Beranda > bergumam > DAGING-DAGING BERDZIKIR

DAGING-DAGING BERDZIKIR

daging pun berdzikirSeekor sapi pasrah dalam penantian
dikorbankan mengikuti syaraiat kenabian
berpuluh pasang mata menyaksikan
sebilah pisau memutus urat nadi kehidupan
sebait huruf hijaiyah dilantunkan
gema takbir menyapa langit mengantar qurban

para malaikat bedatangan
satu dua seribu sejuta
menjadi saksi kunci sekaligus menginput database amal
yang dibuat para hamba yang berkurban dan yang dikurbankan
daging-daging mulai berdzikir
menempati kantong-kantong kresek
sekilo dua kilo saling bertaut

ruh Qurban menuju puncak langit
daging tetap dibumi, dinikmati dan derebuti
darah, daging dan tulang takkan sampai kepada Tuhan
sebab ia tak ubahnya benda mati, tempatnya di bumi
tapi jangan lupa, sang daging terus berdzikir
gemanya terasa hingga di perut para fakir miskin

lalu apakah qurban sejati
sifat binatang yang ada pada kita
itulah makna qurban pada raabul izzati
itulah sang firman mewanti-wanti….

Inspirasi dari Al Haj: 37

  1. 23 Desember, 2007 pukul 3:28 pm

    Ooo
    Mudeng saya sekarang hakikat kurban…
    maturnuwun kang Kurt, menyadarkan sekali😀
    terima kasih

    >>> heheh … bisa aja paman, padahal sebenarnya paman sering dengar bukan?

  2. 23 Desember, 2007 pukul 3:41 pm

    Walah paman Goop cepet sekali nyambarnya hehehe sekarang sudah dimana nih paman?

  3. 23 Desember, 2007 pukul 4:06 pm

    Ouch… Pahem…kayaknya😳

    Bait terakhir itu lho..😳


    >> Bait terakhir ada apa gerangan Lee?

  4. 23 Desember, 2007 pukul 4:08 pm

    weks….gitu tho makna sebenarnya…….
    *manggut-manggut*

    >>> makna lain banyak, ini cuma inspirasi dari ayat Tuhan …

  5. 23 Desember, 2007 pukul 4:38 pm

    Mas Kurt, saya agak bawel ya. (Maaf) Saya jadi pengen tahu kenapa hari kurban mesti pakai daging?

    >> Ci Hanna, saya seneng dibawelin gitu loch heheh🙂 apalagi sama Hanna yang ehem… *gubrak dijedotin*

    Alasanya kira-kira begini:
    1. Boleh jadi itu adalah simbolisasi ibadah yang sudah direkam dalam sejarah dimana Nabi Ismail hendak disembelih namun diganti kambing. Lalu sejarah ini dilestarikan dalam ajaran Nabi Muhammad saw.

    2. Lalu bagaimana jika diganti dengan bukan daging, silahkan saja, misalnya bagi-bagi ke tetangga itu dengan sesuatu yang bermanfaat semisal: membagi baju baru, uang dll… ia tetap bernilai pahala sedekah, tetapi namanya bukan berqurban sesuai aturan prosesi ibadah qurban…

    3. Sifatnya sudah baku dari Nabi saw. Namun sekarang masalahnya ketika daging itu banyak, seperti di Arab Saudi sendiri saat ibadah haji dilakukan, banyak qurban dagingnya terhampar di mana-mana. Namun sekarang sudah dimodernisasikan dengan cara dibikin kornet. Kambing disembelih lalu secara otomatis dimasukkan dalam mesin modern dan jadilah kornet lalu dibagikan ke seluruh dunia.

    4. Ada nilai-nilai dalam agama itu mengajarkan untuk keseimbangan nutrisi. Dalam istilah ornag Indonesia 4 sehat lima sempurna. Daging merupakan protein hewani yang sangat bagus sekali dikonsumsi tentu dengan tidak berlebih-lebihan. Karenanya, daging hewani ini tetap dibutuhkan oleh mereka-mereka yang kurang biasa memakan daging dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya, kambing kurban bagus sekali jika disebarkan ke kantong-kantong yang jarang terdapat rupiahnya🙂

    5. Daging ini sifatnya hanyalah simbolisasi saja sementara yang diterima oleh Tuhan adalah kepasrahan seorang hamba untuk ikhlas berkurban. Dalam hal ini mengajarkan semua umat bergama dan tidak beragama untuk terus menggeluti nilai-nilai keikhlasan yang justru inilah yang bisa lebih dekat rasa dan nuraninya kepada Tuhan.

    6. Karena sifatnya simbol, maka ini persis dengan shalat dalam agama Islam mengapa harus pakai ruku, sujud, dan seterusnya.. Atau dalam tradisi Kristen sekarang ini, mengapa Natal menggunakan Pohon natal? apakah ini juga sebuah simbol saja bukan… sebenarnya ketaatan dan kepatuhan hamba-hamba beragamlah yang dituntut dari sebuah peribadatan..

    7. Silahkan ditambahin sendiri.… masih banyak sekali heheh🙂

    Makasih Ci Hanna mau merangsang saya sehingga terangsang untuk berbuat yang enggak-enggak berpikir dan menulis heheh

  6. 23 Desember, 2007 pukul 6:28 pm

    Saya baru ngerti… ternyata daging pun berdzikir…

    Memang betul, daging atau darah, atau tulang tak akan sampai pada Allah, karena Allah tidak memerlukannnya. Qurban pada hakikatnya adalah bentuk keikhlasan kita menjalankan perintah-Nya.😀

    >>> ikhlas yaa pak.. duh, benar sekali. Tapi saya sedang membaca sebuah buku tentang ikhlas inside dengan teknologi mutakhir..

  7. 23 Desember, 2007 pukul 6:39 pm

    Oh, ternyata daging-daging korban mampu berzikir, yak! Mudah2an dengan berkurban, sifat-sifat kebitangan yang hinggap dalam jiwa dan hati kita bisa terhapus berkat daging-daging kurban yang tak henti-hetinya berzikir. Amiiin.

    >>> iyaa pak, semoga saja bagi yang berqurban memperoleh kebaikan dunia akherat dan bersinergi dengan dzikirnya para daging2 di tubuh2 pemakan qurban..🙂

  8. zal
    23 Desember, 2007 pukul 7:49 pm

    ::Pak Kurt, jadi, berzikirnya setelah jadi daging kurban ya… ???

    >> Ah Pak Zal, itukan istilah saja… bagi para penikmat dzikir tentulah memegang prinsip: dzikir unlimit… alladzina yadzkuruna qiyaman waqu’uudan wa’alaa junubihim al ayah….🙂 ada masukan? mohon pencerahannya pak Zal

  9. 23 Desember, 2007 pukul 8:29 pm

    berkorban artinya bersiap untuk terkorban…🙂 [iya gak sih pak..? ]

    >>> yaa betul itu masuk pada korban perasaan, korban fitnah hehehe🙂

  10. 23 Desember, 2007 pukul 9:42 pm

    Kasihan sekali binatang pak kurt, meski keberadaan mereka berguna untuk manusia, tapi, dijadikan simbol buruk manusia seperti bait terakhir njenengan, “sifat binatang yang ada pada kita”, saya hanya mewakili para sapi dan kambing pak kurt, bukankah mereka juga berdzikir, berarti mereka tak seburuk yang diperkirakan.

    Nuwun sewu pak kurt, ‘just kidding’, ‘intermezzo’, mewakili kebinatangan saya yang ingin berdzikir mengharap maqom ‘Sabiq’ yg mungkin tak bakal kesampaian seperti artikel njenengan yang lalu..😉

    >>> hmm hebat yaa bisa langsung Sabiq… moga-moga lancar kabeh yaa kang?

  11. 23 Desember, 2007 pukul 9:55 pm

    Wah, makasih bangat yach, jawabannya. Jadi tambah ilmu deh, hehehehe. Siapa tahu ada teman yang bertanya dengan pertanyaan yang sama dengan saya, saya kan bisa menjawabnya, hehehheh.

    Tengkyu, Mas Kurt. Maaf, ya, bawel mulu. Pengen belajar dan pengen tahu tentang Islam.

    >>> wah sama-sama Ci Hanna saya menjawab sebisanya padahal ada yang lebih bisa, silahkan dicari pembandingnya…
    btw, heheh bawel itu asik lagi… Ya siapa tahu, Karen Amstrong Indonesia akan lahir dari Hanna🙂

  12. 23 Desember, 2007 pukul 10:15 pm

    zikir ya zikir, tapi bagaimana dengan nasib di kaki empat tersebut?

    >> dzikirnya mereka tentu berbeda dengan dzikirnya manusia… tapi segala sesuatu berdzikir itu sudah dinash dalam ayat-ayat suci: sabbaha lillahi ma fissamawati wal ardh… seisi langit dan bumi bertasbih…

    mereka punya perasaan dan kenapa harus ada perayaan qurban? Walaupun sudah ada ketentuannya namun penyembelihan = kerelaan

    >> kebaikan mereka (binatang) adalah untuk manusia bahkan binatang itu membantu kita menjadi insan yang belajar untuk rela berkorban…

  13. 23 Desember, 2007 pukul 11:17 pm

    dulu pernah denger ustadz ngomong kalo zikir itu bisa ditafsirkan mengikuti hukum Allah di alam semesta ini. tentunya semua mahluk ikut aturan, walaupun dalam “pelanggaran” sekalipun. matahari, bulan, bumi, batu, angin, ayam, kambing, manusia… pada hakikatnya kita semua berzikir, meski kebanyakan dalam taraf tidak sadar… yang dilakukan secara sadar / atau kesadaran berzikir itulah yang utama… katanya sih 8)

    >> benar adanya. Kalau mengacu pendapat Ibnu Athaillah dari artikel kemarin “Para Pencinta Tuhan” tingkatan dzikir ada tiga: biasa, sedang dan tinggi. Nah pada kategori di mulut saja juga bernilai dzikir karena lebih baik dzikir daripada tidak. Kemudian tingkatan berikutnya, sadar hati dan mulut saat berdzikir itu yang utama… lebih tinggi lagi dzikirunlimit…🙂 terima kasih.

  14. abah dedhot
    24 Desember, 2007 pukul 1:10 am

    @pak KURT
    menurut abah, kalo diamati dongeng sejarahnya sih… haqiqat qurban maknanya sangat luas, seluas langit & bumi. Peristiwa yang digelar melalui lakon Nabi Ibrahim as. adalah menyembelih keCINTAan kepada dunia & yang utama kepada “diri” (anak adalah cermin diri, penerus yang sangat didambakannya)… Peristiwa penyembelihan keCINTAan kepada selain DIA.

    >> Oh begitu ya Abah, bahwa cinta kepada selain Dia sejatinya tidak akan membahagiakan.Karenanya pelajaran “peneyembelihan” nilai selainNya itulah sebagai proses menuju cinta sejati… hehehh bener gak abah? (saya dapat point ilmu dari Abah )

    *Bukan hanya pada sifat “kebinatangannya” saja, karena pada kenyataannya, ada sifat binatang yang “lebih mulya” dari sifat manusia.*

    >>> oh yaa yah , kadang manusia itu lebih rendah daripada binatang, artinya binatang lebih tinggi kedudukanya.. Ah Abah ini tajam sekali “matanya” 🙂 (dapat lagi satu point)

    Sehingga pengenalan terhadap “diri” tetap harus dilalui, supaya sasarannya tepat pada saat penyembelihan. Karena zakat, qurban, shodaqoh, infaq dsb. tujuannya adalah untuk men”suci”kan “diri”… hal ini sesuai dengan adanya Paket Ibadah : “…dirikan shalat, tunaikan zakat…”, paket yang tidak boleh dipisahkan. Paket itu bermakna “sebelum MI’RAJ mesti ber”suci” dulu”.
    Maka timbulah pertanyaan :
    – Apa artinya ber”suci” & artinya “suci”…?
    – Apa yang di”suci”kan…?
    – Apa yang men”suci”kan…?
    – Apa yang “suci”…?

    >> hmm.. jadi “suci”, “fitrah” yang terus disemangati dalam setiap peristiwa ya Abah… (dapat lagi satu point penting dari Abah)

    weleh.. kenapa jadi larinya kesana yaa…??? abah jadi LIEURRR sendiri…
    Kalo kata mas zal: apanya yang di”kurban”kan…??? ‘kan semuanya milik DIA.
    wah… abah jadi tambah LIEURRR…. minum obat dulu ah…
    salam

    >>> kalau ini saya tidak bisa menembus Abah … terima kasih atas pencerahannya salam🙂

  15. 24 Desember, 2007 pukul 7:59 am

    Semoga qurban kita diterima oleh Allah swt. Amien.

    >>> amiin allahumma aaamiin… lala lalaaa…🙂

  16. Sayap KU
    24 Desember, 2007 pukul 9:16 am

    Kemarin Ade sempet melihat pemotongan sapi di salah satu yayasan yatim piatu, duh kasihan banget sapinya, dijatuhkan ketanah, di potong lehernya dan darah segarnya itu loh… duh Sapi, kasihan banget kamu.

    -Ade-

    >> Ade ternyata memiliki sensivitas tinggi yaa.. heheh. *ngelus-ngelus kumis*
    kata sapi: Duuh enaknya saya bisa membantu manusia… dengan cara yang halalan thoyyiban🙂

  17. 24 Desember, 2007 pukul 9:53 am

    Makasih pak, membuka wawasan saya…

    Doakan biar saya bisa berkurban thaun depan, menguliti semua sifat kebinatangan saya yang tidak pantas ada…

    >> sama-sama bro… dan doa sudah dipanjatkan heheh🙂

  18. 24 Desember, 2007 pukul 10:01 am

    sepantasnyalah mulai sekarang kita mengorbankan semua nafsu kita, kita sembelih rame-rame, karena diatasnyalah segala keserakahan.

    >>> benar kang Peyek kita rame-rame menyembelih nafsu kita namun sayangnya, kadangkala “pisaunya” itu tidak bisa setajam pisau untuk menyembelih sapi… biar landep (tajam) gitu…🙂

  19. 24 Desember, 2007 pukul 3:17 pm

    tapi walau daging berdzikir bukan berarti makan dagingnya unlimit khan kang??😀

    *perut saya sampe panas seharian ketemu ma daging😀 OD


    >> sekali makan daging, ia akan berdzikir terus berdzikir dan bertasbih bersama sel-sel lain dan berkembang terus…🙂

  20. fadespot
    24 Desember, 2007 pukul 9:08 pm

    daging itu berkata, “kapan kiranya
    dunia kan menangis, dan manusia
    meratapi kepedihan akan kehilangan
    sebahagian dari kami, yang Engkau
    jadikan kami bermakna untuk sejuta fakir miskin
    dari Bani Adam yang dimuliakan ribuan Malaikat?”

    Sungguh! ketika cinta Engkau tolak begitu saja,
    maka kami pun musnah, hanya kumpulan belatung saja
    yang menggerogoti, dalam sekejap mata
    manusia kan merasa tertindas oleh perbuatan mereka:
    lantaran tak mau bersyukur?

    Tuhan! Muliakan lah bani Ibrahimmu ini,
    tatkala berseri wajahnya seraya menyeru asma-Mu
    di fajar menyingsing, sebagai bukti kebaktian
    seorang hamba dan Sang Pencipta.

    Maka kami tidaklah sia-sia,
    sebagai bentuk dzikir kami kepada-Mu


    >>> sepertinya renungan ini yang harusnya saya posting… tapi lagi2 saya tidak sepandai rangkaian kata seindah mata saat menatap kalimat ini… saya hanya bisa katakan terima kasih banyak

  21. 24 Desember, 2007 pukul 9:35 pm

    Ya ya … komen saya: Terpesona di Sidratul Muntaha … e sori itu judul buku Agus Mustapa. Aku terdiam. Nikmat.

    >> waah nikmatnya bagi-bagi dong bang…

  22. 24 Desember, 2007 pukul 10:30 pm

    Bersiap mengorbankan hal-hal yg disenangi nafsu sebagai pembuktian bakti kepada dzat Yang Maha Menciptakan dan Berkuasa. Bisa diartika seperti itu Pak Kurt?🙂

    Lama nggak komen di blog ini.
    Semoga sehat selalu ya pak…:)

    Wassalam

  23. 24 Desember, 2007 pukul 10:34 pm

    Bersiap untuk mengorbankan hal-hal yang sangat dicintai oleh nafsu demi bakti dan pembuktian cinta pada Allah SWT yang Maha Rahman dan Rahim. Kira-kira bisa dimaknai seperti itu nggak Pak Kurt?🙂

    Lama nggak komen disini. Semoga sehat selalu ya Pak…

    Wassalam

  24. 24 Desember, 2007 pukul 11:15 pm

    euh… saya suka nggak tega liyat muka sapi kalo mau disembelih…

    kayak kayak mau nangis gitu sapinyah Om…
    😥

    >>> Tapi sapi tetap sapi, memang diciptakan untuk dihalalkan dagingnya, btw, kemarin makan sapi jugakah?

  25. shinobi
    25 Desember, 2007 pukul 7:38 am

    met idul adha ^ ^

    >>> sama-sama
    link nya mana nih?

  26. 25 Desember, 2007 pukul 2:12 pm

    hehehe ini^ ^

    pulang pergi bawa sepeda
    sepeda diparkir di sebelah kiri
    met idul adha
    jangan lupa dagingnya kirimkan kemari ^ ^

    >>> Selamat Idul Adha dan dagingnya gak usah dikirim ambil sendiri saja ya pak heheh🙂

  27. 25 Desember, 2007 pukul 2:27 pm

    ….sang daging terus berdzikir
    gemanya terasa hingga di perut para fakir miskin…

    –> ketika sampainya di tetangga yang bermobil?, sedang yang miskin malah berebutan atau pulang dengan tangan hampa…

  28. 25 Desember, 2007 pukul 5:39 pm

    he..pengamal Thoriqoh juga pa qurthubi….
    terima ksih telah berkunjung ke http://www.pesantrend.wordpress.com
    itu hanya analisa ko
    cuma sayang komentarnya sedikit !

    sekarang diundang ke http://www.bancakan.wordpress.com

    >>> analisa yaah, cukup luas tapi banyak yang mengerti kok arahnya kemana…🙂 makasih bersilaturahmi ke mari.. Mas maaf saya gak ke sana, webnya berat sekali. Mungkin header ka’bahnya kegedean… komputerku eror terus..

  29. 26 Desember, 2007 pukul 1:32 pm

    Kok daging2 ya? kedengarannya aneh, trus yang dikurban kan gak mesti sapi kan?? puisinya kedengaran aneh???

    >> puisi dagingnya masih panjang… ditulis buru2, tanpa berpikir panjang … silahkan bapak Andi tambahin lagi untuk daging kerbau, unta dan kambing… sapi sekedar sampel…
    tQ atas appresiasinya.

  30. 26 Desember, 2007 pukul 5:14 pm

    waduh daging qurbannya udah habis, tinggal satu lagi nih yang mesti aku kurbanin nafsu syahwat.

    >>> hahahaha … tuh banyak daging minta sama tukang sate. Emang nafsu syahwat bisa di sate…🙂

  31. mataharicinta
    27 Desember, 2007 pukul 8:41 pm

    daging aja berdzikir ya pak.
    kok kita yang punya akal males dzikir ya?

    >>> masalahnya kalau dzikir itu ada yang bersuara ada yang tidak… bisa jadi yang kelihatannya males dzikir, padahal ia ahli dzikir .. hayo gimana menyikapi kalau begini . bingung deh.. pegangan deh … btw, makasih mbak .. gimana setelah lulus sarjana hukum.. jadi pengacaranya jadi tah?

  32. 27 Desember, 2007 pukul 8:49 pm

    eheheh benar juga yah… daging aja berdzikir ^ ^ memang manusia sudah merasa “serba lebih” ya?😛

    >>> yang jelas manusia merasa lebih baik dari hewan

  33. hildalexander
    27 Desember, 2007 pukul 10:00 pm

    Salam,

    Aku terkurban, maka aku ada….eeeeh salah ya. Ngkonx Kurt, bagaimana dengan qurban kolektif? apakah kadar keikhlasannya juga terbagi-bagi alias tidak utuh? padahal nun jauh di kantung (pundi-pundinya) terselip jutaan lembar lima puluh ribuan atau emas berkilo-kilo batangan?

    Salam

    >>> hahah namanya apa ya jeng, pelit, medit, kepecirit atau bakhil ?? duuh masa dipanggil enkong sih…. apa ini strategi biar jangan merayu?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: