Sumpah

Peringatan: Cerita ini cukup panjang. Sok bikin cerpen atas permintaan Kang Al Jupri disemangati Kang Sawali dan disupport ilmu oleh Bang Ersis lalu terinspirasi jalan cerita Hanna. Tapi susah bikin ending jadi kepanjangan. Maafkanlah. Tapi saya bikin sinopsisnya (singkat cerita) di belakang. Isunya sih cukup lama tapi ini adalah kejadian nyata. Hanya alur cerita dan tokohnya disamarkan.

Pagi ini Danang bangun telat sekali. Matahari sudah hampir nongol. Ia tidak bisa shalat sepagi biasanya kemudian melakukan wirid dan membaca dzikir hingga terbit matahari. Apalagi ikut shalat jamaah di mushola samping kostanya di Purwokerto. Semalam ia diadili oleh senat mahasiswa di kampusnya. Karena Danang dianggap mahasiswa pembawa ajaran sesat. Bukan itu saja ia pun dituduh kafir dan musyrik.

Sehabis shalat subuh, Danang tidak beranjak seperti biasanya. Pagi itu, Danang malas memberesi buku-buku yang berserakan di kamarnya. Matanya berat sekali. Ia justru merebahkan kembali badannya, berharap bisa tidur kembali. Sebab semalam hingga pukul 21.00 WIB masih di senat disidang oleh teman-temannya.


Matanya masih saja tak mau terpejamkan. Ia masih terngiang-ngiang dengan sumpah yang telah diucapkannya di hadapan mahasiswa di kampus, tadi malam. Sebuah sumpah yang berani diucapkan dengan konsekwensi yang cukup berat sekali. Tetapi atas nama keyakinan, Danang berani bersumpah dengan penuh keberanian.

Langit-langit kosannya ia pandangi lama sekali. Tapi matanya tak mau terpejam. Tiba-tiba, sambil tiduran melihat gambar yang jelas sekali, seperti TV flat yang dipasang di langit-langit. Ia perhatikan gambar teman-temanya yang mengkafir-kafirkannya.ย  Abu Jari, Abu Gehaย  dan Ibnu Amak. Tiga orang inilah yang memfonis saya sesat.

“Danang, kau ini pembawa ajaran sesat!” Suara Abu Jari begitu membahana, membuat Danang kaget sekali. Namun setelah membentak ia mengelus-elus jenggotnya.

“Tahu kah kamu, di kampus ini harus steril dari bid’ah. Saya sebagai “polisi syariat” di kampus ini bertanggung jawab setiap bid’ah yang merajalela di sini. Kampus ini harus bersih dari semua itu. Harus menjadi contoh di masyarakat. Tidak boleh dicemari polusi bid’ah. Tidak boleh satupun mahasiswa atau pengurus senat memiliki ajaran yang mendukung bid’ah. Jika masih tetap melakukannya maka konsekwensinya dikeluarkan.”

Danang kaget bukan kepalang. Bukan masalah ancaman dikeluarkan dari kampusnya tapi karena ia merasa apa yang ia lakukan itu tidak salah dan boleh hukumnya. Marhabanan bersama teman-teman santri di masjid kampus setiap malam Jum’at dan diawali yasinan, semata-mata untuk bisa bersilaturahmi antar santri yang sudah jadi mahasiswa di sini.

Ini kan sekedar pancingan saja agar teman-teman santri kampus itu bisa kumpul bareng untuk belajar bersama dan menjalin silaturahmi seperti juga di pondok dulu. Jadi kenapa masalah teknik dan montase dalam berdakwah disalahkan. Dulu para Wali bisa membawa kultur wayang dan tembangan serta nyanyian. Namun cara ini sangat efektif. Jika itu bid’ah sesat ya pasti dihindari lah, sebagaimana meinum-minuman keras.

Yasinan dan semua aktivitas yang saya lukukan itu sudah berakar saat saya mondok. Yasinan tidak lain hanyalah kegiatan baca quran biasa; Marhabanan tidak lain adalah pembacaan sastra berbahasa arab yang ditulis dalam bentuk bait-bait cerita sejarah Rasulullah saw. Sedangkan tahlilan tidak lain merupakan bacaan ayat quran, membaca “laa ilaaha ilallah” lalu di akhiri doa untuk bapak/ibu kami yag sudah meninggal dan untuk para arwah yang sudah mendahului.Perkara diterima atau tidak, itu urusan Gusti Allah. Lagi pula kyai-kyai saya dan juga para ulama, para wali sebelumnnya melakukan semua itu. Jika itu salah, dan dianggap seperti minum-minuman keras, mungkin sudah dilarang di pondok saya dari dulu. Aku heran kenapa orang-orang kota ini begitu kasar kata-katanya dan membenci semua amalan itu. Batin Danang memberontak

“Danang!, kenapa kamu diam saja!” semprot Abu Jari karena dilihatnya bengong”

“Laporkan ke MUI saja biar dibuat fatwa dan kita bisa memperkarakannya ke polisi!” Teriak salah satu mahasiswa di antara ratusan yang hadir mengelilingi Danang.

“Baiklah teman-teman sekalian, saya ingin sampaikan satu hal saja. Saya tidak ingin berdebat untuk masalah ini. Saya tegaskan bahwa apa yang saya lakukan itu semata-mata hanyalah tradisi kami di pesantren. Jika mengganggu kalian dan dianggap sebagai perbuatan kaum musyrik, Berarti kalian yang buta agama! Tapi saya ingatkan bahwa saya tidak akan keluar dari kampus ini, dan saya akan melakukan banding hukum jika saya diperkarakan. Saya tidak akan menghentikan kegiatan yang diyakini menurut kami benar!” Hadirin tersentak kaget atas pernyataan Danang itu.

“Bagaiaman jika apa yang kamu lakukan itu adalah salah?” kata Abu Jari meledek.

“Jika salah mungkin para wali, para syaikh kami dan kyai-kyai ulama tidak mengajarkan praktek yang kalian anggap bida’ah sesat. Tapi yang dajari kami adalah jangan berbohong, jangan takabur, hindari tidak menepati janji, menghina orang lain, sering-sering membantu orang lain, jangan mabuk-mabukan, mencuri dan melakukan maksiat lainya.”

“Apakah kamu berani bersumpah bahwa apa yang kamu lakukan itu benar?” Kata Abu Jari sang ketua Senat menegaskan.

“Saaaayaaaa beraaani bersumpah!, jika apa yang saya lakukan itu adalah benar!” jawabnya dengan suara dilambatkan.

“Baiklah silahkan Anda bersumpah.” Kata ketua Senat.

Tiba-tiba saja hadirin berlarian menempati tempat duduk di kelas itu satu persatu dan terdiam. Rupanya rektor kampus ini datang di ruangan senat mahasiswa. Semua hadirin terdiam dan yang semula berdiri mengelilingi Danang yang tengah diadili, satu-persatu pada bringsut dan duduk di bangku masing-masing. Tetapi tiga orang yang mengadili itu tetap duduk berhadapan dengan Danang.

“Assalamu’alaikum Pak Rektor”, kata Abu Jari dan kedua temannya sambil senyum membungkuk.

“Wa’alaikum salam. Ya silahkan duduk saya sudah dengar semuanya. Saya kemari ingin menuntaskan masalah kalian. Karena saya capek mendengar setiap ada perbedaan masalah furuiyah kalian sebagai pengurus senat, saya dengar melarang semua itu.” jelas rektor.

Rupanya, diam-diam rektor diberi tahu oleh mahasiswa bahwa di ruangan ini ada sidang masalah bid’ah. Untungnya kampus modern itu dilengkapi CCTV dan semuanya direkam, sehingga rektor universitas ini bisa mengikutinya. Namun saat hendak bersumpah rektor hendak menyudahi masalah itu.

“Begini….,” lanjut rektor
“Saya memang tidak ingin saudara Danang itu dihakimi seperti ini hanya karena keyakinan yang berbeda.” Kata rektor mengawali pembicaraan.

“Tapi kan pak…”

“Sebetar! saya belum selesai bicara”

“Jika kalian mengambil sumpah kepada Saudara Danang, maka kalianpun harus juga bersumpah pula bahwa apa yang kalian yakini, bahwa segala yang dilakukan dan diamalkan setiap hari oleh kawan-kawan Danang itu adalah salah. Berani?” tanya rektor menirukan iklan 3 (tri).

“Baik pak saya berani!” kata ketiga orang pengurus senat ini.

“Silahkan Danang lebih dulu bersumpah”

“Wallahi, saya bersumpah bahwa apa yang saya lakukan seperti Tahlilan, Marhabanan, di masjid kampus ini juga Ziarah Kubur adalah benar, dan saya siap menerima hukuman dari Allah swt apapun bentuknya.” sumpah itu dirasakan Danang keluar dari dalam hatinya hingga merinding bulu kuduknya.

Ia teringat bagaimana kyaiinyadi pesantren, ia teringat para makam para wali yang sseringkali ia ziarahi dan membaca quran di sana. Ia pun teringat jelas orang-orang yang sering melakukan marhabanan di masjid di pesantren. Semua itu memberikan kekuatan untuk mau bersumpah.

“Sekarang kamu bertiga, silahkan bersumpah”

“”Wallahi, saya bersumpah bahwa yang lakukan seperti Tahlilan, Marhabanan, Ziarah Kubur dan Tahlil adalah perpuatan yang tidak dirodoi Allah swt dan bida’ah yang sesat. Dan saya siap menerima hukuman dari Allah swt apapun bentuknya.”

Semua hadirin merasa kaget dengan sumpah-sumpahan di kampus itu. Untunglah pak Rektor yang bijaksana itu akhirnya menantang kedua kubu untuk melafalkan sumpahnya. Dengan disaksikan ratusan mahasiswa dan Rektor menjadi sebuah perhelatan sumpah yang entah efektif atau tidak. Yang jelas semua pada bubar, dan besoknya seperti tidak ada kejadian apa-apa di kampus itu.

***

Desa Sambilata yang biasanya sepi dan senyap jika malam hari, terlihat orang berlarian menuju arah belakang masjid desa. Di situ ramai sekali orang berlarian. Asap membumbung terlihat dari sudut desa itu karena ditimpa oleh cahaya listrik yang dipancarkan dari lapangan sepakbola kebanggaan masyarakat Jawa Tengah itu. Dari pematang sawah itu, jelas sekali ada rumah yang terbakar.

Benar saja, saat Abu Jari sampai di tikungan terakhir masuk kampung itu, kira-kira 100 meter dari rumahnya, terlihat orang berteriak, kebakaraan… kebakaran… dan Abu Jari berharap rumah itu bukan miliknya. Tetapi harapan itu kandas. Kini rumahnya terbakar habis tampa sisa.

Ia berlari agar segera sampai di tempat kejadian perkara. Rumah itu sudah ludes, api sudah mengecil, terlihat barang-barang miliknya habis dilalap api. Mobil kijang yang dibeli kredit tahun lalu kini tinggal bangkai. Perabotan rumah yang ia beli untuk keluarganya pun sudah menjadi abu. Tiba-tiba tulangnya tidak mampu menahan beban deritanya.

Orang-orang membawa Abu Jari ke rumah sakit. Atas pertolongan dokter, penyakit darah tingginya bisa diatasi. Namun belum selesai ia keluar dari rumah sakit, terlihat orang-orang berlarian para suster dan dokter dibuat kalang kabut. Di ruangan yang tidak jauh dari pintu keluar, tepatnya di ruangan gawat darurat ada lima kereta pasien tengah didorong dari dua mobil ambulans yang datang meraung-raung. Terlihat jelas tiga orang dewasa dan satu anak kecil semuanya pingsan tidak bergerak. Kelima pasien ini langsung dimaskukkan dalam gawat darurat. Darah tanpak terlihat dari sekujur tubuhnya.

Abu Jari mau pulang tapi terasa berat sekali. Ia coba melihat dari jauh karena sepertinya ia kenal tahi lalat di pipinya. Ia berharap bukan isterinya. Dengan penasaran ia minta kepada suster untuk mengehentikan kereta pasien itu.

“Alllllaaaahu Akbar” teriak Abu Jari.

“Mamaaaa…” teriakan kedua ini cukup membuat Abu Jari jatuh pinsan.

Kelima orang yang masuk rumah sakit ini adalah keluarga Abu Jari semuanya. Kedua orang tua Abu Jari dan Mimin isterinya meninggal. Kedua anaknya yang masih SD dirawyat karena luka yang cukup parah, namun akhirnya dua-duanya meninggal. Kejadian itu awalnya mereka tengah berlibur di Yogyakarta sepulang dari liburan mobil ini tabrakan dan semuanya meninggal dunia.

***

Kehidupan Abu Jari pasca sumpah itu benar-benar tragis. Kini hanya sebatang kara. Kelurga dan harta bendanya meninggalkannya. Ia berpikir apakah saya salah dalam bersumpah. Diam-diam ia menyesali sumpah kemarin di kampus itu. Lalu ia berusaha untuk mendatangi kyai-kyai di Jawa. Makudnya iangin berdialoag tentang dunia pesantren dan segala liku-liku ajaran yang saya anggap sesat itu. Ia tidak puas satu kyai dan ia kunjungi kyai lain sepanjang Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tapi semuanya menjawab sama.

“Kamu rupanya termakan sumpah” Kata kyai Holil di Surabaya. Sudah ada 10 kyai ia datangi dan semuanya berkata begitu dan semuanya sepakat agar saya minta maaf kepada Danang.

“Saya sudah maafkan semuanya, karena memang saya tidak punya prasangka apa-apa.” Jawab Dananga kepada Abu Jari saat berkunjung ke rumahnya meminta maaf.

Kini, Abu Jari justru kebalikan dari Danang. Ia paling getol ziarah, paling suka datang ke para ulama untuk menimba ilmu-ilmu yang selam ini ia dapatkan hanya dari buku-buku terjemahan dan doktrin-doktrin bid’ah dari khutbah Jumat dan pengajian doktriner.

————————————

Kesimpulan Cerita dari fakta berikut:

Danang (nama samaran) dan Ketua Senat di Kampus Purwokerto (ini kejadian benar) berawal dari debat masalah perbedaan furuiyah yang biasa dilakukan oleh orang-orang NU. Danang tidak banyak mengetahui dalil-dalilnya dan tidak mau berdebat masalah ini sebab amalan itu sudah turunan dari para kyai dan tidak mempermasalahkannya jika mau dikerjakan atau tidak.

Tetapi Sang Ketua senat itu sangat meyakini bahwa apa yang dilakukan Danang itu salah total dan harus dihindari. Karennya keduanya bersumpah demi Allah swt dan siap menerima resiko apapun dari Allah atas segala keyakinannya. . Tapi malangnya, konsekwensi sumpah itu justru menimpa ketua Senat rumah kebakar dan keluarganya meninggal semua akibat kecelakaan.

Atas semua cerita ini tidak bermaksud untuk menguatkan dalil tentang prilaku yang dituduh bid’ah ini. Ini hanyalah pengalaman rohani seseorang, belum tentu cocok dengan yang lain. Plis deh ah… Wallahu a’lam.

Ini adalah cerita saya hadiahkan buat kang Al Jupri yang menyuruh saya bercerita. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

—————————————

  1. 30 Desember, 2007 pukul 7:25 pm

    alhamdulillah bisa vertamax nih.
    Saya sangat sepakat dengan sikap Danang, hehehehehe ๐Ÿ˜† istiqomah dalam memegang prinsip dan keyakinan hidupnya. orang yang mengklaim bahwa tradisi kelompok islam tertentu itu dinilai bidah mestinya juga bisa bercermin dong. soal keyakinan itu kok nggak *halah sok tahu* perlu dipaksa-paksaain. jangan mengklaim bahwa dirinya diri dan kelompoknya paling bener. *halah*
    BTW, hebat juga nih mas kurt bikin cerpennya. saya terhanyut mengikuti kisah si dadang yang hendak diadili secara sepihak. repotnya, dadang sendirian dalam menghadapi persekongkolan itu. *halah*.
    *tepuk tangan buat mas kurt*
    bikin lagi cerpen2 religi dong mas kurt, saya sipa jadi pembaca setia, hehehehe ๐Ÿ˜†

  2. 30 Desember, 2007 pukul 7:49 pm

    wah kalo dikirim ke produser televisi bisa jadi serial tersendiri nih… atau jangan-jangan disensor *** :mrgreen:

  3. 30 Desember, 2007 pukul 9:01 pm

    Kita memang seharusnya selalu berprasangka baik, dan perbedaan yang ada hendaknya disikapi dengan baik pula…karena kita sendiri tak tahu, dan selalu harus berdoa agar yang kita lakukan diridhoi oleh Allah swt

  4. 30 Desember, 2007 pukul 9:17 pm

    Cerpennya bagus, Mas Kurt. Kampusnya keren banget yach, ada CCTV-nya.
    Abu Jari… ah, saya kira dalam kehidupan nyata pasti masih banyak yang melakukan hal yang dilakukan oleh Abu Jari. Oh, ya, dalam Islam apakah sering berziarah ke kuburan juga dianggap sesat? Duh, maaf ya sering bertanya. Nyuri ilmu Mas Kurt sedikit demi sedikit.

    Satu lagi, saya tunggu ya cerpen religius lainnya. Mencerahakan dan mengingatkan.

    >>> makasih Ci Hanna atas appresiasinya. Sekedar mengungkapkan fakta di atas ketidaknyataan bagi yang tidak percaya akan hal2 yang ada di luar dalil yang dianggap bid’ah.

    Orang Islam ada dua pemahaman ziarah. Dua2nya dari Nabi Muhammad saw : “dahulu aku haramkan berziarah tapi sekarang silahkan.” Dari hadits ini kemudian ada ada dua: yang tidak ziarah karena dianggap orang tua sekalipun yang sudah mati, maaf, tidak ubahnya seperti “makhluk bukan manusia” dikubur dan ditinggalkan begitu saja. Lalu menghindari betul untuk berusaha mengingatkan kematiannya misalnya ditahlili, dikunjungikuburannya, diperingati hari kematiannya apalagi didandani dst, semua itu dihindari betul seakan-akan sesuatu yang teramat salah dalam beragama.

    Tidak sedikit pula pemahaman yang menolak ziarah itu yang berpandangan bahwa kalau berkunjung atau ziarah itu sama dengan meminta sesuatu pada kuburan. Misalnya orang-orang yang dianggap suci seperti wali dan para ulama. Jika diziarahi para pengunjung itu minta-minta pada kuburan. Sayangnya semua yang berziarah itu dianggap meminta2 dan bisa jadi dianggap membelakangi Tuhan. (musyrik).

    Nah bagi yang menerima kunjung-mengunjung ke kuburan, karena mengikuti sabda Rasul. Maka semua aktivitas mengingat kematian orang tua itu dianggap boleh. Misalnya 7, 40 dan 100 hari hingga seribu hari (haul). Semua itu adalah upaya seorang anak (keluarga) untuk bersedekah kepada orang lain sebagai perwujudan kasih pada sesama tetangga. Jika tidak mampu yaa tidak dipaksa karena sifatnya boleh.

    Begiutlah jawaban sederana saya Ci semoga bisa dimaafkan.

  5. 30 Desember, 2007 pukul 9:21 pm

    Met Tahun Baru 2008, Mas Kurt.
    Sukses selalu ya.
    Sampai ketemu tahun depan…


    >>> sama-sama Ci.. met tahun baru semoga sukses selalu… liburan kemana nih Ci?

  6. 30 Desember, 2007 pukul 9:30 pm

    pak kurt, saya hanya manusia biasa yang sederhana pingin hidup sederhana berpikiran sederhana layaknya danang. Tapi, seputar saya menjadikan sederhananya saya menjadi kerumitan yang luar biasa..

    Sumpah! judul yang menggoda, cerita yang tak biasa, tapi sering terjadi dalam keseharian muslim indonesia. Sederhana tapi menjadi luar biasa ketika hidup menjadikannya rumit.

    Izinkan saya menyederhanakan kembali hidup saya.. ๐Ÿ˜‰

  7. 30 Desember, 2007 pukul 9:36 pm

    @ Sawali: Njenengan kok bisa berhasil ngompori pak kurt bikin cerpen. Salut abiz buat pak kurt, terus terang saya masih buntu kalo disuruh buat cerpen.. takut gak laku.. hahahahahahaha

    @ Hanna: Sering2 aja mencuri ilmu pak kurt, gak bakal habis kok kalo dicuri, malah nambah terus .. hehehehehe.. eit2 lupa, mumpung ketemu di sini, selamat tahun baru…

    @ Sitijenang: sepertinya kena sensor pak! hahahahahaha

    @ Edratna: memang seharusnya begitu idealnya, tapi ‘susah jadi manusia’. ๐Ÿ˜‰

    @ Pak Kurt: Maaf, pak Kurt! beribu maaf, porsi njenengan kok malah saya ambil alih.. hehehehehehe… Gak sopan… Bener2 mohon maaf..

  8. 30 Desember, 2007 pukul 9:37 pm

    salam kenal nih kang..

    Jadi merinding nih bacanya

  9. 30 Desember, 2007 pukul 9:40 pm

    Walaaaaaaah ketinggalan lagi (sebab pemberitahuan dari mr. Kurt masuk area jaring-jaring akismet, karena ada dua links ๐Ÿ˜€ ). Bentar baca dulu…..(Baca pelan-pelan… ) ๐Ÿ˜€

  10. 30 Desember, 2007 pukul 10:07 pm

    Wah, kisah nyata yang menarik sekali mr. Kurt. *Saya merasa tersanjung nih…, padahal PR-nya ga wajib lho… hehehe… ๐Ÿ˜€ *.

    Jadi kangen marhabanan, tahlilan, yasinan (di kampung). Di kota-kota, hampir saya tak pernah merasakannya. Apalagi di sini.
    ________________________________________________________

    Memang, bagi sebagian orang (umat Islam), acara-acara semacam tahlilan, marhabanan, ziarah kubur, dsb itu dianggap bid’ah karena mereka (mungkin) terlalu tekstual memaknai hukum-hukum (fikih ya?). Mereka melandaskan pada pemikiran/pertimbangan bahwa kegiatan semacam itu memberatkan (contohnya tahlilan, yang memberatkan bagi keluarga yang ditinggal meninggal). (Mungkin pendapat ini ada benarnya juga).

    Tetapi, inti dari kegiatan-kegiatan tsb, seperti yang diungkapkan di cerita ini adalah sebagai bentuk silaturhami, berkumpul, mendo’akan,dsb. Dan telah jadi tradisi untuk mempererat tali persaudaraan, tolong menolong, dan bentuk ta’ziah yang unik (tahlilan adalah bentuk ta’ziah = menghibur keluarga yang ditinggal pergi oleh yang meninggal).

    Sedangkan, ziarah kubur, itu bermanfaat bagi yang masih hidup untuk mengingat kan bahwa ada hidup setelah mati, mendo’akan orang yang telah meninggal, dst….. (wah bisa panjang kalau diteruskan.. )

    _________
    Btw, cerpen yang asyik untuk dinikmati, saya seperti terbawa dalam arena sidang (sumpah-sumpahan tersebut), saya seperti hadir… ๐Ÿ˜€

    Terimakasih mr. Kurt.. ditunggu cerita-cerita terkait pesantren berikutnya… ๐Ÿ˜€

  11. 30 Desember, 2007 pukul 10:42 pm

    Met Tahun Baru 2008
    Wish You All The Best And Success
    Salam Militis!!! :mrgreen:

    *semoga gak nge-langgar fatwar* ๐Ÿ˜†

  12. 31 Desember, 2007 pukul 12:55 am

    cerpennya di filmkan saja..he he
    Buat counter part cerita cerita horor yang semakin nggak mutu

  13. 31 Desember, 2007 pukul 3:56 am

    Menunggu respon Abu-abu Salapi dan Nunggu Nasehat yang bunyinya begini: “ITU KHURAFAT, ..ITU BID’AH…., ITU TAKHAYUL..”

    Kebenaran pasti menang…. salam buat U Kurtubi.
    Ahsantum…
    saya tak ikutan gotong royong dulu ke solo. bantu saudara-saudara kita yang kena musibah kebanjiran.

  14. zal
    31 Desember, 2007 pukul 5:21 am

    ::Perbedaannya cuma pada sumpahnya barangkali ya Pak Kurt, kalau Danang, bersumpah atas keyakinannya, sedang Paman Abu, bersumpah atas kesalahan si Danang, mungkin akan lain ceritanya, jika masing-masing bersumpah atas keyakinannya sendiri…,
    btw, ck..ck..ck.., ternyata Pak Kurt emang Kyai…, tulisan yang mengalir begini hanya bisa didapat dari jernihnya pandangan… Insya Allah, …, Alhamdulillah, terima kasih…ya Pak Kyai ๐Ÿ™‚

  15. 31 Desember, 2007 pukul 7:00 am

    Kisah ini penuh hikmah pak Kurt …
    Perbedaan acara-acara semacam tahlilan, marhabanan, ziarah kubur, mualidan dan seterusnya memang telah menjadi khilafiyah di sepanjang kehidupan keislaman di negeri ini.
    Hemat saya semestinya masalah2 fiqiyah yg furu’ tidak lagi kita jadikan perdebatan di era kontemporer ini. Bukankah sejumlah aktivis telah mngalihkan usaha ke masalah2 skala prioritas, tentu dalam hal ini masalah2 yg mendasar tetap menjadi prioritas terpilih.
    Misalkan lagi masalah qunut setiap shubuh, itu bukan lagi prioritas permasalahan ummat, yg lebih prioritas tentu orang2 yg belum juga shalat. Saya sendiri kali ini berkumpul dalam hal berbicara agama bukan kali karena sepemahaman fiqihnya, hemat saya lagi fikrah (paradigma berpikir) lebih utama dalam hal keharusan kerja sama.
    “Mari kerjasama dalam hal2 yg kita sepakati, dan saling memahami untuk setiap perbedaan”

  16. Anang
    31 Desember, 2007 pukul 7:14 am

    OOT: MEt tahun baru!!! semoga tahun baru membawa berkah bagi kita semua.. menjadi yang leibh baik dari tahun sebelumnya… amin

  17. 31 Desember, 2007 pukul 10:34 am

    Assalaamu alaikum kyai Kurt.
    Selamat tahun baru 2008 M dan Tahun Baru 1429 Hijriyah.
    Perkenalan saya dengan Kyai Kurt di WP sungguh banyak membawa kebaikan bagi diri saya. Mudah-mudahan pada tahun berikutnya saya bisa lebih banyak belajar tentang hidup, salahsatunya ya dari Kyai Kurt ini.

  18. 31 Desember, 2007 pukul 10:35 am

    hoho bang Kurt ni kalo nulis panjang2

    kirim ke majalah aja
    bisa dimuat
    dapet hadiah

    halah!!!

  19. 31 Desember, 2007 pukul 10:59 am

    Assalamualaikum,wah pak Kurt bisa juga tuh nulis cerpen hehehehe tuh buktinya hayo nulis lagi dong pak…di tunggu kisah berikutnya pak. Oyah SELAMAT TAHUN BARU 2008 yah pak….mohon maaf atas segala khilaf selama ini baik sengaja atau tidak.Moga sukses menyertai kita semua. Wassalam.

  20. 31 Desember, 2007 pukul 2:42 pm

    Terima kasih Sampeyan sudah jawab sendiri pertanyaan di blog saya he he …

    Fundamentalisme idenya kembali ke hal-hal paling dasar ajaran sesuatu yang dicoba amalkan tanpa kompromi. Celakanya, pemahaman yang berbuah persepsi pada diri si pemaham (dan kelompoknya) kemudian ‘dipaksakan’ kepada pihak lain, bahkan dengan cara yang paling keras. Hal inilah yang mengakibatkan kekisruhan di kehidupan kemanusiaan.

    Kalau punya kekuasaan akan menindas yang lain tanpa ampun, kalau di luar kekuasaan akan berusaha menumbangkan dengan aneka cara, tanpa ampun.

    Ingat kesemua itu berawal dari pemahaman. Jadi, pelaku dalam situasi apa pun berlaku sebagai paling benar. Salam.

  21. 31 Desember, 2007 pukul 4:23 pm

    ๐Ÿ™‚
    abis baca.. mo nyelipin koment ga mutu… lah koq.. mirip ma yang ditulis B zal
    hayah
    wis lah.. ngucapin sampai jumpa di taun depan ya pak

    *note: sebaiknya baca postingan langusng koment jangan ikutan baca koment*

    pulang

  22. 31 Desember, 2007 pukul 6:55 pm

    hhmmmmm…..
    gak bisa komen deh…
    ceritanya bener bener membuat termenung.

  23. 31 Desember, 2007 pukul 7:38 pm

    Sodara2 maafkanlah koment for koment belakangan yaa .. heeh lagi sok seleb heheh ๐Ÿ™‚
    saya mau ngejar utang dulu sebelum tahun baru ini…

  24. 31 Desember, 2007 pukul 8:12 pm

    kalo saya, dahulukan akhlak diatas fiqh…:)

    Dari Anas ra; Rasulullah SAWW bersabda: Sesungguhnya seorang hamba mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia di hari akhirat karena akhlaknya yang baik walaupun ia lemah dalam ibadah (HR Thabrani, al Targhib 3:404).

    Seorang lelaki menemui Rasulullah SAWW dan bertanya, Ya Rasulullah apakah agama itu? Rasulullah menjawab, โ€œ(Agama adalah) Akhlak yang baikโ€œ. Lelaki itu mengulangi empat kali pertanyaannya dari penjuru yang berbeda; depan, samping kiri-kanan, belakang, tapi dijawab dengan jawaban yang sama โ€œAkhlak yang Baikโ€œ. Hingga Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda: Belum jugakah engkau mengerti? (Agama itu akhlak yang baik). Sebagai misal, janganlah engkau marahโ€ (HR Thabrani, al Targhib 3:405).

  25. 2 Januari, 2008 pukul 1:53 pm

    Hore yang pertama di tahun baru. Ceritanya bagus, tapi jangan di ke produser film kan, soalnya nanti yang ditonjolkan adalah unsur mistisnya, bukan hikmah yang terkandung di dalamnya.

    >>> hahahah … gitu ya mbak.

  26. 2 Januari, 2008 pukul 6:57 pm

    Masalah Furu’
    ko malah menjadi menarik diperdebatkan ya Pak Kurt??
    *saya suka bingung* ๐Ÿ˜ฆ

  27. hildalexander
    7 Januari, 2008 pukul 12:43 pm

    it’s very very touching….hikz hikz hikz ๐Ÿ™‚
    Ngkonx Kurt emang kagak ade matinye…..
    ada banyak hikmah neh, akhlakul karimah….
    Thanx so much Ngkonx ๐Ÿ™‚

  28. savikovic
    2 Februari, 2008 pukul 8:35 am

    lha wong tradisi kok dianggap bid’ah…
    bid’ah itu klo dah merobah dan menambah2 apa2 di dalam solat.
    klo sekedar membaca doa dan syair2 puji2an ya g ada masalah… wong doa dan syair bisa berkembang dan berobah menurut kebutuhan dan jaman…

    bravo pak kurt…. hiatus nya lom selesai yah

  29. abahaura
    31 Oktober, 2008 pukul 9:24 pm

    Assalammualaikum kyai….salam kenal….

    bagaimana dengan teman abu jari yg lain, apa mereka sekarang sibuk menghitung jari sambil melihat langit dan garuk-garuk menyangka tuhan sedang duduk di kursi? atau hanya diam menggigit jari sambil mencabut jenggot yang hanya hitungan selembar atau dua lembar? hehehe…

    yang pasti, semangaaaaat…!!!

  30. SEPTINA
    4 Maret, 2011 pukul 5:03 pm

    Nah, yang kayak begini nih, yang aku tunggu dari Kang Kurtubi. Syukron.

    ————-
    Syukron sama-sama bu Septina atas kunjungannya. baru kali ini saya membuka blog ini, karena password yang hilang sekian lama. hehehe

  31. khidir
    10 Agustus, 2012 pukul 6:46 am

    cerita ini saya copas ke web
    http://metafisis.wordpress.com/2011/08/28/kisah-tahayul-dibalik-munculnya-shalawat-nariyah/#comment-27332

    web ini adalah web dibuat untuk membuat dakwah versi wahabi yg selalu mengatakan orang salawat,ziarah kubuh,tahlilan…adalah pekerjaan bi’dah…

    tapi anehnya cerita di atas saya copas ke web mereka, eh malah adminnya tidak mau tampilkan alias pengecut…klo cerita ini benar…mereka itulah yg selalu memecah umat ada kebenaran malah tidak ditampilkan oleh mereka….astaqfirullah ….dan saat ini saya mau komen tidak bisa lagi di blog mereka karena sudah di block sama admin….

    wass

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: