Arsip

Arsip Penulis

Hacking WordPress.com?

8 Juni, 2012 5 komentar

This is my post after long time ago I could not enter to this blog. Username and password wrong of combination. WP-login, prohibited to enter. My email has been changed and username also. Guess what, if he/she can enter this blog  with my email, or username?  I think the good answer is, he/she known my easy password. 🙂 so,  change your passoword with very difficulity guess.  hacking wordpress.com, is it possible? Baca selanjutnya…

Silaturahmi Mendapat Berkah Backlinks

23 Juni, 2010 7 komentar

Ma’asirol Netter Rahimakumullah

Tahukah kawan,  teknologi internet saya yakin gak ngarti apa itu silaturahmi, tetapi dalam prakteknya, benar-benar diterapkan. Misalnya,  agar blog/situs menempati “maqam” (ranking) tinggi dan mudah di kenal oleh  google atau alexa, tidak lain pemilik blog/situs pastinya telah dikenal luas dan memiliki  link ( bersilturahmi) dengan sesama.

Baca selanjutnya…

Air dan Global Warning di Pesantren

8 Desember, 2007 27 komentar

Warning! Postingan memenuhi permintaan sang master virus menulis agar saya membahas postingan “nakal” sebelum ini: Air & Global Warning…

Prof. Masaru Emoto dan hasil gambar kristalnya

Artinya: “dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” (Al Anbiyaa:30)

Air sebagai global warning dalam bahasan sambungan artikel kemarin terkait dengan Air Hexagonal. Pada dunia pesantren air ini mirip  dengan air tambah, atau ada juga sebagian orang Banten menyebutkan “banyu putih”. Bagi yang mempercayainya, air yang telah diberi do’a-do’a ini sering dipakai sebagai semacam teraphy bagi orang sakit, fisik maupun mental. Tentu air ini bukan segalanya, hanya sebagai penenang atau boleh juga jika ingin mengatakan sugesti sebagai mana sugesti pada do’a-do’a.

Ada pula yang hanya dijadikan air minum biasa saja mirip supplemen. Dalam tradisi gereja ada juga sering saya lihat orang diperciki “air suci”. Demikian dalam tradisi agama-agama lainnya. Professor peneliti air hexagonal seperti gambar itu sendiri pun beragama Shinto.

Dalam tradisi pesantren kadang-kadang (tidak selalu), di setiap pengajian, dzikir, atau khataman qur’an, para jama’ah membawa air aqua botol atau wadah lainnya. Kemudian air ini diletakkan di tengah-tengah jama’ah yang tengah melaksanakan dzikiran, tahlilan atau marhabanan. Bagi kalangan non pesantren bisa jadi memandang air ini bermacam-macam: ada yang menyebutnya syirik ada yang mengnggap hal yang di luar jangkauan.

Dalam artikel ini saya cuma ingin berasumsi bahwa ternyata “banyu putih” ini identik dengan air hexagonal. Selanjutnya kita sendiri bisa membuat air yang berhexagonal tinggi, tampa meminta kepada tuan guru sekalipun.

Baca selanjutnya…

Belajar pada Gergaji Tumpul

20 Januari, 2007 2 komentar

Refleksi Tahun Baru Hijriyah 1428 H

  بسم الله الرحمن الرحيم  | فاعتبروا يااولى الأبصار … واتقونى يا اولى الألباب 

Suatu ketika kyai Rahim jalan-jalan di kampung sekelilingnya, karena ada keperluan mencari tukang batu untuk memperbaiki pekarangan rumahnya yang akan diperlebar.  Untuk arena bermain para santri-santrinya. Maklum santrinya makin banyak saja dan perlu halaman luas untuk arena bermain, biar jangan jenuh ketika mereka menghafal alfiah di kamar bilik. Maka halaman belakang asrama akan disulap menjadi taman bermain santri agar mereka bisa konsentrasi dan tenang dalam belajar.    Baca selanjutnya…

Kategori:Celotehan

Kepedulian Kyai Muda terhadap Nasib Rakyat di Sekitarnya

20 Januari, 2007 2 komentar

Kepedulian terhadap masyarakat sebagai elemen terpenting bangsa, harus terus digelorakan di mana-mana sesuai dengan profesi dan keahliannya masing-masing. Karena itu merupakan salah satu tema sentral dakwah Islam, rahmatan lil’alamin. Sangat tepat jika yang berberak adalah para kader ulama yang masih berusia muda yang kehidupannya paling dekat dengan elemen masyarakat yang masih belum beruntung ( low stratification )

Itulah salah satu kesimpulan hasil liputan bersama kyai muda Buntet Pesantren Kang Aris Ni’matullah, Jum’at, 18 Januari 2007, setelah menghadiri seminar Jaringan Komunikasi (Jarkom) yang dikelola oleh Fahmina yang diselenggarakan di Hotel Bumi Asih Cirebon, selama lima hari.

Sudah sepatutnya, para ulama muda (guru agama) di masyarakat bergerak dan menjadi bagian dari sharing problem and advocation yang terjadi di sekelilingnya. Tujuannya adalah disamping pesan-pesan agama bisa tersalurkan, aktivitas ulama muda ini dapat berinteraksi langsung ketika berinvestigasi ke masyarakat. Persoalan-persoalan yang ada di masyarakat marginal cenderung kurang ditangani dengan baik oleh para aparat hukum dan wakil rakyat maklum pekerjaan mereka amat komplek sementara jumlah warga yang menghadapi masalah lebih banyak.

Karena itulah kehadiran LSM sangat dibutuhkan di masayrakat sebagai pendamping terutama dalam advokasi terhadap masalah hukum, ekonomi, fiqh sosial, gender dan lain-lain. Dengan pendekatan para ulama muda ini, berarti peran ganda dakwah para ulama muda mulai dituntut. Satu sisi harus mendidik para murid-muridnya, di sisi lain, harus berkiprah di msyarakat yang kurang beruntung.

Menurut Kang Imat (sapaan akrab, Ust. Aris Ni’matullah), seminar itu sendiri diselenggarakan oleh sebuah LSM bernama Fahmina. Ia menyelenggarakan program membuat sebuah jaringan komunikasi berupa radio swasta masyarakat yang beroperasi untuk wilayah 3 Cirebon. “Saya hadir dalam kapasitas sebagai pemakalah untuk memberikan bekal kepada para pengelola radio ini. Bersama saya hadir pula dari Buntet Pesnantren Ust. Ayip Usmad, Ust. Husein, dan Ust. Aim. Kami memberikan materi yang berbeda-beda untuk memberikan bekal investigasi dan advokasi bagi para kader-kader ulama Cirebon.” Ujarnya menambahkan.

Fahmina sendiri berupa LSM yang peduli terhadap masyarakat. Dalam salah wujud kepeduliannya bisa dicatat, mereka telah banyak membantu mendampingi masalah-masalah yang terjadi pada para pedangan kaki lima (PKL) Pasar Pagi Cirebon, para supir angkutan kota (ankot) jenis kendaraan dalam kota, para supir elf (istilah untuk kendaraan antar kabupaten), karena kebetulan merek mobilnya Daihatsu Elf, kepada anak-anak jalanan. “Jadi prinspinya, program radio masyarakat yang dikelola para kader ulama ini bisa lebih optimal dapat membantu menyelesaikan problem-problem kemasyarakatan dengan cakupan yang lebih luas” sambung K. Imat, putra ke 3 KH. Izzuddin, pendiri asrama Al Inaroh.

Yang menjadi menarik adalah radio ini bakal dikelola oleh para ulama muda yang ada di wilayah 3 Cirebon (Indramayu, Kuningan, Cirebon) dan sekitarnya. “Radio ini bertujuan untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat grass root. Penyuluhan-penyuluhan program berupa pemberdayaan ekonomi, kehidupan sosial, fiqh (hukum peribadatan), masalah gender dan lain-lain.” Imbuhnya.

Yang menarik dari adanya ide yang bagus ini, menurut Kang Imat, lahir dari seorang pemikir kreatif, KH. Husein Muhamad, pimpinan Pondok Pesantren Ciwaringin Cirebon. Sebagai piminan LSM Fahmina yang membuat jarkom (jaringan komunikasi). Jarkom ini mirip dengan radio yang dikelola oleh namlapanha, milik Jaringan Islam Liberal di Jakarta. Namun yang dikelola KH. Husein ini murni lahir dari pesantren dan ditangani oleh kader-kader ulama.

Kita berharap, dikala bangsa ini tengah menghadapi cobaan yang bertubi-tubi, tentu imbas dari persoalan ini adalah rakyat juga. Karenanya, mendampingi rakyat dalam kondisi yang serba sulit, merupakan amal yang nyata, setidaknya bisa mendengarkan keluhan-keluhan orang dan memberikan masukan-masukan bagaimana menghadapi masalah tersebut. Semoga kiprah para kader ulama muda di wilayah Cirebon dan sekitarnya ini dapat membantu mayarakat bawah lebih optimal dan lebih luas dengan hadirnya radio swasta versi ulama ini. Amin.

Kategori:Ngliput

Amerika dan Syndrome Popularity


TENTARA sekutu di bawah pimpinan Amerika Serikat dan Inggris akhirnya mengaku memberikan laporan bohong mengenai serbuan mereka ke Irak, bahkan mengaku kalah. Tetapi mereka tidak segera enyah dari negeri Muslim bersejarah itu dan mengembalikan kekuasaan pemerintahan lama. Malah meninggakan tragedi kemanusiaan dan peradaan paling bengis yaitu menggantung Saddam Husen dengan alasan membunuh 180 kaum pemberontak. Tetapi Sekutu tidak merasa bahwa kejahatannya jauh lebih kejam yakni mengakibatkan terbunuhnya satu milyar lebih penduduk Irak.

Eksekusi itu mengakibatkan Irak terjebak dalam perang saudara yang dipicu oleh negara yang mengaku beradab. Ketika Irak sedang menderita lahir batin, tentara sekutu sudah beancang-ancang menyerang Iran dengan alasan mengembangkan enegi nuklir. Kalau energi nuklir baik untuk peperluan industri maupun persenjataan tidak boleh kenapa negara negara Amerika dan Eropa memilikinya, termasuk beberapa negara seperti Israel, India, Cina diperbolehkan. Bukankah mereka juga harus dilarang. Karena mereka tidak beradab, maka penerapan peraturan tidak mengenal keadilan, peraturan hanya untuk menguntungkan dirinya dan untuk membelenggu bangsa lain.

Hal itu diungkapkan dalam sebuah tulisan kawan saya Mas Mun’im di http://www.nu.or.id/v2/index.htm 

Sangat menyayat hati ungkapan dalam tulisan Kang Munim di atas. Amerika dan Eropa terkesan begitu membeci negara yang kebetulan bernuansa Islam. Begitu cemburukah dengan orang-orang muslim atau memang ada semacam gejala penyakit popularitas. Tapi bila dicermati, gaya Amerika dalam berbagai aksi penyerangaan terhadap negara lain sebagai aplikasi dari gaya psikologis mereka dalam menyikapi kehidupan adalah bermuara dari ideologi yang diajarkan. Sangat “mungkin” bermuara dari warisan agama mereka yang terkenal “keras dan kaku”.

Bagi kalangan agamawan, khususnya lingkungan NU, tingkah polah Amerika dan sekutunya ini tidaklah mengagetkan. Karena memang sudah wataknya yang khas bagi mereka dan hal itu telah di nash dalam Al Qur’an. Setidaknya contoh-contoh di bawah ini mirip kalau tidak dikatakan persis dengan kejadian dalam Al Qur’an

  • Ketika Amerika disuruh untuk berbuat baik yaitu jangan menyerang komunitas lain yang memiliki peradaban dan integritas tersendiri, demokrasi sendiri dll. Namun mereka menjawab: “I am is the best” sayalah [bangsa] yang terbaik! di dunia ini. Technologinya, kekayaanya, demokrasinya. Jadi kalau ada bangsa yang mengancam kepentinganku, mestilah mereka harus tunduk di hadapanku. “because I am is the world police ” Aku mereka.

Kira-kira miripkah dengan ungkapan dalam Al Qur’an ketika para malaikat disuruh bersujud kepada Adam a.s. lalu semuanya bersujud kecuali yang bernama Iblis. Kata Allah swt, dia enggan bersujud karena “aba wastakbara!” dia enggan bersujud karena takabur (sombong).

Perintah Allah pasti menyuruh kepada kebaikan. Namun ternyata ada makhluq yang tidak mau cenderung kepada kebaikan. Simbolisasi ini boleh jadi mengindikasikan bahwa selain Iblis dahulu maka di zaman kapanpun dan dimanapun, simbolisasi itu akan terus ada. Dalam kasat mata, seperti  yang diurai oleh Mas Mun’im sangat gamblang.

  • Ketika Amerika ditanyakan mengapa tetap ngotot untuk menyerang Afghanistan, Irak dan berencana menyerang Iran. Apa alasannya untuk selalu membangkang komunitas dunia yang cinta damai?  Apa jawab mereka:

Lagi-lagi ini pun mirip dengan ayat berikutnya ketika Allah menanyakan mengapa tidak mau menghormati Adam.

 “saya diciptakan dari Api sedangkan Adam dari tanah, Saya lebih baik dari dia!”

Bukankah ini juga mirip dengan alasan Amerika dalam jawabannya:

“Tidak ada yang boleh mendikte negara kami, apalagi mengancam kepentingan kami . Siapa saja yang mengancam kepentingan Amerika, maka negara itu berarti siap melawan kekuatan kami. Bukankah kami adalah negara paling kuat di dunia?

Kita mengimani ayat-ayat Allah baik yang tekstual maupun kontekstual. Apa yang harus dilakukan dengan kenyataan seperti itu. Sejatinya kita tetap dalam koridor demokrasi yang dibangun, komitmen dengan kebenaran. Tidak serta merta kemudian mengikuti alur dan jalan pikiran ideologi mereka.

Insya Allah dengan begitu lama kelamaan kebaikan akan menang. Bukankah kita pun percaya bahwa : “Innal batila kanaa zahuuqa” sesungguhnya, kebatilan itu pasti lenyap tidak akan bertahan lama. Paling tidak saya melihat kesadaran penduduk Amerika terhadap nilai-nilai ajaran universalisme Islam plus toleransinya yang tidak dipublikasikan oleh newspaper mereka, sedikit mengamini dan sedikit-demi sedikit akan turut dalam iramanya. Buktinya, dari beberapa laporan berita yang bebas sensor, mengungkap bahwa kesadaran kaum intelektual Amerika terhadap Islam mulai tampak dengan adanya banyak orang yang tertarik kepada Al Qur’an setelah kejadian 11 September. Kemudian sedikit-demi sedikit banyak pula warga Amerika yang pindah agama.

Namun dibalik itu ada  sebagian kecil utamanya di pemerintahan, yang diperlihatkan dari berbagai kebijakannya, seringkali terkesan mirip “koboi” yang tidak berhati nurani. Itulah yang sangat disayangkan sekali, tradisi ideologi lama masih dipertahankan. Al Qur’an telah berbicara, zamanpun mengamini Al Qur’an lalu bagaimana dengan kita, kapan ikut mengamini ayat dan kemudian waspada terhadap korelasi dampak yang digambarkan dalam teks dan konteks tersebut. Semoga umat kita dikuatkan oleh Allah, dan diselamatkan dari afatiddunya wa’adzabil akhrah. Amin.

wallahu ‘alam.

Kategori:Celotehan

Mengimani Nabi alaihimussalam perlukah dilogikakan?

13 Januari, 2007 3 komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Malam ini mengikuti pengajian Tafsir Jalalain di Musholla tempatku tinggal. Pengajian ini rutin namun baru beberapa kali saya ikuti karena kesibukan kerja yang  biasanya pulang hingga malam [biasa setelah jam kerja explor di IE]. Tapi alhamdulillah saya mendapatkan hikmah dari pengajian ini. Dalam kajian malam ini sang Ustadz membahas tafsir Yasin kebetulan pada giliran Surat Maryam (bukan Maria Eva) membicarakan  kelahiran nabi Yahya putra dari Nabi Zakaria.

Baca selanjutnya…

Kategori:Celotehan