Diharuskan Riba

give the moneyRIBA dalam Al Qur’an dilarang keras! alisas diharamkan. Tapi jangan salah. Justru jika ingin hidup makmur dunia-akherat, berbuatlah: tiada hari tanpa riba. Aya aya wae!

Jika kebetulan diantara kita ada yang tengah dilanda masalah keluarga. Utamanya ekonomi salah satu sendi penggerak keharmonisan. Atau jika Anda tengah mengalami berbagai kendala usaha (bangkrut misalnya). Baik usaha pribadi atau kelompok. Maka tidak salah jika menyi¬mak nasehat salah seorang kyai Buntet kepada tamunya. Beliau memberikan nasehat agar berbuat riba sesering mungkin.

Ada seorang tamu datang ke rumah kyai, lalu berkonsultasi (harap maklum, kyai itu kadang jadi pendengar yang baik bagi tamunya) . Tiba-tiba saja dalam obrolannya, ia mengadukan masalah kebangkrutan eknominya yang selama ini dibangun.

Kepada tamunya kyai itu bertanya: “Apakah njenengan suka memberikan uang kepada orang tua?”, “tidak!” jawabnya tegas. Orang ini mengadu karena ingin mengubah nasib yang menimpanya. Usahanya hampir tidak membawa keberkahan (kebaikan ilahi yang menetap dan bersinergi dalam hidupnya).

Dari pengaduan orang ini, cara yang dilakukannya, menurut Kyai itu kurang tepat! Sebab prioritas bersedekahnya tidak sesuai tata aturan baik aturan eko¬nomi maupun agama. Untuk mengatasi agar uang kita bisa stabil, bisa melalui dua jalan. Kata Kyai itu dengan yakin.

Cara pertama
Cara ini maksudnya untuk mengelola keuangan supaya tidak malang melintang. Melalui metoda ketat, pelit atau medit! (bakhil). Dengan cara ini anggaran harus ketat, dianggarkan setiap bulan, dibajetkan, dibuat semacam anggaran pemasukan dan pengeluaran pribadi/keluarga. Konon, dengan cara ini, katanya dapat membantu mengumpulkan uang sedikit-demi sedikit. Sehingga lama-kelamaan uang keluarga akan stabil.

Cara kedua
Setiap hari jangan pegang uang. Habiskan jika uang ada di tangan! Setiap uang yang hadir di tangan kita atau yang dimiliki harus diberikan kepada orang lain tanpa ada sisa sedikitpun. Paling disediakan sekedar untuk kebutuhan besoknya. Atau benar-benar tanpa sisa! Biarkan saja besok apa adanya. Besok urusan besok yang penting hari ini harus habis. Silahkan pilih cara pertama atau kedua. kata a kyai menutup nasehatnya.

Si tamu bingung mau pilih yang mana dan saya tidak mengikuti obrolan selanjutnya. Karena waktu itu saya nguping, sembari menydorkan wedang panas. Soalnya takut cluntang (tidak sopan).

sedekah dengan uangRiba Sedekah
Dipikir-pikir benar juga nasehat itu. Sebab riba yang dimaksud oleh kyai ini mengacu pada ayat berikut:

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Tuhan. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Tuhan, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya). (Ar Ruum: 39)

Riba yang dimaksud pada bagian awal ayat itu, yaitu riba yang kamu berikan agar bertambah pada harta manusia. Menurut penafsiran Al Qurtubi dalam Tafsir Ahkamnya, adalah dalam hal pemberian hadiah. Dimana katanya, tidak ada tambahan sedikitpun pada sisi Tuhan. Dan juga tidak ada pahala bagi penerma. Jika tak berpahala, maka tidak juga berdosa.

Sedangkan menurut penafsiran Ibnu Abbas, kalimat: وما ءاتيتم من ربا adalah dengan cara menambah harta pada sisi manusia. Di sini, menurut kitab Tafsir Al Qurthubi, tidak berpahala dan tidak ada tambahan apapun .

Dalam agama telah diatur kemana saja sedekah itu disalurkan. Setidaknya ada lima tempat menafkahkan harta. Seperti tertulis dalam Al Qur’anul Karim (Al Baqarah: 215) Sebab ayat ini turun, menurut Tafsir Al Qurthubi, berkaitan dengan pertanyaan sahabat Nabi saw Amr bin Jamukh, “Ya Rasulullah harta saya banyak, kemana saya harus menyalurkan sedekah?” kemudian turun ayat berikut:

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Tuhan Maha mengetahuinya. ” (Al Baqarah: 215).

memberi sedekah... meunai riba yang baikAda 5 ranking saluran sedekah:
1. Orang tua; baik nasabi maupun sababi. Disamping ada orang tua sababi ada orang tua nasabi. Orang tua nasabi adalah yang melahirkan kita, sedang¬kan orang tua sababi ada¬lah orang-orang yang secara pribadi sangat berjasa kepada kita, baik dalam pembentukan jasmani maupun rohani. Kepada merekalah sedekah diutamakan terlebih dahulu. Berikan harta yang sangat bernilai untuk mereka. Niscaya Tuhan akan meberikan ganti lebih baik.
2. Kerabat; siapakah saudara kita ini, dimana adanya maka sebaiknya kepa¬da merekalah kita memberikan kasih shadaqah.
3. Anak Yatim; menurut kitab Fathul Baari, yatamah atau yatim adalah mere¬ka yang ditinggal ayahnya.

Niat Besedekah
Ternyata sedekah yang membatin berbeda caranya. Misalnya cara memberinya dengan niat dalam hati: “Ya Tuhan, saya titipkan harta ini di sisiMu melalui orang-orang ini, sebelum diterima oleh orang ini, mohon diterima lebih dahulu.”

Jadi bukan begitu saja langsung memberikan kepada sasaran. Tetap hati harus hadir sehingga ada permainan hati yang disadari. Misalnya, memberi Rp. 5000. Sebelum orang yang dituju menerima shadaqah kita, maka Tuhan menerima lebih dahulu.

Tuhan itu menjadi riba (melipat gandakan). Inilah riba yang sebenar¬nya, sebab kalau mau bermain riba yang benar adalah dengan Tuhan bukan dengan manusia. Bila kita memberi Rp. 5000 Tuhan siap memberi 50.000,- sebab dalam dalam Al Qur’an Tuhan telah siap melipat gandakan amal kebaikan sepuluh kali lipatnya.

Makna Riba
Sebelumnya, kita lihat dulu arti riba dalam konteks Al Qur’an. Ada sekitar 13 kata “riba” dalam terjemah Al Qur’an. (Al Bayan). Tentang kerugian-kerugian ber¬buat riba atau hukum-hukumnya, silahkan dicari sendiri di sana. Bahkan dalam tulisan singkat ini tidak akan menyingung masalah pro kontra riba. Sebab masalah ini tinggal lihat saja di fatwa-fatwa MUI atau Bakhtsul Masail NU atau fatwa-fatwa lainnya.

Di sana sifatnya sudah baku jadi tinggak copy paste saja. Saya tidak tertarik membahasnya karena sudah final, ada yang membolehkan ada yang mengharamkan dengan pembagian jenis riba dan hukum-hukumnya.

Namun satu saja ayat qur’an yang membahas betapa riba itu akan merugikan. Salah satu contoh ayat Ar Ruum: 39

Imam Al Qurhubi membagi riba ada dua macam: Riba halal dan haram. Pada ayat di atas adalah riba halal. Sebagaimana Ad Dhahak berkata, ayat tersebut adalah riba yang halal. Karena riba yang dimaksud adalah riba dengan Tuhan. Hal ini mendatangkan keutamaan dan kelebihan yang tidak dikurangi sedikitpun.

Di dalam diri manusia boleh saja berbuat riba tapi dalam konteks makna pendidikan. Sebab rab (pendidikan) seakar kata dengan riba. Karena pendidikanpun bisa beranak pinak. Inilah riba yang dibolehkan antar manusia. Karena pendidikan bisa memberikan pengetahuan yang berlipat ganda.

  1. 24 Desember, 2007 pukul 12:50 am

    aha… pertamax 8)

    >> selamat dapat pertamax gratis🙂

  2. 24 Desember, 2007 pukul 12:55 am

    alkisah ada seorang pencari yang berdoa sebelum ibadah,” ya Allah, bila ibadahku karena takut neraka, masukkan aku ke dalamnya. bila sekiranya aku mengharap surga, tutuplah pintunya. tapi, bila ridha semata yang kuharap, ya Allah, terimalah ibadahku.” 8) keduax?

    >> Itu saya terkesan luar biasa dari ungkapan seorang sufi wanita Rabiatul Adawiyah. Sayangnya sufi wanita ini jarang disinggung dalam ajaran2 kita. Sebuah ajaran Ikhlas dan Rido yang begitu tinggi akan Tuhannya dapat mengalahkan sisi-sisi fasilitas seperti neraka ataupun syurga. Makasih telah mengingatkan kita…🙂

  3. 24 Desember, 2007 pukul 12:56 am

    oke deh.. hettrixxx😀

    >> apakah maksudnya Hetrik Koes Endang?🙂

  4. abah dedhot
    24 Desember, 2007 pukul 1:21 am

    @pak kurt
    ah, abah mah tetep ajah ngga berani ngeriba sama DIA… masih mendingan sama orang lah. Kalo sama DIA mah wiii… takut. belum ketemu aja sudah remuk, lumer… apalagi minta riba… weuh.

    >> iyaa saya percaya Abah, sebab maqomnya Abah itu adalah maqam Lumer ya hehehe saya sih masih tetap keras abah, belum bisa lumer ntah unsur “batu keras” ini sulit sekali lumer.. Memang besi bisa lumer karena memperoleh “suhu” yang tinggi… jadi saya mesti bersuhu sama abah nih hehehe🙂

  5. 24 Desember, 2007 pukul 5:22 am

    Oooo begitu ya Mr. Kurt cara bersedekah itu…. serahkan dulu pada Allah (dalam hati), baru kita berikan ke sasaran.

    Saya jadi mengerti kenapa niat itu perlu dilakukan sebelum mengerjakan sesuatu. Saya jadi mengerti kenapa dengan “niat” saja (dalam melakukan kebaikan) itu sudah dicatat sebagai amal ibadah…..😀

    >>> iya kang , itulah ilmu dari kyai yang sebenarnya yaitu kyai pesantren… saya hanya meneruskan saja ide2 kyai itu…

  6. 24 Desember, 2007 pukul 6:53 am

    huhuhuhu keren…ih
    sudut pandang yang nggak biasa.
    saya milih yang mana yah?
    hm………….

    >>> hmm… pilih yang Pro heheh🙂

  7. 24 Desember, 2007 pukul 10:02 am

    Paman Kurt.
    Absen saja ya…
    Maaf sedang bingung dengan riba ini,
    sik… sik… tak mencerna dulu:mrgreen:
    parengg

    >>> hehehe.. paman goop tidak biasanya berbingung2… aada apa gerangan nih. Apa tongkatnya jatuh… tapi masih di tangan tuh heheh

  8. 24 Desember, 2007 pukul 10:23 am

    saya musti banyak belajar “riba terhadap tuhan”

    >> saya pun baru mulai menyadari saat menulis ini pak…

  9. 24 Desember, 2007 pukul 11:10 am

    Hmm, sungguh tidak biasa

  10. 24 Desember, 2007 pukul 11:12 am

    judulnya cukup nyentrixx… hehe.. bikin penasaran bacanya…😀
    ternyata isinya juga sangat berbobot… mudah-mudahan memberikan banyak pencerahan pada banyak pembaca, khususnya saya pribadi… (perlu berguru nih… )😉


    >> heheh…. padahal saya tidak bisa memancing, maafkan kalau mengganggu ketentraman… terima kasih jika ada manfaatnya.. pasti kyai sayapun seneng jika bermanfaat.

  11. 24 Desember, 2007 pukul 11:29 am

    Pak Kurt, jadi riba boleh ya, asal untuk ibadah?!

    >> Sedekah itulah riba kepada Allah, sedang riba kepada manusia menambah beban.. kira2 begitu yang saya tangkap dari keterangan kyai… contoh lain pendidikan pun termasuk riba tapi sangat bermanfaat..

  12. 24 Desember, 2007 pukul 12:21 pm

    Riba ternyata perlu kontekstual juga, yak, mas Kurt.

    Tuhan itu menjadi riba (melipat gandakan). Inilah riba yang sebenar¬nya, sebab kalau mau bermain riba yang benar adalah dengan Tuhan bukan dengan manusia. Bila kita memberi Rp. 5000 Tuhan siap memberi 50.000,- sebab dalam dalam Al Qur’an Tuhan telah siap melipat gandakan amal kebaikan sepuluh kali lipatnya.

    Tapi agaknya sekarang tidak sedikit orang yang ingin menjadi Tuhan dengan meribakan hartanya. Walah, kalau riba yang begini, gimana nih, Mas Kurt?

    >> selain kepada Allah kepada manusia pun bisa berbuat riba contohnya adalah dunia njenengan: pendidikan. Para guru adalah para pelaku riba yang manfaatnya bisa dirasakan ilmunya turun temurun kepada murid… kalau yang mau jadi tuhan saya tidak tahu pak… yang jelas mereka menikmati betul rupanya ya heheh🙂

  13. 24 Desember, 2007 pukul 1:23 pm

    Ajaran yang secara logika, tidak masuk akal sama sekali. Bukankah dengan mengeluarkan uang kita justru semakin miskin dan justru tidak memiliki apa-apa?
    Tapi, di situlah letak kemahakuasaan Sang Pencipta.
    Hal-hal yang tidak mungkin bagi manusia, adalah sangat mungkin bagi-Nya..

    ==== StreetPunk ====

    >> Yeah, setuju sekali, karenaya memang Allah itu Maha Luas Karunianya…

  14. 24 Desember, 2007 pukul 2:02 pm

    ayoo sedekaaahh… (*menirukan nada : “ayoo sekolaaahhh” )

    saya mulai dengan bersedekah senyuman nih pak kurtz…
    diterima ya..!sah ya..?sah..

    ni pak 1 senyuman buat bapak.. : ”😀 ”
    ( barang siapa memberi 1 maka ada 10 kebaikan baginya…>> nagih 10 senyuman maksute. hehe, kok malah nggak ikhlas lho… )

    kalau mau, tulisan ini saya sedekahkan juga pak, sedekah dalam hal menghibur hati sesama. Saya niatkan juga untuk bertamu di blog ini, karena tamu yang datang itu membawa Rahmat dan perginya penghapusan dosa. Ya pak ya??
    😀 permisi…

    >>>😀 saya ucapkan terima kasih atas sedekah senyumnya. Silahkan disedekahkan juga semoga bisa menuai manfaat.
    Ayoo sedeeekaaaaaah!

  15. zal
    24 Desember, 2007 pukul 2:36 pm

    ::ternyata dari sesuatu yg dipandang harom, ada pembelajaran yang luar biasa… , “inama a’malu binniat” ya… ternyata pada tiap-tiap sesuatu ada tangga untuk melangkah lebih lanjut, ini bagus sekali Pak Kurt, terima kasih😆

    >>> sama-sama bang Zal, niat awal dari suatu langkah dan tangga… termasuk menyikapi dalam agama dan ajarannya sekarang ini miris banyak yang suka dengan baju daripada hati …🙂

  16. 24 Desember, 2007 pukul 2:59 pm

    Duh..saya tercerahkan sekali dengan postingan ini. Pak, saya minta ijin narik kabel yah?😀

    >>> makasih kalau dianggap cerah… semoga gensetnya tetap menyala biar lampunya terang.. silahkan kabelnya ditarik pak, saya siapin saklarnya juga nih sama scheringnya🙂

  17. 24 Desember, 2007 pukul 3:09 pm

    aduh pak kurt makasih banget udah mengingatkan kita-kita soal riba, niat dan sedekahnya.
    ‘jangan dilihat siapa yang bicara tp lihatlah apa yang dibicarakannya’, kayaknya cocok untuk sampeyan biarpun pak kurt bilang cuma nyodorin wedang panas.
    semoga pak kurt juga niat waktu bikin tulisan jadi pak kurt juga ikutan riba dan semoga dibalas sepuluh kalinya…aminn…

  18. adipati kademangan
    24 Desember, 2007 pukul 3:13 pm

    “Justru jika ingin hidup makmur Dunia-Akherat,
    berbuatlah: tiada hari tanpa riba. Aya aya wae!”
    mungkin orang tersebut -yang karena keadaan- sudah terlilit oleh riba. Ibarat kata berkubang kedalam lumpur riba, didepan riba, dibelakang riba, disamping, dibawah dan diatas terkepung riba.
    Jika hal tersebut terjadi pada kita, maka yang harus dilakukan adalah berenang ke tepian. terus bergerak meskipun bersentuhan dengan riba asalkan tujuan akhir adalah tepian yang akan membebaskan diri dari riba.

    *saya ngomong begini bukan berarti saya setuju dengan riba* cobalah kita lihat bagaimana orang2 yang sudah terlanjur tercebur didalam kubangan riba, betapa miris sekali (bagaimana kalo seumpama hal itu terjadi pada kita) ….

    >> Ya benar, haram-halal tentang praktek riba saat ini ulama berselisih… Jika orang sudah berkubang dengan riba, itu berarti praktek sekarang dianggap sebagai riba-riba yang menggelayuti esensi kehidupan. Mengenai hukumnya tinggal pilih yang mana… saya bukan ulama karenanya saya tertarik membahas riba versi lain dari yang lain heheh🙂

  19. 24 Desember, 2007 pukul 4:20 pm

    Judulnya mengundang nih.😀

    Euh, saya mesti banyak belajar dulu… *nabung, buang uang, belajar*

    >>> mengundang apa, mengundang buang uang, atau mengundang koment heheh🙂

  20. may
    24 Desember, 2007 pukul 4:53 pm

    keren
    khas cara sufi menerangkan

    >> khas cara May berkoment🙂

  21. 24 Desember, 2007 pukul 5:10 pm

    Saya lagi baca-baca tentang hubungan entropi dan riba. Masih belum paham nih, barangkali om Kurt bisa bantu?😀

    >> hmm saya bukan pendalam masalah riba pak apalagi entropi… tapi saya tertarik untuk mengikuti dan ikut mendalami letupan pertanyaan ini makasih …🙂

  22. 24 Desember, 2007 pukul 6:41 pm

    yang pasti riba’ bukan yang renten kan pak?
    Mudah-mudahan saya bisa…..

    >> saya yakin siapapun bisa beriba dengan Allah, melaui sodakoh yang diniati mudah-mudahan ikhlas

  23. 24 Desember, 2007 pukul 7:07 pm

    Halah… paling buncit, keduluan para salaf di atas:mrgreen:
    Alhamdulillah, terimakasih Kyai Kurt, adrahinya nikmat dan mengena, mencerahkan. Ciri khasnya Buntet keluar…

    >> Urusan “buncit” itu penting kang, tempat di mana generasi terus berkembang *halah* kalau jawaban ini bukan khas buntet loh hehehe

  24. 24 Desember, 2007 pukul 8:50 pm

    Hentrixx euy…

    Saya tak tahu tentang riba, hehehehe. Tapi, saya percaya dengan bersedekah secara tulus dan ikhlas Tuhan pasti membalasnya berlipat ganda. Tidak selalu dalam bentuk uang. Kita diberi kesehatan yang prima, anak-anak yang soleh dan cerdas, kemudahan disetiap kesusahan, dijauhkan dari bencana.

    >>> hmmm benar, dengan demikian kita berharap rabbana atina fidduna hasanah di akherat juga hasanah… maka rasanya “syurga” sudah bisa diaraskan baunya…. Tapi memang kita disuruh sabar jika memang diberi cobaan

  25. 24 Desember, 2007 pukul 8:54 pm

    saya baru bisa nerima riba dari bank😀

    * semoga bisa riba pada my ROB😀

    >>> semoga… bagi2 ya pak🙂

  26. 24 Desember, 2007 pukul 9:41 pm

    Wah … wah … gaya sufi yang mudah dimenergti. Nah, kalau menulis ada (bisa dimasukkan) riba juga ngak? Yang pasti, ngak (dan jangan) riya, tentunya.

    >>> maaf bang, saya luruskan kalau saya itu bukan sufi tapi nyufi (nyruput kofi… ) lagi pula kalau yang namanya nyruput kopi, memang kudu “riya” yaitu menawarkan orang lain heheh sebagaimana juga menulis kan harus ditularkan ini riya jugakah? ehehheh…🙂

  27. 24 Desember, 2007 pukul 10:08 pm

    rasanya riba tidak bisa dihilangkan lagi, walaupun sebuah negera berbandrol “negara islan” tetapi riba tetep,

    riba memang seperti taruhan, namun apakah kita tetap riba?

    >>> kita harus riba tapi bersama Allah, kalau riba untuk manusia juga harus yaitu melalui pendidikan… karena kata riba seakar dengan rab (pendidik)

  28. Moerz
    24 Desember, 2007 pukul 10:11 pm

    saya baru melewati *eh tak lupa harus dipahami* pelajaran ini di sekolah… setiap amal yang kita ikhlaskan ada 10 amal yang menunggu…
    *asik paham, yes…*

    >>> hahah ada lagi sebenarnya bahkan menanam satu biji dibalas 700 kali lipatnya… lihat di Al Baqarah 261

  29. 25 Desember, 2007 pukul 12:29 am

    saya masih harus belajar bersedekah yang benar, trima kasih pencerahannya😀

    >>> sama-sama mas mas Toto Sugiarto, semoga saya juga bisa mendalami praknya bukan ilmunya saja…🙂

  30. 25 Desember, 2007 pukul 12:34 am

    mencerahkan..
    sedikit menjawab kegelisahan saya tentang sedekah yang utama dan baik…

    >> apa asih gelisahmu kang? *kedip2 mata*
    *dibanjur kopi kapucino*

  31. 25 Desember, 2007 pukul 5:46 am

    Karena ilmuku belum cukup, saya mencontohkan ajaran ibu alm; “Tolonglah orang lain yang memerlukan, tanpa berharap dia akan mengingat kebaikanmu atau membalas budi kepadamu. Tapi orang lain lah yang akan menolongmu jika engkau membutuhkan, dan jika tidak kepada engkau, maka anak-anakmu tidak ada kesulitan karena selalu ada yang menolong.”

    >>> waah mencerahkan sekali bu, nasehat ibunya Ibu Eny ini mirip kyai – kyai di pesantren yaa… ada kepercayaan yang luar biasa pada Yang Maha tentang pengelolaan “ekonomi” after …

    Ya, ibu saya menganut hukum positif…dan ternyata benar. Jika saya dalam kondisi sulit (zaman mahasiswa), ada saja yang mengulurkan tangan menolong. Dan benar juga, kata mas Kurt, saya pernah mendapat rejeki cukup, bonus dari kantor. Sampai rumah ada saudara menunggu, dia lagi kesulitan…akhirnya saya harus mengikhlaskan sebagian bonus tadi untuk membantu saudara. Dalam hati, saya yakin bahwa Allah ingin menolong saudara tadi melalui saya. Ternyata tak berapa lama kemudian, saya mendapat promosi, dengan tunjangan jabatan lebih dari cukup, terhitung mulai tanggal mundur…jadi uangnya lumayan sekali. Jadi, setiap kali saya sangat percaya kejadian-kejadian yang ada di sekeliling kita ada yang mengatur.

    >>> aduh saya jadi mrinding dan haru melihat fakta-fakta itu. sebab saya dan siapapun yang seide dengan konsep ini, banyak yang telah membuktikannya ya bu… Alhamdulilah makin melembutkan hati. Makasih bu atas sharingnya…🙂

  32. 25 Desember, 2007 pukul 11:01 am

    di luar masalaha riba, untuk sedekah, kadang saya ndak mau repot2, pak. cukup nabung di bank syariah sambil minta fasilitas buat tiap bulannya duit di rekening saya dipotong untuk keperluan zakat + sadaqah😀

    oh ya, saya ndak lagi repot, kok, pak. yang repot keluarga sepupu saya itu. saya, sih, kemarin cuma datang, salaman, trus makan2😆


    >>> wah mas Satrianto ternyata diam-diam tanpa teriak sukanya pada bank syariah.. dan zakatnya menggunakan system autozakat ver.10. yang kaya gini nih, diam-diam menghanyutkan… hmm mana ada sisa-sisa kuehnya gak mas?

  33. 25 Desember, 2007 pukul 12:45 pm

    hmm baru sekali berkunjung kesini, postingannya bagus-bagus🙂

  34. 25 Desember, 2007 pukul 2:23 pm

    Wah… baru sedikit beriba ria..😀
    Rasanya ingin menargetkan sepertiga karuniaNya untuk beriba
    Ternyata itupun terlalu kecil, cara kedua itu luar biasa, sedang manusia kini selalu berpikir bagaimana mengasuransikan masa tuanya…
    Ingat masa sehat, sebelum sakit, kaya sebelum miskinmu, ingat… dst…

  35. 25 Desember, 2007 pukul 3:39 pm

    Siska
    Terima kasih Mbak Siska atas (siska)mlingnya yaa. Nanti gantian deh saya juga mau siska(mling)ke sana biar hubungan aman2 saja heheh 🙂

    **dilempar mouse**

    agorsiloku
    Iya kang Agor, kesulitan itu terkadang bermain di stadion “nafsu” di sana bergerilya serdadu-serdadu penghalang kebaikan. Jadi benar saja kalua lagu yang terbit dari hati itu benar2 menenangkan…🙂

  36. 25 Desember, 2007 pukul 5:26 pm

    Nah… contoh kyai yang menyampaikan dari hati ke hati, setidaknya membuat kita tercerahkan dan berpikir serta merenung, semua memang tergantung dari bagaimana cara menyampaikannya kang!

    >>> Isinya sama kemasannya beda… Kyai gitu loch kang🙂

  37. 25 Desember, 2007 pukul 9:43 pm

    Pak kurt, seperti saya yg bergerak di bidang pendidikan berarti riba yang halal ya! Matur nuwun pak Kurt, njenengan memang MANTAB ilmunya!

    *SUJUD SYUKUR KARENA SENANG*

    >> Ya njenengan itu ternyata biangnya RIBA hahahaha …🙂

  38. 26 Desember, 2007 pukul 1:43 am

    Semoga kita semua dihindarkan dari niat riba dan/atau pamer saat bersedekah. Yang jelas, penting buat kita-kita bisa faham agar niat itu tidak salah dan ada agenda tersembunyi – pahala nggak dapet – malah dosa.

    Seneng udah bisa mampir kesini, salam hangat dari Afrika Barat..🙂


    >>> Iya pak semoga terhindar dari riya yaa.. wah terima kasih pak sempat2nya mampir ke sini.. jauh-jauh dari Afrika Barat.

  39. 26 Desember, 2007 pukul 7:23 am

    judulnya provokatif. keren analoginya. ada riba yg bukan riba. hmmm….

    *tepuk tangan sambil berdiri*

    >>> provokatif tah? saya mengikuti trend promosi iklan jaman sekarang. Yang laku itu biasanya yang “kampungan” sama yang provokatif… heheh🙂 mungkin begitu kata Mas Imam yang ahli iklan…

  40. edo
    26 Desember, 2007 pukul 11:07 am

    hehehe…
    makin lama baca posting2 kang kurt, makin lama waktu yang saya butuhkan mencerna..
    *masih “membaca” pesannya…*

    >>> heheheh… ada2 aja kang Edo. Semoga saja pake “unlimit connection base”🙂

  41. 26 Desember, 2007 pukul 2:22 pm

    absen dulu kang… hadir neh…
    hari ini saya dapet ilmu satu lagi…
    btw: maler euy tulisane… rupanya virusnya dah menjalar keseluruh jemari…hiingga syaraf…. mantabbbb

    >>> hhahaha.. virus itu kan ada yang baik ada yang buruk, nah kasih tahu nih, apakah jenis virus ini bagus apa blesak kang?🙂

  42. 26 Desember, 2007 pukul 5:37 pm

    Wah terima kasih ilmunya.

  43. 26 Desember, 2007 pukul 5:38 pm

    Terima kasih ilmunya

  44. zylva
    27 Desember, 2007 pukul 5:41 am

    WOW….judulnya emang bikin orang penasaran untuk membaca,
    thanks ya…aku ajungin jempol..sippppppppppppp !

    >>> Thanks… cuma ikutan gaya nya orang Iklan .. bikin heboh.. padahal isinya sama aja ya mbak?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: