Beranda > Bahasa, Dunia Pesantren, Kultur, Modernisasi > Membudayakan Bacaan dari Kanan

Membudayakan Bacaan dari Kanan

    Artikel ini dikhususkan untuk teman-teman santri di Pondok Pesantren. Di posting di sini sekedar untuk mengarsipkan.

Ini sekedar uneg-uneg saja. Dunia saat ini dikuasai oleh pembaca dari kiri. Diam-diam yang suka menjadi pembaca dari kanan kini sedikit-demi sedikit mulai menggemari bacaan dari kiri. Memang tidak salah, bahkan bukan hal disalahkan. Namun setidaknya ada hal yang cukup mengganggu jika genarasi berikutnya ikut-ikutan tidak mau membaca dari kanan.

Literatur yang bermula kanan jelas bermulanya konsepsi agama (baca islam). Pada generasi berikutnya milyaran naskah dari kanan mengalir bagai tsunami karena gairah dan kecerdasan para pemikir waktu itu. Namun sayangnya, tsunami ide itu dibalas oleh Ghulagu Khan, sehingga sungai Tigris di Irak banjir tinta hitam karena naskah-naskah yang dibaca dari kanan itu dihancurkan sehingga wair jernih Tigris berubah menjadi hitam-legam.

Fase berikutnya mulai lagi dengan satu persatu buku dihadirkan, dan tentu saja kita kehilangan literatur berharga. Pada tahun kemarin ketika Irak hancur, Ghuagu Khan jilid dua berhasil memporak porandakan bukan saja literatur melainkan semacam “character assasination” atau pembuhunan karakter. Tapi itu sisi lain yang tidak stema dengan tujuan tulisan ini. Mari kita lanjutkan.

Ketika naskah-naskah dari kanan itu hadir di Indonesia, teks itu masih asli dan banyak sekali yang bisa memahaminya. Waktu itu penjajah melarang tulisan dari kanan, namun karena kecintaan pejuang waktu itu dan masyarkat Indonesia pada umumnya, tidak heran di daerah-daerah yang tidak memahami makna dari tulisan kanan itu, mereka tetap menggunakannya.

Hanya saja bahasanya diubah dari bahasa arab menjadi bahasa melauyu (arab jawi/arab pegon). Begitu cintanya mereka kepada bahasa Al Qur’an meskipun tidak memahami ayat-ayatnya, mereka sangat anti dengan tulisan dari kiri.

Semangat para pejuang itu tidak sia-sia. Bukti itu masih kita nikmati sekarang. Kemerdekaan adalah hadiah dari mereka yang tidak lepas dari kecintaan mereka terhadap tulisan dari kanan. Mereka para pejuang itu tidak suka dengan penjajah yang bukan saja menjajah wilayah geografis, tapi budaya pun ikut dihapuskan. Lahirnya tulisan arab jawi kemdian dilarang kembali oleh penjajah dan kini semakin akrab bangsa kita dengan tulisan dari kiri.

Akhirnya yang tak pernah membaca dari kanan bagaimana kemudian menjelaskan Islam. Akhirnya, hanya doktrin dan pemaksaan kehendak dengan sedikit dibumbui oleh satu dua kutipan ayat dan diterjemahkan oleh para tutor agama sehingga para murid-murid yang tidak mengerti karakter tulisan dari kanan akhirnya manggut-manggut dan mengiayakan lalu berubahlah islam doktrinal.

Tapi sudahlah itu adalah ironi bangsa ini. Setidaknya menyenangi tulisan dari kanan harus tetap ada yang menggemarinya. Sebab mestilah menghindari upaya jungkir balik mencintai Islam dan berbicara berapi-api tentang Islam namun sayang blepotan “banget” ketika membaca tulisan dari kanan bahkan mengartikannya pun sangat tergantung oleh sebuah kitab yang dicetak oleh institusi yang dianggap suci namun “wallahu a’lam”.

Mamang tidak bisa menutup mata, dunia sekarang melahirkan banyak temuan yang dapat menjelaskan banyak hal, namun sedikit waktu menikmatinya. Kecermatan memahami hikmah dibalik peristiwa pun akhirnya melalui pendekatan pilosof dadakan. Bahkan terkadang menghindari betul upaya penelusuran kepada literatur kanan. Bahkan terkesan keren jika dikilas baliki dengan fakta sejarah masa lalu yang bisa menjelaskan dengan pendekatan sosio kiri tersebut.

Membudayakan bacaan dari kanan berarti menyemangati kembali cara memahami masalah melalui induksi – deduksi atau sebaliknya. Memang butuh banyak sekali penafsir-penafsir yang kompeten dibalik pemahaman literatur tersebut.

Setidaknya, kita bisa belajar dari para penutur kata yang dianggap telah mempengaruhi bangsa ini. Mereka disebut pembaharu dan pelopor pemikiran Islam Indonesia. Pastinya, mereka adalah amat sangat menguasai bacaan dari kanan apalagi dari kiri dan mungkin dari atas. Kelengkapan ini mestinya harus terus dikembangkan oleh generasi santri dan siapapun.

Bermula dari kanan, bermula dari bacaan. Sebab Qur’an sendiri mengajari kita agar memahami naskah. Karena dari naskah yang bermula dari kanan itu kita akan dituntun mengerti Tuhan. Dari bacaan dan naskah dan teks yang bermula dari kanan, mudah-mudahan jalan menuju ke Yang Maha Asal dapat dipahami alur logika dan blue printnya. Semoga.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: