Beranda > Amanat, Inspirasi, Kajian Kitab, Politik > Mana ada Hidup Gratis…

Mana ada Hidup Gratis…

Kenikmatan makan dan seterusnya... perlu diwaspadaiMaaf ya akhir2 ini postinganya lagi angot. Maksudnya angot menlis berbau sok moralis… dan tulisan ini untuk kalangan sendiri. Sudah lama di laci arsip … sekalian blajar nulis refleksi akhir tahun meniru pak Sawali

KYAI saya suatu ketika berpesan: “Berhati-hatilah ketika kita mendapatkan nikmat meskipun datang dari Tuhan.” Maksudnya boleh jadi kenikmatan yang diperoleh selama ini tidaklah gratis meskipun datang dari Allah swt. Karena semua kenikmatan mesti dipertanggungjawabkan. Rupanya, kyai saya mengutip ayat berikutperingat (Al Maaโ€™uun: 7)

Artinya: โ€œKemudian pada hari nanti segala kenikmatan pasti akan dipertanggungjawabkan.โ€

Imam Al Qurthubi (nama saya katanya diambil dari pengarang buku produktif dari Cordova ini, sempat2nya narsis yaa ๐Ÿ™‚ Imam Al Qurthubi dalam kitab tafsirnya menceritakan bagaimana reaksi para sahabat Rasulullah saw ketika turun ayat ini. Para sahabat bertanya: โ€œYa Rasulullah, kenikmatan yang mana yang akan ditanya? Kami hanya menelan separuh dari roti kering di perut kami.. Kemudian sebelum Rasulullah saw menjawab diberi wahyu untuk bertanya kepada mereka:
โ€Apakah mereka juga minum dan beralas kaki?โ€ itu semua termasuk kenikmatan yang akan ditanya. Sedangkan menurut hadist dari Ibnu Masโ€™ud Rasul mengatakan termasuk nikmat Kesehatan dan rasa aman dan nikmat tidur. Menurut penafsiran Imam Mujahid adalah setiap bentuk kenikmatan duniawi.

Go to fullsize imageSedangkan Menurut Imam Hasan Al Bashri termasuk kenikmatan adalah masuk waktu pagi dan sore. Bahkan menurut Abu Qulabah termasuk nikmat adalah memakan roti dengan minyak samin. Adapun menurut riwayat Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas, dimana Imam An Naiโ€™m menafsirkan ayat tersebut bahwa kenikmatan adalah semua nikmat sehat badan, penglihatan, pendengaran. Semuanya akan ditanya.

โ€ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุนูŽู„ููŠู‘ู ุงุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠู’ ุทูŽู„ู’ุญูŽุฉู ุนูŽู†ู ุงุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุซูู…ู‘ูŽ ู„ูŽุชูุณู’ุฆูŽู„ูู†ู‘ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽุฆูุฐู ุนูŽู†ู ุงู„ู†ู‘ูŽุนููŠู’ู…ู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุนููŠู’ู…ู ุตูุญู‘ูŽุฉู ุงู’ู„ุฃูŽุจู’ุฏูŽุงู†ู ูˆูŽุงู’ู„ุฃูŽุณู’ู…ูŽุงุนู ูˆูŽุงู’ู„ุฃูŽุจู’ุตูŽุงุฑู ูŠูŽุณู’ุฃูŽู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู’ุนูุจู‘ูŽุงุฏู ูููŠู’ู…ูŽุง ุงุณู’ู€ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู’ู‡ูŽุง ูˆูŽู‡ููˆู’ ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ โ€ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ู’ุนูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุตูŽุฑูŽ ูˆูŽุงู„ู’ููุคูŽุงุฏูŽ ูƒูู„ู‘ู ุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ู…ูŽุณู’ุฆููˆู’ู„ุงู‹ โ€œ

Artinya: Berkata Imam Ali bin Abi Thalhah hadits dari Ibnu Abbas, maksud ayat Tsumma latus alunna yauma idzin โ€™aninnaโ€™iim; perkataan Naโ€™im berkaitan dengan sehat badan, pendengaran dan penglihatan; semuanya akan ditanyai oleh Allah terhadap hambanya untuk apa saja semua itu dipergunakan sebab Allah lebih mengetahui daripada hambaNya. Allah berfirman dalam ayat lain: โ€Sesungguhnya pendengaran, penghlihatan dan hati akan ditanyai.โ€ (Tafsir Al Qurthubi)

Dari iformasi Ayat dan tafsir serta hadits baik dari Tafsir Al Qurthubi dan Ibnu katsir sudah cukup jelas menginformasikan bahwa setiap kenikmatan akan ditanyai. Dengan kata lain benarlah bahwa hidup ini tidaklah gratis. Semuanya akan dimintai tanggung jawabnya.

Liatsaya meski badang langsing, saya tidak mau keluh kesah heheh Tidak Berkeluh Kesah
Dengan demikian, rasanya hamba Tuhan tidaklah pantas berkeluh kesah. Sebab dengan keluh kesah menjadi salah satu tanda melupakan nikmat . Boro-boro mau bersyukur yang tanpak di wajah hanya kusut masam karena berkeluh kesah. Karena itu Rasulullah dalam sabdanya melarang berkeluh kesah sebab akan dicap sebagai orang fakir (orang miskin) oleh Allah sampai hari kiamat.

Sebalkinya, Rasulullah menganjurkan agar bergembira dengan kelezatan di dalam hati karena telah menemukan rakhmat dan Islam. Hal itu ditegaskan Rasulullah setelah menerima ayat โ€qul bifadlillaahi wabirokhmatihii fabidzaalika falyafrokhuuโ€™. Sebab Islam adalah rakhmat yang besar dari Allah karenanya kesampingkan dulu keluh kesah. Ungkapan Rasulullah melarang berkeluh kesah tercantum dalam Tafsir Al Qurthubi kutipanya sebagai berikut:

ู…ูŽู†ู’ ู‡ูŽุฏูŽุงู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ู„ูู„ุฅูุณู’ู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุนูŽู„ู‘ูŽู…ูŽู‡ู ุงู„ู’ู‚ูุฑู’ุขู†ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุดูŽูƒูŽุง ุงูŽู„ู’ููŽุงู‚ู‘ูŽุฉูŽ ูƒูŽุชูŽุจูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ู’ููŽู‚ู’ุฑูŽ ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุนูŽูŠู’ู†ูŽูŠู’ู‡ู ุฅู„ู‰ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉู ู‚ูŽุงู„ูŽ: ู‚ูู„ู’ ุจูููŽุถู’ู„ู ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุจูุฑูŽุญู’ู…ูŽุชูู‡ู ููŽุจูุฐูŽุงู„ููƒูŽ ููŽู„ู’ูŠูŽูู’ุฑูŽุญููˆู’ุง.

Artinya: โ€œBarangsiapa yang sudah mendapatkan petunjuk dalam Islam dan diberi pengetahuan tentang Al-Qurโ€™an kemudian mengeluh tentang kesulitan hidup kepada Allah, niscaya Allah tuliskan (menstempel) pada kedua matanya sebagai orang fakir sampai hari kiamat. Kemdian Rasulullah saw mengucapkan firman Allah: โ€œKatakanlah dengan fadilah dan rakhmat Allah, hendaklah kalian semua bergembira.โ€

ู‚ูู„ู’ ุจูููŽุถู’ู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽุจูุฑูŽุญู’ู…ูŽุชูู‡ู ููŽุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽู„ู’ูŠูŽูู’ุฑูŽุญููˆุง ู‡ููˆูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ูู…ู‘ูŽุง ูŠูŽุฌู’ู…ูŽุนููˆู†ูŽ

Pada ungkapan hadist di atas, kata ูุจุฐู„ูƒ menurut kaidah bahasa Arab, domir ini menunjuk kepada dua kata; rahmat dan fadlun. Biasanya untuk kata ganti dua benda menggunakan ungkapan ุฐู„ูƒู…ุง tetapi di sini menggunakan mufrod โ€˜fabidzaalikaโ€™, maka menurut Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya, domir tunggal itu tetap menunjuk kepada dua lafad sebelumnya.

Menurut Imam Malik, Anugerah Allah (Fadlullah) berupa Iman sedangkan Rakhmat Allah diartikan dengan hadirnya Rasulullah saw di bumi ini, sebagaimana firman Allah :

“Tidaklah Aku utus engkau (Muhammad) semata-mata karena Rahmat bagi alam semesta.” (Al Anbiya: 107)

belajar dari Teller bank Menjaga Amanat bukan Memiliki
Kenikmatan yang diterima oleh kita merupakan titipan. Karena bersifat titipan maka sudah pasti akan dikembalikan lagi kepada pemiliknya. Seorang penjaga titipan yang baik adalah dia tidak akan merasa memiliki sedikitpun titipan itu melainkan dengan penuh tanggung jawab akan menjaganya hingga pemilik titipan berkenan mengambilnya.

Sebagai gambaran, kita diibaratkan pegawai yang memiliki tanggung jawab masing-masing; ada tukang hitung uang (kasir) atau ada tukang parkir; kedua pegawai ini tidak merasa memiliki barang yang tengah dititipkannya meskipun uang berjumlah banyak atau mobil-mobil yang diparkirnya mewah-mewah. Mereka tidak merasa memiliki sedikitpun mobil yang diparkir tersebut, malahan menjaganya dengan penuh tanggung jawab. Maka ketika kedua pegawai itu pulang ke rumah, mereka tidak membawa apa-apa. Demikian pula ketika kita pulang memasuki alam kubur, sedikitpun tidak akan dibawa barang-barang yang telah dititipkan Allah kepada kita.

Sikap Ulama Salaf menghadapi AmanatAllah
Para ulama salaf yang sejati jika dikasih amanat akan mikir-mikir terlebih dahulu sebelum menerimanya mereka lebih senang untuk menolaknya. Hal ini bisa dilihat dari keengganannya mengemban amanat sebab tidak ada yang berusaha merebut amanat. Hal ini karena merasa takut akan tanggungjawabnya nanti di akhirat.

Go to fullsize imageAlasan yang lain menurut sementara ulama adalah jika mengemban sesuatu amanat maka karena yang pertama kali dihisab,ย  nanti di akhirat adalah yang dipimpin terlebih dahulu (muridnya, anggota organisasinya, anak buahnya dst). Karena itu lebih baik tidak mengemban amanat apalagi kalau sampai terdengar ungkapan โ€œPilihlah saya, karena saya lebih baik dari yang lainโ€ Partai saya akan membawa kebaikan dll. Ungkapan ini mirip dengan kata-kata Iblis ketika enggan untuk bersujud kepada Adam: ุฃูŽู†ูŽุง ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ู‡ู Artinya: โ€œAku lebih baik dari adamโ€.

Tapi lagi-lagi itukan pilihan para ulama jadul yang tidak mau masuk ke alam politik. Sekarang politik itu penting kata sebagian orang, karenanya tidak jarang para kyai dan ulama terlibat politik.

Akhirnya, semoga di tahun ke depan, karena sudah jelas bahwa hidup itu tidak gratis bahkan semua harga-harga kini tengah menggila, maka tidaklah perlu gila karena kita tidak perlukaget. Yaa begitulah duni, tidak ada yang grtais. WALLAHU Aโ€™LAM

Bagaimana menurut Anda?

sumber foto dari gugling

 

Iklan
  1. cahyarahma
    13 Desember, 2007 pukul 1:15 am

    Assalaamu ‘alaikum pak kurtubi… Saya terharu. Lam kenal dari saya ya pak.

    >>> wa’alaikum salam
    makasih saya terharu atas hadirnya cahyaraha seorang wanita lagi…… ๐Ÿ™‚

  2. cahyarahma
    13 Desember, 2007 pukul 1:16 am

    Saya gak bisa tidur neeh, gelisah terus, ya udah buka internet aja. Eeh ketemu sama pak Kurtubi.

    >>> sabar bu nanti juga pulang heheh ๐Ÿ™‚
    *dilempar bantal*

  3. 13 Desember, 2007 pukul 2:50 am

    Wah tulisan2 Mr. Kurt akhir2 ini benar2 membuat saya malu pada diri sendiri, tapi terima kasih sekali Mr.
    “Tidak berkeluh kesah” … entah kenapa hal tsb sulit untuk saya lakukan. Berkeluh kesah sering sekali muncul laksana refleks dalam kehidupan saya. Saya baru menyadari betapa tidak bergunanya berkeluh kesah setelah keluh kesah itu keluar.

  4. 13 Desember, 2007 pukul 7:49 am

    Ungkapan ini mirip dengan kata-kata Iblis ketika enggan untuk bersujud kepada Adam.

    Benar banget kang. Tapi .. kalo Allah mengamanahkan kepada kita. Apakah harus ditolak?? bukan kah itu ujian. Jadi .. saya lebih senang menerima amanah. Karena itu artinya saya sedang diuji. Tapi saya ga pernah minta.

    Justru dengan ujian2 itu saya jadi lebih mengenal Allah. Tanpa ujian. Saya tidak tahu mana yang benar dan salah. Seperti halnya saya ujian di sekolah. Setelah jawaban saya diperiksa. Apa yang saya pikir benar eh taunya salah.

    Makanya saya takut merasa diri saya lebih hebat dari orang lain. Karena akan tergelincir seperti kutipan diatas atau jadi Firaun seperti banyak dikisahkan dalam Al Quran.

  5. 13 Desember, 2007 pukul 8:25 am

    Karena itu Rasulullah dalam sabdanya melarang berkeluh kesah sebab akan dicap sebagai orang fakir (orang miskin) oleh Allah sampai hari kiamat.

    Membaca kalimat ini membuat saya malu pada diri sendiri. Karena saya kadang lebih banyak berkeluh-kesah daripada bertindak dengan gembira. Okey deh, Pak Kurt, makasih tulisannya yang mencerahkan. Zaman sekarang memang tidak ada yang gratis. Buang hajat saja harus bayar kok, he he he.

  6. 13 Desember, 2007 pukul 8:55 am

    Assalamu ‘alaikum
    Eh, kadang saya kepikiran, lebih baik menjadi orang yang tidak tahu. Karena seseorang tidak akan diazab dengan sesuatu yang tidak dia ketahui.
    Banyak ilmu, banyak rezki, banyak kedudukan, dan semua yang banyak itu, ternyata berat.
    Memang enak jadi anak kecil yang belum baligh.

  7. 13 Desember, 2007 pukul 9:20 am

    Bersyukur dan tidak berkeluh kesah, memang benar paman Kurt…
    Karena saat berkeluh kesah, bukan beban kian ringan tapi justru terasa makin berat…
    Bersyukur mungkin yang paling pas, untuk semua karunia, dan mungkin beban yang diterima adalah maharnya ๐Ÿ˜€ maaf sok tau ni

  8. Muhammad Rachmat
    13 Desember, 2007 pukul 9:32 am

    Ya walupun ada kuliah gratis..tetep saja BAYAR untuk beli buku, ongkos naik mobil, buat makan, beli pulsa,bensin motor dll. Kalau selamanya ingin gratis berarti tidak punya harga diri donk pa !

  9. 13 Desember, 2007 pukul 10:47 am

    emang bener ternyata tulisan Bapak ini yahuddd…salam kenal yah pak

  10. 13 Desember, 2007 pukul 10:56 am

    jadi malu kang, soalnya gampang sekali saya berkeluh kesah kalau ada masalah

  11. edo
    13 Desember, 2007 pukul 12:20 pm

    *baca, ngendep, mikir, belajar set mode on.

    >>> lah emangnya saya lagi menghajar mengajar? … ๐Ÿ™‚ saya lagi menghajar diri sendiri kang… ๐Ÿ™‚

  12. daeng limpo
    13 Desember, 2007 pukul 1:42 pm

    gambar disamping berkeluh kesah, membuat saya tidak berkeluh kesah lagi….sory guyon mas kurt

  13. 13 Desember, 2007 pukul 2:24 pm

    pak Kurt. katanya kan apa yang kita berikan bakal menjadi milik kita selamanya (sabda rasul). berarti titipan itu adalah sesuatu yang belum diberikan ya? kalau semua yang kita punya “diberikan” kepada-Nya, apakah lantas kita memiliki “segalanya”? ๐Ÿ˜€

    mohon penjelasan.

  14. adipati kademangan
    13 Desember, 2007 pukul 3:06 pm

    hari ini aku makan apa yach …. (interospeksi mode : ON)
    ngikutin jejak nabi Ibrahim boleh juga tuch, kalo pas makan bareng tamu aja ato kalo sisa dari yang disuguhkan ke tamu.
    kabar – kabarnya ndak akan ditanya ya pak besok di akhirat ? tp nglakoni nya berat banget atuuhhh

  15. 13 Desember, 2007 pukul 3:51 pm

    oh… jadi untuk postingan ini tho… pertanyaan ttg tukang parkir waktu ituh…?
    heheheee…
    maap saya hanya baca isinya tp belum bisa berkomentar nih…

  16. Sayap KU
    13 Desember, 2007 pukul 4:15 pm

    “segala kenikmatan akan dipertanggung jawabkan disana” duh …. takut ya mas.

    -Ade-

  17. 13 Desember, 2007 pukul 5:19 pm

    *mode introspeksi on*
    …………berhenti berkeluh kesah–> gi dicoba
    …………menjaga amanah —> gi dicoba juga
    …………bersyukur atas apa yang diberi –> idem
    *d’oh*
    berat

    be a good one duh susahnya tapi jadi jahat juga begonya
    haiyah
    koq jadi curhat gini

  18. 13 Desember, 2007 pukul 6:43 pm
  19. 13 Desember, 2007 pukul 9:08 pm

    Ya ya mencerahkan hati menjernikan pikiran menendang rasa sesal paling dalam. Makasih pencerahannya, Maz Kurt.

  20. 13 Desember, 2007 pukul 9:16 pm

    deKing yang tidak biasanya
    Mas, aku kan hanya menulis apa yang dituliskan oleh para orang2 bijak. Tentu saja kalau saya pun berkomentar sama dengan njenengan… tapi menarik ungkpaan mas deKing:

    saya menyadari betapa tidak bergunanya berkeluh kesah stelah keluh kesah itu keluar

    Salahnya keluh kesah yaa didalam gak enak dikeluarkan salah. jadi serba salah heheh ๐Ÿ™‚

    Erander
    Satu hal tentang amanah itu sepertinyaa hanya sebuah pilihan. Ini persis seperti ada fenomena manusia: yang benci dunia, ada juga yang benci akhirat.

    btw, alur pemikiran pak Erander, sepertinya lebih mengena yaa. Harusnya saya menuliskan itu.. tapi lagi-lagi tidak nyambung. ๐Ÿ™‚

    Hanna

    Karena itu Rasulullah dalam sabdanya melarang berkeluh kesah sebab akan dicap sebagai orang fakir (orang miskin) oleh Allah sampai hari kiamat.

    Saya juga sama sekali tidak menyangka jika keluh kesah itu benar2 sisi yang tidak disukai oleh seorang Rasul Tuhan… (ini memang nasehat Rasul buat kita semuanya) saya hanya menuliskan apa yang ditulis.. prakteknya, sama dengan yang lain, kadang yazid kadang yankus… (naik turun) ๐Ÿ™‚

    Iwan Awaludin
    Pak Iwan, betul juga yaa… anak belum baligh takkan di hisab… tapi bagiyang terlnjur tumbuh dewasa, yaa tentu saja jika pengethauannya tidak dihisab, barangkali akan mengarah kepada prilaku tdak mau tahunya itu … nah kalau sudah begini gimana pak Iwan.. mohon pencerahannya. ๐Ÿ™‚

    goop
    hahah Paman Goop, bisa aja.. logikanya benar2 pas … mengingatkan pada mahar penganten. Mau enak2an mesti menanggung beban toh ๐Ÿ™‚

    Muhamad Rachmat
    Memang Pak, jika kita makan gratis terus… rasanya berapa yaa harga diri kita jika di jual? heheh ๐Ÿ™‚

    unai
    yahud (without “i”) makasih, dan ternyata unai tidak kalah yahudnya… (tanpa i juga) ๐Ÿ™‚

    itikkecil
    jangankan itik yang masihkecil, itik yang sudah besar segede saya juga sama kok. Teriak2: piyak.. piyak piyak.. saat tidak ada pasanganya… ๐Ÿ™‚

    edo
    sekalian saya siapin kopi dan rokok? tersedia gratis di sini.. heheh ๐Ÿ™‚

    daeng limpo
    ciri daeng biasanya jeli…. eheheheh ๐Ÿ™‚

    Siti Jenang
    hahaha… maksudnya diamalkan gitu yaa, dan pahala amal itu akan kembali milik kita yang sejati… yaa, jika Jenang mau praktek, saya mau menerima apa yang akan kau berikan heheheh ๐Ÿ™‚

    adipati kademangan
    oh begitu ya Pak Adipati… ini salah satu yang baru saya dengar. Tapi memang banyak pengecualian dari yang bakal tidak ditanyakan tapi nanti Insya Allah saya update. Mau mencari apa saja kenikmatan yang bakal tidak ditanyakan… ๐Ÿ™‚

    novee
    Bener nok, saya pernah yaa bertanya sama kamu yaa,makanya di laci arsip cukup lama nih… makasih ya Nop, ๐Ÿ™‚

    Sayap KU
    Ngapain takut, kan punya sayap. Kalau saya terbang baru takut karena gak punya sayap heheh ๐Ÿ™‚

    ordinary
    *mode translate curhat on*
    bee a good comment… ๐Ÿ™‚

    Shodiq Mustika
    Waah bisa gratis gak yah?
    *dasar mental gratisan*

    Ersis WA
    makasih atas komentnya Bang …. ๐Ÿ™‚

  21. sitijenang
    13 Desember, 2007 pukul 10:07 pm

    kurtubi

    He he he… btw saya udah hijrah ke wordpress pak biar lebih rame ๐Ÿ˜€

  22. 13 Desember, 2007 pukul 11:08 pm

    Kang, sampean mana linknya aku gak bisa buka..

  23. 13 Desember, 2007 pukul 11:12 pm

    hidup merupakan perjuangan serta pertanggung jawaban ๐Ÿ˜€

  24. 13 Desember, 2007 pukul 11:16 pm

    jadi teringat ucapan salah seorang dosen saya :

    hidup itu transaksi

    dan tentu saja yang namanya transaksi pastilah ada “jual dan beli”
    ๐Ÿ˜€

  25. 13 Desember, 2007 pukul 11:19 pm

    yup setuju banget… mana ada hidup gratis!!!

    soal keluh kesah…masih susah niy…saya udah kecanduan sama yg namanya keluh kesah…

  26. 13 Desember, 2007 pukul 11:20 pm

    eh… mesti masukin di profil ya? coba dulu nih. ๐Ÿ˜€

  27. 14 Desember, 2007 pukul 12:13 am

    *Tepuk tangan namaku disebut-sebut, horeeee *
    Sepakat banget Mas Kurt. Hidup ndak ada yang gratis. Semuanya butuh perjuangan. Kalau semua tangan hanya nenengadah ke langit, meminta, dan menghiba-hiba, tanpa perjuangan sama sekali, *halah* bisa2 makin banyak orang yang tersesat. Lebih banyak percaya kepada dukun daripada berjuang dengan tetesan keringat. Maaf kalau salah Mas Kurt. :mrgreen:

  28. 14 Desember, 2007 pukul 1:14 am

    @Swiwi… kata orang betawi juga ada yang bilang: “situ jual ane beli” heheh kok sama yaa.

    @Andi Bagus
    hmm bener sekali saudara.. kita memang kudu berjuang+tanggung jawab bukan tanggung tanya… ya ๐Ÿ™‚

    @Siti Jenang
    nah ini baru ok, saya sudah masuk ke sana selamat ngeblog ya..

    @Sawali Tuhusetya
    tepuk tangan juga atas komentarnya
    semoga tidak ada yang tersesat dengan percaya Dukun,
    “Maaf kalau salah Mas Kurt. :mrgreen:
    tidak kok pak Sawali…

  29. 14 Desember, 2007 pukul 7:52 am

    Betul juga ya…kalau kita makan makanan mewah berlebihan, suatu ketika akan menggerogoti kehidupan kita.

    Atau, jika kita hidup berlebihan, anak-anak dan keluarga sudah biasa menikmati kemewahan…suatu ketika akan kaget jika kondisi kita berubah.

    Jadi istilah Jawa…ngono ya ngono ning ojo ngono”…artinya sangat dalam

  30. 14 Desember, 2007 pukul 8:41 am

    edratna
    waah saya sering mendengar istilah “ngono ya ngono ning ojo ngono”
    kalau kata orang Cirebonya: aja ketemben tah? ๐Ÿ™‚

  31. rajaiblis
    14 Desember, 2007 pukul 9:36 am

    lah … baru tahu … kekkekekekekeeee …

    dipikirnya, dengan membentang sajadah, lantas komat-kamit hingga berbusa dan kering air mata, dari terbit matahari hingga terbit lagi matahari sudah cukup untuk membayar semua itu !

    bulshiit …
    ibadah itu gak ada yg gratis …

  32. rajaiblis
    14 Desember, 2007 pukul 9:39 am

    whuuaaachhhh …
    dari komentar aNE yg sepitik bisa jadi tulisan yg sedemikian panjangnya … keren …

    wakkakakakaaa …

  33. 14 Desember, 2007 pukul 10:18 am

    rajaiblis
    hahaha…. baru tahu ya rajib.
    Di pesantren ane memang diajari shalat, puasa, dzikir sampai berbusa2 tapi semua itu hanyalah untuk menyadarkan diri bahwa santri (manusia lainya) hanyalah seorang hamba bukan iblis, bukan malaikat. Sehingga karenanya para kyai menyuruh kami para santri (danmanusia pada umumnya) agar terus-terusan sadar diri bukan sadar orang lain sementara dirinya tdiak disadari ๐Ÿ™‚

    satu lagi kegiatan menggelar sajadah, dziikir shalat dll, itu salah satu tujuannya adlah untuk membesarkan rasa bukan sara.

    Makasih telah memicu santri untuk mengartikan ungkapan rajaiblis..wakakakakak ๐Ÿ™‚

  34. rajaiblis
    17 Desember, 2007 pukul 9:13 am

    kekekekekeeee … membesarkan rasa ya ?
    truzzz … kalo rasa dah besar lantas ngapain …
    awas … jangan sampe salah rasa …

    aNE pikir, kalo cuma untuk membesarkan rasa …
    gak perlu pake sholat …
    takutnya … sholat cuma dirasa-rasa …

    wakkakkakakaaaa …

  35. Mega
    17 Desember, 2007 pukul 11:27 am

    Hebat nich mas kurt..
    jadi tenang baca tulisannya..

    hidup aja sih gratis ya..yang ga gratis yang ntuk hidup itu ….lha..bingung ga tu mas..hehehe..

  36. 17 Desember, 2007 pukul 12:51 pm

    rajaiblis
    Dasar iblis sana pergi… !!! ๐Ÿ™‚
    berani menggoda orang yang sedang merasakan. Kalau di goda terus nanti perasaannya buyar alias berubah dari rasa asem ke rasa pahit, dari rasa manis ke asin.. dari rasa beragama jadi pahit beragama jadi bahaya kan Blis!!!

    Mega
    makasih mbak Mega… duh namanya seperti mantan Presiden dari PDIP jeh. Saya merasakan fotonya saja blognya mana… kenapa tidak dicantumin mbak Mega… Ah tiba-tiba mega di atas mendung hendak memberikan secercah air kehidupan …

  37. rajaiblis
    18 Desember, 2007 pukul 12:45 pm

    hiks …
    sebetulnya … agama itu bukan buat dirasa-rasa bozzz …
    agama itu supaya manusia punya akal sehat … !

  38. 18 Desember, 2007 pukul 8:48 pm

    rajaiblis
    aduuh selalu kalah langkah sama Rajib… ๐Ÿ™‚ salut!

  39. rajaiblis
    19 Desember, 2007 pukul 1:13 pm

    kalah langkah ? yo jelas toh …
    sebelum manusia ada … aNE kan dah duluan ngaji bozz !

    wakakkakakakkaaa …


    >>> heheh asli, penyakit ta(kabur)nya Iblis memang jelas sekali heheh

  40. rajaiblis
    21 Desember, 2007 pukul 11:53 am

    iblis gitu loh …

    wakakakkakaaaa …

  41. 21 Desember, 2007 pukul 10:48 pm

    Ass, baca ini jadi menyadari diri sendiri untuk tidak berkeluh kesah begini dan begitu lagi…segala sesuatu dalam hidup ini semua sudah kehendakNya ya pak Kurt manusia harus berusaha untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan.Sip deh makasih nih jadi bahan renungan tahun akan datang hehehe….Wassalam.

    >>> duuh makasih bu tapi pesan saya… yang direnungi itu isinya bu jangan saya dibawa2 heheheh ๐Ÿ™‚

    *dilempar sama botol susu*

  42. razuka
    7 Mei, 2008 pukul 1:43 pm

    >>koq bisa berkeluh kesah???//
    bukankah semua sudah diatur oleh sang peng-atur
    >>kan kita mah cuma wayang atas sandiwara dan dalang dunia??
    >>cuma perlu ikhlas Tok.

  43. razuka
    15 Mei, 2008 pukul 1:48 pm

    segal perbuatan akan kita tanggung dihari akhir……
    >>mengapa harus kita tanggung???
    jujur saja saya pribadi tidak mau menanggung segala perbuatan saya.
    >>karena saya punya “karcis Terusan” untuk tidak menanggung itu semua.
    >>karena saya sudah hopeng sama BIG BOSS

  1. 13 Desember, 2007 pukul 8:39 pm
  2. 14 Desember, 2007 pukul 12:42 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: