Beranda > Dunia Pesantren, Ibadah, Kultur, Uncategorized > Lembaran Penghapus Luka

Lembaran Penghapus Luka

SEBELUMNYA saya mohon maaf lahir & batin kepada semua teman dan tetangga.  Saya juga  mohon maaf karena tidak bisa leluasa mengomentari komentar dan berbalas kunjung. Kali ini  saya berkesempatan memberikan tulisan yang isinya adalah laporan pulang kampung buat.

Lembaran Penghapus Luka

Lembaran Penghapus Luka

PERJALANAN pulang kampung kali ini memberikan torehan sejarah yang sangat berkesan. Satu demi satu tetangga yang kudatangi disapa dengan akrab. Tidak itu saja, mata mereka berbinar tanda bersuka cita saat saya memberikan lembaran-lembaran penghapus luka, senyum mereka berbinar-binar. Ucapan syukur bertebar tiada henti kepada Allah dan kepada orang-0rang yang rela menyumbang dan menyambung tali kasihNya.

Ada sekitar 50 orang lebih tetangga saya itu yang diberikan uluran tangan orang jakarta ini. Mereka sangat minim dari segi ekonomi. Kepedulian warga sekitar memang ada namun angkanya masih kecil. Para kyai sebagai pemegang otoritas di kampung pesantren ini pun masih belum mampu memberikan pencerahan bendawi, para ulama di sana masih terbatas pencerahan ruhani.

Meski demikian, dampaknya memang luar biasa, kesabaran, ketabahan orang-orang kampung yang terkesan masih minim itu tetap berada dalam jalur kesantrian. Mereka tak mau tinggal sholat, rajin mengumandangkan lantunan ayat meski usia mereka hampir mencapai liang lahat. Satu sama lain pun terus tolong menolong. Yang bekerja rutin mereka sabar menerima gaji kecil meski anak-anaknya terus bertambah dari tahun ke tahun, padahal gajinya tetap stagnan.

Melihat itulah, saya berkeingnan untuk bisa memberikan sesuatu kepada mereka. Alih-alih pulang kampung manfaat apa yang bisa diberikan kepada mereka. Meskipun saya sendiri dalam kondisi yang kurang fit amal, karena kurang mamang lagi kurang fit modal. Tapi alhamdillah, tetangga saya, seorang pengusaha pribumi, warga Muhammadiyah teman diskusi, teman ngobrol, sesama pengurus RW di Jakarta, meminta tolong agar kelebihan uangnya itu bisa untuk amal bagi kaum marginal di kampung saya.

Setidaknya, sejumlah 2 juta dipercayakan saya, dalam pecahan 50 ribu. Dalam bayangan saya ada 40 orang penerima jika masing-masing mendapat 50 ribu. Lumayan lebih tinggi angkanya dibanding H. Suchon Pasuruan pembagi zakat yang menelak kurban jiwa.

Kedua, saya juga mendapat tambahan dana dari saudari Dewi bt H. Zaenal, gadis manis keturunan Padang masih tetangga saya yang mau berbagi hartanya untuk orang-orang di kampung saya. Sejumlah 500 ribu  sehingga ada Rp. 2,5 juta dana penghapus luka para tetangga. Alhamdulillah.

Sudah dua tahun Pak H. Tamrin setia memberikan dana untuk orang-0rang kampung tempat saya tinggal. Sulit melukiskan betapa bahagianya mereka mendapat dana segar itu. Saya langsung membagikan amplop berisi uang antara 20 ribu sampai 50 ribu secara diam-diam. Berharap tidak terjadi crush atau potes. Sebab kalau dituruti, masih banyak tetangga lain yang memang layak tapi terpaksa tidak dibagi. Saya memilih yang dekat-dekat saja.  “Masya Allah, kamu itu mulia sekali mau berbagi kepada saya.” ujar Bu Sopiah yang sudah tua renta, matanyapun tidak bisa melihat. Namun kegiatan malam2nya  dihabiskan untuk beribadah.

Saya tidak ge-er saat di bilang mulia sekali. Saya anggap itu adalah ungkapan doa dan kemuliaan itu dikembalikan kepada orang-orang yang tulus ikhlas membantu mereka. Itu ungkapan terima kasih gaya orang kampung saya. Dia sendiri tahu kalau uang itu bukan dari saya, saya katakan kepada yang menerima kalau uang yang dibagi itu adalah berasal dari orang Jakarta: H. Tamrin dan Dewi.

Berikut adalah listing penerima dana Penghapus Duka.

Daftar Penerima Lembaran Penghapus Luka

———-

Sekedar Catatan Kaki…

  1. Barang siapa yang dalam kondisi bangkrut dan ingin bangkit kembali, maka “berdaganglah bersama Allah. yaitu dengan cara bersedekah. (Nahjul Balaghoh)
  2. “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagian dari harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Q.s. Ali Imran: 92).
  3. “Dan diantara orang-orang Arab Badui ada orang yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat, dan memandang apa yang dinafkahkannya itu sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri. Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. at-Taubah: 99).
  4. “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, maka pahalanya itu untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya.” (Q.s. al-Baqarah: 272).
  5. “Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.” (Q.s. al-Anfal: 60).
  6. “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.’ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Q.s. Saba’: 39).
  7. “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Q.s. al-Baqarah: 276).
  8. “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 261).
  9. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakitinya, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih. Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (S. Al Baqarah.. )
  10. “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Q.s. al-Baqarah: 265).

Dan masih banyak lagi…

  1. 6 Oktober, 2008 pukul 7:34 pm

    Sebelumnya mohon maaf lahir batin, pak. Sekiranya saya ada banyak salah, termasuk komen yang menyinggung. 😀

    Tangung jawab dan pelaksanaan yang bagus, pak.

  2. 6 Oktober, 2008 pukul 8:02 pm

    Mohon maaf lahir batin juga ustad…

    Selamat menunaikan amanah…

  3. kanjengragil
    6 Oktober, 2008 pukul 8:56 pm

    Walau ini kunjungan pertama saya disini, tapi tidak ada salahnya mengucapkan : Minal Aidin Wal Faizin – Selamat Idul Fitri Syawal 1429 H.

  4. 6 Oktober, 2008 pukul 10:01 pm

    sugeng riyadi. 😎

  5. 6 Oktober, 2008 pukul 10:17 pm

    wah, mudik yang mengesankan, mas kyai kurt. saya dan keluarga mengucapkan selamat idul fitri, mohon maaf lahir dan batin terhadap semua kesalahan dan kehilafan kami selama ini.

  6. 7 Oktober, 2008 pukul 4:06 am

    luar biasa pak kyai.. smoga mreka yang mendapatkan bantuan, bisa lebih memanfaatkan dana segar itu dengan sebaik-baiknya dan menghasilkan..

  7. 7 Oktober, 2008 pukul 4:08 am

    oh iya Lupa..mohon maaf lahir batin pak kyai

  8. 7 Oktober, 2008 pukul 10:31 am

    mohon maaf lahir dan batin kang….

  9. 7 Oktober, 2008 pukul 2:46 pm

    mohon maaf lahir batin. smg semua amalan diterima pak guru 🙂

  10. 7 Oktober, 2008 pukul 6:35 pm

    alhamdulillah… semoga berkah…
    wah jadi neh pulang kampung kang? sekarang masih di kampung ato dah di jakarta?

  11. Rasyeed
    7 Oktober, 2008 pukul 7:06 pm

    Hmm.. Lembaran penghapus luka? Entahlah.. Begitulah.. mungkin. Hmm.. Mohon maaf lahir bathin kyai kurt.. 🙂

  12. nurma
    8 Oktober, 2008 pukul 12:29 pm

    mohon maaf lahir bathin ustadz m(-_-)m
    jadi………., ‘lembaran penghapus luka’nya mana?
    *ngarep yang ada pak karno & bung hatta-nya*

  13. 8 Oktober, 2008 pukul 2:14 pm

    Mohon ma’af lahir batin kyai.
    Semoga kita memasuki lembaran-lembaran baru itu dalam keadaan bersih seperti bayi yang baru terlahir itu. 😉
    Biarkanlah lembaran-lembaran rupiah itu mengalir ke mereka-mereka yang lebih berhak menerimanya.
    Selamat mudik. 🙂

    —–
    Kang Heri maaf lahir batin juga yah… semoga lembaran penghapus luka itu semakin banyak yang memberi ketimbang yang berhak hehe 😀

  14. 8 Oktober, 2008 pukul 2:46 pm

    #Goenawan Lee

    Hi Master Lee apa kabar, maaf lahir batin juga yah. Lama saya tak beredar ke tempatmu.

    # | ManusiaSuper

    Mohon maaf lahir batin juga ManusiaSuper. Semua orang dapat amanah, kebetulan lagi gak ada yang bisa ditulis, ya tentang itulah yang bisa diungkap.

    # | kanjengragil

    Selamat datang kanjengragil. Makasih atas ucapan dan sungkem lebaran ke mari hehehe 😀

    # | sitijenang

    sugeng riyadi, sugeng rawuh dan sugeng2 lainnya 😀

    # | Sawali Tuhusetya

    Saya juga tidak sekedar mengucapkan tapi memohon dimaafkan atas salah kata yang disengaja/tidak. .

    # | fauzansigma

    Iya pak/mas Fauzansigma, kita hanya memberikan lembaran penghapus luka, semoga saja, dengan luka dan duka terobati bisa menjadi awal yang baik.. 😀

    # | fauzansigma 2

    Maaf lahir batin juga yah.. btw, saya bukan kyai tapi santri. Kalau kyai ada loh nama keris kyai pati, nama kerbau juga ada yang disebut kyai selamet. 😀

    # | itikkecil

    Haai Itikkeci, maaf lahir batin juga yah kadang wara-wiri ketemu ada itik hampir “keinjek”, abisnya itiknya kecil sih heheh 😀

    # | riza

    Amin makaisih atas doanya.. 😀

    # | izoruhai

    Wah wong dewek ketemu di sini, kabar baik kang, saya masih di kampung pada H+4 kini sudah balik.

    # | Rasyeed

    keheheh bos Rasyeed, maaf lahir batin juga. Yang benar harusnya Lebaran menghapus dosa yah… hmm

    # | nurma

    Maaf lahir batin juga mbak Nurma.
    hahaha… untuk Nurma apa sih yang enggak ada, jangankah ngarep gambar bung karno dan bung hatta, bahkan sekarang tinggal pilih: ada SBY, Prabowo, Wiranto, Amin Rais dan lain-lain banyak dehhh semuanya gratis buat nurman heheh 😀

  15. 8 Oktober, 2008 pukul 6:04 pm

    *sungkem*

    eh gak boleh deh, ntar gak mau bangun lagi …. gwahahahah 🙂

  16. 9 Oktober, 2008 pukul 12:30 am

    subhanallah.. usahanya semoga berberkah…
    oia, pak maafin lahir batin kalo ada salah2 kata atau komentar pak ya 🙂

  17. 9 Oktober, 2008 pukul 5:34 am

    Gambaran mudik yang indah dan menyentuh, semoga Allah swt mengaruniai keselamatan dan kesehatan buat mas Kurt sekeluarga.
    Saya juga mohon maaf lahir batin, jika ada salah kata atau komentar yang kurang berkenan di hati.

    Sebetulnya bangsa kita ini, secara umum adalah bangsa yang baik budi……mudik bagi mereka adalah waktu untuk berbagi, kadang harta bendanya kembali nol karena dibagikan kepada sanak saudara sekampung. Memang ada yang hanya pamer, tapi ini sangat sedikit sekali, dibanding yang berniat mulia. Semoga Allah swt memberi karunia dan menjaga bangsa kita ini dari perpecahan dan kesulitan ekonomi yang akan menghadang di depan……dan semoga krisis finansial di Amerika tak banyak pengaruhnya di negara kita. Amien.

  18. aden
    9 Oktober, 2008 pukul 12:47 pm

    biar agak telat, saya mengucapkan selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir bathin.

  19. 10 Oktober, 2008 pukul 1:34 am

    Selamat menikmati mudiknya Pak Kurt. Mohon maaf lahir dan batin.

  20. sufimuda
    10 Oktober, 2008 pukul 6:33 am

    Sebaik-baik berdagang adalah berdagang bersama Allah…
    Sedekah yang baik memberi pake tangan kanan maka tangan kiri tidak tahu, begitulah kiasannya yang menganjurkan kita untuk ikhlas dalam bersedekah…
    Bukan begitu pak?

  21. 10 Oktober, 2008 pukul 4:58 pm

    Mohon Maaf lahir batin …

  22. 10 Oktober, 2008 pukul 6:07 pm

    pak, mohon maaf lahir dan batin, minal aidin wal faidzin. muhun doanya agar indonesia makin membaik, dan hidup & ekonomi kite-kite akar rumput juga makin membaik pula. amin

  23. 10 Oktober, 2008 pukul 11:08 pm

    Selamat hary Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin

  24. 17 Oktober, 2008 pukul 2:45 pm

    sugeng riyadi, maaf kalo ada comment yang menyinggung.
    maaf juga Pak Buntet, baru sekarang sempet berkunjung lagi..

    Salam sehat.

  1. 10 Oktober, 2008 pukul 3:05 pm
  2. 13 Agustus, 2009 pukul 11:23 pm
  3. 6 Juni, 2010 pukul 11:52 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: