Beranda > Bahasa, Kultur, Nasionalisme > SUMPAH, (BUKAN) PEMUDA!

SUMPAH, (BUKAN) PEMUDA!

Kami masih dianggap sampah pemudaJangan salahkan pemuda dong, jika dalam hati kami tidak muncul semangat nasionalisme tindakan. Sementara kami terus-menerus diteriaki, dimaki-maki dan dicaci di mana-mana. Bukannya kami diberi contoh yang baik-baik dan diajari bagaimana nilai-nilai nasionalisme itu bisa bergetar di hati kami.

Kami para pemuda bukannya tidak tahu akan adanya sumpah pemuda yang dulu diteriakkan oleh para patriotisme jadul. Kami pun tahu itu, bahkan kami hafal 100% kalimat-demi-kalimatnya.

  • PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
  • KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
  • KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.

Setiap hari ini (28 Oktober) setiap tahun kami hafal bahwa ini hari peringatan para pemuda. Bahwa zaman dahulu (28 Oktober 1928) ada banyak pemuda yang berkorban demi membela kesatuan bangsa dan negara. Patriotisme itu benar-benar terpatri dalam dada kami. Jangan ragukan itu!

Tapi entah kenapa, semua itu menjadi monumental saja. Pahatan dan sayatan peristiwa demi peristiwa kepatriotismean zaman dahulu itu hanya terekam lengkap dalam museum, baliho, diorama dan di berbagai media perekaman. Kami tinggal melihat, membaca dan mendengar semua peristiwa itu. Bahkan jika kami menulis ini, dan ikut upacara kesetiaan, kami dianggap sudah menjadi pemuda yang memiliki nasionalisme dan patriotisme?

Patriotisme belaka benar-benar sudah mematri dalam hati kami. Jangan ragukan itu. Buktinya kami menuntut para tetua, yang kini tengah menikmati hasil perjuangan pemuda zaman dulu. Namun kami tidak diberi contoh bagaimana dengan patriotisme tindakan, nasionalisme yang bisa mewujud dalam setiap aksi sosial kebangsaan.

Contoh-contoh baik sebagai bukti patriotisme tindakan dari para orang tua benar-benar tenggelam di dalam hiruk-pikuk kepentingan: Politik, ideologi, egoisme paham, egoisme partai, dan egoisme madzhab. Belum lagi virus “fatamorgana” dalam bentuk entertainment benar-benar merenggut jiwa muda kami.

Kami bertanya, siapa pemberi fasilitas itu, kami hanya menikmati karena diberi; Siapa yang mengajari kami untuk berhura-hura, korupsi, dan bergaul bebas? kami diberi fasilitas, dan didorong terus untuk melakukan itu dari berbagai tayangan, contoh-contoh di media dan kehebatan bersilat lidah dari para tetua.

Jadi jangan salahkan kami, jika kami tidak menemukan contoh patriotisme tindakan, jika para tetua uncang-uncang kaki dan bersenda gurau dengan seusianya. Sementara teman-teman kami yang telah mengharumkan nama Indonesia tercinta baik di kancah tulisan, iptek maupun olahraga dan bidang lainnya. Tapi tetap saja kami tidak diakui sebagai pemuda harapan bangsa. Apa sih maunya para tetua????

Lalu apa makna sumpah pemuda yang didengungkan itu? diam-diam kami mengendus suara dari hati para tetua kami bahwa kami ini tidak diakui sebagai komponen penentu bangsa Indonesia alias bukan “pemuda” tapi si bocah yang layak dininabobokan, tak perlu tahu, belum tua belum boleh bicara, seolah kami dianggap menjadi komponen bangsa yang dihapus dalam memori mereka. Jika para tetua berbuat salah, masih bisa “nyengir²”. Sementara kami terus-menerus dicaci dan dicemooh giliran kami berbuat salah: sumpah kamu bukan pemuda Indonesia!

Aaarrghh…. !!!

  1. 28 Oktober, 2007 pukul 11:09 am

    Sumpah,( bukan) pemuda! Keren euy, judulnya.

    Sayang, sumpah pemuda yang sangat membanggakan itu perlahan memudar.
    Bertumpah darah satu, berbangsa satu dan menjujung tinggi bahasa persatuan. Sekarang malah di beda-bedakan. Ya sukunya, agamanya. Yang paling menyolok kehidupan sosilanya. Sepertinya ada sekat di sana.

    Mari kita bersatu kembali
    membangun negeri ini

    ———–
    @hanna
    Setuju banget Ci, mari bergandeng tangan para pe(ngaku)muda…. jangan ada lagi diskriminasi untuk pemuda!

  2. 28 Oktober, 2007 pukul 2:40 pm

    Nggak, nggak. :mrgreen: Pemuda masih mampu memiliki peran dalam setiap peradaban. Pemuda masih mampu berperan dalam melakukan perubahan sosial. Hidup Pemuda Indonesia!!!

    ———–
    @Sawali Tuhusetya
    setuju… tapi berilah kami contoh, sampel produk! 🙂 :mrgreen:

  3. 28 Oktober, 2007 pukul 5:52 pm

    ga semua contoh harus ditiru
    karna itu manusia diberi akal…

    ———–
    @Novee
    hahahah anggaplah barang² bagus di etalase SOGO, terserah mau beli atau tidak… gitu ya Nokayu? 🙂

  4. 28 Oktober, 2007 pukul 6:14 pm

    Sekarang zamannya udah beda, rasa patriotisme kebangsaan sepertinya masih ada di setiap individu Indonesia hanya caranya saja berbeda. Rasa patriotisme atau nasionalisme itu sekarang terbungkus rapi (tapi tidak rusak) oleh rasa individualisme sehingga mungkin tidak begitu nampak. Tapi sayang karena tidak nampak itu maka rasa patriotisme itu tidak bisa menghasilkan suatu yang optimal.

    Mengenai pemuda yang ngga dipercaya?? Hmmm seharusnya setiap generasi lebih baik dari generasi sebelumnya! Cepat atau lambat kitapun harus menerima tongkat estafet dari yg tua2. Namun apakah kita sudah yakin bahwa kita sudah cukup baik?? (mungkin egotisme kita berkata ‘ya’)
    Ya udah, mungkin kalo membahas masalah ini nggak ada habis2nya ya! Yang lebih penting sekarang apakah kita pemuda atau bukan pemuda yang penting kompakan dulu!!! Ok? :mrgreen:

    @Yari NK
    Mantaps bos, kita harus bangkit!! hidup pemuda

  5. 28 Oktober, 2007 pukul 7:20 pm

    walah. .saya malah lupa kalo ini hari sumpah pemuda

    kadang juga terhalang dengan adap sopan santun terhadap orang tua, mudah-mudahan mereka tidak enggan untuk meyerahkan tongkat estafet itu

    @peyek
    hahah.. sibuk ama pestablogger ta?

  6. 28 Oktober, 2007 pukul 11:02 pm

    Wah keren juga nih
    jangan salahkan kami kalau kami nggak berbakti, 😛

    btw, disini kok adem ya, dimana-mana panas ngomongin KOPDAR blogger sak Indonesia RAYA
    disini tetep aja temanya ‘sesuai dengan jalur’

    @anas
    sesuai jalur, biar ngirit… 🙂

  7. 29 Oktober, 2007 pukul 12:57 am

    sumpah pemuda itu mah cuma sejarah di buku doang… buat dihapalin jaman2 sekolah….
    prakteknya mah “nothing”

    @icha
    sumpah! icha bukan pemuda tapi pemudi

  8. blogkeimanan
    29 Oktober, 2007 pukul 5:49 am

    Biarkan saja para orang tua banyak yg tidak mau memberikan contoh dg baik…
    Tapi tetaplah “belajar” utk menjadi orang baik…

    Biarkan orang tua tenggelam dengan hiruk-pikuknya nafsu dunia….
    Tapi tetaplah kita belajar “bijaksana”…

    Biarkan orang tua dengan segala kekurangan-kekurang mereka…
    Tapi disitulah kita belajar untuk menyempurnakan kekurangan mereka…

    Gunakan masa muda kita dg baik…
    Karena waktu berlangsung cepat…
    sebentar lagi kita pun akan menjadi orang tua dalam hitungan hari dan tahun…

    Jika kita menghujat orang tua kita….
    Maka bersiaplah untuk dihujat oleh anak cucu keturunan kita….

    @blogkeimanan
    Makasih atas pencerahannya… saya terkesan dengan ungkapan dua kalimat terakhir tsb….

  9. 29 Oktober, 2007 pukul 10:49 am

    setuju… tapi berilah kami contoh, sampel produk! 🙂 :mrgreen:

    Hahahaha 😀 Kalau Mas Kurt pergi ke daerah Kaliwungu, Kendal, mungkin sama dengan di Buntet kali ya, Sampeyan akan lihat, banyak pemuda yang masih menenteng kitab ke masjid menjelang “Asar. Pada kesempatan lain, mereka ikut diskusi sastra. Contoh lain, tak sedikit kaum muda yang tak pernah berhenti menuntut ilmu, umum atau agama, dengan mengesampingkan masa mudanya yang seringkali penuh hura2. Tapi, memang, sih, seperti yang Mas Kurt sampaikan, tidak sedikit juga kaum muda yang suka dugem. Memang berat tantangan yang harus dihadapi kaum muda sakini :mrgreen:

    @Sawali Tuhusetya
    saya malu pak. Soale saya juga suka “dugem” wabilkhusus kalau mengurus blog…. bukannya “dugem” juga diajarkan dalam agama? *platak digaplok sama pak kyai*

  10. 29 Oktober, 2007 pukul 11:02 am

    OOT: kemaren kamu tanya soal ngecek kuota speedy. gampang kok. log in, masukin user n password, trus ada kalo gak salah “PEMAKAIAN BULAN INI”. klik itu kayaknya. mudah2an ga salah, soalnya aku udah ga pake speedy lagi. jebol mulu 😦

    @venus
    makasih tipsnya…. sudah saya coba, pasworde yang lupa..

  11. 29 Oktober, 2007 pukul 12:59 pm

    Sumpah kerbau: “Aku bukan manusia.”

    @M.kerbau
    gawat kalau kerbau bersumpah nyaingi manusia… 🙂

  12. 29 Oktober, 2007 pukul 1:57 pm

    Oooo mungkin karena yang tua2 itu masih merasa muda. Karena mereka yang tua2 itulah yang merasa lebih punya peran dan pengalaman, nganggap yang muda belum bisa apa-apa…. (maaf klo OOT)

    Judulnya menarik, bisa-an milih kata-katanya. 😀

    @mathematicse
    karenanya yang tua boleh bicara, yang muda juga dong…. 🙂

  13. caplang™
    29 Oktober, 2007 pukul 4:33 pm

    saya termasuk pemuda kan?

    @caplang™
    yoi caplang™

  14. 29 Oktober, 2007 pukul 6:31 pm

    sumpah pemuda jaman sekarang kan dah ganti
    Sumpeh dech lo

    @kangguru
    temenya nanya: elo dech sumpeh?? 🙂

  15. 29 Oktober, 2007 pukul 7:18 pm

    Banyak anak sekolah yang tidak mengerti isi Sumpah Pemuda. Hebat sekali sekolahan sekarang.

    @Kang Kombor
    siapa dulu bapaknya… ???

  16. 29 Oktober, 2007 pukul 7:29 pm

    adudududu, sumpah pemuda nya udah kadaluarsa kayanya pak. khan sekarang bukan era nasionalisme lagi, tapi udah globalisasi.

    1. Tanah air kami satu, Planet Bumi
    2. Bahasa kami satu, American English
    3. Bangsa kami satu, Warga Dunia

    @Fadli
    hahaha…. mantap jug SPnya tapi upacaranya di mana? kantor PBB sana???

  17. 29 Oktober, 2007 pukul 8:18 pm

    Apa guna pemuda bersumpah, kalo belajar aja ogah2 an, kalo ujian aja berusaha nyontek …
    Bersumpahlah wahai pemuda…!!!

    Salami sumpah2 kita …. 😀

    @Herianto
    Siap pak dosen… kami tidak nyontek ! kalau bgt, jangan diajarin dong ekhniknya dong?

  18. 30 Oktober, 2007 pukul 12:59 am

    Ya selamatlah para pemuda … setelah jadi tua begini rindu masa muda juga euy. Selamat para pemuda … semoga jiwa muda tetap mudaha dan muda-muada …an. Amin

    @Ersis Warmansyah Abbas
    masih bisa tetap muda bank. namanya PE(NGAKU)MUDA….

  19. 30 Oktober, 2007 pukul 6:19 am

    kejayaan, peradaban tidak dibangun oleh romantisme masa lalu.
    momen sumpah pemuda adlah rumusan pemuda waktu itu untuk memecahkan masalah waktu itu.

    kita tak perlu banyak mengikuti apa yang dicontohkan oleh para tua, karna mereka tak banyak mewariskan hal yang baik untuk kita. kita perlu rumus sendiri,
    kita perlu senyawa abad ini.
    kita butuh formula kerja hari ini.

    biarkan kami bekerja dan lihatlah kan kami ubah negeri ini menjadi untaian zamrud khatulistiwa. lagi.
    karna kami pemuda, bahan bakar peradaban.

    *jangan sampai kaya iklan rokok yang ditivi*

    @bambang
    MAANTAAAAAAP!!! kalau begitu, pemuda gak boleh kena polutan….

  20. gama
    30 Oktober, 2007 pukul 1:33 pm

    Nice blog………….

    Mohon maaf bila informasi ini mengganggu dan tidak berhubungan dengan tema sobat…..

    Saya hanya ingin berbagi sedidikit tentang …..Cara tepat menyulap BLOG WORDPRESS menjadi sumber dollar.

    Sobat bisa jadikan wordpress menjadi blog bisnis. Setiap klik di blok sobat akan mendapatkan sekitar Rp.1,- sampai Rp.2,-. selama ini wordpress melarang penggunaan javascript sehingga untu memasukkan iklan insentif tidak bisa. Untuk itu sobat bisa memilih alternatif lain untuk dapat tetap memberikan dollar gratis.

    informasi dan petunjuk silahkan klik di :
    gallery-c5lxeuuycpfssic.usercash.com

    @gama

    dollar gratisss???? *clingak-clinguk*

  21. 30 Oktober, 2007 pukul 2:15 pm

    sabar mas, yang muda harus sabar, ingat adab makan bersama di meja makan yang sepuh harus di dahulukan

    @WONG@MANGLI

    hahahah … yang muda belakangan, karena yang muda yang paling sabar… ??

  22. 30 Oktober, 2007 pukul 4:58 pm

    Nasionalisme pemuda : Cukup pekikkan `Gooolll…!` ketika timnas kita bikin gol ke gawang lawan.

    @klikiri
    hahaha hari ini gooollll …besok entah kapan lagi.

  23. 30 Oktober, 2007 pukul 4:58 pm

    Jangan lupa dengan nonton bola, kurang lebih sekitar 90 menit pemuda kita sejenak melupakan narkoba, seks bebas, dll

    @Klikiri

    betul bos, bola emang bulat…

  24. yuliani
    30 Oktober, 2007 pukul 6:41 pm

    intinya jangan menyalahkan kaum muda karena kaum muda nggak sepenuhnya salah. Yang lebih penting adalah kita bisa mewujudkan apa yang makna sumpah pemuda. Apa gunanya hafal sumpah pemuda kalau hanya untuk dihafal tidak dijalani

    @yuliani

    bener sekali… betapa banyak kita *halah* hafal dikepala, lupa dikaki…

  25. 30 Oktober, 2007 pukul 11:26 pm

    Pemoeda tjuma boetoeh dipersatoekan. Masalah tjontoh, saja sepakat dengan saudari novee. Tidak semoea haroes ditjontoh dari kaoem toea. Koroepsi misalnja.

    btw, salam kenal ya…

    Hai pemoeda dan pemoedi, boetoeh “public enemy” boeat bersatoe-kah? Itoe…saja ada…MALINGSIA.

    * kabur mode On

    @Iwan Rystiono

    hahah Malingsia gak sama kan ama Malingping…. (salaman)

  26. Sq
    1 November, 2007 pukul 12:16 pm

    Ruaarr biasa, meskipun rada telat saya mampir dan baca tulisan ini. Tapi sumpah, bener-bener buat bergetaran.

    Jujur mas kurt, saya merasa sangat terwakili dengan banyak kata-kata di atas.

    Sebagai pemuda bangsa, kita ingin memberikan segenap jiwa raga, meneruskan dan mewarisi budaya bangsa.

    Tapi entah kenapa ya..Itu susahnya, kita mesti nunggu senior dulu baru diakui. Di bendung karena dianggap masih ingusan (mungkin…maaf ya bila sedikit kebawa perasaan).

    Padahal, kapan lagi pemuda diserahi tanggung jawab yang lebih besar ? Sumpah Lho, Saya Pemuda Indonesia

    😀 SQ
    heheheh bisa aja mas Qomar ini, ternyata ada juga komentar yang beremosi…. iya ingus emang bikin repot yang jadi repot yang tidak pernah merasa ingusan yaa heheh

  27. dihkokedot
    2 November, 2007 pukul 9:07 am

    seharusnya judul yang paling tepat——PEMUDA (ber) SUMPAH pada dirinya sendiri. My Love Indonesia

  28. 4 November, 2007 pukul 11:19 am

    tulisannya keren, mas..

    Sementara teman-teman kami yang telah mengharumkan nama Indonesia tercinta baik di kancah tulisan, iptek maupun olahraga dan bidang lainnya. Tapi tetap saja kami tidak diakui sebagai pemuda harapan bangsa. Apa sih maunya para tetua????

    buktinya banyak temenku yang pinter lari ke negeri merlion..
    padahal ada yang juara olimpiade fisika nasional, lho..

    😀 morishige
    TQ, kalau orangnya keren ga mas heheh 😀

  29. 13 November, 2007 pukul 11:00 am

    Saya masih pemuda gak, yak, hehe.

    Jadi ingat jaman dulu dipaksa2 ikut upacara ini upacara itu tapi rasa patriotismenya masih biasa-biasa saja.

    Rasa kebangsaan baru muncul ketika harga diri bangsa ini dilecehkan bangsa lain. Haruskah selalu begitu ?

    😀 kh indra
    ahaa… apa waktu upara di barisan belakang kali … 🙂 jadi gak semangat.
    Aneh ya, rasa nasionalisme kita kelasnya kudu di hina dulu baru bangkit… 😀

  1. 5 November, 2007 pukul 11:05 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: