Beranda > Kajian Kitab, Modernisasi, Peristiwa > Dua Metode Kumpulkan Rezeki

Dua Metode Kumpulkan Rezeki

كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ

Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Pada setiap hari dari tiap sendi manusia ketika matahari terbit terdapat sedekah. (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad bin Hambal, dari Abi Hurairah ra.)

Dalam sabda yang lain, Rasulullah saw menegaskan bahwa anak adam itu memiliki 360 sendi dalam tubuhnya. Masing-masing itu perlu disedekahi. Lalu Rasul menyampaikan keutamaan shalat dhuha itu mampu menyedekahkan kepada sendi-sendir tersebut.

Suatu malam dalam acara ngobrol bareng dengan kyai Buntet setelah melaksanakan acara rutin ngaji, ada tamu yang mengadukan masalah pribadi kepada sang kyai namun bagi si tamu tadi,  tidak berkeberatan jika orang lain mendengarkan masalahnya.

Waktu itu tersisa 7 orang yang tengah bercengkrama. Adapun maksud orang ini datang agar dia segera dapat dibantu do’a agar hutang-hutangnya dapat diselesaikan segera. Intinya sih minta didoakan agar bisa cepat bayar. Lah orang ini minta masalah hutangnya bisa lunas kok ke kyai sih, gumamku dalam batin.

“Hutang saya tidak banyak, kurang lebih Rp. 90 juta rupiah”, katanya.  Masya Allah kaget saya.

Dalam pengakuannya, ia sungguh pusing sebab mengapa tidak sanggup membayar hutang. Padahal ia hanya memiliki 2 orang isteri dengan 3 anak. Dari sisi kebutuhan tidak besar, sebab masing-masing isterinya bisa bekerja. Bahkan isteri pertama berstatus sebagai PNS sama dengan suaminya.

“Harusnya saya mampu mengumpulkan uang harian sedikit-demi-sedikit misalnya apakah di ditabung lama-lama kelamaan Insya Allah bisa mencicil hutang-hutangku” katanya. “Tapi anehnya, saya tidak pernah punya simpanan!, ini yang membuat saya bingung, seolah-olah kepalaku hampir pecah  bila memikirkan hutang yang belum sanggup dibayar” katanya menambahkan.

Dari orbrolan selanjutnya orang ini memiliki suatu kebiasaan yang susah dihilangkan yaitu suka memberikan uang kepada orang yang menurutnya kesusahan; baik itu teman, saudara maupun tetangga. Menurutnya uang ini habis untuk mentraktir teman-temannya. Jadi berapa saja uang yang ada di kantongnya seandainya ada saudara yang membutuhan ia lebih memiliki orang yang ada di depannya.  Lalu kyai saya bertanya: “apakah sering memberikan uang kepada orang tua?”, “tidak! ” jawabnya tegas.

Dari pengaduan orang ini, Cara yang dilakukannya menurut kyai saya itu kurang tepat! Sebab prioritas sedekah yang diberikan tidak sesuai tata aturan baik aturan ekonomi maupun agama. Untuk mengatasi agar uang kita bisa stabil, bisa melalui dua jalan:

Cara pertama
Melalui metoda ketat,  pelit atau  medit! (bakhil). Dengan cara ini anggaran harus ketat, dianggarkan setiap bulan,  dibajetkan, dibuat semacam anggaran pemasukan dan pengeluara pribadi/keluarga. Cara ini dapat membantu mengumpulkan uang sedikit-demi sedikit.

Cara kedua
Setiap hari jangan pegang uang. Habiskan jika uang ada di tangan! Setiap uang yang ada di tangan atau yang dimiliki harus diberikan kepada orang lain tanpa ada sisa sedikitpun. Paling disediakan sekedar untuk kebutuhan besoknya. Atau benar-benar tanpa sisa. Biarkan saja besok apa adanya. Besok urusan besok yang penting hari ini harus habis.

Saluran Sedekah
Dalam agama telah diatur kemana saja sedekah itu disalurkan. Setidaknya ada lima tempat menafkahkan harta. Seperti tertulis dalam Al Qur’anul Karim (Al Baqarah: 215) Sebab ayat ini turun, menurut Tafsir Al Qurthubi,  berkaitan dengan pertanyaan sahabat Nabi saw Amr bin Jamukh, “Ya Rasulullah harta saya banyak, kemana saya harus menyalurkan sedekah?” kemudian turun ayat berikut:

Artinya: “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” dan apa saja kebaikan yang kamu buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya. ”

Ada 5 ranking saluran sedekah:

  1. Orang tua; baik nasabi maupun sababi. Disamping ada orang tua sababi ada orang tua nasabi. Orang tua nasabi adalah yang melahirkan kita, sedangkan orang tua sababi adalah orang-orang yang secara pribadi sangat berjasa kepada kita, baik dalam pembentukan jasmani maupun rohani. Mereka dalah termasuk orang tua sababi.  Kepada merekalah sedekah diutamakan terlebih dahulu. Berikan harta yang sangat bernilai untuk mereka. Niscaya Allah akan memberikan ganti lebih baik.
  2. Kerabat; siapakah saudara kita ini, dimana adanya maka sebaiknya kepada merekalah kita memberikan kasih shadaqah.
  3. Anak Yatim; menurut kitab Fathul Baari, yatamah atau yatim adalah mereka yang ditinggal ayahnya.
  4. Orang-orang miskin
  5. Sabilillah

Niat Besedekah
Cara memberi sedekah yang cukup menarik dari saran kyai saya itu katanya dengan niat dalam hati seperti berikut:

“Ya Allah, saya titipkan harta ini  di sisiMu melalui orang-orang ini, sebe¬lum diterima oleh orang ini, mo¬hon diterima lebih dahulu.”

Jadi katanya, bukan begitu saja memberikan kepada sasaran. Tetap hati harus hadir sehingga ada permainan hati yang disadari. Misalnya, memberi Rp. 5000, sebelum orang menerima maka Allah menerima lebih dahulu. Allah itu men¬jadi riba (melipat gandakan). Inilah riba yang sebenar¬nya, sebab kalau mau bermain riba yang benar adalah dengan Allah bukan dengan manusia. Bila kita memberi Rp. 5000 Allah siap memberi 50.000,-  sebab dalam dalam Al Qur’an Allah telah siap melipat gandakan amal kebaikan sepuluh kali lipatnya.

Makna Sodaqoh
Menurut tafsir al qurthubi kata shodaqah diambil dari kata siddik (benar). Melaksanakan shodaqah ini sebagai ciri orang yang sehat imannya; baik lahirnya maupun batinnya sehingga bukan termasuk golongan orang-orang munafik dimana mereka senantiasa menolak untuk bersedekah.

Yah begitulah hasil ngobrol dengan kyai saya dan di saat puasa ini, berbahagialah yang punya banyak kelebihan sehingga kemungkinan banyak membantu orang lain bisa tersalurkan. Namun berbahagia juga bagi yang dalam kekurangan sebab ada kemungkinan dikasih kelebihan rezeki dari orang2 yang santun…

Tak terasa ngobrol hingga jam 2 malam, udara di luar menusuk2 di badan tapi hangatnya obrolan itu dan jaket yang dipakai bisa membawa kedamaian pula saat tidur sesampainya di rumah….

  1. adipati kademangan
    11 September, 2008 pukul 3:44 pm

    Bener pak kyai, orang tua (kandung & sababi) itu lebih utama menerima shodaqoh daripada yang lain walaupun orang tua mampu, apalagi kalau orang tua tidak mampu. Sebenernya menjadi suatu kebahagiaan sendiri apabila seorang anak bisa memberikan sesuatu kepada orang tua yang selama ini merawat dan membesarkannya.
    kedua cara yang disampaikan pak kyai itu kok sama yach seperti yang disampaikan guru saya. Pelit (Medhit) dan habiskan uang ditangan.

    😀 Ahaa… apa kita punya guru yang sama atau guru kita berguru dari guru yang sama…? yang pasti memang guru yang hati-hati biasanya mengambil dari karya tulis ulama sebelumnya. Nah dengan begitu itu akan banyak pendapat yang sama.. Begitu tah kang Adipati?

  2. 11 September, 2008 pukul 7:29 pm

    Astaghfirullah…..
    Ternyata kadang kita merasa tahu padahal kita tidak tahu…
    Tulisan ini membuka tabir ketidaktahuan saya…..
    Mau tak print biar istri baca juga….
    Terima kasih Kang kyai…. 🙂

    😀 Alhamdulillah jika ada manfaatnya, tapi koresi sedikit, saya bukan kyai tapi santri. Makasih atas kunjungannya.

  3. 11 September, 2008 pukul 7:53 pm

    Tamu nyang mintak di doain ituh sayah lho, pak guru….

    :mrgreen:

    😀 * Hahah berarti yang menghabiskan makanan di toples itu sampean toh Mbel… :mrgreen:

  4. 11 September, 2008 pukul 8:44 pm

    Wah, iya juga yak. Sedekah juga ada seninya.

    😀 … dan apakah juga sedekah ada senimannya?

  5. 12 September, 2008 pukul 12:26 am

    rankingnya itu, pak. sepertinya jarang sekali dikemukakan. ada orang yg seperti keran air horisontal. maksudnya, air yg keluar tumpah ruah, tapi ke tempat yg jauh. padahal di bawahnya mungkin ada ember yg mestinya diisi.

    😀 memang kran itu tidak bermata tapi bermulut saja sehingga bisa lupa yang sejurus (horizonal

  6. 12 September, 2008 pukul 6:40 am

    saya sangat setuju ttg sedekah..
    sedekah bisa jd solusi utk selesaikan masalah..
    *udah terbukti koq..*

    btw, ini bener2 nikung di pengkolan, saya lg nyiapin postingan sedekah, eh udah diduluin..

    😀 pengkolannya masih ada lagi kok non masih ingat di Cirebon ada jalan Bahagia ? nah di pengkolan itu saja siapin aja sedekah yang banyak… maka jalan itu pasti tetap bahagia…

  7. 12 September, 2008 pukul 7:40 am

    Sedekah memang tak hanya sekedar sedekah, dan harus ada prioritasnya. Disamping itu, kita juga harus memanage uang, agar kita tahu persis anggarannya.

    Waduhh kalau habis untuk mentraktir orang, artinya pertemanannya hanya sebatas karena suka ditraktir (maaf kalau saya salah)…..karena keterbatasan penghasilan, justru urusan mentraktir ini paling belakang.

    Btw, thanks pencerahannya

    😀 biasanya nraktir itu sebagai rasa solidaritas, si tamu itulah yang mengakuinya. Namun sebaiknya nraktir itu harus pula ada skala prioritas yah bu… kira2 siapa gerangan yang yang pertama ditraktir?

  8. 12 September, 2008 pukul 9:15 am

    thanks for sharing..

    😀 and thanks for coming..

  9. nanangms
    12 September, 2008 pukul 9:20 am

    Yang penting jangan ngutang lagi dan yang dilakukan orang tersebut sebenarnya sudah benar (bersedekah tanpa pilih, tanpa skala proritas). Berdoa kepada Allah kira-kira begini: Ya, Allah, tolong saya dari kesulitan ini, tunjukkan jalan kemana agar saya bisa berusaha.

    Anda adalah orang yang pandai bersedekah. Artinya anda sudah memecahkan sebagian kesulitan orang lain. Tentunya Allah akan lebih malu jika tidak membantu memecahkan masalah anda.

    Sisanya, bersabar dan tawakal.

    😀 ooh Kang Nanang seolah sampean tahu apa yang sedang aku hadapi… makasih atas nasehatnya..

  10. 12 September, 2008 pukul 9:42 am

    Ini bukan hanya cara mengumpulkan rejeki tapi juga menabung untuk akhirat ya kang …. *mulai ah*

    😀 benar sekali kata-kata tabungan ingat Titik Puspa ngajarin cucu-cucunya sambil bernyanyi: “bangbing bung yuk kita nabung…”

  11. 12 September, 2008 pukul 11:12 am

    tertohok…
    speechless pak guru..
    smoga saya bisa memperbaiki amalan2 saya

    😀 sama-sama mas mari kita saling bantu memperbaiki, tapi kalau amalan2 tentu masing-masing kita sendirilah yang mampu memperbaiki…

  12. 12 September, 2008 pukul 12:53 pm

    Penjelasannya mantaf pak kyai …
    Kata orang Padang,”Tambuah ciek …” 🙂

    😀 wah kalau pak dosen sudah keluarkan jurus “tambah ciek” siap2 saja makan banyak nih di warung padang *unii… tambah ciek!*

  13. 12 September, 2008 pukul 2:21 pm

    rangking teratas adalah orang tua ya pak guru, semoga Allah senantiasa memberi rizky yang barokah pada qt smua aminn..
    biar lebih banyak yang bisa qt sedekahkan.

    😀 amiiin semoga kalau mbak Dhieta juga makin banyak rezekinya, bisa ditraktir 😀

  14. 12 September, 2008 pukul 6:45 pm

    sering sering ah nulis kayak gini, terima kasih pak Kyai

    😀 nulis kaya gini bukannya seperti “menggurui” pak guru?

  15. 12 September, 2008 pukul 8:13 pm

    Wah setuju pak kyai.
    Mungkin untuk pengeluaran orang harus mulai membedakan mana yg kebutuhan mana yang keinginan. Kalo menurut saya rezeki dari Tuhan sebagaimanapun kecilnya pasti sudah dihitung cukup memenuhi kebutuhan kita. Tapi Rezeki kita seberapapun banyaknya tidak akan pernah mencukupi satu pun keinginan kita.

    😀 hmmm antara keinginan dan kebutuhan memang kudu bisa dibedakan, top pak kesimpulannya

  16. 12 September, 2008 pukul 11:49 pm

    Pas simpulannya … Melaksanakan shodaqah ini sebagai ciri orang yang sehat imannya; baik lahirnya maupun batinnya sehingga bukan termasuk golongan orang-orang munafik dimana mereka senantiasa menolak untuk bersedekah.

    Amin, amin. Semoga kita termasuk orang-orang sedemikian.


    😀 manggut-manggut

  17. 13 September, 2008 pukul 11:04 am

    makasih Pak Kurt atas pencerahaannya.
    Salam kenal

    😀 salam kenal kembali

  18. Tio
    13 September, 2008 pukul 1:29 pm

    Semoga bisa lebih beramal lagi…..

    😀 amin bos

  19. SQ
    13 September, 2008 pukul 7:35 pm

    Ass. kang Kurt. lama tak berkunjung 🙂

    Berarti juga, dari shadaqah, melatih hati lebih dermawan (suka berbagi). Dari dermawan menjadi siddiq (benar).

    Gitu juga ya kang 🙂

    😀 wa’alalikum salam wr. wb. – begitulah kata ulama, bukan kata saya.

  20. 16 September, 2008 pukul 12:26 am

    Istimewa. Trima kasih ulasannya Bang. Semoga bermanfaat.

    😀 amin

  21. 16 September, 2008 pukul 9:31 am

    Wah makasih sharingnya, saya jadi tahu lebih banyak apa yang dulu belum saya tahu dan yang saya ingin tahu 🙂

    😀 ouuu ada SIWI di sini, blajar terbang ah.. oh bukan swiwi yah 😀

  22. 16 September, 2008 pukul 7:27 pm

    mbak siwi kenalan donk

    😀 ups…

  23. 17 September, 2008 pukul 12:24 am

    pencerahan…pencerahan,, terimakasih

    😀 sama-sama

  24. 17 September, 2008 pukul 5:01 pm

    dua metode yang mencerahkan
    namanya juga santri……
    tulisannya selalu menerangi yang gelap …………
    dan membuka yang tertutup

    😀 menerangi yang gelap, membuka yang tertutup … Tespen dong, obeng yang ada lampunya

  25. 18 September, 2008 pukul 10:57 am

    kiyainya lupa ngasih tau, kalo pintu rezeki itu paling banyak dari berniaga. Kalo dari PNS doang, ya sebatas rezeki PNS aja. Musti nyambi jadi pedagang sembari jadi PNS. Misalnya seperti diktator, jual diktat beli motor. Siapa tahu bisa jadi jual diktat bayar hutang, judibahu.

    😀 ya betul bos, rezeki petani dan pedagang menguasai 90% … ayo cari rezeki.

  26. 18 September, 2008 pukul 3:37 pm

    wah yang seperti ini yang harus kita ketahui…
    terima kasih pak penjelasannya 🙂

    😀 tapi bukan berarti tanpa kritik bukan… mohon kritikannya lah

  27. 18 September, 2008 pukul 7:51 pm

    saya jadi ingat cerita yang mirip juga

    ketika seseorang bersilaturahmi ke seorang ulama, beliau berkata “sudahlah, tinggalkan semua isi dompetmu disini untuk anak yatim, pokoknya jangan tinggalkan saru rupiahpun”

    lalu seseorang tadi kaget lalu berkata “lah gimana nanti saya pulangnya yai?”

    dan akhirnya, dia sampai rumah tanpa dimintai ongkos selama perjalan sampai rumah.

    😀 wah kang Peyek slalu punya cerita menarik… terus kenapa

  28. zal
    20 September, 2008 pukul 1:21 am

    ::Pak Kurt, terima kasih saya baru tahu kalau kata shodaqoh, diambil dari kata siddiq…

    kayaknya manusia aslinya tidak berharta segalanya adalah titipan, maka setiap manusia kayaknya membutuhkan sedkah apa ngga gitu Pak Kurt…lagian kalau Bapaknya pensiunan Presiden, atau pensiunan raja kapal seperti onasis maka hartanya malah yang diperebutkan…kapan mesti nyedekahinya…

    kalau hadist seperti ini ada ngga ya…, berikanlah kepada yang datang meminta kepadamu, meskipun berkuda…”
    apakah ini juga kaitannya dengan sedekah..apa mungkin sebaiknya kepada yang meminta…sebab kayaknya tidaklah datang peminta-minta kepada semua orang…hanya yang terpilih yang didatangi, meski tak lebih kaya dari orang yang disebelahnya….apa pernah nemu mode seperti ini Pak Kurt..?

  29. 21 Maret, 2009 pukul 12:12 am

    Sangat terharu sekali setelah baca-baca tentang sodakoh,
    saya pikir dan saya pahami memang dari segi jasa Orang tua nasabi dan sababi sangat luar biasa, bahkan tidak dapat dinilai dengan uang sejumlah berapapun. selain kita beri sodakoh uang saya kira juga perlu sodakoh dengan do’a dan ahklak yang baik terhadap mereka,
    secara garis besar saya sangat cocok dengan artikel ini,

    yang saya pikirkan kalau sodakoh uang kepada orang tua nasab saya dia sudah banyak uang ( pak SBY ), sedangkan orang tua sababi saya juga banyak uang ( pak syekh Puji )…..he…he. ya udah saya simpen dulu

    it is just jok!!;….
    thanks to all

    regards
    Gancoes

  30. Tohiran
    17 April, 2009 pukul 12:37 am

    Assalamu’alaikum.
    Ternyata selama ini rankingnya terbalik ni.Terima kasih pencerahannya.

  31. 27 Juni, 2009 pukul 6:16 pm

    wah, jadi adem di sini. matur suwun 🙂

  32. joni
    15 Juli, 2009 pukul 6:42 am

    terima kasih atas tausyiahnya . mudah-mudahan ini bisa mermanfaat buat saya dan bisa mengamalkannya. Amiiiiiiin,,,,,,,

  33. arka
    21 Juli, 2009 pukul 1:24 pm

    Alkhamdulillah.
    Matur nuwun atas pencerahannya,kasus yang Bapak ceritakan di atas hampir sama dengan yang saya alami.selama ini saya mencari-cari jawaban atas permasalahan hidup yang saya alami tersebut.Saya banyak bantu orang tapi karena membantu orang tersebutlah saya jadi ada masalah yang pada gilirannya juga menyusahkan orang tua. Ternyata untuk bersedekah ada niat yang harus kita ucapkan walau di dalam hati, ada rangking atau skala prioritasnya. Sekali lagi terima kasih Pak Kiai, mohon do’anya semoga saya bisa menjalani nasehat Pak Kiai,nuwun

  34. Yasin budiman
    27 Desember, 2012 pukul 4:35 pm

    Alhamdulillah jadi tahu mana yang sebenarnya harus dilakukan, terkadang seorang anak merasa tidak wajib memberikan sedekah kepada orangtuanya…masa anak memberi sedekah pada ayah ibunya, ternyata justru ayah ibulah yang paling afdol untuk kita sedekahi….walaupun tidak ada orang tua yang mau menyusahkan anak2 nya. syukron ustazd….

  1. 16 September, 2008 pukul 10:24 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: