Beranda > Lingkungan, Peristiwa, Politik > Enakan memilih Duit atau Pemimpin?

Enakan memilih Duit atau Pemimpin?

Jika ada pemilihan pemimpin yang tanpa disembling dengan duit, maka seperti malam kemarin, pemilihan ketua RW yang menurut saya paling bersih dari politik kepentingan. Setidaknya itulah yang saya alami di wilayah saya malam kemarin. Saya diundang acara pemilihan ketua RW dan singkat sekali acara itu. Hanya 2 jam selesai, tanpa kampanye tetapi memenuhi undang-undang pemilihan demokrasi dan tanpa rekayasa.

Jika pemilihan presiden dan kepala daerah sarat dengan keributan dan asesoris misalnya “ado jotos” antar pendukung, adu kekuatan antar kubu dan adu harisma antar golongan, maka tidak demikian semalam itu. Tidak ada partai yang tertarik mencalonkan jadi ketua RW, tidak ada yang berantem, bahkan cenderung pemilihan itu sepi dari peminat selain para pengurus RT saja yang terlibat.

Jika orang-orang kaya di tempat saya ditawari suruh jadi RW pada menolak, maka tidak demikian dengan menjadi calon Lurah, Camat, Bupati, Walikota, Gubernur atau Presiden. Bukan ditawari, malah menawarkan diri, berkampanye dan siap terjun dengan seribu macam “tipu muslihatnya.” Bahkan jika kalah dalam pemilihan kepala daerah, uang sebanyak ratusan milyar menguapun masih bisa tersenyum di depan publik. Seolah tidak ada kekecewaan.

Mana ada tukang ojek yang mau mencalonkan jadi presiden atau Bupati dll. Tapi semalam tukang ojek pun bisa menjadi calon ketua RW. Dengan modal keberanian dan hampir tanpa biaya semua itu mudah dilalui. Hanya saja semalam tukang ojek yang gagasannya bagus itu tidak bisa melawan ketua RW yang lama yang bersedia dicalonkan kembali.

***

Jadi jawabannya apa dong man jika ditanya:
mengapa kalau pemilihan ketur RT/RW sepi dan aman tapi kalau pemilihan umum, Pilpress dan pilkada pada “adu jotos” ?

“masa kagak tahu sih, atau pura-pura bego?” ujar Apud menimpali si maman.
“lah saya kagak tahu bang!”
“Duit, duit!” kata apud
“oooooo”

Iklan
  1. 5 Januari, 2008 pukul 7:47 pm

    Hehehe…
    ada agenda, dan intrik terselubung ya pak Kurt πŸ˜€
    maaf apa Pak Kurt, tetanggaan dengan Pak Hadi Arr??

    >>> hmm tahu aja paman goop
    iyaa nih sama2 ngeposting masalah pilRW

  2. 5 Januari, 2008 pukul 8:08 pm

    berarti pemilu ketua RW sangat bersih dan bebas dari politik uang ya, apa karena ketua RW gak dapat dana non budgeter kali, coba kalo sekali2 kecipratan dana dari pemerintah dalam jumlah besar pasti yg nyalon pada berebut, kalau perlu main sikut hehehe πŸ˜€

    >>> kira2 begitu lah untuk kasus di tempatku.. mungkin kalau tempatnya “basah” karena “hujan”, akan lain masalahnya yaa.. πŸ™‚

  3. 5 Januari, 2008 pukul 8:16 pm

    dua-duanya prioritas sekarang ini, namun harus seimbang mungkin yach

    eh banyak juga loh yang demikian mas, nitip mau dimana yach mereke.

    >>> hmmm benar sekali bro, jadi milih dua2 nya yah… siap2 jadi pemimpin, maka siap2 pula punya duit πŸ™‚

  4. 5 Januari, 2008 pukul 8:21 pm

    Saya juga gak tahu bang kurt πŸ˜€

    Knapa yah dengan alasan duid bisa jadi jotos2an.. πŸ˜†

    >>> hahaha… mungkin kalau duit itu jadi daun lalu daun jadi duit… lain kali masalahnya, atau sama saja?

  5. 5 Januari, 2008 pukul 8:41 pm

    lagi2 duit uncle.. masih trauma sama duit nih πŸ˜€

    >>> saya ikutan terenyuh dengan musibah yang ada di rumahmu… πŸ™‚

  6. 5 Januari, 2008 pukul 8:45 pm

    kebetulan sama, di wilayah saya baru minggu yll pemilihan RW, dan kayanya kesannya sama ya Pak Kurt.

    >>> kata paman Goop kita tetanggaan pak heheh πŸ™‚

  7. 5 Januari, 2008 pukul 8:55 pm

    tapi om.. emang iya ya kenapa gitu ya? apa emang udah jadi fitrahnya manusia doyan ama duit? gara2 duit manusia bisa adu jotos?

    >>> hmm benar “fitrah doyan duit” begitu jelas yaa ?

  8. 5 Januari, 2008 pukul 9:14 pm

    mas brainstorm itumah dah jadi insting sejak ngegubrax kealam dunia inih kali hehe

    >>> ngegubrax teh naon atuh LIz πŸ™‚

  9. Um Ibrahim
    5 Januari, 2008 pukul 9:25 pm

    Money is Power ,kekek…
    kalo jadi RW yg ada nambah kerjaan doang…
    Btw jadi RW nih ?;)

    >>> hehehe… jadi RW berarti nekad yaa… πŸ™‚

  10. 5 Januari, 2008 pukul 10:02 pm

    huhuhu sila ke 4 itu sepertinya hanya cocok dilaksanakan oleh orang yang tak berduit atau orang yang menganggap duit bukan segalanya yah?

    tapi sebenernya kalo kita dapat menjadikan hikmah sebagai pemimpin bisa jadi kita tak lagi di pimpin oleh duit yah pak?

    tapi knapa bukan bapak aja yang jadi rt nya pak?

    >>> hikmah juga kadang2 mesti didapat dengan duit juga yah? … jadi bingung deh…
    kenapa bukan saya, kan pertanyaannya belum kejawab di atas.. πŸ™‚

  11. 5 Januari, 2008 pukul 10:15 pm

    Segala hal bisa terjadi karena uang…

    >>> segala hal? hmmm… πŸ™‚ boleh jadi

  12. 5 Januari, 2008 pukul 10:41 pm

    Pilihannya hanya 2, pilih duwit atau pemimpin…sama dengan, pilig dunia atau akherat…

    Pilih keduanya tidak mungkin, pilih salah satu “dituduh yang tidak-tidak”. Kalau pilih duwit, ah masa sih “mengaku”. Sedang kalau menjawab pilih pemimpin, ah masa masih “munafik”..

    Bingung…. coba kalai ada pilihan lainya….:D

  13. 6 Januari, 2008 pukul 12:15 am

    Jika orang-orang kaya di tempat saya ditawari suruh jadi RW pada menolak, maka tidak demikian dengan menjadi calon Lurah, Camat, Bupati, Walikota, Gubernur atau Presiden. Bukan ditawari, malah menawarkan diri, berkampanye dan siap terjun dengan seribu macam β€œtipu muslihatnya.” Bahkan jika kalah dalam pemilihan kepala daerah, uang sebanyak ratusan milyar menguapun masih bisa tersenyum di depan publik. Seolah tidak ada kekecewaan.

    ah, yang bener ajah mas kurt. coba kalo ketua rw digaji kayak gubernur ato walikota. walah, pasti antre, bahkan tak jarang yang main suap, hehehehe πŸ˜† itu pertanda bahwa jabatan sosial selama ini emang ndak pernah digubris ketika peradaban kita sedang gandrung dengan hedonisme. *halah*

  14. 6 Januari, 2008 pukul 12:43 am

    pilihan bijak yah…. man talks everything money answers everything πŸ˜€

  15. 6 Januari, 2008 pukul 2:21 am

    kekuasaan adalah nafsu terbesar manusia…
    :mrgreen:
    btw mungkin jawabannya bisa pak, pemilihan presiden, gubernur, camat dll bisa sangat bersih jika setiap jabatan diletakkan sesuai pada tempatnya, sebagai amanah dan bukan sebagai alat untuk mencapai nafsu binatang manusia untuk menginjak yang lain

  16. 6 Januari, 2008 pukul 3:00 am

    saya jd ngebayangin…gimana kalo dijaman sekarang ini gak ada duit sebagai alat transaksi….ada duit ajah jotos2an..gmn kalo gak ada…bukannya malah tambah parah….

  17. 6 Januari, 2008 pukul 3:02 am

    Pokok’e pak! kalo gak ada duitnya, jangan arep2 bakal rebutan. Dikasih pun gak bakalan mau.. percaya deh! hehehehe

    Tapi kalo sudah ada duitnya, gadein rumah pun jadi asal dapat posisi.. Jangan2 Tuhan kita pun sudah berganti materi ya pak?! Mohon pencerahannya..

  18. borsalino
    6 Januari, 2008 pukul 3:19 am

    saya akan pilih pemimpin yg mau kasih saya duit.

  19. 6 Januari, 2008 pukul 4:52 am

    saya sempat bingung juga di rumah kenapa saya dapat salam kenal lagi, padahal saya liat di blogroll ada link buat saya 2 biji pula. walaupun itu link ke blog lama saya. (req … update ke tempat yang baru boleh kan pak?)

    soal hikmah,
    menurut saya hikmah itu pemimpin perasaan saya pak. kerakyatan yang dipimpin oleh “hikmah”. hikmah yang memiliki kebijaksanaan. kalo cari di mbah wiki hikmah itu berhubungan erat dengan wisdom. jadi kalo saya tidak salah menafsirkan yah hikmah itu berarti pemimpin yang sarat dengan unsur Ketuhanan Yang Maha Esa. saya rasa uang bukan segala-galanya buat pemimpin seperti itu.
    tapi bisa saja saya salah.
    πŸ˜€

  20. 6 Januari, 2008 pukul 4:53 am

    oh yah, salam kenal juga yah pak.

  21. 6 Januari, 2008 pukul 7:16 am

    Iya, ya…kalau ketua RT atau RW kok pada ogah ya…sampai-sampai harus diatur bergiliran? Ada apa ya…:D

    Di kompleks rumah dinas saya dulu, ketua RT/RW diatur bergiliran, dibuat delegasi wewenang…habis tiap warga hobi turne (bukan turu kono turu kene lho!)…supaya memudahkan urusan.

    Di kompleks yang sekarang, Ketua RW nya bekerja di Dep. Pertanian, isterinya dokter…dan ketua RT nya seorang pilot. Jadi kalau mau ketemu sms an dulu, karena penghuni dan ketua RT/RW sama-sama sibuk. Tapi karena administrasi tertib, semua beres…karena ada satpam (walau ga seperti dikompleks dulu) berkeliling…dan jam 12 malam di portal.

  22. 6 Januari, 2008 pukul 9:35 am

    masalahnya kalo RT/RW kan kita relatif kenal betul. tingkat kepercayaan atau keyakinan *halah* lebih tinggi. kalo di level gubernur cuma katanya bagus, pinter, saleh, dll. kalo saya pilih yang menurut saya sudah banyak kontribusinya dalam masyarakat sejak lama, bukan dekat-dekat kampanye. tapi, sejauh ini gak ngeliat ada πŸ˜€ jadi golput aje… he he he :mrgreen:

  23. 6 Januari, 2008 pukul 11:24 am

    welgedewelbeh

    Wah jangan salah pak kurt, di tempat mulut, untuk pilihan RT/RW ribut juga lho…., tiap-tiap mulut pada ribut menolak dicalonkan πŸ™‚ , sekadar option lain, bukan hanya sekedar duit kali ya…, tapi juga pada perasaan ‘jadi tumbal’. Jadi RT/RW kan bebannya ga ringan juga…, tapi tanda jasanya ga sebanding….. jika dibandingkan dengan Jadi lurah, camat dll, so biasanya kan sukarela only, jadi ya gitu deh…., harap maklum ,….

  24. 6 Januari, 2008 pukul 11:47 am

    Jadi RW saya rasa cuma cocok buat para pensiunan yg butuh kesibukan dan gak lagi berorientasi pada duit.. Jadi kalo untuk orang2 yg masih produktif, mana mau.. πŸ˜›

  25. 6 Januari, 2008 pukul 11:58 am

    Aku mau jadi bu RW.

  26. 6 Januari, 2008 pukul 2:32 pm

    Kyai Kurt, kalau di tempat saya pemilihan RW bisa lebih meriah ketimbang pemilihan kepala desa di kabupaten. Satu bulan sebelumnya spanduk dan selebaran sudah terpasang di mana-mana. Masing-masing calon sudah melakukan pendekatan baik ke tokoh-tokoh masyarakat maupun pejabat seperti lurah dan camat.

    Gak tahu kenapa, jabatan ketua RW di daerah saya terlihat sangat prestise dan diminati. Padahal setahu saya gak ada gajinya. Mungkin karena ada sumber pendapatan lain kali ya Kyai…?

  27. 6 Januari, 2008 pukul 2:39 pm

    @ RAM, kalo di Bandung, ketua RW itu jadi batu loncatan untuk calon DPRD, soalnya salah satu syarat dari parpol di Bandung adalah minimal pernah menjadi ketua RW kalau belum pernah jadi pengurus partai.

  28. 6 Januari, 2008 pukul 3:33 pm

    saya mau jadi pemimpin yang banyak duitnya pak! he.. met taon baru, moga sukses selalu.

  29. 6 Januari, 2008 pukul 5:35 pm

    Saya mau banyak duit dan mau jadi pemimpin sendiri saja deh. Salam kenal.

  30. 6 Januari, 2008 pukul 6:03 pm

    coba kalau ada pemilihan MANUSIA SETENGAH DEWA kayak di tempat saya,pasti rame kang.
    tapi bloge rika benar-benar sejuk kang untuk berteduh.

    *kabur,karena lama gak di kasih minum juga*

  31. 6 Januari, 2008 pukul 6:47 pm

    Emang jadi pak RT atau pak RW pada pegang proyek kang?? mungkin kalo pak RT dan pak RW dapat proyek mungkin banyak yang pengen kang. Soalnya .. pak RT atau pak RW itu benar2 mengabdi.

  32. 6 Januari, 2008 pukul 7:46 pm

    Hmmmm soal cost politik ne bang….
    Yang lagi ngetrend di pesepakterjangan pemilihan jabatan struktural si “Ada uang ada suara, ada yang lebih besar siap nyasar”.

    Jika dibudayakan terus baik oleh kandidat pemimpin atau calon pemilih, saya khawatir ini akan mengurat mengakar. Kapan cita-cita bangsa pada pembukaan UUD 1945; mencerdaskan kehidupan bangsa bisa terwujud?
    ***
    Kenapa jarang yang mau diamanahkan menjadi ketua RT/RW? Mungkin karena jabatan RT/RW tak sepopuler dan seprestisius dibanding dengan camat, bupati dst keatas.

    Bisa sampai jotos-jotosan? Ada beberapa kemungkinan:
    1.Karena logika itu telah dipengaruhi logistik (uang). 2.Masing2 kubu punya ikatan emosional yang lebih dekat dengan kandidat, mengakibatkan rasa pembelaannya besar. 3.Masing-masing merasa terbenar,terbaik, terbersih dan terlayak 4.Salah satu calon atau lebih melakukan kecurangan, mengakibatkan kemarahan Tim sukses (TS)calon lain merasa dirugikan (dan kasus ini sering terjadi).

    *Mau komentar di blog ini susah bang, harus muter-muter lewat dan cari di blog orang lain. Kalau di klik dari tempat saya ndak bisa, knapa ya?*

  33. zal
    6 Januari, 2008 pukul 8:27 pm

    ::Pak Kurt, sepertinya ada yg perlu cek ulang, sebab adanya pemilihan ketua RW, berarti ada beberapa calon, namun ex RW jadi RW lagi.., mungkin sebetulnya sama saja dengan pemilihan pimpinan lainnya, namun mungkin skalanya aja yg lebih kecil…, namun mungkin ini juga termasuk bagian penyebaran rizki, *husnudzon mode on*

  34. 6 Januari, 2008 pukul 8:41 pm

    Di Bandung ada fenomena unik. pada sebagian wilayah, terutama komplek perumahan menengah ke atas, menjadi ketua DKM dianggap lebih prestise ketimbang ketua RW. Gak tahu kenapa…

  35. 6 Januari, 2008 pukul 8:55 pm

    Dulu, di tempat saya, biasanya Pak RW itu pensiunan polisi/militer. Umumnya pangkat terakhirnya minimal mayor dan sudah dihargai oleh komunitasnya.
    Sengaja dipilih begitu, sebab warganya kebanyakan gemblung, doyan maen pestol sembarangan. Hehehe.

    Alhamdulillah, sekarang lebih baik, sudah ada ‘akuisisi’ posisi RW dari kalangan akademisi macam guru ngaji atau penyuluh HIV. πŸ™‚

    Kalau untuk pemilihan Lurah… Wah, seru ceritanya. Kadang-kadang di langit banyak yang aneh-aneh bagaikan kembang api (tapi bukan kembang api) ketika malam pemilihan lurah tengah berlangsung.

    Ahhh, nanti saya posting deh, pemilihan lurah di Cilincing. Hahaha.

  36. 6 Januari, 2008 pukul 10:29 pm

    Menjadi pemimpin bisa menjadi ladang penghidupan yang baru. πŸ™‚

  37. 7 Januari, 2008 pukul 7:23 am

    Jadi, kesimpulannya masih berputar soal duit lagi nih? kadang suka kasihan juga sih melihat RT/RW yang kerjanya ngurusin warga, tapi mereka juga tak terurus…

  38. 7 Januari, 2008 pukul 9:45 am

    Begitulah, demokrasi dalam praktik itu pada dasarnya ternyata pada kalangan bawah. Elit … ih malu-maluin. Kalau kelakuan para elit berkembang ke arah negatif tersebut, dia akan digulung revolusi yang dilokomoti Mas Kurt he he … (bisa-bisa dikejar James Bond he he)

  39. 7 Januari, 2008 pukul 11:03 am

    “Kasihan” beberapa di antara calon2 tsb … sudah uangnya diambil eh tetap tidak dipilih :mrgreen:

  40. hildalexander
    7 Januari, 2008 pukul 1:27 pm

    Time is money, Ngkonx….that’s why kenapa Pilkada(L) selalu dihiasi aksesori jotos-jotosan. Semakin cepat duit keluar, semakin cepat juga duit masuk….eh emangnya paralel?

    Kalo di tempat saya (Kota Wisata, Cibubur), jabatan prestisius malah Ketua Paguyuban, bukan RT, RW apalagi Lurah or Camat. Karena, dalam struktur organisasi Paguyuban bersemayam para mantan jenderal dan menteri….contohnya Paguyuban Monaco yang diketuai Jenderal (Purn) Hari Sabarno…hikz hikz hikz… Di sini malah Lurah, Camat, dan Bupatinya yang sowan ke Ketua Paguyuban….Haiyaaaaaaaaa

  41. 8 Januari, 2008 pukul 2:08 pm

    assalamu’alaikum

    salam kenal pak kiai
    senang melihat ikon blogger Tunggal Ika di sebelah kanan atas itu.

    aku mengundang pak kiai untuk menengok persiapan proklamasi kemerdekaan di blogku :

    http://ayomerdeka.wordpress.com/

    terima kasih

    Merdeka!

  42. 11 Januari, 2008 pukul 11:46 am

    pas mamahku jadi ketua RT (iya, mamah saya, bukan Papah saya.. jadi kalo ada yg nyari Pak RT emang gak ada.. :D) lumayanan mas.. Kenapa eh kenapa? karena rumahku jadi sering dapet kiriman makanan2 lucu.. sayang, kenapa gak dikirim cowok2 lucu juga yaa…

  43. 12 Januari, 2008 pukul 10:32 pm

    Boss Kurt
    Lah..klu begitcu enakan ditempat saya dooong, jadi RT dapet honor 300 rb/bln. Gak peke kampanye ” show of force ” pake bendera merah,kuning,hijau gitcu. Cukup slametan jenang merah dibagi-bagi tonggo kiri kanan…kepilih deh…gak cuman RT, Guru2pun juga dapet rapelan pertiga bulan..nyem..nyem..nyamleng tenan ki…Ayoooo sopo mo jadi RT di tempatku…

  44. GuM
    13 Januari, 2008 pukul 3:27 am

    hmm… berbicara tentang memilih duit,

    kalau disodorin duit 50 perak sama 50 rban, njenengan pilih mana pak?

    saya sih milih yang 50 perak. ibu saya selalu ngajarin untuk nggak serakah. cuma, daripada nanti 50 peraknya nggelundung trus ilang, ya yang 50 rban saya bawa sekalian, buat bungkus :p

  45. ujungaspal
    17 Januari, 2008 pukul 11:39 pm

    Menjadi ketua RT/Rw yang wilayahnya daerah pasar atau pertokohan, warga disana berlomba-lomba ingin mencalonkan menjadi ketua RT/RW. Karena menjadi ketua RT/RW disana akan mendatangkan duit banyak. si Ketua RT/RW akan mengeluargan kebijakan yang bisa menguntungkan diri pribadi. Misalnya; memungut retribusi kebersihan harian (untuk pedagang kaki lima, retribusi keamana, dll

    jadi tergantung tempat orang ingin jadi ketua RT/RW…
    oke kang……

  46. 8 Juni, 2010 pukul 2:34 pm

    Free directories where you may add your website to aid seo with free
    backlinks.

    Classified
    Ads
    You are
    welcome to add links. thank you

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: