin mebangkitkan spirit saya sendiri, jangan mempermasalahkan kaya-miskin tapi kembali kepada ungkapn ibu di atas… cuma bahasaku belum sampai oh ternyata, ibu bisa memperjelasnya… btw tq so much…🙂

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: