Beranda > Kajian Kitab, Keajaiban, Peristiwa, Uncategorized > Pedagang harus Curang?

Pedagang harus Curang?

JADI pedagang harus “curang”, kalau tidak darimana bisa dapat untung!. Sekarang persaingan antar pedagang sudah semakin tajam. Jika tidak pinter-pintar menyiasati dagangannya merugilah selalu. Mungkin itlah yang terpatri di benak pedagang yang tidak jujur.

Daging sebagai saksi... dari google/image

Daging sebagai saksi... dari google/image

Postingan di sini membuat kita semakin tidak percaya kepada pedagang yang nota bene barang dagangannya itu sangat kita butuhkan dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Perbuatan tidak jujur dari sipedagang itu sebenarnya melanggar hukum alam. Misalnya mengurangi timbangan, ia berarti melanggar rumus berat yang mengatakan gravitas dikalikan keliling bumi. (detilnya di postingan lalu) Jika pedagang itu makin banyak disekitar kita apa yang harus kita lakukan?

Kalau saya hanya sekedar ingin menuliskan sebuah cerita dampak buruk dari pedagang yang curang. Cerita ini diambil dari kitab klasik (kitab kuning/putih, tergantung kertasnya). Beriikut adalah petikannya.


Pada zaman dahulu, tersebutlah sebuah rombongan jama’ah haji yang hendak menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanan, saat rombongan ini tiba di suatu tempat yang bernama Zatu Shifah salah seorang yang jamaahnya meninggal dunia. Lantas ketua rombongan memerintahkan jama’ah yang lain untuk segera mengurus jenazah tersebut secepatnya mulai dari memandikan hingga menguburkannya. Beberapa orang jamaah yang lain pun ditugaskan untuk menggali kubur.

Setelah kubur itu digali dan sampai pada kedalaman yang cukup, tinggal liang lahat yang belum digali. Disaat menggali liang lahat, tiba-tiba bermunculan ular-ular besar memenuhi liang lahat tersebut. Kontan, hal ini membuat para penggali kubur itu terkejut dan takut. Mereka pun naik keatas lubang kubur lalu menimbun kembali lubang kuburan tersebut.

Setelah berembug maka, para penggali kubur pun menggali kubur kembali di tempat lain yang agak berjauhan. Namun ketika penggalian kubur yang kedua ini sudah selesai dan hanya tinggal menggali liang lahatnya saja, tiba-tiba setelah liang lahat selesai digali, kejadian seperti di lubang yang pertama kembali terulang. Sontak mereka pun segera menimbun kembali lubang kubur yang kedua ini. Lalu dengan perasaan was-was dan cemas para penggali kubur tersebut kembali mencoba menggali kubur yang ketiga. Namun lagu-lagi pada saat selesai menggali liang lahat, kejadian serupa kembali terjadi. Akhirnya mereka melaporkan kejadian tersebut kepada ketua rombongan.

Mendengar hal itu, sang ketua rombongan pun mengkonsultasikan kejadian tersebut pada Sayyidina Ibnu Abbas Radhiallahu Anhu. Setelah mendengar cerita sang ketua rombongan tentang kejadian tersebut, Sayyidina Ibnu Abbas Radhiallahu Anhu pun berkata, “Kuburlah jenazah tersebut di salah satu lubang yang kalian gali. Masukan jenazahnya keliang lahat yang kalian gali, walaupun liang lahatnya penuh dengan ular-ular besar. Karena demi Allah Subhanahu Wata’ala, bumi yang mana saja dan dimana saja yang kalian akan gali selama jenazah yang akan memasukinya adalah jenazah orang tersebut, pasti semua liang lahatnya akan dipenuhi dengan ular-ular besar yang akan siap menyiksanya.”

Akhirnya setelah mendapatkan penjelasan dari Sayyidina Ibnu Abbas Radhaiallahu Anhu, mayat itupun akhirnya dikuburkan di liang lahat yang penuh dengan ular-ular besar –yang langsung menyiksanya. Setelah ibadah haji selesai, rombongan pulang ke rumah. Ketua rombongan pun mengembalikan barang bawaan almarhum kepada istri dan anaknya serta menceritakan tentang kejadian yang menimpa suaminya. Dari sinilah, akhirnya diketahui bahwa kebiasaan buruk suaminya sebagai pedagang gandum.

Kebiasan itu adalah dia selalu mengurangi timbangan barang dagangannya. Misalnya gandum yang dibungkus dengan karung ukuran 20 kilo umpanyanya, namun gandumnya hanya 19 kilo. Dimana untuk memenuhi timbangan –yang satu kilonya lagi— diisilah karung-karung gandum itu dengan batang-batang gandum hingga timbangannya mencapai para 20 kilo. Padahal isinya hanyalah 19 kilo. Inilah kisah fakta, ancaman bagi pedagang yang curang. Nauzubillahi min dzalik

Sumber: kitab Tambihul Ghafilin, karya Abu Laits Assamarqandi, halaman 14

Nambah:

Cerita di atas mungkin tidak pas untuk orang-orang kantoran tapi saya kira akan pas kalau diceritakan di pasar. Misalnya dalam sebuah ceramah agama bagi pedagang di pasar. Saya sendiri belum pernah ceramah/khotbah di masjid yang ada dipasar. Kalau seandainya ada, saya akan ceritakan masalah ini…

Iklan
  1. 18 September, 2008 pukul 11:31 pm

    Pertmax (lagi mudah didapat he he)

    😀 alhamduillah sudah murah tah?

  2. 18 September, 2008 pukul 11:36 pm

    Dakwah yang bagus Mas Kurt. Semoga jadi pelajaran buat semua, terutama para pedagang. Juga, pedagang ‘jenis lain; termasuk pedagang kata-kata (kalau ada) he he.

    😀 heheh pedagang kata-kata yah… istilah yang menarik.

  3. 19 September, 2008 pukul 12:30 am

    padahal sedang berhaji ya, pak.

    😀 kadang begitulah saat di Tanah Haram itu *ky dah pernah ajah*

  4. 19 September, 2008 pukul 5:46 am

    seandainya saja cara berdagang rasulullah diamalkan 🙂

    😀 Gak usah jauh2 TehLiez, Tung Desem Waringin juga bagus trik dagangnya… 😀

  5. 19 September, 2008 pukul 9:04 am

    pak, kayanya di kantoran juga bisa kejadian kaya gitu.
    eh, tapi sebelum keburu lebaran ada sebuah pendapat sederhana dari saya yang lagi nyantri juga soal lailatul qadr, semoga berkenan…

    http://trendibandung.wordpress.com/2008/09/18/bom-di-malam-lailatul-qadr/

    😀 wah tulisane tidak kalah menariknya bahkan uptodate…

  6. 19 September, 2008 pukul 9:23 am

    Cerita yang menarik Kyai Kurt. Betapa sekarang semua sudah menjadikan curang sebagai kebiasaan. Sudah tak karuan lagi lalu lintas muamalah bangsa ini terutama dalam hal niaga.

    Kyai kurt, di jaman yang serba riuh rendah suara yang hampir tak pernah berhenti meski ketika tidur sekalipun, sepertinya i’tikaf, menjadi sangat penting untuk sejenak kembali merenungkan hakikat hidup.

    Meski sangat penting, sepertinya i’tikaf ndak laku di pasaran orang kota yang bermimpi mengejar janji surga dunia yang menurut saya fatamorgana.

    Saya sering merasakan buntu dengan semuanya, akhirnya merenung sendiri di atas kursi di depan meja komputer dan bertanya: apa mau saya????

    Pak Kurt, mohon petuahnya, saya pengen i’tikaf tapi tak punya ruang sela di rumah, juga tak punya hasrat di masjid terdekat. Serba salah memang. Bisakah saya i’tikaf di atas meja kerja saya?

    Mohon pencerahannya.

    ———
    😀 wah kok minta petuah sama saiiya … salah alamat taieee..
    BTW, menurut saya kang benar seperti dikatakan neng Novee bahwa yang namanya i’tikaf itu ya dimasjid. Kalau di depan meja komputer namanya itichat (IT & nge-chat) 😀

    Tapi Rasulullah saw itu orang yang sangat cerdas luar biasa. Sabdanya itu ditujukan kepada orang yang kaya dan orang yang miskin. Contoh dalam sebuah peristiwa beliau “mengusir” anak muda yang di dalam masjid cukup lama agar pergi untuk melakukan suatu pekerjaan.

    Dari peristiwa ini menurut saya, Rasulullah pilih2 kepada orang yang miskin hendaknya banyak berdoa. Kepada orang-orang yang “kaya”, banyak tanggung jawab hendaknya juga bekerja sebaik mungkin dan laksanakna tanggung jawab itu dengan penuh dedikasi, integritas dll.

    Nah kasus sampean itu menurut saya tidak mengapa jika gagal melaksanakan i’tikaf di masjid secara khusus. Sebab tanggng jawab sampean dalam menangani pekerjaan rumit, dan besar itu sangat dibutuhkan karena menyangkut keselamatan dan kepentingan orang banyak. Apalagi masalahnya berkaitan dengan ilmu pengethauan, bukankah ada hadits Nabi barang siapa meerenung sekejap lebih baik dari shalat sunnah.

    Namun demikian i’tikaf itu masih bisa dilaksanakan misalnya saat hendak shalat atau sesekali datang ke masjid mau apa gtu. Namun tidak long time tapi short time. heheh 😀

  7. 19 September, 2008 pukul 9:23 am

    Kalau orang kantoran, mungkin kecurangannya adalah “korupsi” yang sering kita lihat selama ini. Atau mungkin juga para eksekutif tersebut dari sebuah kantor yang memproduksi sebuah produk, tidak jujur dalam spesifikasi produknya. Seperti dulu yang pernah terjadi di produk Ajinomoto yang memakai enzim dari babi dalam produksinya yang tidak diketahui umum.

    Yah begitulah mas, yang namanya curang bisa terjadi dalam beberapa bentuk dan dapat terjadi pada siapa saja…. 😀


    😀 Betul bang YARI dan berpotensi untuk menyerang siapa saja. Tidak yang bermoral tinggi maupun sebeliknya. jadi ingat kata bang Napi: waspadalah! waspadalah! 😀

  8. nurma
    19 September, 2008 pukul 12:46 pm

    yang pertama kali terlintas dikepala saya….

    “waylul lil muthaffifin…” 😉

    Benar sekali Mbak Nurma, bahkan ayat itu siap menggilas siapapun yang curang.

  9. adipati kademangan
    19 September, 2008 pukul 1:00 pm

    Itulah sebabnya orang tua selalu mengatakan “jangan membawa anak kecil kedalam pasar, nanti kesambet setan” Mungkin yang dimaksud adalah banyak sekali perbuatan setan yang terjadi di tengah2 pasar, berbohong, saling menipu, pengurangi timbangan, mengurangi takaran, kata-katanya sangat kotor, cacian, ngrasani, dll tumplek blek di tempat yang bernama pasar. Maka beruntunglah pedangang di pasar yang mampu menjaga kejujurannya di tengah pasar.
    *mau ngomong mendapatkan surga tp ndak tahu hadist nya*

    😀 Benar yah, pasar sangat dibutuhkan secara lahiriyah, namun jika batinnya tidak dimanaj yah begitulah kejujuran menjadi barang mahal, sehingga gak laku… 😀 btw, logikanya pas banget.
    *emang mau ngomong hadits harus surga aja: kalau haditsnya ini masuk gak, “semua umatku masuk syurga kecuali yang menolak masuk” hadits ini bisa gak yah?*

  10. rasyeed
    19 September, 2008 pukul 4:11 pm

    jadi inget perkataan guru agama… bahwa pasar adalah salah satu tempat yang paling banyak syetannya… 🙂

    😀 Apakah pak Guru sampean mengatakan juga, termasuk juga yang paling banyak yang asik2nya.

  11. 19 September, 2008 pukul 7:27 pm

    Isyaolloo sayah ndak termasuk nyang ituh, pak guru….

    ***hiiiii………*** 😯

  12. 19 September, 2008 pukul 7:32 pm

    duh, nyaris saya ga bisa bilang apa2 ttg kecurangan2 orang miskin di negri ini..
    kenapa saya fokus ke kata **orang miskin** nya..?
    karna sudah miskin harta, miskin hati pula.. benar2 celaka, kan..?!

    ngeri betul saya waktu mengetahui **mereka**
    -menjual daging nyaris busuk bahkan sudah busuk ato daging dari sapi yg sebelumnya disiksa dg cara dipaksa memasukkan air agar beratnya nambah (sapi glonggongan)
    -menjual makanan rekondisi dari makanan bekas yg ada di tempat sampah dg mendaur ulang menggunakan pewarna tekstil & minyak goreng bekas
    -menjual gorengan dg minyak bekas dicampur plastik supaya awet sampe sore
    -menjual cincau yg dicampur bedak supaya proses pembuatan nya lebih singkat
    -menjual krecek & krupuk kulit dari sisa2 sepatu & tas kulit yg direndam cairan kimia
    -menjual coklat dari kue2 kadaluarsa
    -bakso yg mengandung borax
    -bakso dari daging tikus
    -ayam goreng dari ayam bangkai
    -snack & kerupuk yg mengadung pewarna tekstil
    -tahu & ikan asin yg mengandung formalin
    -air mineral dari air mentah & softdrink palsu buatan sendiri
    -telur palsu.. astaga..!

    ya Allah.. tanda2 apakah ini..
    orang miskinpun ga mau kalah mulai ikut berlomba2 berbuat curang dg membahayakan orang lain..

    benar2 temannya bawang.. cabe deeehhh..!

  13. 19 September, 2008 pukul 7:39 pm

    bos.. cuma mo nimbrung dikit utk yg nomor 6..

    i’tikaf yg saya tau adalah berdiam di masjid dalam rangka mendekatkan diri pd Allah dg berdzikir, berdo’a, membaca al qur’an, mendirikan sholat bahkan kalo pd akhirnya malah tidur, ustadz saya bilang itu bisa dibilang i’tikaf..
    intinya ya itu td.. berdiam di masjid, jd bukan di meja kerja..
    ma’af, kl salah silahkan marahin ustadz saya aja ya. rumahnya di depok tuh.. samperin aja..
    peace..!

  14. 19 September, 2008 pukul 7:52 pm

    Tulisan yang bagus Pak Kurt. Yang saya agak khawatir itu kalo ternyata para pedagang di pasar sebenarnya sudah pernah mendengar khotbah semacam itu.

    SALAM

  15. 19 September, 2008 pukul 9:48 pm

    Untuk orang kantoran rasanya juga bisa dipas-pasin: Dibayarnya untuk kerja 8 jam sehari, tapi sebenernya 2 jam malah kita pake buat ngaso baca koran atau browsing internet 😆 Nggak ada bedanya dengan si pedagang, kan?

  16. 20 September, 2008 pukul 2:46 pm

    Dalam konteks semacam ini terlihat bahwa dunia bisnis (perdagangan) dan dunia politis sebenarnya coraknya tak jauh berbeda.
    Bisnis bisa dilakukan secara “hitam” dan bisa juga secara “putih”, tentu begitu juga dengan dunia politis.
    Dunia bisnis tak mungkin dihapuskan dari kehidupan ini, karena bisnis adalah bagian dari kehidupan. Lalu gmana dengan dunia politis dimana kita telah bersetuju bahwa salah satu mekanisme pengaturan negeri ini melaluinya ?
    Haruskah dunia bisnis itu dijauhkan dari nilai2 agama dan keterlibatannya, seperti halnya juga dunia politis itu ? 🙂

  17. 20 September, 2008 pukul 4:57 pm

    Iiiiiiiiih ngeri ya, mr Kurt?

    Apakah (kebanyakan) keadaan para pedagang di negeri kita juga seperti itu?

    Itu siksa yang tampak di dunia, bagaimana di akhirat nanti?

  18. 21 September, 2008 pukul 4:01 pm

    Yaa…. marketing yang penuh kemunafikan…

  19. 23 September, 2008 pukul 4:02 am

    Wahh..jadi rada takut juga nih sebagai seorang guru. Saya terkadang telat masuk ngajar di kelas. Apa ini termasuk sejenis “mengurangi timbangan” juga ya karena ini mengurangi hak anak didik padahal kan saya udah dibayar.

    ….Astagfirullah. Mudah-mudahan kedepannya nggak terlambat lagi.

    Makasih atas pencerahannya.

    Salam kenal dan silaturahmi.

  20. 23 September, 2008 pukul 2:14 pm

    Masuk surga mudah, masuk neraka mudah. Gitu kali ya. Soalnya di riwayat yang lain ada cerita pelacur yang masuk surga karena perkara kecil.
    Jadi, kita jalani saja hidup ini sebaik-baiknya. Mudah-mudahan aja masuk surga.

  21. 23 September, 2008 pukul 11:21 pm

    menakutkan pak yai… moga2 kedua orang tua saya tidak begitu, amin3x.

  22. 24 September, 2008 pukul 12:16 pm

    semoga kita terhindar dari yg demikian 🙂

  23. 25 September, 2008 pukul 9:45 pm

    MasihkahKita berbuat curang demi Kebutuhan Perut yang tidak akan pernah kenyang dengan makanan Bumi ini.. ??
    ****Ngeri ah..!

  24. 27 September, 2008 pukul 12:39 pm

    Tulisan yang mencerahkan…..tapi kenapa ya kisah seperti itu, pada saat sekarang tidak ada (terjadi)? Mungkin ada gunanya, sehingga manusia tidak serakah….

  25. 27 September, 2008 pukul 9:24 pm

    kang, saya jadi merenung … kira kira liang lahat saya nanti terisi oleh apa yah? akan ditemani oleh malaikat kah saya atau ulat ulat itu …

    ya ALLAH harumkan liang lahat saya dengan melati syurgaMU.

    amin ya ALLAH

  26. 28 September, 2008 pukul 1:04 am

    mas kyai kurt, saya kok ndak yakin para pedagang itu ndak tahu hukum cara berdagang yang benar menurut islam. mereka tetep nakad karena khawatir akan merugi juka berbuat jujur. btw, selamat meymabut hari kemenangan, mas kyai, mohon maaf lahir dan batin jika ada salah2 kata dan komentar yang serba OOT. salam buat keluarga. semoga Allah berkenan mengembalikan kita kepada fitrah-Nya, amiin.

  27. 28 September, 2008 pukul 11:08 am

    Kesadaran diri akan tanggungjawab diri dalam kasus ini sangat diperlukan.

  28. 28 September, 2008 pukul 1:11 pm

    cerita yang bagus pak. emang susah cari orang jujur di negeri 1001 maling ini 😀

  29. 28 September, 2008 pukul 11:00 pm

    ‡ñdåh måñµ$îå kå®èñå åkhlåk, ‡ñdåh bµlåñ kå®èñå ¢åhåýå, ‡ñdåh Þè®$åhåbå†åñ kå®èñå

    kèjµjµ®åñ, ‡ñdåh ¢îñ†å kå®èñå kå$îh $åýåñg dåñ ‡ñdåhñýå ‡ÐÚ£ F‡TR‡ $ålîñg bè®mååƒåñ.

    Tåqºbålållåhµ Mîññå Wå Mîñkµm, $hîýåmåñå wå $hîýåmåkµm

    Ðèñgåñ $ègålå kè®èñdåhåñ hå†î, Rîvå Fåµzîåh bè$讆å Kèlµå®gå mèmºhºñ mååƒ låhî® dåñ

    bå†îñ µñ†µk $ègålå Kèkhîlåƒåñ & Kè$ålåhåñ, µñ†µk £î$åñ ¥åñg Tåk Tè®jågå, Hå†î ýåñg

    Tè®åbåîkåñ, §îkåÞ ¥åñg ¶è®ñåh Mèñýåkî†kåñ. §Ê£ÁMÁT ‡ÐÚ£ F‡TR‡ 1 §ýåwål 14²9 H

    §µk$è$ $èlålµ dåñ $ålåm då®î ߣØGGÊR Çîåñjµ®

  30. 29 September, 2008 pukul 9:31 pm

    buat orang kantoran juga pas kok pak. kecurangan kan bisa terjadi dimana2. di kantoran kan juga bisa terjadi korupsi

  31. 29 September, 2008 pukul 10:06 pm

    Saya sering sekali berkata kata yang tidak semuanya indah, kadang saya salah, mungkin riya, mungkin sedikit dusta … dan saya mohon untuk dimaafkan segala kesalahan saya yah 🙂

    Minal aidin wal faidzin … maafkan saya lahir dan batin karena beginilah kewajiban kita sebagai hamba untuk meminta maaf dan memberi maaf.

    Rindu [a.k.a -Ade-]

  32. 1 Oktober, 2008 pukul 3:16 pm

    huuum huumm setelah tahu formalin, baso borax, makanan yang pake pewarna pakaian, telur ayam “palsu” dari china, susu melanin, sapi glonggongan…apa lagi yaa habis ini???

    untunglah perut orang indonesia kuat.. 😆

  33. 2 Oktober, 2008 pukul 11:02 pm

    Selamat hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1429 Hijriyah. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum taqabbal ya karim. Minal ‘aidin walfaizdin. Mohon maaf lahir dan bathin.

  34. 3 Oktober, 2008 pukul 6:44 am

    Itulah mengapa ada doa-nya agar di baca saat hendak memasuki pasar agar terhindar dari tipu muslihat pedagang curang itu.. 😀

    Senangnya bisa berlebaran di kampung halaman dengan segala tradisi dan kenikmatan yang menyertainya. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429H, semoga Alloh SWT menerima amal ibadah Ramadhan kita.

    Lebaran kali ini, saya masih harus tinggal dan bekerja di medan penugasan di negeri si bau kelek ini 😀 – Salam hangat dari afrika barat!

  35. 4 Oktober, 2008 pukul 8:31 am

    Selamat Idul Fitri yach Pak….

    Mohon Ma’af Lahir n Bathin… :

  36. 5 Oktober, 2008 pukul 2:59 am

    saya juga pedagang 🙂 ada nggak cara “curang” yang halal ?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: