Beranda > Dunia Pesantren, Inspirasi, Kultur, Lingkungan, Modernisasi, Nasionalisme, Ngliput, Pengalaman Rohani, Peristiwa, Tokoh > Buntet Pesantren di Bawah Bayang-Bayang Konflik Agama

Buntet Pesantren di Bawah Bayang-Bayang Konflik Agama

Kang Cecep (KH. Cecep Nidzomuddin)Bergemuruhlah dada kang Cecep, panggilan akrab KH. Cecep Nizomuddin salah satu kyai pengasuh Pondok Buntet Pesantren di Asrama Al Muttaba. Sebab beliau diminta menengahi konflik SARAP (suku, agama, ras, antar golongan & partai) di bagian wilayah republik ini. Tepatnya di daerah dekat Atambua Propinsi Timor Barat, perbatasan Timor Timur. Tapi alhamdulillah, Pendeta dan Romo di sana berterima kasih kepada kyai ini setelah dipertemukan.

Mumpung masih dalam moment “Maulid Nabi Isa as” maka postingan ini saya ungkap ke publik. Meski primordial tapi bernilai nasional menirukan semangat sang fenomenal: Kang Peyek πŸ™‚ .

Saat diundang kesana sebenarnya bukan Kang Cecep tetapi dua orang Kyai Sepuh yang terkenal di Buntet Pesantren yaitu KH. Fuad Hasyim (alm) dan KH. Abdullah Abbas (alm). Namun karena kendala fisik dan lain-lain, akhirnya undangan dari sana itu diamanatkan kepada kyai muda berbadan subur ini.

Anehnya, Lulusan Saudi ini faham agamanya tidak seperti kebanyakan para penulis fatwa di blogsphere. Dia sangat toleran, menghargai siapapun tamu yang datang, Santri-santrinya sering diajak keliling kampung untuk melihat dan mendengar apa, siapa, dan bagaimana sebuah masyrakat itu.

Pada hari yang ditentukan kang Cecep berangkat ke Atambua, kemudian di sana sudah terkumpul banyak sekali orang-orang di sana. Kebetulan dari wilayah ini ada mantan santri buntet yang tinggal di sana dan menjadi guru di sana.

Ada yang aneh di sana, setiap peringatan maulid Nabi atau Isra mi’raj oleh santri ini dikumpulkanlah para pengikut agama dan paham yang lain. Mereka berkumpul untuk menghadiri undangan. Jadi terlihat kekompakan antara Islam dan agama lain.

Hanya saja di sana itu timbul konflik justru antara Katholik dan Kristen. Kedua kelompok ini masing-masing pemimpin rohaninya tidak pernah bertemu.

Apa yang terjadi berikutnya, dalam kesempatan bagus itu, dua kelompok ini dikumpulkan bersama pimpinannya. Dalam sebuah acara semacam seremonial budaya ala NU: Muludan. Di bawah nasehat Kyai Muda ini Kedua rohaniwan itu kemudian berkata:

Pak kyai, hari ini saya merasa senang sekali bisa ketemu dan bersalaman dengan Romo. Sebelumnya saya tidak pernah bertemu apalagi bertegur sapa. Karenanya saya mengucapkan terima kasih banyak.

Itu adalah ungkapan sang Romo di sana. Kemudian menurutu penuturan Kang Cecep ungkapan yang sama pun diberikan saat menyambut terima kasihnyakepada saya dari Pendeta pimpinan umat Kristen Protestan…

Saya bertanya dengan Kang Cecep:
“Kang apa yang njenengan sampaikan kepada mereka itu sehingga mereka mau berdamai?”

“Saya hanya menyampaikan bahwa Islam begitu mengormati keberadaan Nabi Isa as. sebagai Nabi yang dijuluki Ulul Azmi dan mengajarkan kedamaian dan ketentraman bagi umatnya. Dengan demikian mengapa kemudian saling bertikai. Jika Islam saja begitu menghormati Nabi Isa as, mengapa kemudian umat Kristen berantem dst… ”

Begitulah kupasan singkat Kang Cecep dalam ceramah Maulid itu dengan diselingi ayat-ayat perdamaian dari Al Qur’an.

Itulah sekelumit bayang-bayang Buntet Pesantren dalam menenengahi konflik beragama…

Bagaimana menurut sampean?

  1. 27 Desember, 2007 pukul 2:02 pm

    Wuah syip Pak Kurt…
    Katanya hal macam itu tidak mudah ya??
    Semangat perdamaian, bukankah harus terus dan terus dipupuk??
    :mrgreen:
    *pulang dengan senyum-senyum*

  2. 27 Desember, 2007 pukul 2:27 pm

    sebuah manajemen konflik yang bagus dan layak dicontoh. Untuk mendamaikan pihak yang bertikai, agaknya cara2 yang santun dan cinta damai lebih menyelesaikan masalah ketimbang berkoar-koar samil mengkhafir-khafirkan pihak lain yang sepaham. Apa yang dilakukan Pak Kyai Cecep bisa jadi uswah secara universal dan lintas agama bagaimana cara menyelesaikan konflik.

  3. GuM
    27 Desember, 2007 pukul 2:35 pm

    baca postingan2 njenegan, adeeemmm ^_____^

  4. 27 Desember, 2007 pukul 2:51 pm

    bijaksana sangat πŸ˜€

  5. 27 Desember, 2007 pukul 2:58 pm

    Wah, untuk bisa seperti itu perlu inner beauty juga tuh. Ngga sembarangan orang.

  6. 27 Desember, 2007 pukul 3:06 pm

    Coba yang Kyai atau ulama yang “galak” pergi ke sana? Berabe… :mrgreen:
    Kyai Kurt, saya juga pernah kena “semprot” Kyai alumni Ummul Quro gara-gara tanya sedikit: “Pak Kyai alirannya Salafy juga ya?”… Ndak mau terima beliau… Malah bilang, “Emang alumni Saudi di jamin Wahabi apa?”

    *difikir-fikir, saya yang gak ada kerjaan tanya soal begituan..*

  7. 27 Desember, 2007 pukul 3:12 pm

    Saya sependapat dengan Kang Cecep, memang seharusnya kita saling menghormati, kan nggak ada untungnya juga menganggap diri sendiri lebih baik.
    Jika para pemimpin agama bisa saling toleran, betapa indah dan damainya dunia ini.

  8. 27 Desember, 2007 pukul 4:08 pm

    Wah… sayang ndak semua seperti kyai dari Buntet!,

    Saya jadi ingat dengan hadratusyeikh, bagaimana kelembutan tutur kata seorang mursyid yang sangat dihormati mampu melunakkan hati saya dan beberapa teman yang sekeras batu. hehehehe….

    dan satu lagi kang!, saya menemukannya lagi lewat njenengan!
    wah jadi penasaran tentang Buntet, maaf kalo saya bongkar-bongkar tentang buntet disini.

  9. 27 Desember, 2007 pukul 4:08 pm

    Perlu seseorang dengan inner beauty untuk bisa berbuat seperti itu. Ga sembarangan tuh.

  10. 27 Desember, 2007 pukul 4:14 pm

    Wah, ternyata lulusan saudi tidak mesti keras ya pak. πŸ˜€

    Dan kelembutanlah yang meluluhkan hati.

  11. adipati kademangan
    27 Desember, 2007 pukul 4:37 pm

    Bisa ngomong gitu sampe mendinginkan dua kelompok yang berseteru kayak gitu wiridan nya kayak gimana pak ?

  12. 27 Desember, 2007 pukul 5:26 pm

    memang cuma kelembutan yang bisa mengalahkan yang keras
    πŸ™‚

  13. 27 Desember, 2007 pukul 6:35 pm

    seandainya tipikal kyainya dimiliki oleh para kyai2 yang lain, mungkin akan sangat membantu mengurai konflik yang ada dan kembali damai, hidup rukun dan tentram πŸ˜€

  14. zal
    27 Desember, 2007 pukul 7:27 pm

    ::kalaulah antosalafy , wakabdulsomad, saya dan yang masih bertikai masalah klaim mengklaim “buah mangga” dari satu pohon , saling ketemu dan salah seorang mengatakan “misalnya nih Rasulullah SAW, nyambangi kita, terus ngomong, “he..he…teruslah bertikai, pasti buah mangga yang sudah ranum itu engga jadi milik siapa-siapa, sebab akan rontok dan membusuk”… πŸ˜† pastilah saat itu masing-masing akan mempunyai sekarung mangga yang manis dan hmmm lezat ,

  15. 27 Desember, 2007 pukul 8:19 pm

    @goop
    Paman bahasa yang tepat mungkin “segalanya dimudahkan..” oleh siapa? kalimat pasif ini pelakunya tidak lain adalah Yang Maha Ghoib… :mrgreen: *senyum dibalas senyum*

    @Sawali Tuhusetya
    Manajemen konflik yah, padahal Kang Cecep sama sekali tidak mengerti manajemen. Hanya kyai kampung yang seneng tidak mengedepankan nafsu… apakah juga bisa dikatakan manajemen nafsu kali .. πŸ™‚ (halah)

    @GuM
    Seadem apa yaa.. es, air hujan atau … πŸ™‚ TQ

    @caplangβ„’
    semoga, di sana bijak di sini bijak πŸ˜†

    @ Ram-Ram Muhammad
    Hahah.. paling enak pake nafsu ya pak.

    Lagian kang Ram-Ram bikin jenggot orang naik turun sih heheh …
    **membayangkan semprotanya**

    @edratna
    Akur sangat bu, mungkin dalam dunia pemasaran kali bu yah dimana barang dagangan harus dikatakan paling baik biar laku. Tapi urusan hati justru kebalikannya kah?

    @peyek 27
    Saya kira banyak yang seperti Kyai Buntet Pak, hanya saja mungkin kita lebih mengenal yang tampil di permukaan. Khadrotusysyaikh memang menonjol, tapi murid2nya dimana2 mereka mengakar tidak kelihatan tidak tenar tapi justru siraman mereka begitu teduh dan damai… kontribusi mereka menyuplai ruh agama sangat besar kepada para santri2nya… Hidup ngGresik… πŸ™‚

    @Menggugat Mualaf
    inner beauty wah bahasa keren nih, biasanya buat wanita kang… dan wanita yang beriner beauty memang bukan wanita sembarangan.. hehe πŸ™‚

    @danalingga
    Saya banyak stok teman mas Dana yang semodel itu.. biasanya dari pesantren buntet Insya Allah gak begitu heheh dijamin meskipun lulusan Kairo.. * uh narsis * heheh πŸ™‚

    Dan hujanlah yang meluluhlantakkan tanah longsorr… *uh sedih mendengar ratusan korban tanah longsor dan banjir*

    @adipati kademangan
    Wallahu a’lam wiridnya apa. Silahkan tanya sendiri ke Kang Cecep.. yang jelas utusan kyai sepuh ini, semua kyai Buntet mendoakan keselamatan kang Cecep waktu itu, katanya.

    @ordinary
    Tapi beda ya May kalau dijahati. Sabuk hitam harus ditonjolkan.. seperti yang pernah diceritakan oleh angin waktu itu heheh πŸ™‚ *maaf kalau salah*

    @Totoks
    Seandainya … hmm sepakat pak. πŸ˜€
    Tapi saya kira yang lain pasti banyak bos hanya jurusnya beda.

    zal
    Analagi yang lebih manis dari buah mangga pak… terima kasih πŸ˜€
    *nyam-nyam makan sekarung mangga*

    Terus dibagi sama uwak-uwak saya… di kampung.

  16. 27 Desember, 2007 pukul 9:16 pm

    memang njenengan ini luar biasa.. adem tapi gak sampai kedinginan, juga hangat tapi tak sampai memanaskan.. njenengan pantas disebut sebagai “Kyai para Blogger” atau “Kyai Cyber”.. nanti saya usulkan pada Gus Dur untuk menyematkan label kehormatan itu.. hehehehe

    >>> hahahha… aaya aya wae, masa saya dihadapkan Gus Dur… nanti ndluya aku.

  17. hildalexander
    27 Desember, 2007 pukul 9:44 pm

    Salam,

    Dari sekian blogger yang saya amati, berikut blogrollnya, hanya Santri Buntet ini yang bisa meluluhlantakkan hati saya….gak perlu pake C4 atau AK47 (seperti yang banyak digunakan di Afghanistan).

    Bener kok, Santri Buntet adalah Santri Sebenar-benarnya. (ngutip kampanye pariwisata negara jiran, ‘Trully the Asia’)….

    Salam kenal Ngkong Kurt….semoga postingan terbaru, sama menenangkannya dengan yang ini….

    Salam Damai πŸ™‚

    >>> huahahahah mudah2an ini rayuan gombal.. πŸ™‚ makasih alexander…. serng2 mampir pasti saya siapin kopi hangat … πŸ™‚

    *ngikutinpulang*

  18. 27 Desember, 2007 pukul 10:12 pm

    Ah … nikmati aja ah … semakin seru, semakin menyejukkan, semakin dekad … ke salingmemahami. Amin.

    >> dan semakin dekat masa akhir 2007 πŸ™‚

  19. 27 Desember, 2007 pukul 10:19 pm

    *jadi mantabh ambil mata kuliah Manajemen Konflik nanti* :mrgreen:

    >>> hahah Mr. Lee.. teratarik tah … gak usah kuliah, di sekitarmu banyak yang butuh pertolongan dari masalah.. itu kuliah yang paling mantaps heheh
    πŸ™‚

  20. 27 Desember, 2007 pukul 10:30 pm

    wah ketinggalan jauh nih… πŸ˜€

    @ordinary
    keras juga bisa kalah dengan yang lebih keras lho. tapi, hanya siraman air yang terus-menerus yang mampu menghancurkan batu, tanpa membuat malu sang batu *halah* :mrgreen:

    >>> ordinary & Jenang
    Keras vs lunak, sebuah keseimbangankah?. Bagaimana dengan Pakistan hari, kemarin dan dulu, bom bunuh diri sebuah solusi kekerasan di tengah demokrasi?

  21. 27 Desember, 2007 pukul 10:40 pm

    ternyata konflik memang bisa terjadi di mana aja ya? di kalangan muslim juga gitu, kan? masiiiih aja ada yg gontok2an rebutan siapa yg paling benar dan siapa yg harus bubar. gak capek apa? πŸ˜€

    >>> Tidak sedikit orang tidak suka gontok2an tapi tidak banyak pula yang disiapkan khusus untuk bergontok2an. Alasannya yaa mungkin demi kelompoknya yang harus tetap eksis.. πŸ™‚

  22. 28 Desember, 2007 pukul 6:48 am

    bagus kang… πŸ™‚

    *pendamaian intern islam juga kudu kang… πŸ™‚ kita bisa mendamaikan antar umat beragama lain, seharusnya bisa mendamaikan intern islam yang masih saling sikut hanya gara2 beda kunut, hanya karena beda ngajung curuk (telunjuk) dan hanya karena beda metode, apa kita harus didamaikan oleh ROMO dan PENDETA supaya bisa damai??

    >>> waahahah…. harusnya sih malu. Sebuah ironi memang.
    Lihatlah orang2 kita sendiri sulit berdamai masalah budaya dan agama. Lihatlah praktek orang2 NU yang tidak bisa dimaafkan. Katanya ahli bid’ah dan bakalan masuk neraka.. kedua Orang2 Syaiah, Ketiga Gus Dur, keempat JIL. Mereka itu katanya bukan Islam… dan anehnya di Forum Jum’atan tempat orang2 beribadah keempat topik ini serempak di kumandangkan oleh para ustadz2 yang terhormat. Masyarakat sepertinya diajak untuk diprovokatif bukannya diajak “pintar.”

    Lalu kalau bukan Islam dianggap ada yang bilang halal darahnya.. Naudzubillah, saya membatin: ini ajaran darimana? ketika ditanyakan kepada mereka, mereka jawab dengan ribuan quran dan hadits… gak akan ketemu.

    NU memang orang2 desa, dan orang2 kota yang merasa pintar itu kemudian hanya bisa menjadi provokatif akherat… kapan ketemunya.

    tapi yaa sesuai para pengusung teori toleransi, mungkin toleransinya itu diterjemahkan seperti itu… membiarkan dengan cara memprovokasi.

    Memang dengan cara tersendiri agama lain telah berusaha mendamaikan kita. Melalui ekonomi, tekhnologi dan berbagai kemajuan lainnya, kita kemudian bisa bertemu, berdagang, berbisnis, dan berdamai dalam pola yang berbeda.

    Lah kok jadi kaya postingan tersendir deh… panjang sih … πŸ™‚ maaf agar esmosi πŸ™‚ makasih kang Den habisnya kamu memancing saya sih heheh

  23. Muhammad Rachmat
    28 Desember, 2007 pukul 11:02 am

    he.3x iya harus hati-hati kadang daging kiayi / Ulama itu beracun !
    pa kurt ngerti ora ?

  24. orang lewat
    28 Desember, 2007 pukul 12:56 pm

    nah pak kyai itu diundang kesini aja , ke blogspohere yang kisruh terus

  25. 28 Desember, 2007 pukul 1:36 pm

    Semoga usaha untuk mendamaikan umat bisa menjadi titik baik buat bangsa ini yah.

  26. 28 Desember, 2007 pukul 2:03 pm

    Adeem.. Nyess..
    Semoga di negeri ini makin banyak kyai Cecep-kyai Cecep lainnya..

  27. 28 Desember, 2007 pukul 3:22 pm

    2: P Kurt
    waduh padahal saya ngomong sebaris, tapi sabuk hitam dibawa bawa :blush: ya kalu soal itu kan masuk kategori jihad ya pak *mode sok tau on* hehehehe

    2: siti jenang
    keras dengan yang lebih keras <— ga ada yang menang
    yang ada cuma kehancuran πŸ™‚ just my opinion
    tapi setujuh!! dengan air yang terus menerus bisa mengalahkan batu tanpa membuat batu malu
    *itu peribahasa ya* πŸ™‚

  28. 28 Desember, 2007 pukul 3:43 pm

    Damai di bumi damai di hati. Akan lebih baik lagi kalau pikiran juga damai. Agar pikiran mau damai, sepantasnyalah bercermin ke hati.

    Tips agar hati dan pikiran damai:
    1. Jangan baca blog yang ngafir-ngafirin golongan lain.
    2. Jangan baca blog yang ngajakin untuk berkonflik.

  29. 28 Desember, 2007 pukul 4:17 pm

    bang kurt…

    ndak faham…..

  30. Moerz
    28 Desember, 2007 pukul 8:27 pm

    lebih mengikat silaturahmi yah harusnya….
    ok, assalamu’alaikum…
    pak kurtubi ada dirumah bu…
    salam yah…
    saya jalan dulu sekolah…
    nanti saya mampir lagi…
    *ciumtangan*

  31. 28 Desember, 2007 pukul 9:05 pm

    Salut, bijaksana sekali.

  32. 28 Desember, 2007 pukul 9:24 pm

    huhuhu kok saya malah merasa lucu yah…
    tapi kadang2 bener juga. seseorang baru bisa menghormati orang lain kalau dia merasa sudah dihormati.

  33. 28 Desember, 2007 pukul 11:44 pm

    @ Muhammad Rachmat
    Waah saya “hargai” keberanian kata2mu. “kadang daging kiayi / Ulama itu beracun !”
    —-
    Kalau teori saya singkat: “Jika mereka2 (ulama/kyai) sudah dianggap beracun, maka bagaimaan dengan yang bukan ulamanya/kyainya” πŸ™‚ gimana kira2 teori ini? *wah memicu saya untuk postingan nih* saya mau bahas ulama sebenar2nya Insya ALlah.

    orang lewat
    heheh asik dapat undangan berarti nanti dapet brekkat nih… makasih pelajar hebat!

    aRuL
    Semoga juga bisa menulari siapapun para pecinta damai dan pecinta tentram…

    qzink666
    Waaah salut nih sang filosof Nietze saja bilang: “Adeem.. Nyess..”
    Angkat peci buat filosof yang dikagumi dunia

    “Semoga di negeri ini juga menelori sari filsafat kedamaian Nietze ….”

    ordinary
    hahahah iya pendekar muda berjiwa santri… salut!
    saya pengen mencoba nih kekuatannya hehehe πŸ™‚

    @Ordinary & siti jenang
    Ada juga loh yang keras vs lebih keras menghasilkan nilai manfaat bagi “kehidupan” yaitu jika motor senggolan dengan mobil, maka yang untung adalah polisi gadungan… sama bengkel mumpung hayo gimana?

    kombor
    Dengarkan kang kombor punya tips jitu damai sejati…

    Tips agar hati dan pikiran damai:
    1. Jangan baca blog yang ngafir-ngafirin golongan lain.
    2. Jangan baca blog yang ngajakin untuk berkonflik.

    @superkecil
    gak paham? sabar nak, ini urusane superbesar, nanti superkecil akan tahu sendiri kalau sudah membesar heheeh … selamat datang non, keceriaanmu ditunggu sangad…

    @Moerz
    wa’alaikum salam wr. wb.
    Mau sekolah ya Nak, ati2 yaa .. eh tungggu nih uang sakunya…. ati2 yaa heheheeh πŸ™‚

    @hanna
    Iyaa Ci, makasih… semoga bijaknya tidak di sana saja tapi bijak di sini pula… kita semua memusuhi injak sana dan injak sini… πŸ™‚

    @bedh
    Hmmmm yang lebih hebat, seseorang mau menghormati meskipun dia sendiri belum atau tidak dihormati.. lebih istimewa, seumur2 tidak dihormati, tapi ia tetap menghormati… nah yang terakhir ini menurut saya yang aneh… πŸ™‚ gimana bos?

  34. 29 Desember, 2007 pukul 9:56 pm

    Wah, hebat. Salut buat Kyai Kurt.
    Terus terang baru ini aku dengar ada unsur Islam yang membawa kebaikan secara langsung bagi umat Kristen di Indonesia.

    Terima kasih untuk kabar baik yang sangat langka ini.
    Jangan kapok ya Kyai Kurt hehehe…

  35. 30 Desember, 2007 pukul 12:15 am

    *membayangkan dunia berisikan manusia2 spt KH.Cecep*
    ah pasti damai dan makmur πŸ™‚

  36. 30 Desember, 2007 pukul 5:51 am

    Lebih banyak “Buntet” kita melihat perbedaan sebagai perbedaan dan kita tidak perlu menghakimi perbedaan itu dengan hawa nafsu kita….
    mode on : “perlu belajar terus untuk bersikap arif”.

  37. 30 Desember, 2007 pukul 7:41 am

    Jadi teringat ceramah pengajian padang mbulannya cak Nun, kang! Teringat Cak Nun yang berusaha meredam kemarahan orang Madura saat hendak rame2 berangkat ke Kalimantan.. hehehehehe…

    Hanya yang memiliki aura terang yang bisa melakukannya, Pak Kurt! Sumonggo, njenengan kawulo dapuk dados Penengah Konflik Para Blogger.. hehehehehehe

  38. 30 Desember, 2007 pukul 10:43 pm

    @tobadreams
    Begitulah pengalaman kyai muda di Buntet. Bila tertarik bapak bisa menemuinya dan minta crita lebih lanjut. Diapun punya foto2 kunjunga di sana lengkap dalam dua album.

    terima kasih sama-sama dan jangan kapok tersesat di sini ya pak heheh πŸ™‚

    @joyo
    hahah pasti gak rame lah pak.. enakan ada yang kasar ada yang lembut ada yang ngrusak ada yang pembaik.. melengkapi kultur budaya Indonesia yang gado-gado. heheh πŸ™‚

    @agorsiloku
    Kata kyai itu namanya perbedaan itu tinggal dinikmati seperti bintang di langit dan ikan di luat. Begitu banyak danbegitu dinikmati pasti ada kepuasannya.. kita sendiri beda maka orang lain pun pasti ada perbedaan. Kira2 begitulah saya diajari kyai di sana.

    @gempur
    Waaah padang Mbulan yaa, aku tuh pengen sekali ikut ngaji sama KyaiKanjen dan CakNun. Saat di Jakarta kemarin ketinggalan kereta. Ya sudah nunggu sebulan lagi.. Cak Nun banyak sekali menginspirasikan ide2 saya kang Gempur.. dia banyak berbuat tapi sepi koar2.

    Inggih semoga bisa terlakasana… πŸ™‚

  39. Hj hanum
    5 Januari, 2009 pukul 12:42 pm

    Assalamu’alaikum wrwb. Q istri kg cecep. Barangkali mw liad2 ph0to2 kg cecep wkt di NTT,silahkan mampir ke rmh,tp Q sndiri ga pernh liat photo2 itw,cz diantara isinya adalah photo sunatan massal ratusan bapak2 di NTT,wek! Mengerikan,make apa y m0t0ngnya?Hehe…Wassalamu’alaikum wrwb

  40. kadenad
    11 Februari, 2009 pukul 1:42 pm

    KETIKA RASUL BICARA MASALAH AGAMA PADA ORANG BADUI TENTU AKAN BERBEDA SAAT BICARA DENGAN PARA SHAHABAT TERDEKAT DONG…MUNGKIN BEGITULAH KIRA2 STRATEGI KANG CECEP

  41. 15 April, 2009 pukul 1:03 pm

    Slm awal ahir kang..
    Iki wong ndeso ndak sengaja mampir..Ko’ketoe agak enak jg mampir di sini..
    Bisa buat tambah2 wawasan,nambah ketauhidan..Mator nuwun sak derenge,,
    kl boleh wong ndeso pingin taken..Sebagai umat islam, kira2 pada tau ga ya,kepanjangan dr ISLAM..Mudah2an semua udah pada tau..Matorsuwon,.Slm..

  42. 31 Agustus, 2010 pukul 11:48 pm

    @Hj. Hanum
    Terima kasih bunda Hanum, maaf nih suami nyai diobrolin. Ohya foto2nya nanti saya minta yah.

    @Kadenad
    Mungkin iya pak. Tapi niatnya kan bukan untuk menyebarkan agama, tetapi silaturahmi antar agama. Justru di sini tidak ada yg merasa menang/kalah. Semoga ini hanya secuil upaya orang kampung menghadapi orang kampung juga.

    @Cah Ngadirejo
    Matur suwun kang mampir ke mari
    ISLAM kepanjangannya apa yah?
    Isa, Subuh, Lohor, Asar, Magrib
    hehehe tapi itu candaan saja kang.

  43. Asran
    3 Maret, 2013 pukul 9:03 pm

    Saya kangen dgn buntet bulak.karna sdh 5thn tdk pulang2

  44. Fariq Ibnu Nidzamuddin
    8 April, 2013 pukul 8:22 pm

    Woy!! Jangan ‘Mantan Santri” Donk Nulisnya!!! Alumni Gtuh

  1. 30 Desember, 2007 pukul 9:08 pm
  2. 8 Januari, 2008 pukul 4:16 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: