Beranda > Uncategorized > Salam apa daun salam…

Salam apa daun salam…

Ada satu alasan kenapa Israel menyerang jalur Gaza yaitu mereka mendapat serangan berupa roket kecil dari Hamas kepada penduduk Israel. Korban warga sipil israel tidak seberapa, namun dibalas dengan begitu massif korbannya. Wajarkah alasannya?

Irak dibombardir, apa saja yang penting dibom, hanguskan semuanya dulu, urusan dialog di belakang. Kenapa Amerika menyerang Irak, karena Irak dianggap menyimpan senjata nuklir.  Alasan itulah yang dipakai negara ini dan merasa absah bin legal.

Roket Hamas yang menerang Penduduk Israel membuat mereka sangat dihantui ketakuan yang luar biasa dari tindakan hamas ini.

Karena merasa negara ini kuat baik teknologi dan persenjataan, masa kalah dengan kelompok sekecil Hamas. Maka pecahlah perang terbuka, menyerang dengan cara seperti biasa: Membabi buta, mencari tikus satu kelurahan di bombardir. Jadi apapun tindakan kekerasan itu ada alasan yang memberi cap sah melakukan tindakannya, setidaknya benar menurut kacamatanya sendiri.

***

Bagaimanapun hampir setiap kejadian kekerasan selalu ada upaya pembenarannya. Dalam bahasa psikologi *halah* disebut konpensasi.

Tidak usah jauh-jauh melihat ke Palestina, Irak atau kejadian perang di manapun. Di negara kita sendiripun demikian. Setiap tindakan kekerasan pasti ada sederet alasan yang melatar belakangi.

Kekerasan etnis di Sampit, Ambon dan lain-lain tanyakanlah kepada mereka yang memulai tindakan kekerasan itu, pasti ada alasan yang dianggap sah dan legal meski versi sendiri.

Begitupula kejadian yang baru berselang di  Monas dulu, kekerasan itu tidak akan terjadi kalau tidak panas-panasi. Dipanas-panasi,  merupakan pembenar yang bisa dijadikan alasan. Siapapun kalau dihina, dimaki, diteror pasti  akan melakukan pembelaan dan pembalasan. Masih untung di monas korban hanya dipentungi, namun naas bagi warga Palestinya, dan Irak, mereka dibumi hanguskan.  Atas nama kebenaran, atas nama Tuhan, atas nama ketidakadilan, atas nama etnis, atau politik sekalipu pokoknya whatever, semuanya bisa menjadi pembenar tindakan kekerasan.

Hemat saya, selama kekerasan yang dilakukan atas nama apapun labelnya, selama masih merasa benar jare dewek, bahkan mengatasnamakan perang suci namun dengan cara yang tidak suci, maka peperangan, menumpahkan darah akan mudah terlihat di televisi kita.

Jadi siap-siap saja tahun-tahun ke depan akan banyak tontonan kekerasan massif bermotif agama, etnis, idiologi dan lain-lain. Akan banyak bom dan roket berseliweran di atamosfir bumi ini.

Salam, damai, atau apalah istilahnya, hanya bisa dinikmati untuk kalangan sendiri. Sementara manfaat dari salam itu kurang berimbas kepada komunitas lain.

Mestinya, manfaat makan adalah untuk saat tidak makan. Demikian juga bisa dikatakan Agama selayaknya bermanfaat untuk kehidupan semua orang bahkan orang lain merasa aman, dan manfaat.

Sepertinya, salam dianggap hal yang tidak penting. Salam (damai) hanyalah milik sayur opor ayam yang bila tanpa daun salam, maka hambarlah rasa dan aromanya.

  1. 4 Januari, 2009 pukul 3:31 pm

    Itulah sifat manusia pak Kurt. Kalau tidak menyerang, ya diserang. Kenapa iraq diserang?? Kenapa palestina diserang?? Kenapa mereka yang pawai di monas dipentungin?? Jawabannya sederhana: KARENA MEREKA JAUH LEBIH LEMAH. Jadi kesalahan ‘sedikit’ dari si lemah yang tidak sesuai dengan kenyamanan si kuat akan berakhir dengan penyerangan……

    Jadi bagaimana dong?? Inilah perlunya “Balance of Nature”, di mana kekuatan harus ada penyeimbang. Kita harus bisa mempertahankan diri, tidak perlu merengek2 kepada negara lain untuk dilindungi. Bangsa Arab harus menguasai ilmu dan teknologi untuk menjadikannya bangsa yang kuat. Tidak cukup hanya menjadi pedagang minyak saja. Orang2 Arab harus ada yang menjadi ilmuwan dan insinyur2 kelas dunia yang sanggup membuat peralatan tempur canggih, bukan untuk menyerang lawan, tetapi agar lawan berfikir 100x untuk memulai menyerang mereka……

    Tentu hal ini bukan berlaku bagi bangsa Arab saja. Bangsa kita juga begitu. Selain mandiri di bidang hukum dan ekonomi, bangsa kita harus mandiri di bidang iptek……. tidak ada tawar2an lagi……

  2. 5 Januari, 2009 pukul 9:04 am

    Adakah solusi untuk masalah ini? yg terbaik bagi semua…
    Palestine khususnya..

    Hingga kedamaian dapat dirasakan, bukan lagi sebatas wacana
    😥 *mengibarkan bendera setengah tiang*

  3. 6 Januari, 2009 pukul 7:56 am

    Solusi? Selama ada Palestina dan Israel, ya ngga ada solusi. Kecuali kalo dua-duanya saling mengakui ada Israel dan ada Palestina, which is almost impossible.

  4. 6 Januari, 2009 pukul 2:36 pm

    Kalau di Indonesia khan ada istilah “mati satu tumbuh seribu”, jadi walaupun warga negaranya dibunuh dan disiksa di luar dan dalam negeri tetap aja cuek kayak bebek.

  5. Jay
    6 Januari, 2009 pukul 5:06 pm

    Alasan itu selalu digembar-gemborkan ada lagi yang menyebutkan agresi itu merupakan gerkan politik Israel yg dalam waktu dekat akan menggelar pemilu.

    Tapi apapun alasannya saya tetap tidak setuju dg agresi yg membabi buta tersebut. Kenapa untuk mencari satu tikus, satu kecamatan di bom bardir…..

    Amerika diam Ada apa. kemana engkau ?….

  6. lovepassword
    6 Januari, 2009 pukul 11:12 pm

    Kalo masalah makan memakan itu saya setuju. Soalnya saya tukang makan. Maksudku : 1. Kegunaan makanan itu memang saat kita tidak sedang makan. 2. Enak atau tidaknya makanan selain tergantung resep makanannya ternyata sangat tergantung manusia yang masak serta tergantung juga oleh lidah yang merasakan. Lha kalo perang ??? Kalo menurutku sih bukan makanan enak tuh.

  7. 7 Januari, 2009 pukul 9:12 pm

    mungkin sampek dikirim ke planet lain dan bermukim di sana. masing-masing satu planet biar aman. tapi negara yg menemukan planet tinggal yg baru mungkin gak rela dong…

  8. 9 Januari, 2009 pukul 11:41 am

    *baca komen mbah jenang*I
    Wah ide bagus tuh😀 coba dilanjut ke DK PBB mbah…

  9. 9 Januari, 2009 pukul 3:34 pm

    @ Lumiere
    pengorbanan umat manusia bagi konflik dua bangsa? kalo PBB gak ada veto mungkin bisa. btw, dulu ada temen waktu SMU yg yahudi. buat dia tanah yg dijanjikan tidak lain adalah surga firdaus, sehingga meleburkan diri dengan bangsa lain bukan masalah.

    OOT dikit, kata “jawa” juga ada yg mengaitkan dengan kata “jehovah”. ini berarti ada kemungkinan orang jawa juga jangan-jangan yahudi… *berlindung dari kutukan leluhur*:mrgreen:

  10. 10 Januari, 2009 pukul 7:28 am

    Israel salah itu semua orang tahu.
    Tapi pernahkah kita merenungi bahwa bangsa Arab mempunyai andai dalam mempersulit bangsa palestina?
    Setelah Perang Teluk 1991, Kuwait mengusir setidaknya 300.000 ribu orang Palestina dari perbatasan2 negerinya sbg balas dendam kepada Arafat yang mendukung saddam husein.
    Negara2 Arab tidak pernah serius menampung pengungsian dari Palestina, Arab Saudi misalnya lebih membantu keluarga yang pernah ikut bom bunuh diri dari pada membantu langsung rakyat palestina.
    Yang saya herankan, sumbangan yang diberikan kepada PBB untuk membantu Palestina lebih banyak diberikan Israel ketimbang negara2 Arab.

    Kita bisa mencaci maki para imperalis Israel atas keadaan buruk yang menimpa warga palestina. Namun kita juga harus berani mengkritik sikap Negara2 Arab yang selalu ingin “cuci tangan”.

    Mohon maaf komentarnya kepanjangan, topik kita kan masalah SALAM, mari kita menebarkan salam terutama di hati kita agar tetap sejuk dan damai🙂

  11. 10 Januari, 2009 pukul 5:32 pm

    Alasan dan alasan…

  12. Rasyeed
    10 Januari, 2009 pukul 6:48 pm

    PBB sdh identik dg kekuasaan/kepentingan amerika, resolusi gencatan senjata d gaza hanya sbg formalitas, maka.. D butuhkan kberanian beberapa negara untuk membentuk lembaga dunia sbg tandingan PBB, enaknya namanya PBB reformasi apa PBB perjuangan ya?:D

  13. 10 Januari, 2009 pukul 11:38 pm

    salam…,
    PERANG…!!! KEKEKRASAN…!!! INVASI…!!! PEMBUNUHAN…!!! DLL…
    semua itu terjadi karena banyak yg nggak ngerti apa itu SALAM
    pis men…
    sekali lagi
    Was Salam

  14. 11 Januari, 2009 pukul 4:27 am

    Yang saya herankan, sumbangan yang diberikan kepada PBB untuk membantu Palestina lebih banyak diberikan Israel ketimbang negara2 Arab.

    Yang lebih bisa diherankan lagi, seakan seluruh RI membela Palestina. Waktu ‘saudara seiman’ disiksa, dibantai, dihancurkan perekonomian, fisik dan jiwanya di Aceh oleh ‘saudara seiman’ pula beberapa tahun lalu, kok yaa pada diam saja? Hehe

    Yang lebih ajaib lagi di RI, ketika ‘saudara seiman’ rumahnya di Porong dibenami lumpur oleh penguasa yang tidak punya roket secanggih Israel, kok yaa ‘saudara seiman’ yang lainnya juga lebih banyak mingkem? Hehe

    Maaf… Maaf… Ini fallacy, ini ad hominem. Kok yaa lagi ngomongin konflik negara tetangga, E-eh saya malahan muter-muter ndak jelas.🙂

    Maaf, Mr Kurt. Seharusnya saya lebih banyak salam dan berhenti beralasan. Supaya ndak muter-muter nggak jelas begini. Hehehe

  15. 24 Januari, 2009 pukul 9:59 am

    Ada benarnya juga jika orang mengatakan tidak ada bedanya antara pujian dan hinaan, kedua-duanya hanya bentuk lain dari arogansi yang tak percaya diri. Hal ini semakin nyata dengan semakin susahnya kita untuk sejenak merunduk, menyingkirkan segala gengsi keakuan diri dan terpanggil untuk menjadi pelayan setiap daya yang Tuhan ada dibaliknya.
    Lam kenal Pak Kurt……..Aku yo Mung SANTRI KOK!

  16. 30 Januari, 2009 pukul 5:14 pm

    itu tulisan alif lam lam ha ya pak? di picturenya?

  17. Siti Fatimah Ahmad
    30 Januari, 2009 pukul 9:53 pm

    Assalaamu’alaikum…

    Berkunjungan sebentar. Postingan yang menarik dan mencerahkan. semoga sentiasa diberi kebaikan untuk berkongsi ilmu. Salam dari Sarawak.

  18. 9 Februari, 2009 pukul 10:36 pm

    Hayya

  19. 9 Februari, 2009 pukul 11:12 pm

    Hayya ‘alaa Nuliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiisssss😀

    Iyaa Prop… saya ngaku belum bisa aktif lagi… vitamin menulis plss kasih lagi dong.😀

  20. mimik
    20 Februari, 2009 pukul 9:21 pm

    Komennya YARI NK kelewatan. . . Kalo insiden monas disamakan dengan israel-palestina, apakah maksud mu. menghina Islam? dimana lokasi loe? ati-ati kalo nulis donk!!!

  21. 28 Februari, 2009 pukul 11:11 pm

    Kaligrafinya bagus.
    Yang hijau bertuliskan “salam”, yang merah muda bertuliskan “peace”.
    Yang biru bertuliskan apa?

  22. 1 Maret, 2009 pukul 10:33 pm

    Just passing by.Btw, your website have great content!

    _________________________________
    Making Money $150 An Hour

  23. 3 April, 2009 pukul 4:21 pm

    Salam kenal aja

  24. 10 April, 2009 pukul 2:32 am

    Salam kenal ya…
    Kalau sempat mampir balik doooong

  25. adipati kademangan
    13 April, 2009 pukul 9:34 am

    nulis lagi bos

  26. 9 Mei, 2009 pukul 9:56 pm

    Mungkin karena PBB nggak suka sayur Opor… heheh, sukanya sayur NGOMPORI pakai daun “VETO”😀

  27. 20 Juli, 2009 pukul 6:47 am

    Salam damai pak…. saya ingin berdamai…

  28. sastra
    30 Juli, 2009 pukul 2:56 pm

    salam kenal Pak Santri

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: