Beranda > Celotehan, Kajian Kitab > Puasa Kembalikan Modal Hidup (1)

Puasa Kembalikan Modal Hidup (1)

Modal Hidup, maksud loh?

Marah-marah kok lucu sih bisa gandengan hidung?

Marah-marah kok lucu sih bisa gandengan hidung?

Maksud saya, dalam hidup itu ada modal yang melatarbelakangi eksistensi manusia dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam sebuah ungkapan ulama salah satu modal hidup manusia itu adalah Akal dan Agama. Namun katanya, akal dan agama yang jadi modal itu bisa jebol dan lama-lama terkikis habis. Seperti juga dalam berbisnis yang bangkrut itu karena tidak ada lagi modal yang bisa digoyang.

Bahwa modal menjadi penopang hidup itu biasa. Namun ternyata bukan saja modal hidup di dunia, bahkan modal yang akan diceritakan ini sebagai penopang dunia dan akherat: Akal, Agama dan harga diri. Ketiganya menjadi taruhan manusia apakah mampu mempertahankan atau tidak. Nah bagaimana modal-modal itu bisa bertahan dan apakah puasa mampu mengembelikannya?

Begini jamaah sekaliyan, kata santriMbeling orang yang bangkrut yang dimaksud di sini adalah mereka yang menggerogoti modal hidupnya. Misalnya orang yang punya akal sebagai modal dasar kehidupan bisa hilang saat ia marah-marah.

Masalahnya, menurut salah satu kitab ulama, Orang yang marah-marah tidak lagi mengfungsikan akalnya. Padahal fungsi akal itu jelas sekali diantaranya untuk bergaul dengan Allah untuk bergaul dengan manusia. Untuk memahami ayat-ayat qauliyah (verbal) dan qauniyah (alamiyah) dan bisa membedakan baik dan buruk. Nah, pada saat marah-marah akalnya dihilangkan sendiri. Betapa seringnya dia marah-marah, berarti berapa banyak cadangan akal yang dia miliki itu menjadi tumpul.

Kekuatan akal, tulis kitab ushul fiqh, sebagai modal manusia untuk memahami benar dan salah. Ia tidak memliki karakter manfaat atau tidak. Jadi saat orang senangnya marah-marah berarti dia sudah menjadi orang yang terlatih untuk tidak bisa membedakan benar dan salah.

Modal kedua adalah agama. Jika akal tidak lagi mapmu membedakan benar dan salah, maka agama mampu memberikan manfaat terhadap sesuatu.

Karenanya agama menjadi modal manusia sebagai integrator antara diri dan jiwa, dunia dan akherat materi dan immateri. Selebihnya agama menjadi aturan hidup dan aturan keyakinan.

Namun, agama juga bisa hilang manakala manusia menggunakan sifat dengki dan hasut. Dalam kehidupan yang sering kita lihat, bagaimana beringasnya orang yang hasut dan dengki. Semua aturan bisa dibablas angine dalam seketika, bahkan jiwa dan nyawa manusia seharga nyamuk di sore hari.

Kenapa orang yang dengki dan hasud bisa hilang agamanya. Kita bisa melihat bagaimana raja syetan pernah membantah terhadap perintah Tuhan untuk sujud kepada Adam. Saat sang Raja Setan itu iri hilanglah agamanya, ingkarlah pada Tuhannya.

Padahal jika dibanding dengan kita, setan itu mampu memahami ayat-ayat Tuhan melebihi dari kita. Karena setan sendiri belajar “quran” itu langsung kepada Tuhan tidak seperti kita melalui ustadz. Jadi kebayang tidak sih, betapa “alimnya” setan dalam berhadapan dengan manusia. ia tidak mudah bertekuk lutut oleh kita, meskipun dijampi-jampi ia akan daang lagi saat lengah. Karena tidak mampu menghadapi dan tergiur nyanyiannya, tidak sedikit manusia bertekuk lutut kepada setan.

Buktikan saja setan itu tidak takut kepada orang shalat, tidak takut kepada pembaca kitab Suci bahkan kepada orang yang tengah berdzikiran sekalipun. Jika mereka dalam beribadah itu tidak ingat kepada Allah, kata setan “keciiiil”

Sebaliknya, setan hanya takut kapada hambaNya yang ingat kepada Rabbnya. Saat itulah setan takut luar biasa, bahkan sedang tidurpun setan itu takut kepada orang-orang yang selalu takut kepada ALlah.

Hasud atau iri dengki dan marah-marah menjadi biang kerok kebangkrutan modal manusia: Akal dan Agama. Apakah kemudian puasa mampu menghalau itu semua, jawabnya tentu saja mampu.

Bukankah puasa itu sendiri merupakan “proyek tuhan” yang tanpa tender, ia langsung dijatah kepada orang-orang yang beriman. Siapakah si beriman itu adalah mereka yang dengan suka rela dan suka hati menerima proyek tanpa tender itu.

Lalu “tender” dan “proyek” Tuhan itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya oleh si hamba, dan tidak ada tim penilai. Dia sendirilah yang menjadi Penilai semua puasa kita. Ashoumu lii, wa ana ajzii bihi, puasa adalah untukku, dan Aku yang akan membalasnya.” kata Nabi dalam hadits kudsi yang sangat tenar.

Dan ternyata jika “proyek puasa” itu bisa goal dan berhasil dilakukan tanpa korupsi dan mark up, maka akan mendapatkan jabatan baru: “muttaqin” sebuah jabatan yang prestisius di kalangan makhluk Allah hingga ke alam Malakut.

Singkatnya, modal akal dan agama tentu saja akan difungsikan dan dibela mati-matian bagi si hamba yang beriman. Si beriman ini dengan segala daya upaya benar-benar menghindari kebangkrutan modalnya seperti marah-marah, iri, hasud dan dengki. Bila dalam kehidupan sehari-hari betapa seringnya kita menggerogoti modal dasar manusia itu, maka jangan coba-coba di bulan puasa ini. Sebab “proyek” puasa akan “didiskualifikasi”.

“Kam min soimin laisa lahu min siyamihi, illl ju’ wal athosy.” Betapa banyak soimin itu tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar dan dahaga.

Karena itulah, kita berharap dengan sebuah do’a yang selalu dikumandangkan pada akhir taraweh: Allahummaj ‘alna bil imaaani kamiliiin, ya Allah kami bermohon sempurnakanlah iman kami… sempurnakanlah iman kami… Amin Ya robbal ‘alamin.

———

Update 9/9/2008

Maaf ada kekuarangan dan cukup mengganggu. Marah dalam hal yang benar itu tidak dilarang, namun yang menggerogoti modal hidup adalah marah-marah.

Iklan
  1. 5 September, 2008 pukul 12:48 pm

    syetan atau iblis memang tiada duanya dalam hal ilmu. Makanya mereka tahu betul cara menggoda kita yang manusia.. *saya mulai ragu, apakah saya manusia??? hiks..*

    Puasa memang sungguh mujarab untuk penyakit lahir maupun bathin. Rahasia puasa umat Islam tak pernah habis dikupas. Salah satunya oleh pak kyai kurt ini. Puasa mengembalikan agama, akal dan harga diri kemanusiaan kita.

    Mudah-mudahan kita semua terberkahi oleh ramadhan ini pak kya.. Amin Allahumma Amin.

    ——-
    Kurt
    hahaha… *saya mulai ragu, apakah saya manusia??? hiks..*

  2. 5 September, 2008 pukul 8:54 pm

    balik modal aja udah luar biasa ya, pak? apalagi kalo bisa untung.

    ——–
    Kurt
    hahah benar mestinya kita itu beruntung yah… 🙂

  3. C4ndra
    6 September, 2008 pukul 4:04 am

    Terima kasih pak Kurt saya jadi tersadarkan. Kalau di pikir2 pake akal sehat tetap saja marah2 itu sedikit faedahnya selain hanya untuk pelampiasan. Pantas setelah saya itung2 kok tekor terus ternyata modal saya habis di pake marah2 bukannya di pakai buat mikir. Tapi bukan berarti semua marah itu tiada guna kan pak Kurt..?

    ——-
    Kurt
    ohya marah itu dibolehkan bahkan Nabi saw sendiri pernah marah. Marah yang dilarang adalah marah-marah.

  4. 6 September, 2008 pukul 6:46 am

    Agama Allah memang terbukti jadi tuntunan perikehidupan umat manusia.Puasa merupakan re powering terhadap modal-modal dasar manusia yang diibaratkan lampu mulai mbleret karena kehabisan minyak. Haus, lapar, menahan nafsu akan menumbuhkan kembali simpati maupun empati yang bisa menjadi terapi untuk mengembalikan semangat kita yang pada bocor karena iri, dengki dan kemarahan.
    Artikel cantik luar biasa pak Kurt, ustadz beneran saja jarang yang bisa menuliskan sebaik pak Kurt.

    ———
    Kurt
    Makasih atas apresiasinya. Tapi bukannya yang luar biasa itu puajiannya bos sebab ketinggian 😀

  5. 6 September, 2008 pukul 8:16 am

    Hmmm…..
    Analogi nyang bagus, negh pak kyai….
    😉

    ——
    Kurt
    tumben biasanya komentarnya mbeling kok ini mbulet kang! 😀

  6. 6 September, 2008 pukul 1:08 pm

    Assalaamu’alaikum saudara Qurtubi.

    Terima kasih kerana sudi berziarah ke blog saya. Diharap silaturahmi sesama Islam akan memantapkan keteguhan ikatan agama dalam kasih sayang Allah dan RasulNya. PERKONGSIAN ILMU akan menjadikan akal kita bertambah cerdas dan menyihatkan tubuh kita kesan daripada kesepaduan dua unsur yang memajukan potensi manusia sebagai khalifah Allah swt di muka bumi ini.

    Semoga Ramadhan kali ini akan menambah amalan dan ibadah yang diberkati Allah swt.

    Salam hormat saya dari UKM Malaysia.

    BLOG GAYA SENDIRI
    http://websitifatimah.sosblog.com

    ——
    Kurt
    Terima kasih juga atas kunjungan Ibu Siti Fatimah Ahmad. sebuah kehormatan buatku dari UKM Malaysia

  7. 6 September, 2008 pukul 8:36 pm

    Semakin mantap Pak Kiai; postingan yahud. Yap modal dasar kehidupan, itu kali ya perlu sabar, sabar adalah Asmaul Husna ke 99; mari pelihara dan kembangkan modal keimanan, keislaman, dan kemanusiaan kita. Amin.

    ——-
    Kurt
    sabar itu sifat Tuhan yah… hmm kalau begitu berbahagialah si sabar

  8. 7 September, 2008 pukul 12:38 am

    topiknya keberatan.. bahasanya ketinggian.. sayanya lg ga fokus.. ato otak sayanya yg emang katrok bin bebal kali ye..

    ntah OOT ato ngga, yg penting masih nyangkut ke puasalah..
    yg jelas kl ‘puasa kembalikan modal hidup’ tuh saya yg kuper inih blom pernah baca ato denger apalagi tau..
    tp kl puasa ramadhan ituh saatnyah ngumpulin bekal mudik ke kampung akhirat, dimana kita ga bakal balik lg ke dunia, itu yg saya tau..
    *pdhl tiap puasa, bahkan dari sebelomnya, banyak org ngumpulin bekal buat pulang kampung ke basecamp masing2 yg hanya beberapa hari, org kadang sampe ngoyo & mati2an bgt nyari bekal.. nah untuk pulang ke kapung akherat, yg selama2nya alias ga bakalan balik lg ke dunia, kenapa org ga terlalu perduli.. selama2nya.. bayangkan..!
    udah cukupkah bekal kita untuk pulang kampung..?
    hiksss.. saya belum.. huhuhuuuu..

    ——-
    Kurt
    bekalnya masih kurang non, lah wong pulang kampungnya dekat inih gak usah ke akherat ke Cirebon aja paling berapa sih ongkosnye… *ditimpukin penggaris*

  9. 7 September, 2008 pukul 3:59 pm

    kata guru saya dulu. puasa itu untuk Allah. dan Allah sendiri yang akan menilainya … ngapunten menawi lepat 😀

    ——
    Kurt
    Enggih manten kyai, hanya kepada Allah saja puasa kita pasrahkan …. bukan untuk dihormati manusia.

  10. 7 September, 2008 pukul 8:16 pm

    Semoga puasa Ramadhan kali ini semakin disempurnakan iman kita oleh Allah swt. Amien.

    —–
    Kurt
    mengamini doa ibu Enny…

  11. 8 September, 2008 pukul 5:03 am

    *itung-itung* puasa saya masih jauh dari sempurna

    *menyempurnakan dengan tulisan diatas* makasih ya kang, udah ngingetin 🙂

    ——–
    Kurt
    duh masalah sempurna sama kok jeng…. yang beda itu rasanya coba aja rokok sampurna lebih banyak diminati dibanding gudang garam hehe 😀

  12. 9 September, 2008 pukul 12:08 am

    postingan yang mantab dan mencerahkan, mas kurt, tanpa bermaksud menggurui. kini, seperti apa yang pernah diungkap oleh alm. Nur Cholish Madjid, masyarakat kita sedang mengalami kebangkrutan sosial. konon disebabkan makin hilangnya nilai kesalehan sosial. saya sepakat dg mas kurt, puasa sejatinya bisa digunakan utk mengembalikan modal yang ludes akibat mengaami kebangkrutan sosial itu.

    ———
    Kurt
    kebangkrutan sosial ? istilah yang menarik…. 😀

  13. 10 September, 2008 pukul 10:58 pm

    Waduhhh marah2 = melatih untuk tidak bisa membedakan benar dan salah… Gawatt soalnya hal satu ini (marah) gampang terjadi hehe…. Moga disempurnakan iman kita dan semoga ramadhan kali ini kita mendapat keuntungan yang berlipat ganda, amien yaa Allah.

    ————
    hahaha itu cuma bahasaku doang bu, kalau masalah marah2 kita sudah pinter ya bu.. yang susah memang mengendalikannya ya… ikut mengamini doa bu Rita

  14. 11 September, 2008 pukul 8:26 am

    Saya ketinggalan mengikuti postingan mas kurt, disaat puasa saya mengalami degradasi makna, postingan ini menjadi lecutan bagi saya untuk bisa menjadi lebih baik.

    ——-
    Daeng Limpo bisa aja, kita main lecut-lecutan yuuk… 😀

  15. 30 Oktober, 2008 pukul 10:26 pm

    Assallamu Alaikum Wr.wb

    Silahkan Download Gratis Ebook Islam Therapy, Program Komprehensif Internasional Untuk Menanggulangi Masalah Penyalahgunaan Narkoba, HIV/AIDS, dan Gangguan Jiwa berbasis Ajaran Islam Edisi Satu Abad Kebangkitan Nasional di :

    Mohon Bantuannya untuk menyebarluaskan informasi ini. sekian dan Terima Kasih.

    Wassallam

  1. 9 September, 2008 pukul 1:04 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: