Beranda > Celotehan, Kultur, Pendapat, Peristiwa > EURO 2008 di Tengah Konflik FPI-AKKBB dan Ahmadiyah

EURO 2008 di Tengah Konflik FPI-AKKBB dan Ahmadiyah

Lama tak jumpa, lama tak menyua, lama tak menyapa, lama tak berkata maaf. Kawan-kawan setelah saya datang ke tetanggaku saya jadi mencoba posting lagi. Inipun maaf jika tak berkenan dan terlalu panjang.

——————————

Oleh: Muhammad Kurtubi Euro

DI TENGAH perselisihan Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB), Front Pembela Islam (FPI), dan Ahmadiyah kini hadir pesta spektakuler ERURO 2008. Lumayan bisa mengendorkan sedikit urat-urat syaraf ketegangan. Mata publik tertuju ke perhelatan akbar di Austria dan Switzerland dari 7 Juni hingga 29 Juni 2008.

Apa yang menarik dari sepak bola tentu setiap orang akan mengatakan karena permainan olahraga jenis ini masuk dalam kategori tontonan universal. ia tidak mengenal sekte-sekte atau firqoh. Kita bisa melihat dari mulai politisi, kiai, intelektual, pengusaha hingga warga biasa, mampu menikmati gebyar Euro 2008 sebagai tontonan yang menggairahkan. Mirip shalat jamaah dalam hal tidak membedakan siapa penontonnya. Mereka bisa rileks dan mendapatkan hiburan yang sama-sama digemari.

Tentu saja bagi kalangan santri, menonton bola tidak serta merta akan melupakan kewajiban yang seharusnya dijalankan untuk agama dan masyarakat. Apakah shalatnya, dzikirnya atau amalan lain semisal menemui tamu, bekerja dan lain-lain.

Euro 2008 memang cukup penting disaat bangsa ini tengah didera oleh konflik horizontal yang kini muali berkembang. Terlepas itu rekayasa atau tidak, yang jelas sangat merugikan kita semua.

Tendang “Bangsa ini mulai terjebak pada persoalan lama yang sebenarnya sudah dikubur, tetapi berusaha dibangkitkan kembali hanya untuk membuat hubungan kebangsaan retak. Yang sangat disayangkan, instrumen-instrumen kebangsaan kita sebagian ikut terlibat dalam perselisihan yang tidak bermutu ini hanya karena menuruti hasrat politik yang bertujuan jangka pendek.” Ujar Faruqi Sururi, wartawan senior.

Apa yang dikatakan Faruqi memang benar, bahwa tindakan tersebut hanyalah sebuah hasrat politik yang tujuannya pendek, tidak sepanjang tujuan dari penciptaaan manusia itu sendiri untuk saling ta’arafu dengan kalangan yang berbeda keyakinan dan kepentingan.

Ketegangan terus berkembang dan media massa ramai membicarakannya. Komponen satu menginginkan agar pemerintah bisa menuruti hasrat sebagian kelompok kecil. Di lain pihak, justru menentangnya. Tarik ulur ini diperparah dengan lambanya sikap pemerintah dalam menyelesaikan masalah Ahmadiyah.

Indonesia butuh segera keluar dari intrik-interik internal semacam itu, sebab energi dihabiskan untuk sekedar membuat statement dan mengomentari. Sementara bangsa kita sendiri membmtuhakan pemimpin dan rakyatnya agar segera bangkit dari keterpurukan dan ketertinggalan dari negara lain. Bagaimana kemudian, jika terus-menerus terjebak dalam konflik ini.

Karenanya, mestinya kita kembalikan pada seluruh instrumen kebangsaan kita, apakah tidak peka dengan permainan political trap (jebakan) yang bisa dibuat oleh siapa saja yang tujuannya untuk mengaburkan suasana. “Seharusnya komitmen kebangsaan kita bisa fokus pada masa depan bangsa tanpa harus melihat siapa pemimpinnya. Pemimpin kapan pun bisa berganti, tetapi komitmen kebangsaan tidak boleh berubah dan harus tetap fokus pada cita-cita Indonesia yang sejahtera dan bermartabat.” lanjut Faruqi.

Ia pun menambahkan bahwa demi cita-cita kebangsaan kita, tidak ada salahnya kita mengembangkan prinsip saling mengingatkan. Bahwa bangsa ini sudah beberapa kali terjebak pada perselisihan antarinstrumen kebangsaan yang bersifat komunal. Kita masih ingat bagaimana masyarakat kita pernah digemparkan oleh isu kolor ijo, dukun santet yang akhirnya menyebar sehingga berakibat antarkomponen bangsa saling tuduh dan bermusuhan.

Yang mengeherankan di saat yang sama, dimana negara tengah menghadapi gempuran masalah dampak eknomi global, justru pemerintah kewalahan membuat keseimbangan. Tiba-tiba saja komponen bangsa justru berselisih paham. Jadilah kemudian negara ikut-ikutan mencampuri masalah ideologi padahal yang mesti dihadapi adalah ekonomi.

Timbul anggapan, adanya upaya pembelokan masalah utama karena ingin agar bangsa ini jangan terfokus kepada perhatian yang masalah serius yang sesungguhnya sedang terjadi.

Di Amerika sana publiknya lebih memilih kepada akal sehat yaitu menghargai marbatan bangsa yang harus dibela ketimbang isu-isu sektarian yang menggelayutinya. Kita tahu, Obama sang calon presiden juga didera kepada masalah ideologi, keturunan dan seterusnya. Namun bagi warga Amerika, lebih memilih isu agama dan ras tidak lagi utama tetapi lebih memilih kepada bagaimana membangun bangsa ke depannya.

Goal Fokus membangun bangsa ke depan tentu banyak urusan yang harus dikedapankan. Ekonomi misalnya. urusan satu ini, bangsa kita masih jauh tertinggal dari negara-negara tetangga yang sama-sama terpuruk tetapi mereka bangun lebih pagi sementara kita masih ucek-ucek mata (tangi turu). Jepang, Korea, China dan India sudah melanglang buana ke seantero jagad membawa perekonomian negara itu dikiblati dunia.

Kita bisa belajar dari Amerika, meskipun secara ideologi berbeda, namun dalam urusan keduniaan mereka sangat fokus dan tidak menunda-nunda dalam persoalan yang krusial. Menurut William Knaus, seorang psikolog di Longmeadow Massachusetts yang mendalami kebiasaan menunda untuk menolong orang-orang dengan kebiasaan buruk mengatakan bahwa sikap menunda dari pemerintah ini bukannya tidak disadari oleh para pengindapnya tetapi karena telah terbiasa.

Disamping itu, untuk melihat ke depan, dan terus fokus ke depan, kita pun sepakat untuk menjadi bangsa yang fokus, kita juga bisa belajar dari tim-tim sepak bola Eropa yang sedang berlaga di kancah Euro 2008.

Seperti yang menarik dari bola adalah bagaimana semua tim mengerahkan semangat, kemampuan berjuang, sekill mengelola bola, dan kemampuan networking kepada team worknya untuk menjadi yang terbaik memasukkan sebuah tujuan: Gol!.

Akhirnya, Indonesia sebenarnya memiliki semangat besar ada banyak skill dan sumber daya manusia yang besar. Tinggal bagaimana belajar menjadi team work yang solid, sehingga “tim kesebelasan” Indonesia itu menjadi pemenang. La’allakum tattaqun, mudah-mudahan menjadi pemenang. Wallahu a’alam. (*)

  1. 8 Juni, 2008 pukul 10:01 pm

    Alhamdulillah. Saudara seiman sesemangatku telah kembali ke ‘jalan yang benar’. Limpahkanlah kekuatan padanya agar selalu mengikat ilmu dengan menulis sebagai kewajiban Muslim. Tulisannya mematik daya nalar, kemampuan instrospeksi di diri hamba ya Allah memlaui ‘tangan’ bimbingan pilihan-Mu. Berilah dia kekuatan menginspirasi kami sekalian menulis dengan kalam bermuatan firman-firmanMU. Amin.

  2. 8 Juni, 2008 pukul 10:02 pm

    Sampai lupa pertamax … Pak Kiai, selamat ya.

  3. 8 Juni, 2008 pukul 10:40 pm

    Selamat datang kembali Pak Kyai… Mau berbeda mau sama, kalau kita yakin Tuhan, tentu juga yakin kalau perbedaan dan kesamaan itu juga termasuk dari sunnatullah…

  4. 8 Juni, 2008 pukul 11:02 pm

    isi postingannya mantab, tapi belum sempat mbaca seluruhnya. ingin mengucapkan selamat datang dulu pada mas kyai kurt di kompleks blogosphere, hehehehešŸ˜† gimana kabarnya, mas kyai kurt? semoga sehat dan sejahtera, amiin.

  5. 9 Juni, 2008 pukul 4:57 pm

    memang umumnya menganggap Amerika sebagi kiblat yang salah..padahal ada beberapa hal seperti demokrasi dan persamaan hak universal yang kita bisa melihatnya,

  6. 9 Juni, 2008 pukul 5:44 pm

    Assalamu Alaikum Pak Kyai…..

  7. gonang
    14 Juni, 2008 pukul 10:47 am

    Wahai saudaraku ………………..
    ingatlah tipu daya yahudi dan nasrani yang tidak pernah merasa puas sebelum memalingkan keimanan kita, maka saya katakan cukuplah ALLAH dan Rasul-Nya sebagai contoh dan suri tauladan kita dalam bermasyarakat.
    Bagaimana sepak bola akan memberikan panutan ?????
    Bahkan banyak kesesatan dikarenakan berbagai pertandingan sepak bola , mau contoh : orang malas sholat berjamaah karena mau latihan sepak bola ( sore ) atau malas sholat tahajud dan lebih memilih nonton TV , berteriak-teriak dan bergaul bebas dengan lawan jenis dalam menonton sepak bola , bertaruh dan berjudi dan masih banyak lagi kesesatan karenanya .
    Wahai saudaraku , apakah anda seorang muslim ?
    Bagaimana implikasi syahadat Rasul anda ? tidak cukupkan Rasulullah sebagai panutan kita ?

  8. 7 September, 2008 pukul 1:20 am

    au ah, gelap..
    cuman mo nambahin.. kita ini *kita??? lo aje kale, gw ngga! heee* slain bangsa yg sering ‘telat’ saat bangsa laen udah ngacir kemana tau, baru bangun-kucek2 mata-tarik slimut-molor lageee, kita pun *kita??? lo aja kaleee.. ya-ya-yaaa.. gw aja deh.. huhu* sering kali lupa ato pikun.. ga heran nasib nya gini2 aja.. makin hari makin terpuruk..

    eh? pikun? lupa? apa-an sih..?!
    uhmmm.. nanti2 lg deh tubikontinyu ajah kl ada postingan disini yg lebih pas utk jwb an nya.. hihiii

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: