Beranda > Aktivitas, Amanat, Peristiwa > Khutbah tanpa Judul

Khutbah tanpa Judul

Postingan sekedar nyampah Curhat saja.

Lebaran Haji tahun ini saya masih di Jakarta. Lagi-lagi saya ketiban “kudu”. Yaitu kudu mengisi khutbah di lingkungan saya berada. Konon kabarnya, jama’ah sudah bosan dengan penghutbah yang biasa nangkring di mimbar saban tahun itu-itu saja. Tahun ini harus ada perubahan. Yang muda harus bicara!

Jder! sayalah yang “dijedotin” kudu mengikuti petuah orang-orang tua di sini. “Yang muda dilarang bicara!” sudah tidak berlaku lagi. Yang muda harus punya ilmu “kudu”: kudu mau, kudu bisa, kudu siap, kudu keras, kudu lurus… ah makin keras saja jedotan orang-orang tua itu.

Detik-detik mau berangkat setengah jam lagi, padahal sudah seminggu diberitahu, masih saja tidak mencari bahan ngomong. Bisul kecil makin sakit saja di hidung tapi sampai detik-detik terakhir menjelang shalat berlangsung baru buka-bukaan baju. Singkatnya, jam enam pagi, saya baru serius mencari bahan Mblegedez.

“apa yang harus saya omongin?” pikir saya masih linglung bingung.

Kalau saya bicara haji saya belum pernah ke sana apalagi menyentuh ka’bah; mau menerangkan masalah kurban, saya belum berquran sebanyak kawan saya; bicara masalah perbedaan hari raya, saya malah tidak mau memancing di air keruh kolam tetangga; mau bicara korupsi gak nyambung, apalagi bicara fatwa sincan harom, tambah bingung deh.” masih saja belum kepikiran.

Aha..! waktu setengah jam akhirnya cuma bilang “aha” saja. Di bawah sudah ada tamu yang menjemput saya agar segera bringsut menuju mimbar yang sudah disediakan….

jreng… akhirnya setelah takbiran membahana di lapangan itu, maka shalat Id pun selesai dikerjakan tanpa ada “interupsi” alhamdulillah memimpin shalat Id berhasil… padahal sebelumnya saya hawatir tidak hafal membaca sabbihis dan hal ataka.

Tapi setelah itu kaki saya dinginnya minta ampun padahal matahari jam 7 pagi panasnya sudah cukup menghangatkan badan. Rupanya detik-detik menegangkan itu saya harus segera naik ke mimbar. Karena protokol kyoto Jantung ini tidak bisa diajak diam, padahal tidak ada bedug di tempat ini.. dug dug dug tidak henti-hentinya.

***

Ambil napas dalam sekali, di tahan dan akhirnya kubuang dengan pelan-pelan… lalu kucapkan salam dengan suara campuran bas dan serak-serak kering. Tapi meski serak dan bas, disahutlah salam saya itu dengan suara koor yang menggema sekali menyapa para malaikat hingga ke lapisan langit ketujuh: “wa’alailkum salam warahmatullah wabarakatuh!”

“Apa pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa Idul Qurban ini?” Kata saya mengawali khutbah tanpa judul pagi itu. Biasa, memancing orang-orang yang kucek-kucek mata sekaligu berbasa-basi standar penceramah kelas dunia di awal-awal bicara. Tapi tenang saja, sebelumnya saya sudah memenuhi standar prosedural baku tentang rukun khutbah.

Kupandangi wajah sumringah satu persatu: ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, tua muda berjejalan, dengan aneka macam warna bajunya. Mata saya menatap salah satu jamaah yang saya kenal, tapi dia sendiri seperti bertanya kok saya jadi khatib? heheh. Kebanyakan jamaah itu berbaris hingga tumpah ruah ke jalanan sepanjang entah berapa meter ke ujung RT seberang sana.

Saya tidak banyak bicara hanya mengupas ayat tentang hubungan Ayah-Anak dalam hal ini Nabi Ibrahim as dan anaknya Ismail as. Saya terpantik menyampaikan itu karena ada potongan ayat yang menggoda saya untuk menyapaikan kepada khalayak. Inilah potongan ayat yang saya explor Ashoffat: 102 :

“…. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Yang saya garis bawahi itulah yang saya pertajam dalam khutbah itu. Entah apa maksudnya, saya perhatikan yang tadinya cuek jadi melongo ada pula yang mendengak melihat saya sambil manggut-manggut entah maksudnya mengerti atau apa. Yang jelas khutbah tanpa judul di pagi itu saya merasa dapat angin pagi.

Bla-bla bala saya bicara ngalor ngidul maklum sebagai khatib dadakan. Saya hanya menekankan bahwa sebuah keluarga nabi mengajarkan kepada kita akan hubungan orangtua dan anak begitu erat dan sangat terbuka, memancing berpikir dan menghargai pendapat si anak. Bukan menekan, mengklaim dan menindas si anak.

Lalu saya eksplor lagi bahwa anak itu adalah generasi, organisasi, orang yang ada di luar badan yang berbeda jenis tapi sama strukturnya: tulang, daging, darah dst sebagaimana daging kurban. Namun seperti juga kurban, darang, daging dan tulang tidak akan sampai kepada Yang Maha Kuasa, tetapi esensi dan nilai kebaikan dari ketiga unsur itulah yang bakal sampai kepada Allah.

Pokoknya dalem banget deh sampe diksinya saya pelan-pelankan tidak seperti penceramah agitasi. Saya pun sampai nyamber-nyamber pula kepada masalah kafir mengkafirkan dan masalah zaman reformasi dan informasi.

Lalu dari sini saya menjelaskan banyak tentang bagaimana pendidikan yang humanis tapi dengan bahasa kampungan yang sekiranya dimengerti betul oleh hadirin… Entahlah jamaah saat itu masih juga belum bringsut ketika saya selesai khutbah. Diajak ngobrol-ngobrol dan disalami dari sana-sini… Lah ceramah tanpa judulku rupanya diterima saja tanpa ada yang protes… sayang ya, kalau saja seperti ngegblog, mereka pasti bisa langsung koment, interupsi, protes, dan macam-macam deh. Duh apa akibatnya kalau lagi bicara di mimbar terus diprotes… ?

Iklan
  1. 22 Desember, 2007 pukul 9:38 pm

    saya nggak interupsi Pak, cuma mau nge-link blog bapak aja.
    Lain waktu ceramah di depan blogers pak kalau kangen pengen diinterupsi tapi saya tetep nggak interupsi deh janji!


    >>> terima kasih kalau mata bapak bisa ngerlink ke mari… ijinkan pula saya kerlink yaa

  2. 22 Desember, 2007 pukul 11:41 pm

    Sementara khutbah di masjid saya malah ngomongin Kristenisasi…
    Bah basi!

    tahun depan khutbah di tempat saya aja Pak :mrgreen:

    >> iyaa saya sudah baca segudang pertanyaan bang Amd luar biasa!
    anu, tahun depan saya kemungkinan “sakit” jadi gak bisa pak datang ๐Ÿ™‚

  3. 23 Desember, 2007 pukul 5:53 am

    welgedewelbeh

    ya…, seharusnya emang kalau khutbah gitu kan ga boleh komen atau bicara to? ๐Ÿ™‚ nanti tidak sah sholatnya id nya…, tapi ya…., jarang juga yang ngerti atau belagak ga ngerti, masih sering bisik sana bisik sini, …., buat yang kalau khutbah jum’at atau Id masih begitu, jangan diterusin ya…

    >> weleh-weleh, apa sedang bersemangat?

  4. 23 Desember, 2007 pukul 5:54 am

    welgedewelbeh

    ya…, seharusnya emang kalau sedang ada khutbah gitu kan ga boleh komen atau bicara dll to? ๐Ÿ™‚ nanti tidak sah sholatnya id nya…, tapi ya…., jarang juga yang ngerti atau belagak ga ngerti, masih sering bisik sana bisik sini, …., buat yang kalau khutbah jum’at atau Id masih begitu, jangan diterusin ya…


    >>> hmmm nasehat saudara sangat bijak, kadang masih ada yang lupa…

  5. 23 Desember, 2007 pukul 10:34 am

    Interupsi Kang ๐Ÿ˜€
    wuah saya pengen mendengar khotbahnya
    Lha, soalnya ditempat saya dari tahun ke tahun ko itu-itu saja :mrgreen:
    Entah, jama’ah yang lain, tapi saya ko sepertinya hafal ya Hehe


    >>> interupsi di izinkan ๐Ÿ™‚
    saya sendiri tidak paham, mau dibilang tidak punya buku2 tidak mungkin beliau-beliau tidak punya buku. Mau bilang jarang baca, masa sih? tapi khusnudzonnya, mereka sibuk kali sehingga tidak sempat buka2 buku, jadi banyak ayat2 pasaran yang berseliweran di telinga kita yang jadi bahan obrolan seperti di warung kopi… Loh kok nggoseip sih…

  6. 23 Desember, 2007 pukul 10:48 am

    Saya tertarik … saya menjelaskan banyak tentang bagaimana pendidikan yang humanis kepada jamaah tapi dengan bahasa kampungan yang sekiranya dimengerti betul oleh hadirin …

    Wah jadi pingin tahu nich ‘bahasa kampungan’. Emang ada bahasa perkotaan he he . Kapan-kapan ingin dengar ceramah (khutbah) mr. Kurt, pasti senang deh. Soalnya ‘gaya’nya keren.

    Yang pasti kalau ceramah (khutbah) semakin banyak deh audiens yang dapat digugah, kalau di blog terbatas. E eh … sekali lagi selamat mr. Kurt.


    >>> hahaha ‘bahasa kampungan’ istilah saya pengganti dari kata: “berbicaralah sesuai kadar umatnya” (entah ini ungkapan bijak siapa saya lupa) jadi malu nih dipuji-puji terus… semoga dadaku tetap kembang kempis saat bernafas heheheh

  7. 23 Desember, 2007 pukul 10:50 am

    Coba direkam…mungkin yang diharapkan jamaah adalah khutbah yang sesuai situasi terkini, dan tidak terlalu menggurui.

    >>> direkam ya bu ide bagus…

  8. bacteria
    23 Desember, 2007 pukul 3:01 pm

    judul gak penting, yang penting isi ๐Ÿ™‚

    >> isi pun gak penting kalau penampilannya ok heheh ๐Ÿ™‚

  9. 23 Desember, 2007 pukul 5:00 pm

    wah selamat pak dah bisa khutbah bahasa kampungan… saya kemarin disuruh khutbah gak sanggup ๐Ÿ˜ฆ dikasih tahunya pas malam lebaran jd gak ada persiapan blas (*padahal emang males ๐Ÿ˜€ )

    tp tipsnya klo grogi saat bicara di depan khalayak biasanya saya : memandang dengan sorot pandang tajam keliling ke seluruh pendengar… klo masih gemetaran juga biasanya saya cengkramkan tangan kiri ke mimbar ๐Ÿ˜€

    lumayan bisa teratasi

    *duh kok saya malah ngasih tips sama yg dah mahir ๐Ÿ˜ฎ punten ahhh


    >>> waah ilmu ini mahal loh pak, di buku-buku mahal biasanya tertulis seperti itu. Ternyata saya dapatkan dengan begitu mudahnya… makasih kang Den…

  10. 23 Desember, 2007 pukul 5:16 pm

    Hei kang dobelden, makasih atas tipsnya… itu sangat penting dan sangat dinanti-nanti… ๐Ÿ™‚

    anu kalau gak sempat naik, boleh kontak saya heheh

  11. 23 Desember, 2007 pukul 6:35 pm

    Walah, Mas Kurt, khutbah tanpa judul saja mendapatkan sambutan heboh dari para jamaah, apalagi kalau menggunakan konsep dan draft yang bagus. Makin heboh habis. Salut buat Mas Kurt. Kita nggak perlu pelit menularkan ilmu kepada sesama, yak, hehehehehehe ๐Ÿ˜†

    >>> halah pak Sawali, saya itu kelakukannya begitu pak gak bisa bikin yang perfect dalam rencana (draft) kebanyakan kalau bicara itu “asal njeplak” berdasarkan … jadinya yaa begitu.. memang rencana sih kadang ada, tapi ya itu tadi tidak spesifik …. biasnya saya hanya menginput satu dua kunci lalu dikembangkan di depan..

  12. 24 Desember, 2007 pukul 5:12 am

    Tuh kan bener definisi saya… mr Kurt beneran jadi kyai… ๐Ÿ˜€

    Saya jadi teringat cerita-cerita teman-teman yang jebolan pesantren. Gini katanya, “kalau kyai tuh ceramah atau khutbah langsung keluar dari pikirannya, dituntun oleh Allah… makanya walaupun (seperti ga disiapkan) ceramahnya langsung lancar… ๐Ÿ˜€ ” (karena katanya persiapannya sudah lama, dulu waktu belajar di pesantren.. sudah digembleng.. ilmunya sudah masuk ke perut… ) ๐Ÿ˜€

    >>>hahahah didaulat jadi kyai? …
    *siap-siap pake sorban melilitkan kepala*
    Pertanyaan saya, apakah orang yang bisa ngomong di depan publik dengan melafalkan huruf hijaiyah dengan fasih kemudian dipanggil kyai? …. betapa banyaknya kyai di sini.. kang Al sendiri juga kyai dengan demikian …
    kyai dalam tradisi jawa termasuk adalah keris, dan benda-benda bertuah lainnya, itu pun kadan dipanggil kyai atau Ki…

    Sekali lagi kang, saya tidak mau dilabeli kyai… biarlah itu milik para petinggi pesantren yang mengajar dan yang memanggil itu hanyalah para santrinya… heheh ๐Ÿ™‚

  13. 24 Desember, 2007 pukul 3:40 pm

    Hahaha…. oh gitu yah…(Ooo kyai itu contohnya keris bertuah ya? Waduh berarti saya keliru nih.. ). Maaf mr Kurt. .. ๐Ÿ˜€ Kalau gitu apa ya? ๐Ÿ˜€

    >> Kan di Banten mengenal juga banyak orang sakti dipanggil kyai, keris sakti juga ada yang bernama kyai bajra… ada juga Ki Joko Bodo siap coba, Ki Samber Nyawa. Begitu pula isteri kyai disebut Nyai atau Nyi… sama juga kita memanggil “penguasa” laut Kidul dengan Nyi Roro Kidul… hahah bingung kan ๐Ÿ™‚

    Karenanya panggil Kurt saja wong namanya itu kok…

  14. may
    24 Desember, 2007 pukul 5:01 pm

    saya cuman mikir…
    ide mengeksplor Surat itu loh pak
    deep

    tapi *ini siy cuma pendapat saya ajah* seringkali yang esens dan deep kaya gitu malah lebih sulit tercerna

    coba, saya bisa denger ceramah nya.. ada di you tube ga ya ๐Ÿ™‚
    ==================
    soale ceramah ditempat saya gitu-gitu ajah.. mbosenin

    >>> ah sapa bilang, wong saya tidak pake bahasa planet atau bahasa filsuf tapi bahasa kampungan…. buktinya “banyak yang ngelus2 jenggot” heheh ๐Ÿ™‚ rekamannya ada pada Malaikat pencatat… saya lupa tidak merekam malu ey… nanti Insya Allah dibuat artikelnya…

  15. tiyangsae
    24 Desember, 2007 pukul 8:34 pm

    Bangun rada kesiangan. malemnya laper karena perut ga kemasukan apa2. paginya, khutbahnya panjang lebar. saya ‘ngempet’ laper ndak karu2an. dan beliaunya cerita sejarah!

    >> Wah malamnya lembur proyek teruss ya bro…

    Waduh, nuwun sewu. tapi kalau sekedar sejarah, bisa didapat di mana saja. di bangku sd pun cerita sejarah islam sudah diberikan.

    >> betul, tinggal baca, kutip atau malas baca tolong bacain… heheh ๐Ÿ™‚

    Andai saja waktu itu khotibnya seperti njenengan, membahas sesuatu yang tersirat, yang selama ini tidak terfikirkan oleh kita. bukan tentang sesuatu yang sudah berkali2 kita dengar.

    >>> tandanya Anda itu pemerhati khutbah pendengar yang baik bukan heheh ๐Ÿ™‚

    walah, malah curhat ^^ salam kenal ya, pak.

    >>> curhat asik nanti gantian saya yang curhat… salam kenal juga

  16. restlessangel
    25 Desember, 2007 pukul 4:24 am

    salam kenal pak^^
    assalamualaikum….

    br kali ini mampir pdhl sering liat mondarmandir di mana2^^

    wah iya, coba para khatib shlat id itu ceramah yg gitu2 aja khas simbah2 *bikin ngantuk,ga didengerin, isinya juga uda bissa ketebak, ato malah berpanjang2*

    saia kok mnayangin, kl ada khatib yg interaktip, melibatkan jamah. pst ga ngantuk deh. kan dua arah gt^^
    plus topiknya yg ‘membumi’

    wassalam, pak

    >> wa’alaikum salam
    iyaa sering bolak-balik tapi gak menyapa yaa jadi gelap rasanya. makasih mampir dan menorehkan pengalamannya di sini… saya mau kunjung ke rumahmu tapi kok belum ada alamatnya yaa..

    *saya mau kirim kopi*

  17. 25 Desember, 2007 pukul 12:53 pm

    Selalu ada yang pertama dalam hidup ini .. dan Kang Kurt berhasil melewatinya dengan sukses bahkan sangat sukses malah .. terbukti ga ada yang OOT atau spam kan?? *emang nge-blog*

    Saya yakin .. pengalaman kang Kurt selama nge-blog lah yang membuat semua berjalan lancar. Jadi .. nge-blog itu ada gunanya juga kan?? keren banget. Dan .. kira2nya, kutbahnya direkam ga ya?? kalo iya .. postingin aja kang. Pasti rame deh.

    Tapi jangan lama2 .. ntar kehilangan momentumnya. Ditunggu ya.

    >>> terima kasih bos, saya masih belajar ngeblog ceramah itupun karena dipaksa nekad. Memang saya harus berterima kasih kepada goblog hingga membuat saya banyak belajar heheheh. Ah saya tidak perlu merekamnya bos… tapi Insya Allah saya posting nanti…

  18. 26 Desember, 2007 pukul 2:46 pm

    saya absen kang… hadir yaaa….
    waah..pantesan kemarin pas sholat idul adha ga ketemu di masjid… rupanya jadi khotib tooo… dimana? di istiqomah? ato di RT 007 ? padahal kalo tau pengen tuh bareng nemenin… kali aja diangkat jadi asistene… hehehehehehehehe
    btw: titipan shohibul hajat masih di saya… lupa mulu mo ke rumah…hehehehe ampe lecek tuuuh bungkusan…*gubrak*

    >> waaah makasih kalau masih setia dengan bungkusannya Pak..
    *ngintip isi bungkusan*

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: