Beranda > Dunia Pesantren, Kultur, Modernisasi > Ketika Petani Dizolimi

Ketika Petani Dizolimi

Siluet petani perempuan

Oleh Muhamad Kurtubi

Dulu di Pondok Buntet Pesantren para kyai memiliki sawah. Rata-rata setiap tahun panen 3 kali. Para santri biasanya terlibat dalam penanganan pasca panen itu. Setelah itu nasi liwet ditanak sendiri menggunakan beras pemberian kyai rasanya wangi pulen dan empuk. Tapi kini bukan saja para kyai tapi juga para keluarga petani lainnya sudah tidak tertarik lagi bertani?

Pemerintah saat ini dianggap pilih kasih. Ketika minyak dunia cenderung naik, pemerintah mengimpor minyak dengan harga tinggi lalu dijual murah. Saat minyak goreng naik pemerintah pun melakuan impor harga tinggi dan dijual dengan harga murah pula. Namun giliran petani menjaul padi, harganya tetap rendah dan saat petani mulai tanam, harga pupuk dibiarkan tinggi.

“Sepertinya pemerintah itu sengaja mendzolimi petani.” ujar penelpon dari Aceh,  dalam sebuah dialog interaktif di radio RRI pro-3  tahun lalu.

“Kita sadar bahwa petani merupakan soko guru eknomoi bangsa ini, namun kelihatannya pemerintah tidak membela petani. Jika UUD masalah tanah garapan tidak selesai, Siap-siap saja bangsa ini kena kutuk.”  -umpat seorang penelpon dari wilayah lain.

***

Keprihatinan dua penelpon tersebut setidaknya bisa mewakili orng yang kesal dengan kinerja pemerintah dalam hal menangani masalah pangan di Indonesia. Departemen pertanian yang dianggap bisa mewakliki petani rupanya juga tidak mampu memberikan solusi yang dapat mengangkat harkat petani.

Para petani serasa putus asa. Dari saat menanam pupuk dihargai mahal sekali. Sementara itu, ketika menghadapi pasca panen, petani harus rela padinya dihargai hanya Rp. 2000,-

Karenanya, petani dari hari ke hari semakin malas menanam, ditambah para keluarga petani yang berpindah ke kota, semkain lama lahan pertanian semakin ditinggalkan oleh anak cucunya. Lebih jauh, tanah garapan pertanian semakin hari digusur untuk keperluan perumahan dan sarana perkantoran.

Makin hari makin sulit saja untuk memeperoleh makanan. Bila para petani sudah tidak setia berkecimpung di sawah, sedangkan pemerintah bila tidak serius meladeni para jawara petani, siap-siap saja negeri ini dirundung kesedihan berkepanjangan.

Dari sabang sampai Merauke konon tanahnya sangat subur. JIka di Jawa sudah berangsur-angsur menipis tanah garapan petani, hendaknya pemrintah mengalihkan konsentrasi kepada wilayah lain semisal di Irian jaya, di Sulawesi yang tanahnya sangat perawan. Tutur penelpon lain mengusulkan.

Akhirnya, jika pemerintah serius mengurus para jawara petani, maka Insya Allah keberkahan bumi semakin subur. Sebaliknya, jika terus menerus dibiarkan petani sendirian itu berarti sama saja pemerintah mendzolimi petani. Karenanya, janganlah pemerintah mendozlimi petani.

Arsip tulisan…. dari blog sebelah.

  1. 13 Maret, 2010 pukul 1:29 pm

    Indonesia: Gema ripah lor jinawi…kata orang 🙂
    Wah..bisa-bisa nantinya makanan pokok orang kita akan beralih ke Junk Food nih, Pak Kurt 😦

    Apa kabar Pak Kurt? Mudah2an sehat selalu sekeluarga ya. Salam silaturrahim 🙂

    -Rozy-

  2. 13 Maret, 2010 pukul 4:33 pm

    Gemah ripah loh jinawi tinggal slogan. Beras makin mahal.
    Salam

  3. copiyan
    11 April, 2010 pukul 11:10 am

    bagus blognya…

  4. Zulfikar Akbar
    12 Juli, 2010 pukul 10:46 am

    subhanallah, memang kondisi pertanian dan petani di negeri kita sangat memprihatinkan, semoga saja Allah memberi ilham terbaik untuk bangsa kita ini, amien

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: