Beranda > Lingkungan, Modernisasi, Peristiwa > Dzikiran Bersama di Bali

Dzikiran Bersama di Bali

dzikir bersama itu begitu rapih dan berwibawaDzikir bagi kalangan pesantren tidak asing dan takkan usang. Amalan budaya yang masuk katogori bid’ah ini tumbuh subur di pesantren, sesubur orang-orang yang menentangnya. Ya, bid’ah, suatu pekerjaan yang dituduh sia-sia karena tidak dikerjakan zaman Nabi saw, dan pelaku bi’dah bakalan masuk naroka. Haiyaa semua orang2 tahlilan bakalan masuk neraka dan semua yang menuduh bakalan masuk syurga? 🙂 Pantas Ibnu Qoyim sendiri berkata, “Emang yang mengatur pahala itu sampean-sampean semua!”

Tapi saya tidak akan bicara tahlilan yang dihukumi TBC itu, sebab sejak abad ke 2 kalau tidak salah, sudah beres. Kalau sekarang dipertentangkan lagi, boleh jadi, mereka sedang giat-giatnya belajar agama di “fakultas tekstual” jurusan “olok-olok” dengan dosen yang bertitel “paling the best” pendapatnya.

Dzikir akbar di Bali

Jangan dikira yang bisa berdzikir bersama itu orang-orang NU saja. Di Bali sendiri sekarang tengah berlangsung acara dzikir bersama. Berlangsung dari tanggal 3-14 Desember 2007. Suatu acara untuk mengingatkan kepada manusia terhadap ancaman iklim global yang kini tengah melanda dunia. Faktor industri maju dan dampak dari meluasnya volume CO² di udara menyebabkan efek rumah kaca dan berpengaruh buruk pada kelangsungan hidup penghuni bumi.

Polusi udara terjadi di mana-mana, akibat kurang berdzikir?Dzikiran di Bali setidaknya mengingatkan akan hadiah dari Tuhan berupa tanah, udara, air dan segala tetek bengeknya. Namun semua karunia ini telah mendekati ambang bahaya. Iklim dan bencana merupakan ulah manusia. Merawat bumi dan segala isinya demi kelancaran dan kesejahteraan penduduk bumi, mirip dengan merawat rumah kita sendiri.

Karenanya, sepantasnyalah kita sebagai penduduk bumi saat udara di rumah kotor, air bocor dan banyak hama menggenang, sepatutnya penghuni rumah itu kerjasama bahu membahu untuk memebenai lingkungan. Di sinilah komitmen bumi sebagai rumah bersama, sejatinya, tidak perlu lagi untuk saling sikut-sikutan: antara beda paham, beda ideologi, beda derajat dan nasib. Sebab masing-masing menghirup udara dan makanan yang sama.

Indonesia harus bisa berdzikir bersama negara-negara maju mengatasi ancaman global warmingDzikiran di Bali juga mengingatkan akan terbentuknya kerjasama yang harmonis antara negara kaya dengan negara setengah kaya. Ketika Australia meratifikasi protokol Kyoto, maka giliran Amerika yang masih enggan untuk menadatangani. Padahal prosentase penyuplai polutan di udara (CO2) yang terbesar adalah Amerika, Australia dan Eropa. Sementara negara Asean tidak lebih dari 3%. Jika saja Amerika tidak berdzikir dan berpikira akan dampak global warming, kemudian enggan meratifikasi protokol Kyoto, enggan untuk transfer teknologi, enggan membantu negara-negara berkembang untuk menghijaukan hutan-hutannya. Jika masih bersikukuh,  maka rasakan sendiri akibatnya.

Dzikiran bersama di Bali juga mengingatkan akan pentingnya mengatasi kemiskinan. Dengan dibentuknya adaptation fund yang akan bekerjasama untuk pelestarian lingkungan di negara-negara berkembang. Sebab dampak dari lingkungan yang tidak sehat maka orang-orang miskinlah yang paling banyak terkena dampaknya.

dzikiran lebih serius masalah climate changeDzikiran di sana memuat empat hal: mitigasi, adaptasi, transfer teknologi dan pembiayaan. Semua ini dalam rangka mengurangi emisi gas rumah kaca sebagai dampak perubahan iklim global. Adapun mitigasi meliputi pencarian cara untuk menahan lajunya emisi gas rumah kaca seperti peresap emisi itu antara lain berupa hutan, vegetasi, atau tanah yang dapat menyerap karbon dioksida (CO2). Gas CO2 merupakan yang paling banyak berpengaruh terhadap terjadinya efek rumah kaca. Adaptasi merupakan pendekatan untuk mengatasi perubahan iklim. Adaptasi terkait dengan respons sistem alam dan kemasyarakatan untuk mengatasi efek perubahan iklim. Transfer teknologi dibutuhkan dari negara maju ke negara berkembang dalam pengelolaan alam; dan pembiayaan tentunya diperlukan bagi semua pihak dalam hal mengurangi dampak global warming.

Dzikir alam perlu digiatkan

karena lupa dzikir, es di kutub mencairAgaknya, dzikir untuk meningkatkan daya waspada sepatutnya bukan saja diarahkan agar terus mengingat Tuhan melainkan dzikir itu sendiri harus berjiwa horizontal. Rusaknya lingkungan tidak lepas dari dampak teknologi yang kini berkembang pesat. Rusaknya lingkungan mesti diperbaiki dengan bersama-sama saling mewaspadai.

Sebagaimana orang yang mengingat Tuhan terus maka hatinya jadi tenang, maka mengingat dan mewaspadai dampak dari lingkungan itupun bisa menenangkan jika saja lingkungan dijaga dirawat sebaik-baiknya.

wanita banyak berperan dalam urusan dzikir horizontalJika saja kita lalai berdzikir terhadap alam, maka sudah banyak peringatan pedas kita dengan dan rasakan. Suhu bumi telah meningkat hingga 5 derajat celcius. Kita masih ingat bagaimana di Perancis dan di negara Eropah pernah terjagi gelombang panas yang merenggut nyawa ribuan orang. Banjir dan angin topan berbagai nama telah merenggut nyawa manusia yang tidak terhitung banyaknya. Ini semua tidak bisa lepas dari meningkatnya suhu bumi.

alam sudah banyak berdzikir kapan manusia mengikutinya...Karenanya, 168 negara berdzikir alam setidaknya mengakui bumi sebagai ciptaan Tuhan agar dirawat sebaik-baiknya dan membuat kesepakatan-kesepakatan antar negara. Yang isinya tidak lain agar manusia jangan serakah dalam mengurus dan menguras bumi. Sebab jika terus membandel, mungkin akan menghadapi global warming ala zaman Dinosaurus dan zaman Nabi Nuh.

Dzikir bersama arifin Ilham... sinergi vertikalDzikir horizontal ala Bali dampaknya bisa dirasakan daripada dzikir vertikal ala Arifin Ilham dengan jamaahnya di Istiqlal dan di berbagai tempat yang sering kita saksikan. Kemungkinan besar dampaknya hanya menguntungkan pribadi sementara sentuhan kepada alam dan pribadi masih banyak dipertanyakan.

pentingnya dzikir....Dzikir horizontal menyadarkan akan pentingnya pribadi dan komunitas negara maju untuk membantu negara setengah maju dan negara yang tertatih-tatih. Sebab negara-negara miskin dan berkembang menjadi negara yang paling parah dalam menghadapi pemanasan global ini. Sementara negara maju begitu antusiannya memuntahkan “ludah industri” seenaknya.

Negara miskin tinggal gigit jari saat laut pasang, banjir tak terkendali dan hawa panas/dingin tak terelakkan. Karena itu, negara kayalah semestinya yang harus banyak berdzikir, juga berpikir.

sekali lagi kita harus berdzikir horizontal...Akhirnya, dzikir yang bermanfaat adalah sebuah upaya mengingat akan dampak manfaat dari berbagai sudut vertikal dan horizontal. Inilah menurut saya makna sejati makhluk di bumi ini yang tidak sempurna. Hanya dengan aktivitas bersama dan bersatu dengan menghilangkan sekat-sekat ideologi dan paham, maka  yang inilah saya kira mereka-mereka yang hidupnya bisa bermanfaat bagi diri, lingkungan, negara, dunia akhirat…  Jika terus-menerus saling menyalahkan dan bercerai-berai padahal hidup dalam lingkup “satu rumah”  maka belum cukupkah global warming sebaga warning?.

Wallahu a’lam.

Iklan
  1. 7 Desember, 2007 pukul 3:34 pm

    Postingan ini baru tayang tanggal 7 padahal sebenarnya sudah bertengger dari tanggal 4. Maka tanggal 4-lah yang dijadikan rekam jejak. Pengennya sih setiap hari menulis, bukan memperbarui tanggal seperti kang kombor.com tapi apa daya, global warming telah mempengarhui kebiasaan bergaul dengan tetangga maya.

    Karenanya, kesibukan 5 hari ini melupakan keasikan bersua dengan para tetangga maya. Ternyata tetangga maya jika lama ditinggalkan berdampak pada perubahan iklim global juga. Yaitu iklim menulis di alam maya yang mengglobal…

    *** maaf pertamax dilarang 🙂 ****

  2. 7 Desember, 2007 pukul 3:50 pm

    Berarti saya keduax dong! 😉

    kyai Kurt, sampean iki lek nggaew istilah, onok2 ae, hehehehehe… mendingan buat hal-hal kecil yang bermanfaat aja kyai kurt, semisal menghargai mereka yang pake sepeda setiap harinya…

    ngomongin yang beginian saya gak mudeng!

    *cincing sarung, kabooooorrrrr, dari pada disetrap pak kyai*

    😉

  3. 7 Desember, 2007 pukul 3:52 pm

    yahh ga ada pertamaxnya…
    mari berdzikir demi alam 🙂

  4. 7 Desember, 2007 pukul 4:05 pm

    @ gempur & Caplang™
    hahah… maaf kang gempur, soale sampeanlah yang bisa menikmati “bike to work” sedangkan saya bike to work bisa tugel sikile sebab jauh sekali …

    Postingan ini bolehkan dianggap iseng2 tapi yaa sekedar mengingatkan akan pentingnya urusan karunia Tuhan yang lalai di dzikiri… berdzikir versi alam sekarang sudah dilalaikan… sementara berdzikir horizontal ramai ditayangkan… yaa itulah sebenarnya kesimpulanku heheh Emsory yaa… 🙂

    **sarungmu di injek saat kabur, terlihat jelas benda mirip burung ***

  5. Dee
    7 Desember, 2007 pukul 4:20 pm

    yang jelas sudah sukses, program becak to work, pesertanya ya tukang becak

  6. 7 Desember, 2007 pukul 4:26 pm

    @ Kyai Kurt: Pak Kyai, ya iyalah kalo njenengan kudunya pake motor apa mobil, la kan imbauan saya cuma yang beradius 1-2 km memakai sepeda, lebih dari itu nggih monggo pake apa aja..

    tapi, intinya tetap sama, mari berdzikir mengenal alam dan mengenal Tuhan.. untuk yang ini harus selalu didengungkan pak Kurt.

    *karena tadi sarungnya keinjek, sekarang ganti celana aja ah!* 😉

  7. 7 Desember, 2007 pukul 4:34 pm

    dzikir demi alam,
    bukan main Paman Kurt, berasa beda dan lebih dalam sepertinya 😀
    global warming ini yang paling sukar di mitigasi, adaptasi, transfer teknologi dan juga biaya..
    karena dampaknya yang pelan, laten dan sedikit demi sedikit, barangkali memang perlu sebuah formula yang kontinyu dan ajeg, ya seperti dzikir itu hehe
    ah maaf, sedang kena sindrom sok tau akut :mrgreen:
    sampun, pareng…

  8. 7 Desember, 2007 pukul 4:44 pm

    ahh … dzikir memang melampaui batasan label dan perbedaan 🙂

  9. 7 Desember, 2007 pukul 6:19 pm

    ga ngerti ah…
    tau nya cuman dzikir bulanan di tempat nya Arifin Ilham *walo baru tau kl ada yg blg bid’ah…*

    ya sud, kl gt saya mo nanya oleh2 dari Bali ajah deh…
    *ngarep.com*

  10. tauhidku
    8 Desember, 2007 pukul 12:14 pm

    dzikir itu ngga bid’ah lho… cuma caranya dengan berjamaah itu baru bid’ah..
    kalo ada yang ngga ngerti konsep bid’ah

    saya ada referensi menarik.
    http://tauhidku.wordpress.com
    tau dulu baru ngeh…

  11. 9 Desember, 2007 pukul 12:26 am

    tauhidku
    caranya harus gimana pak? sendiri2 tah? jadi kalau berjalan bersama2 dan berdzikir juga dilarangkah? kalau shalat termasuk dzikir bukan pak, terus kalau berjamaah shalatnya .. ah mbuh ah…

    tapi dzikiran di bali itu memang bid’ah yaa, kalau begitu mereka pada masuk neraka? aduuh pak pliss deh ah … 🙂

  12. tauhidku
    9 Desember, 2007 pukul 6:35 am

    masuk neraka,.. bukan karena mereka berdzikir,tapi meninggalkan keutamaan dalam berdzikir.
    shalat itu ada dalil khusus untuk dilakukan berjamaah.

    mungkin anda pernah belajar ushul fiqh:
    “asal suatu ibadah adalah haram kecuali ada dalil yang menyelisihinya”
    ini berarti tidak ada qiyas antara satu ibadah dengan ibadah yang lain. saya harap anda bisa memahami kaidah ushul dahulu sebelum mengqiyaskan sesuatu.
    begitu pula rukun tayamum tidak bisa dikiyaskan dengan wudhu’ walaupun dua2nya bersuci. disini juga demikian ‘tidak bisa mengqiyaskan dzikir dengan shalat’ karena dua ibadah ini berbeda dari segi yang banyak.
    1. Dzikir tidak perlu wudhu sedangkan shalat diharuskan
    2. Shalat dilakukan sambil berdiri, dzikir tidak harus.
    3. orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan tau hukumnya dikatakan telah meninggalkan agamanya.
    4. Shalat merupakan rukun islam sedangkan dzikir bukan.
    jadi dari sebelah mana anda bisa menyamakan hukumnya?
    al-qur’an dan haditsnya juga banyak ini ga bisa disamakan. kalo anda shalat shubuh 3 rakaat. boleh g? kena ancaman neraka ga? tentunya dia terancam neraka bukan karena shalat, tapi karena caranya menyalahi dari yang sudah ditentukan…

    “jangan lihat kecilnya suatu perbuatan, tapi lihat Mahabesarnya yang Engkau dustakan”

  13. 9 Desember, 2007 pukul 9:59 am

    @kurtubi
    wahh … berarti sampeyan salah mas … 😀 dzikir itu belum tentu ibadah, contohnya ya dzikir bersama di Bali itu … :mrgreen:

  14. 9 Desember, 2007 pukul 10:17 am

    🙂 tauhidku
    maaf yang saya maksud shalat dengan dzikir itu dari sisi bahasa, yaitu “ingat kepada Allah”. Sementara shalat dari sisi istilah yaa perbuatan yang dimulai dari takbir dan diakhiri dengan salam dengan memenuhi syarat2 rukun yang telah ditetapkan syaraiat. Dzikir yang saya maksud pun dizikir dari sisi bahasa yaitu mengingat…

    Mohon maaf jika postingan ini menggaggu keyakinan njnengan, itulah pengetahuan hamba yang doiiiif. 🙂

    makasih atas penjelasannya.

    watonist
    🙂 Dzikir tetap dzikir ibadah tetap ibadah… dzikir adalah upaya hamba Allah sementara ibadah bernilai atau tidaknya hanya Allah yang mengetahui, hatta menolong anjing yang kehausan, pernah seseorang dimasukkan ke syurga…. 🙂 tapi lagi2 itu hakNya, bukan hak kita.

  15. 9 Desember, 2007 pukul 11:01 am

    @kurtubi
    lho … kan kaidahnya seperti ini mas “asal suatu ibadah adalah haram kecuali ada dalil yang menyelisihinya” (kutip dari @tauhidku) meski saya nggak ngerti ini kaidah dari mana …

    atau jangan-jangan, dzikir yang di Bali itu yang bukan “dzikir” ??


    >>> hahaha bisa aja pake tanda kutip yaa….. semakin jelas tah bahwa dzikiran di Bali punya nilai?

  16. onohaw
    9 Desember, 2007 pukul 4:31 pm

    wah ini ada penganut geosentris masuk kayaknya pak santri… he he he 😀

  17. daenglimpo
    10 Desember, 2007 pukul 8:45 am

    ada satu “organ” didalam tubuh kita yang sebenarnya selalu berdzikir, tetapi manusia tidak pernah mau mendengarkan dzikir “organ” tersebut.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: