Beranda > Aktivitas, Dunia Pesantren > Lebih Memilih Pesantren

Lebih Memilih Pesantren

Pendidikan di pesantren masih cukup banyak peminatnya. Bahkan pesantren terus menerus tumbuh di berbagai tempat, bahkan di sudut-sudut kota Jakarta. Bukan lagi dominasi di perkampungan. Ternyata,  masih banyak masyarakat yang memilih pendidikan pesantren ketimbang pendidikan sekolah umum.

Siang tadi saya bersilaturahmi ke pesantren di Jakarta Timur namanya Pesantren Tapak Sunan. Pesantren ini memiliki lahan yang cukup luas, dengan bangunan asrama putra dan puteri terpisah. Juga lokal untuk sekolah formal setingkat SMP dan SMA, lapangan olahraga,  aula dan rumah pengasuh serta bangunan untuk para guru. Di tambah  halaman seluas lapangan bola mengiasai pelataran pesantren ini dengan hiasan tanaman palem mengiasai keindahan areal pesantren.

Di sekitarnya kebun-kebun yang ditanami berbagai tanaman produktif dan tanaman jati. Keberadaan pesantren di Jalan AMD 28, Balekambang Condet Jakarta Timur ini, menjadi trade mark tersendiri bagi wilayah ini. Apalagi, di dalam asarama terdapat masjid besar bernama Ittihadul Anwar,  menjadikan pesantren ini menyatu dengan masyarakat sekitarnya.

Kesibukan para pengurus menerima pendaftaran murid baru siang tadi memasuki tahap akhir, orang tua berlalu lalang mengantarkan anak-anaknya untuk dipesantrenkan. Disamping itu ada banyak orang tua yang mengantarkan anak-anak yang kini memasuki jenjang yang lebih tinggi.

Di halaman yang luas terdapat parkir mobil-mobil pribadi milik para orang tua santri yang mengantarnya.  Mereka berasal dari berbagai wilayah di Jakarta dan luar daerah. Kesibukan berakhir sore tadi, karena tanggal 12 besok mulai aktif kembali.

Secara garis besar, ada beberapa alasan mengapa orang tua memilih pendidikan pesantren ketimbang pendidikan umum seperti SMP dan SMA.

1. Biaya Terjangkau

Bayangkan dengan biaya perbulan Rp. 375.000. –  orang tua sudah bisa memsaukkan anaknya di pesantren. Dengan aktivitas siang hari,  ikut pendidikan formal, malam haribnya dibimbing dengan latihan-latihan fisik, mental dan sepiritual.

Dana sebesar itu sudah mencakup tiga alokasi biaya: untuk makan 2 x sehari, untuk SPP sekolah formal dan terakhir untuk biaya penginapan.

Kenapa murah, mari kita hitung-hitungan:

Jika  biaya makan satu kali dihargai Rp. 10.000,  maka ongkos untuk makan sebulan menjadi 2 x 10.000 x 30 hari = Rp. 600.000,- itu belum biaya guru, kebersihan, satpam,  dan biaya asrama serta biaya perawatan geung dan lain-lain. Sangat murah, bukan?

Lalu kenapa memberi tarif semurah itu, adakah pesantren mendapat profit?, Tentu saja mendapat profit tetapi semata-mata bukan dari program pesantrennya. Karena banyak ada juga sumbangan dari pihak ketiga, semisal dari pemerintah untuk bantuan sarana, juga dari donatur yang tidak mengikat.. Sehingga tidak menggantungkan diri dari pemasukan santri.

Dana untuk makan memang tidak dihitung per satuan sekali makan, tetapi kolektif, sehingga biaya untuk memasak menjadi murah. Di sinilah kami pinter-pinter mengalokasikan dana, kata ibu pengasuh .

2. Bimbingan Berkelanjutan

Yang menarik dan menjadi alasan para orang tua untuk merelakan anaknya dimasukkan ke pesantren adalah karena di sana, murid/santri dibimbing 2/4 jam. Dimonitor aktifitasnya dan tentu saja semuanya berpulang pada bagaimana manajemen pengaturan waktu dari tiap-tiap pesantren.

Misalnya untuk pesantren Tapak Sunan di Condet, Jaktim, anak-anak santri diwajibkan bangun pagi setengah empat.  Dimulai dengan kegiatan shalat tahajud,  hingga subuh, lalu mengkaji ilmu keagamaan (khas sistem salafi pesantren). Selanjutnya diteruskan untuk istirahat dan sarapan pagi. Memasuki jam 8 pagi sudah ikut pendidikan formal SMP/SMA.

Kegiatan selanjutnya adalah mengikuti kegiatan pesantren, istirahat dan kajian keagamaan, praktek ibadah, praktek keterampilan dan lain-lain. Begitulah seterusnya.

Adapun untuk menyalurkan hoby, maka disediakan olahraga, dan keterampilan hobi lainnya, disediakan ruangan dan peralatannya.

Masalah budaya, pesantren ini tetap membolehkan anak-anak nonton televisi namun di sela-sela istirahat.

Demikian gambaran singkat, mengaapa pesantren bisa bertahan dalam kondisi zaman seperti ini, dengan kemampuan manajemen yang dikelola sendiri, dan kemampuan mengelola dana, maka pesantren tetap eksis, meskipun tidak berorientasi kepada profit semata.

Masalah hasil, tergantung dari  daya kecerdasan masing-masing anak sebagaimana hasi ldari pendidikan formal. Hanya keuntungannya, anak-anak terbiasa dengan  hidupu teratur  dan terbiasa untuk mandiri. Itulah kelebihan dari pesantren. Ayo siapa yang tertarik dengan pesantren, silahkan masukkan anak-anaknya ke pesantren.

  1. choiruel
    26 Oktober, 2010 pukul 1:13 pm

    aku kasih tau ya mondok di pesantren itu huukumnya wajib karena aku ini juga anak santri loooooooo

  2. 16 Januari, 2011 pukul 7:18 am

    Saya tertarik dengan pesantren Tapak Sunan ini.Insya Allah saya masukkan anak saya ke pesantren ini.Btw apakah sudah ada cabangnya di daerah Pulogadung.
    Sukron

  3. 19 April, 2011 pukul 3:50 pm

    Assalamu’alaikum warahmatullah. afwan ana ingin tanya, ana ingin memindahkan anak ana yg kls 1 SMA ke ponpes tapak sunan. namun ana ingin tau rincian biaya pendaftarannya dulu. mohon infonya kirim ke alamat e-mail ana. syukran. barakallahu fik

  4. Hamdi
    1 Juni, 2011 pukul 1:16 pm

    memang pesantren tapak sunan merupkan pesantren model yang paling baik yang pernah saya alami, ayo buruaan masukin anak-anak kita ke pesantren tapak sunan…. insya allah manfaat dunia akhirat

  5. sofian
    2 Desember, 2011 pukul 10:27 am

    Assalamualaikum.Saya baru tertarik sekarang.masalahnya saya sekarang sudah bekerja dengan sistim shift dan umur sudah 41thn bisakah saya masuk pesantren? Atau mungkin ada pesantren untuk orang tua yg baru melek agama yg kalo bisa dekat tempat tinggal saya di ciracas.trim

    • 4 Desember, 2011 pukul 11:48 pm

      Masuk pesantren itu bisa dengan banyak jalan:
      1. bisa secara fisik ke pesantren dan mondok
      2. mendatangi guru / lulusan dari pesantren yang terdekat tempat tinggalnya dan bisa berdiskusi/bermusyawarah ttg ilmu agama atau lainya
      3. alternatif ke3 ini bisa memanggil orang pesantren ke tempat bapak di mana nantinya belajar bareng.
      jika tinggal di Jakarta, bisa menghubungi teman2 lulusan dari Buntet Pesantren

      Kira-kira begitulah..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: