Beranda > Amanat, Hikmah, Inspirasi, Kultur, Nasionalisme, Opini, Pendapat, Peristiwa, Pesantren, Santri, Tokoh > Prof. Dr. HAMKA: Habib Ali Kwitang (Jakarta) dan Habib Tanggul (Sholeh Alhamid-Jember) itu Ahlul Bait

Prof. Dr. HAMKA: Habib Ali Kwitang (Jakarta) dan Habib Tanggul (Sholeh Alhamid-Jember) itu Ahlul Bait

Kali ini saya mengetengahkan postingan seputar habaib dan ahlul bait dan ini dinyatakan sendiri dalam fatwa Prof. Dr. HAMKA. Kita tahu bahwa beliau ada orang MUI masa dulu, dan berasal dari Muhammadiyah. Jadi yang bicara tentang Ahlul Bait itu bukan saja orang NU, tetapi MD pun mengakuinya. Dalam tulisan sebelumnya gelar dan sebutan sayyid telah beliau tulis.

Sejak zaman kebesaran Aceh telah banyak keturunan-keturunan Hasan dan Husain itu datang ke Nusantara’. Mulai dari semenanjung Melayu, kep’Indon’dan Pilipina.Dimulai dr  kerajaan Banten dan Cirebon dgn Syarif Hidayatullah lahir di Aceh. Beliau yg menyebar Islam  ke Mindanau dan Sulu.Sebagai Sayid dari kel’Jamalullail pernah jadi raja di Aceh.
Di Pontianak oleh  Sayid Al-Qadri. Di Siak oleh Sayid Bin Syahab. Di Perlis (Malaysia) oleh Sayid Jamalullail. Yang Dipertuan Agung III Malaysia Sayid Putera adalah raja Perlis. Gubernur Serawak ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang ialah dari keluarga Alaydrus. Semua yg turun temurun menjadi anak negeri dimana mereka berdiam yg umumnya jadi ulama.

Mereka datang dari Hadramaut dari keturunan Ahmad bin Isa Al-Muhajir dan Faqih Al-Muqoddam. Datang  dari berbagai keluarga diantaranya keluarga Alatas, Assegaf, Alkaf, Bafagih, Bilfaqih, Alaydrus, Bin Syeih Abu Bakar, Alhabsyi, Alhaddad, Bin Smith, Bin Syahab, Alqadri, Jamalullail, Assiry, Al-Aidid, Al-Jufri, Albar, Almusawwa, Ghathmir, Bin Agil, Al-Hadi, Basyaiban, Bamakhromah, Ba’abud, Bin Syaikhan, Azh-Zhahir, Bin Yahya,dll. Yang menurut keterangan almarhum Sayid Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab telah berkembang menjadi 199 keluarga besar. Semuanya adalah keturunan dari Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa Al-Muhajir.

Ahmad bin Isa Al-Muhajir inilah yang berpindah dari Bashrah ke Hadramaut.Inilah sislsilah lanjutannya Ahmad bin Isa Al-Muhajir bin Muhammad Al-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Husain As-sibthi bin Ali bin Abi Thalib. As-Sibthi artinya cucu, karena Husain adalah anak dari Fathimah binti Rosulillah SAW.

Yang terbanyak justru dr keturunan Husain dari Hadramaut itu, ada juga yang berketurunan Hasan yang datang dari Hejaz, yaitu keturunan Syarif-Syarif Makkah, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggil Tuan (Sayid-arab), juga disebut HABIB, di Jakarta dipanggilkan WAN. Di Serawak dan Sabah disebut TUANKU. Di Pariaman (SumBar) disebut  SIDI.

Mereka telah juga tersebar di seluruh dunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baghdad (Iraq), Syam (Syria) ,dll mereka selalu adakan NAQIB atau manaqib, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan itu. Di saat sekarang umumnya telah mencapai 36-37-38 silsilahnya sampai kepada Sayyidina Ali dan Fathimah.

Jelas  Habib Tanggul ( Sholeh Alhamid ) di Jawa Timur dan almarhum Habib Ali ( Alhabsyi ) di Kwitang Jakarta, memang semua keturunan dari Ahmad bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Bashrah ke Hadramaut itu, dan Ahmad bin Isa Al-Muhajir tersebut adalah cucu ke 6 (7) dari cucu Rosululloh, Husain bin Ali bin Abi Thalib. Kepada keturunan-keturunan itu semuanya kita semua layak berlaku hormat dan cinta.

Fatwa dan kesaksian dr Tokoh MD sendiri Prof. Dr. Hamka dari makalahnya di Majalah “PANJI  MASYARAKAT” No. 169 tahun ke-XVII tanggal 15 Pebruari 1975  (4 Shafar 1395 H), halaman 37-38. 

Jadi bukan sekedar tokoh NU yg menggemakan  namun dr Tokoh Muhammadiyah sendiri, maka kalau ada org MD disini yg mengingkari berarti dia bukan sekedar MD tapi jelas barangkali sebagai Wahabi Tulen,maaf! Sebab kita tau siapa HAMKA diantara ulama yg termasyhur ditanah air kita itu.Wallohu’alam…

sumber: Chetia Aswaja.

Iklan
  1. 6 Juni, 2012 pukul 2:09 pm

    salam kenal slalu yaaa…:)

  2. 8 Juni, 2012 pukul 9:20 am

    nice post 🙂

  3. elfan
    20 Agustus, 2012 pukul 10:47 am

    APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. yakni para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifat dan maknanya menjadi universal terdiri dari:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ke-‘nasaban’-nya, sayang tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

    Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, artinya kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang dijadikan patokan nasab seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya bukan dari anak lelakinya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, bahwa pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya seperti Saidina Hasan dan Husein maupun yang perempuan bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Kalaupun ada anggapan kini ada yang ngaku keturunan nabi atau rasul, ya mereka mengambil nasab yang zigzag dari Bunda Fatimah lalu ke anak lelakinya Saidina Ali seperti Saidina Hasan dan Husein. Yang pasti, Saidina Hasan dan Husein adalah ‘keturunan’ Saidina Ali bin Abi Thalib. Terlebih lagi jika merujuk pada QS. 33:4-5 dan hadits tersebut, maka tetap saja yang ngaku-ngaku sebagai keturunan nabi saat ini adalah keturunan Saidina Ali bin Abi Thalib bukannya keturunan Saidina Muhammad SAW.

  4. 31 Januari, 2013 pukul 9:19 am

    Info bagus. Salam

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: